Demi menyelamatkan perusahaan keluarga dari kebangkrutan dan membiayai pengobatan adiknya yang kritis, Mireya terpaksa menjual kesuciannya. Ia menandatangani kontrak satu tahun untuk menjadi ibu pengganti bagi Calix David—seorang miliarder tampan berusia 35 tahun yang terkenal kejam dan sedingin es.
Pernikahan rahasia digelar, dan Mireya dikurung di mansion mewah dengan aturan ketat. Calix memperingatkannya: "Hubungan kita hanya sebatas rahim dan uang. Jangan pernah jatuh cinta kepadaku."
Namun, kepolosan Mireya perlahan mulai menggoyahkan hati sang Tuan Tsundere. Di tengah intrik konglomerat dan rahasia kelam mansion, akankah Mireya pergi setelah melahirkan sang ahli waris, atau justru berhasil memiliki hati Calix sepenuhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Duka yang Membeku & Sumpah Dendam Calix David
Kamar rawat nomor 701 yang beberapa jam lalu riuh oleh tawa hangat bocah laki-laki itu, kini mendadak berubah menjadi sedingin es. Alat monitor jantung di sudut ruangan telah berhenti berbunyi, hanya menyisakan garis lurus yang statis dan mengerikan.
Suara tangis Mireya yang semula meraung-raung memecah kesunyian rumah sakit, perlahan-lahan surut. Suara itu menjelma menjadi isakan lirih, sejenis bisikan patah hati yang teramat memilukan. Kedua tangan lentiknya mencengkeram erat jemari kecil Aiden. Jemari yang biasanya hangat saat menggandengnya, kini terasa memutih, kaku, dan kehilangan denyut nadinya.
Di ambang pintu, Calix masih terpaku. Pakaian kerjanya berantakan. Dasinya sudah miring, kancing kemeja atasnya terbuka, dan napasnya memburu berat. Dadanya terasa seperti dihantam godam besar melihat pemandangan di depannya. Dunianya seolah runtuh seketika. Separuh jiwa Mireya seakan ikut mati, runtuh bersama perginya sang adik.
Dengan langkah berat yang terasa kaku dan goyah, Calix mendekati ranjang. Pria yang biasanya angkuh dan tegak itu kini menjatuhkan lututnya di lantai rumah sakit, tepat di samping Mireya. Ia mengulurkan tangan yang bergetar, mencoba menyentuh pundak gadis itu.
"Mireya..." panggil Calix. Suaranya parau, pecah oleh rasa sakit yang asing, jenis rasa sakit yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya. "Mireya, lihat aku. Tolong... jangan seperti ini."
Mireya tidak bergerak sedikit pun. Pandangannya kosong, menatap lurus pada wajah damai Aiden yang terpejam selamanya.
"Dia sudah janji, Calix," bisik Mireya. Suaranya begitu datar, tanpa nada, namun justru memancarkan duka yang teramat pekat hingga membuat bulu kuduk merinding.
"Mireya, kumohon—"
"Aiden sudah janji mau sembuh," potong Mireya lirih, mengabaikan panggilan Calix. "Dia bilang... dia mau melihat lukisanku di paviliun sampai selesai. Dia bahkan bilang kamu orang baik. Dia bilang kamu seperti pahlawan di buku-buku ceritanya..."
Air mata Mireya kembali menetes, jatuh tepat di atas punggung tangan Aiden yang kedinginan. Bahunya terguncang hebat.
"Kenapa dia pergi, Calix? Kenapa semua orang yang aku sayangi harus diambil dariku? Nenek... lalu sekarang Aiden? Kenapa harus adikku?! Kenapa bukan aku saja yang mati?!"
"Cukup, Mireya! Cukup, kubilang!"
Calix tidak sanggup lagi mendengarnya. Ia langsung menarik tubuh Mireya ke dalam pelukannya secara paksa. Dicengkeramnya kepala gadis itu, disembunyikannya wajah rapuh Mireya di dada bidangnya. Di sana, di atas kemeja kerjanya yang kini basah, air mata Calix sendiri akhirnya luruh. Pria berhati batu itu menangis, membasahi rambut istrinya.
"Jangan bicara soal mati! Jangan pernah ucapkan itu lagi!" bisik Calix, suaranya bergetar hebat menahan ketakutan yang luar biasa. "Kamu masih punya aku! Aku di sini, Mireya! Aku tidak akan ke mana-mana!"
"Untuk apa?!" Mireya memberontak lemas di dalam dekapan Calix. Ia memukul-mukul dada bidang itu dengan sisa tenaga yang ia miliki, pukulan-pukulan tak berdaya yang terasa perih di hati Calix. "Untuk apa aku punya kamu?! Hubungan kita ini hanya kontrak rahim, Calix! Jangan pernah lupakan itu!"
Calix membeku, namun ia tidak melepaskan pelukannya.
"Aku bertahan di mansion itu, aku menyerahkan tubuhku, aku menerima semua makian dan penghinaan orang-orang... itu semua hanya untuk memperpanjang nyawa adikku!" Mireya menjerit parau, air matanya mengalir deras. "Sekarang Aiden sudah tidak ada... lalu untuk apa lagi aku harus hidup dan kembali ke rumah terkutuk itu?!"
Kalimat Mireya menghujam tepat di ulu hati Calix, meremukkan egonya hingga tak bersisa. Siksaan rasa bersalah dan kenyataan pahit bahwa Mireya masih menganggap hubungan mereka sebatas transaksi komersial membuat Calix kian hancur. Namun, ketakutan terbesarnya saat ini adalah jika Mireya benar-benar kehilangan keinginan untuk hidup.
"Demi aku, Mireya..." bisik Calix serak, mengeratkan pelukannya hingga Mireya tidak bisa bergerak lagi. "Demi aku... dan demi anak kita yang akan lahir nanti dari rahimmu. Tolong, jangan menyerah. Aku memohon padamu."
Mireya tidak lagi membalas. Tubuhnya mendadak lemas, sepenuhnya bertumpu pada dada Calix.
Di tengah keheningan duka itu, langkah kaki lambat mendekat. Dokter Januar berdiri dengan kepala tertunduk dalam, tangannya memegang sebuah map medis dengan erat.
"Tuan Besar Calix..." panggil Dokter Januar, suaranya sangat pelan, seolah takut memecah udara yang sedang menegang. "Ada... ada hal janggal yang harus saya sampaikan terkait kepergian Dik Aiden."
Calix perlahan melonggarkan pelukannya. Ia memastikan tubuh Mireya yang mulai lemas bersandar dengan aman di dadanya. Pria itu menoleh ke arah Dokter Januar. Dalam satu kedipan mata, tatapan mata Calix yang tadi penuh kesedihan mendadak berubah menjadi sekeras elang, pekat oleh aura membunuh yang dingin.
"Katakan," perintah Calix. Suaranya rendah, namun sarat akan ancaman. "Jangan ada yang kamu sembunyikan seujung kuku pun, Januar."
Dokter Januar menelan ludah, tubuhnya sedikit gemetar melihat perubahan raut wajah sang Tuan Besar. "Kami... kami menemukan adanya indikasi zat kimia asing di dalam sisa cairan infus Dik Aiden. Zat ini bekerja sangat cepat, memicu gagal jantung akut secara mendadak dan tidak wajar."
Mendengar kata-kata itu, Mireya mendongak dari dada Calix. Matanya yang sembap seketika melebar. "Zat kimia... apa maksud Anda, Dokter?"
"Ini bukan kematian karena penyakit, Nyonya, Tuan Besar," jelas Dokter Januar dengan suara bergetar. "Seseorang... seseorang telah sengaja menyuntikkan racun dosis tinggi ke dalam botol infus korban beberapa jam yang lalu."
"Racun?!" Mireya menjerit, histerisnya kembali naik ke permukaan. "Siapa... siapa yang tega membunuh Aiden?! Dia tidak punya salah pada siapa pun! Siapa yang melakukannya?!"
Calix tidak menjawab dengan kata-kata. Amarahnya sudah melewati batas hingga ia tidak bisa bersuara. Ia berdiri tegak, melepaskan pelukannya dari Mireya dengan perlahan, lalu membalikkan tubuhnya menghadap Doni yang sejak tadi berdiri membeku di dekat pintu dengan wajah pucat pasi.
"Doni," panggil Calix. Suaranya teramat pelan, lambat, namun justru terdengar seperti vonis mati.
Doni langsung melangkah maju dan berlutut di lantai, menundukkan kepalanya dalam-dalam hingga menyentuh lutut. "Maafkan kelalaian saya, Tuan Besar! Mohon ampuni saya!"
"Siapa yang masuk ke kamar ini saat kamu lengah?" tanya Calix, matanya menatap tajam ke atas kepala asisten pribadinya itu.
"Tadi... tadi sore sempat ada kegaduhan buatan di kamar sebelah, Tuan," jawab Doni dengan suara bergetar hebat. "Saat saya memeriksa koridor, ada dua orang petugas perawat yang masuk untuk mengecek kondisi Dik Aiden. Saya... saya tidak menaruh curiga sama sekali karena mereka mengenakan masker lengkap dan seragam resmi rumah sakit ini."
"Dua orang?" Calix mengulang ucapan Doni, nadanya semakin dingin.
"Benar, Tuan Besar."
"Cari rekaman kamera pengawas di seluruh koridor lantai ini sekarang juga!" bentak Calix tiba-tiba. Suaranya menggelegar hebat memenuhi ruangan, membuat Dokter Januar dan beberapa perawat di belakangnya tersentak mundur ketakutan. "Gunakan seluruh jaringan IT dan keamanan David Group! Blokir semua akses keluar-masuk rumah sakit ini sekarang!"
Calix melangkah mendekati Doni, menatapnya dengan pandangan membunuh. "Jika dalam waktu tiga puluh menit kamu tidak menemukan tikus-tikus yang menyelinap itu... kamu tahu sendiri apa yang akan terjadi pada kepalamu, Doni!"
"Baik, Tuan Besar! Laksanakan!" Doni langsung bangkit secepat kilat dan berlari keluar kamar dengan napas memburu.
Ruangan kembali hening. Calix membalikkan tubuhnya, menatap jasad Aiden yang terbujur kaku, lalu beralih pada Mireya. Gadis itu kini terduduk lemas di tepi ranjang, memeluk lututnya sendiri sembari menangis tanpa suara. Kehangatan yang sempat tercipta di antara mereka beberapa malam lalu di kamar utama kini menguap tanpa bekas, digantikan oleh kegelapan malam duka yang teramat pekat.
Calix melangkah mendekat. Ia kembali berlutut di depan Mireya, lalu meraih dan menggenggam kedua tangan istrinya yang sedingin es batu.
"Mireya, tatap aku. Dengarkan aku baik-baik," ucap Calix, memaksa mata bulat yang kini kehilangan seluruh cahayanya itu untuk menatapnya.
Mireya menatapnya dengan tatapan kosong, hancur, dan tak bernyawa.
"Aku bersumpah demi nama besar keluarga David, demi seluruh harta yang kupunya, bahkan demi nyawaku sendiri..." Calix menjeda kalimatnya, rahangnya mengatup rapat hingga urat-urat di lehernya menegang. "Siapa pun bajingan yang telah berani menyentuh dan mengambil kebahagiaanmu... siapa pun yang telah menyentuh Aiden... aku akan memburu mereka sampai ke lubang cacing sekalipun."
Calix memajukan wajahnya, menempelkan keningnya pada kening Mireya yang terasa sedingin salju.
"Aku akan membuat sisa hidup mereka jauh lebih mengerikan daripada kematian itu sendiri, Mireya. Mereka akan berlutut di hadapanmu, menangis darah, dan memohon-mohon padaku untuk dibunuh dengan cepat. Tapi aku tidak akan melepaskannya begitu saja sebelum mereka membayar setiap tetes air mata yang keluar dari matamu hari ini. Aku bersumpah."
Mireya tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Ia tidak menolak, juga tidak mengiyakan. Dengan sisa kekuatan yang hampir habis, ia hanya menjatuhkan kepalanya, menyandarkannya di bahu kokoh Calix. Ia membiarkan pria yang awalnya ia benci itu menjadi satu-satunya pilar yang menopang tubuhnya yang hampir hancur berkeping-keping di tengah badai duka yang membeku ini.
/Heart//Heart//Heart//Heart//Heart//Heart/