Elisa pikir hari ini adalah hari paling bahagia dalam hidupnya, karena laki-laki yang dia idamkan akan menikahinya. setelah mereka melakukan ta'aruf sebelumnya. Tapi bak disambar petir adiknya datang dan mengatakan jika calon suaminya mengatakan pernikahannya dibatalkan dulu. Tanpa alasan yang pasti.
Elisa merasa malu dan dikhianati, sampai seorang dokter datang dan mengatakan siap menikah dengannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8
Seminggu telah berlalu, Rumah baru Arka dan Lilis kini sudah siap sepenuhnya. Kini, mereka semua telah berada di ruang tamu rumah baru Arka yang terasa sejuk dan nyaman. Di sana ada Rita dan Jefri, orang tua Lilis, yang tampak sibuk memastikan barang-barang putrinya tertata aman. Tak ketinggalan Kirana dan Yuda yang juga ikut sibuk membantu menata area dapur dan ruang tengah.
Kini, mereka semua telah berada di ruang tamu. Berkat bantuan semuanya, proses pindahan yang melelahkan itu akhirnya selesai juga. Rita, Jefri, Kirana, dan Yuda tampak duduk bersantai di sofa baru yang empuk, sementara Arka memilih duduk di karpet di dekat Lilis.
"Alhamdulillah, akhirnya rumah ini terisi juga," ucap Kirana.
"Iya, Ra. Terima kasih ya sudah banyak bantu Arka dan Lilis," sahut Rita.
"Ah, ngga papa lah mbak. Ini kan mau jadi rumah anak kita." sahut Kirana.
Lilis yang masih mengenakan cadar dan hijab lengkap, tampak sibuk menyajikan minuman hangat dan camilan untuk mereka semua. Meskipun ia merasa sedih karena harus benar-benar berpisah rumah dengan orang tuanya.
"Lilis, sini bentar duduk dekat Mama," panggil Rita lembut.
Lilis bergeser mendekat, duduk di samping ibunya. Tangannya bertautan di pangkuan.
"Ada apa, Mah?" tanya Lilis pelan.
"Sekarang kamu sudah bukan tanggung jawab Mama sama Ayah lagi, Nak. Kamu sudah menikah dengan Nak Arka." Rita menjeda kalimatnya, menarik napas panjang untuk menahan sesak di dada.
"Bagaimanapun pernikahan kalian dimulai, kamu harus menerimanya dengan lapang dada. Ingat, Nak... pernikahan itu bukan tentang siapa yang paling cepat mencintai, tapi tentang siapa yang paling kuat bertahan dalam badai."
Rita mengusap punggung tangan putrinya. "Jangan pernah bandingkan suamimu dengan laki-laki lain. Di rumah ini, dialah pemimpinmu. Jagalah rahasianya, muliakanlah ia di depan orang lain, maka Allah akan memuliakanmu sebagai istri."
Lilis menunduk dalam, kain cadarnya bergerak pelan seiring dengan napasnya yang mulai tak beraturan. Di seberang mereka, Jefri sang Ayah yang biasanya pendiam kini menatap Arka.
"Arka," panggil Jefri. Arka segera memperbaiki posisi duduknya.
"Lilis ini putri kami satu-satunya. Harta paling berharga yang Ayah punya di dunia ini. Ayah membesarkannya dengan sepenuh hati dan cinta. Seumur hidupnya, Ayah tidak pernah memukulnya, apalagi berkata kasar padanya. Kalau dia salah, Ayah tegur dengan lembut." Jefri berhenti sejenak, matanya memerah.
"Jadi, Ayah titipkan dia padamu. Sayangi dia seperti Ayah menyayanginya."
"Jika suatu saat nanti kamu sudah bosan dengan putri saya... atau kamu merasa dia bukan lagi orang yang kamu inginkan... tolong, jangan sakiti dia. Jangan lukai fisiknya, jangan hancurkan hatinya. Kembalikan dia dengan baik kepada saya."
Mendengar itu, pertahanan Lilis runtuh. Ia tak bisa menahan air matanya lagi. Isak tangisnya pecah di balik cadar, tubuhnya bergetar hebat. Kata-kata ayahnya terasa seperti janji setia yang begitu berat sekaligus indah.
"Iya, Yah. Arka janji akan menjaga Lilis dengan nyawa Arka sendiri," jawab Arka mantap.
Yuda, ayah Arka, ikut menepuk bahu putranya. Ia menunjuk ke arah Kirana yang sejak tadi menyimak dengan mata berkaca-kaca.
"Kamu lihat kan, Bang? Bagaimana Ayah memperlakukan ibumu selama ini? Ayah tidak pernah meninggikan suara di depannya. Sebuah rumah akan terasa surga bukan karena mewahnya, tapi karena lembutnya tutur kata suami kepada istrinya. Jadikan itu contoh, Arka."
Setelah mobil orang tua mereka menjauh dari halaman, suasana rumah baru itu mendadak menjadi sunyi. Kini, hanya tinggal Arka dan Lilis yang sama-sama terdiam.
Selama lebih dari seminggu mereka menikah. Hubungan mereka sedikit lebih dekat. Meskipun Arka belum menjadikan Lilis sebagai istrinya seutuhnya.
Arka berdiri, lalu menoleh ke arah Lilis yang sedang merapikan bantal sofa.
"Lis..." panggil Arka lembut.
Lilis menghentikan gerakannya dan mendongak. "Ada apa, Mas?"
"Ke supermarket dekat komplek yuk. Belanja bahan dapur," ajak Arka.
"Ibu tadi bilang kulkasnya masih kosong, cuma ada air putih saja. Kita beli keperluan untuk stok seminggu ke depan."
Mendengar ajakan itu, Lilis mengangguk setuju. Ia memang merasa harus segera mengisi dapur agar bisa mulai memasak untuk suaminya.
"Boleh, Mas. Bentar ya, aku ganti baju dulu," jawab Lilis sambil beranjak menuju kamar mereka di lantai atas.
Arka memperhatikan langkah istrinya dengan senyum tipis. Ada rasa bahagia yang sederhana bisa menjalani keseharian seperti ini. Sambil menunggu Lilis, ia mengambil kunci mobil dan dompetnya.
Sesampainya di supermarket, Arka mengambil troli dan membiarkan Lilis berjalan di sampingnya. Suasana supermarket yang cukup ramai tidak menghalangi perhatian Arka pada istrinya.
"Beli semua yang dibutuhkan, Lis. Sekalian keperluan pribadi kamu juga ambil saja," ucap Arka sambil mendorong troli pelan.
Lilis menoleh ragu, ia masih merasa tidak enak hati jika harus berbelanja banyak. "Emang nggak apa-apa, Mas?"
"Nggak apa-apa. Aku kan suamimu, sudah sewajarnya aku cukupi semua kebutuhanmu. Jangan sungkan, ambil saja apa yang kamu butuhkan," tegas Arka meyakinkan.
Mendengar itu, Lilis perlahan mulai melangkah menuju rak bahan makanan. Lilis mengambil berbagai macam bumbu dapur, bahan-bahan dasar, dan sayuran segar. Ia juga memilih sedikit daging sapi dan ayam untuk stok protein mereka di rumah baru.
Setelah selesai membayar belanjaan di kasir, Arka mendorong troli menuju parkiran. Ia melihat jam di pergelangan tangannya, lalu menoleh ke arah Lilis yang berjalan tenang di sampingnya.
"Lis, kita beli makanan saja ya. Kita bungkus biar bisa makan di rumah." ajak Arka sambil memasukkan belanjaan ke bagasi mobil.
Lilis sempat terdiam sejenak, memikirkan bahan-bahan yang baru saja mereka beli.
"Aku nggak usah masak, Mas?" tanya Lilis memastikan.
"Nggak usah. Kita sudah capek tadi pindahan, belanja juga lumayan lama. Beli saja untuk malam ini."
Setelah mereka berdua masuk ke dalam mobil, Arka menghidupkan mesin dan mulai menjalankan kendaraannya keluar dari area supermarket.
"Mau makan apa?" tanya Arka memberikan pilihan.
Lilis tampak berpikir sejenak di balik cadarnya. "Emmm... nasi Padang boleh, Mas?" jawabnya.
"Boleh," sahut Arka cepat tanpa keberatan.
"Kebetulan di depan komplek ada yang langganan Mas, bumbunya enak. Kita mampir ke sana ya."