SINOPSIS
Gretta Alesia Nobara, 18 tahun, pindah ke SMA Binara 2 untuk melarikan diri dari trauma perundungan di sekolah lama. Ia mengubah penampilannya agar lebih percaya diri dan bertekad memulai hidup baru dengan fokus pada pelajaran.
.
Gian Leminzo cowok pemalas di kelas bahkan sering tidur saat guru menerangkan, di snagat tampan dan di sukai banyak cewe tapi dia selalu menghiraukan cewek-cewek yang mendekatinya.
Namun pertemuan Gretta dengan Gian menjadi sebuah hal yang tidak terduga di antara keduanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rienza27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PELINDUNG (1)
Kemarahan yang membakar dada Ema tampaknya belum terpuaskan hanya dengan menjambak rambut Gretta. Rasa benci yang meluap membuat akal sehatnya hilang. Matanya berkilat penuh dendam saat melihat Gretta yang sudah tak berdaya. Tanpa membuang waktu, Ema melangkah maju dengan ego yang meninggi, mengangkat tangannya tinggi-tinggi di udara, bersiap mendaratkan tamparan keras di pipi Gretta.
Namun, angin dari ayunan tangan itu tidak pernah sampai ke tujuannya.
Melihat bahaya yang mengancam Gretta, sepercik amarah instan membakar diri Gian. Tanpa sepatah kata pun, Gian langsung berlari kencang, meninggalkan Reo yang bahkan belum sempat bereaksi. Langkah kaki Gian berdentum di atas lantai Tokoh, bergerak secepat kilat. Tepat sebelum telapak tangan Ema menyentuh kulit wajah Gretta, sebuah tangan kekar melesat dan mencengkeram pergelangan tangan Ema di udara.
"Siapa kau? Berani-beraninya sampah sepertimu berniat menyentuh temanku?!" suara Gian menggelegar, sarat akan nada mengancam yang mematikan. Matanya menatap Ema dengan tatapan menghunus, sedingin es namun menghanguskan.
Gian tidak main-main. Cengkeramannya pada pergelangan tangan Ema begitu kuat, seolah-olah ia bisa meremukkan tulang wanita itu saat itu juga. Tekanan yang luar biasa itu langsung menyalurkan rasa sakit yang hebat ke seluruh lengan Ema.
"Auuwwhh! Lepas! Siapa kamu?! Berani-beraninya ikut campur urusanku!" pekik Ema histeris. Wajahnya yang semula penuh kemenangan kini berkerut menahan kesakitan yang amat sangat. Matanya yang mendelik perlahan menatap pria jangkung di hadapannya, mencoba mencari tahu siapa sosok yang berani menentangnya.
"Kamu tidak perlu tahu siapa aku," bisik Gian, suaranya kini merendah namun justru terdengar jauh lebih mengerikan dari sebelumnya. "Dan ingat ini baik-baik: jangan pernah sesekali kamu menyakiti Gretta di hadapanku!"
Bersamaan dengan kalimat terakhirnya, Gian menghempaskan tangan Ema dengan sentakan yang sangat kasar. Tubuh Ema yang tak siap kehilangan keseimbangan. Ia terhuyung ke belakang, hampir saja terpental dan menabrak deretan gantungan baju yang terpajang rapi di tengah toko. Beruntung ia berhasil bertumpu pada salah satu rak, meskipun beberapa pakaian jatuh berserakan.
Ema memegangi pergelangan tangannya yang kini berubah menjadi merah keunguan akibat cengkeraman maut Gian. Napasnya terengah-engah, bukan hanya karena sakit, melainkan karena rasa syok yang tiba-tiba mendera batinnya.
‘Dia... dia kan...’ batin Ema bergolak.
Saat matanya kembali memperhatikan garis wajah Gian yang tegas dan aura intimidasi yang memancar kuat dari pria itu, sebuah ingatan masa lalu mendadak berputar di kepalanya. Darah Ema seketika berdesir dingin. Ia ingat sekarang dirinya pernah bertemu dengan Gian disuatu tempat.
Namun, Gian sama sekali tidak peduli pada eksistensi Ema lagi.
Gian segera membalikkan badannya, melangkah tergesa-gesa menghampiri Gretta. Kondisi Gretta saat ini sungguh menyayat hati. Gadis itu berdiri mematung, tubuhnya gemetar hebat dengan kepala yang tertunduk dalam-dalam menatap lantai toko. Rambutnya yang sedikit berantakan menutupi sebagian wajahnya yang pucat pasi.
Bagi Gretta, seluruh suara di sekitarnya mendadak senyap. Pandangannya perlahan kabur, menggelap seolah seluruh cahaya di ruangan itu telah disedot habis oleh rasa trauma dan ketakutan yang mendalam. Ia merasa seolah akan jatuh ke dalam jurang kegelapan yang tak berdasar.
Tepat saat kesadarannya hampir meredup sepenuhnya, sepasang tangan yang hangat dan kokoh mendarat lembut di kedua bahunya, menopang tubuhnya yang ringkih agar tidak terjatuh.