NovelToon NovelToon
Secangkir Rindu Di Kedai Senja

Secangkir Rindu Di Kedai Senja

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Tamat
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Arka Danadyaksa adalah direktur korporat yang melihat dunia hanya sebagai angka dan lahan. Namun, langkahnya terhenti di sebuah kedai tua milik Senja, wanita keras kepala yang memilih bertahan demi sebuah warisan rindu.
Berawal dari rencana penggusuran yang kejam, takdir justru menyeduh rasa yang tak terduga di antara mereka. Di tengah intrik kekuasaan, pengkhianatan keluarga, dan runtuhnya sebuah imperium, Arka harus memilih: tetap menjadi raja di menara yang hampa, atau kehilangan segalanya demi menemukan "rumah" di bawah cahaya senja yang abadi.
Pahitnya kejujuran, manisnya pengampunan, dan rindu yang akhirnya menemukan jalan pulang.
Genre: Romantis, Drama, Kehidupan Sehari-hari (Slice of Life.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Pelarian ke Awan

​Malam itu, rintik gerimis turun perlahan membasahi aspal di depan teras kamar kosanku yang sempit. Udara Jakarta terasa lebih menggigit dari biasanya, tapi rasa dingin itu tidak sebanding dengan kebekuan di dalam dadaku.

​Aku duduk memeluk lutut di atas kursi plastik pudar. Mataku menatap kosong ke arah genangan air di jalanan.

​Di kepalaku, bayangan garis kuning dan stiker segel dari dinas kesehatan yang melintang di pintu Kedai Kala Senja terus berputar bagaikan kaset rusak. Aku merasa kalah telak. Kalah sehancur-hancurnya. Semua mimpiku, keringatku, dan janjiku untuk mempertahankan warisan Nenek seolah hangus terbakar menjadi abu hanya dalam hitungan hari. Aku benar-benar sendirian.

​Tiba-tiba, sorot lampu kuning dari sebuah kendaraan memecah kegelapan jalan gang kosanku.

​Sebuah mobil berhenti tepat di depan pagar besi karatan. Aku mengernyitkan dahi. Itu bukan mobil BMW sedan mewah mengilap yang biasa Arka pakai. Itu adalah sebuah mobil jip off-road tua berwarna hijau lumut yang tampak sangat bersahaja dan tangguh.

​Pintu kemudi berderit terbuka. Seseorang turun menembus gerimis.

​Napas di tenggorokanku tercekat saat melihat postur tubuhnya di bawah temaram lampu jalan. Itu Arka.

​Pria itu masih memakai kemeja kerja berwarna gelap yang entah sejak kapan ia kenakan. Jasnya tidak ada. Dasinya sudah lenyap. Tiga kancing teratas kemejanya terbuka lebar, membiarkan rintik hujan membasahi kulit dadanya. Wajahnya tampak luar biasa berantakan, rambutnya basah acak-acakan, dan matanya merah menyala. Dia tidak terlihat seperti pewaris takhta Cipta Megah; dia terlihat seperti seorang pria putus asa yang kehilangan arah pulangnya.

​"Senja," panggilnya parau. Suaranya serak, bersaing dengan derau hujan.

​Aku berdiri perlahan dari kursiku. Tapi kakiku menolak melangkah mendekat. Bayangan dirinya yang diam saja saat Clara menyentuhnya di ruang kerja tadi siang membuat dadaku kembali berdenyut nyeri.

​"Kenapa lo ke sini?" tanyaku datar, berusaha membangun kembali tembok es di sekeliling hatiku. "Bukannya lo lagi sibuk nanda tanganin kontrak? Atau lagi sibuk milih venue buat rencana pertunangan lo?"

​Arka tidak membalas sindiran tajamku. Pria itu menunduk sejenak, lalu melangkah maju dengan langkah panjang. Ia membuka slot pagar besiku dengan kasar, menerobos masuk ke teras, dan tanpa ragu sedikit pun... ia langsung menarikku ke dalam pelukannya.

​Aku terkesiap. Tubuhku membentur dada bidangnya. Dekapan Arka sangat erat, luar biasa kuat, seolah ia sedang memeluk lifebuoy di tengah lautan badai. Seolah ia takut aku akan menguap menjadi udara jika ia merenggangkan tangannya sedemikian milimeter saja.

​Insting pertamaku adalah memberontak. Aku mendorong dadanya, memukul lengannya pelan. "Lepasin, Ka! Ngapain lo ke sini—"

​"Sshh..." Arka menenggelamkan wajahnya di ceruk leherku.

​Detik itu juga, penolakanku terhenti. Aku merasakan tubuh besar pria itu gemetar pelan di pelukanku. Napasnya terputus-putus. Wangi sandalwood-nya tersapu oleh aroma hujan dan keringat kelelahan. Di balik lengannya yang kokoh, aku bisa merasakan kehancuran dan kelelahan mental yang luar biasa pekat dari pria ini.

​"Gue minta maaf, Nja. Tolong... gue minta maaf buat semuanya," bisik Arka di ceruk leherku. Suaranya pecah, bergetar menyayat hati. "Gue nggak tahu kalau Clara bakal main kotor sejauh itu buat ngerusak kedai lo. Gue bakal beresin semuanya. Gue janji."

​Mendengar nada putus asanya, pertahananku yang sudah retak sejak tadi siang akhirnya runtuh total. Air mata yang susah payah kubendung tumpah membasahi kemejanya. Tanganku yang tadinya memukul dadanya, kini balas meremas kain kemejanya di bagian punggung.

​"Gimana caranya, Ka?" isakku meledak di dadanya. Dadaku sesak luar biasa. "Bokap lo... Clara... mereka punya segalanya. Mereka punya kuasa, mereka punya uang buat nutup tempat gue tanpa nyentuh satu bata pun. Gue ini cuma semut buat mereka, Ka! Gue nggak kuat kalau harus terus-terusan jadi sasaran tembak mereka!"

​Arka perlahan merenggangkan pelukannya. Ia menangkup wajahku yang basah oleh air mata dengan kedua telapak tangannya yang besar dan hangat. Ibu jarinya mengusap jejak air mataku dengan kelembutan yang sangat kontras dengan keputusasaannya.

​"Gue butuh napas, Nja," Arka menatap lurus ke dalam mataku. Ada kejujuran yang sangat telanjang dan rasa sakit yang sama besarnya di sana. "Di sana... gue ngerasa kecekik. Dan gue mau lo ada di samping gue buat ngambil napas itu. Ikut gue sekarang."

​Aku sesenggukan. "Ke mana?"

​"Ke mana pun. Asal bukan di kota berengsek ini. Semalam aja."

​Aku menatap mata kelam itu. Logikaku berteriak agar aku masuk ke dalam kamar, mengunci pintu, dan menjauhi sumber segala malapetakaku ini. Tapi hatiku... hatiku yang bodoh ini tahu bahwa pria di depanku ini sedang sekarat karena kerinduannya padaku.

​Akhirnya, aku mengangguk. Aku hanya masuk sebentar untuk mengambil jaket tebal dan ponselku, mengunci pintu kosan, lalu melangkah naik ke dalam jip tua Arka.

​Kami berkendara membelah malam kelabu. Meninggalkan gemerlap lampu Jakarta, menembus kemacetan, hingga akhirnya jalanan mulai lengang dan menanjak ke arah selatan.

​Arka menyetir dalam diam yang menenangkan. Matanya fokus menatap jalanan berkelok di depan. Kaca jip sengaja ia turunkan separuh. Perlahan, udara malam yang kotor dan sumpek tergantikan oleh hembusan angin dingin yang menusuk tulang, membawa serta aroma tanah basah, embun, dan daun pinus.

​Setelah lebih dari dua jam perjalanan, jip tua itu berbelok ke sebuah jalan tanah berbatu, menembus rimbunnya pepohonan, dan akhirnya berhenti di pelataran sebuah vila tua yang tersembunyi di lereng bukit kawasan Puncak.

​Bangunan itu tidak megah. Hanya vila sederhana yang terbuat dari kayu jati tua dan batu alam, dikelilingi oleh kabut tebal yang membuatnya terasa seperti pulau terpencil di atas awan.

​"Vila ini punya nenek gue dari pihak nyokap," cerita Arka pelan saat ia memutar anak kunci dan mendorong pintu kayu berderit itu. "Bokap gue benci tempat ini karena dianggap terlalu udik dan nggak punya nilai komersial. Keluarga gue jarang banget ke sini."

​Kami melangkah masuk. Interiornya berbau kayu dan debu tipis, tapi terasa sangat hangat dan melindungi.

​Arka menyalakan beberapa lampu kuning temaram, lalu pergi ke dapur. Sepuluh menit kemudian, ia kembali membawa dua cangkir teh melati yang mengepul hangat. Kami duduk bersisian di kursi rotan panjang di teras belakang vila, menghadap langsung ke arah lembah gelap yang dipenuhi kerlip lampu-lampu rumah penduduk di kejauhan. Arka menyampirkan sebuah kain selimut wol tebal yang ia temukan di lemari untuk menutupi tubuh kami berdua.

​"Nja," Arka membuka suara setelah keheningan yang cukup panjang. Asap dari cangkir tehnya menari-nari ditiup angin pegunungan.

​"Tadi siang, pas lo dateng ke kantor..." Arka menatap lurus ke arah kabut. "Bokap gue baru aja ngasih ultimatum terakhir. Dia dan Pak Wibowo nekan gue. Gue dikasih pilihan: tanda tangan dokumen peleburan perusahaan dan umumkan pertunangan itu..."

​Arka menjeda kalimatnya. Jakunnya bergerak naik turun. "...atau gue harus angkat kaki dari perusahaan tanpa sepeser pun hak waris, dan proyek mal itu bakal diserahkan ke orang lain."

​Aku menoleh, menatap profil samping wajahnya yang tegas. Jantungku berdetak tak menentu. "Dia pikir dengan ngerusak kedai lo, dia bisa mecah konsentrasi gue dan bikin lo benci sama gue. Dan nyaris aja dia berhasil, kan?" lanjut Arka tersenyum getir.

​"Terus... apa pilihan lo, Ka?" tanyaku lirih, nyaris berbisik karena takut mendengar jawabannya. Apakah dia akan memilih kerajaan bisnisnya?

​Arka perlahan menoleh padaku. Matanya memantulkan cahaya redup dari dalam vila.

​"Gue nggak mau milih salah satu dari yang disodorin bokap gue," jawabnya dengan suara berat dan mantap. "Kalau gue harus kehilangan semuanya... semua uang, fasilitas, jabatan, dan privilese itu... demi bisa duduk di sini sama lo tanpa harus pakai topeng direktur yang mencekik..."

​Arka meletakkan cangkir tehnya, lalu beralih menatap bibirku dan kembali ke mataku.

​"...gue rasa itu harga yang sangat pantas buat dibayar, Senja."

​Aku terpaku. Oksigen serasa menguap dari paru-paruku. "Tapi, Ka... lo bakal kehilangan masa depan lo. Lo nggak bakal jadi Direktur Utama lagi. Lo bakal jadi orang biasa, kerja keras dari nol, sama kayak gue. Lo yakin bisa hidup kayak gitu?"

​Arka tersenyum kecil. Dan kali ini, di bawah langit malam yang sunyi, senyum itu benar-benar mencapai matanya. Sangat tulus dan melegakan.

​Ia memindahkan cangkirku ke meja, lalu meraih kedua tanganku yang dingin. Ia menggenggamnya erat, menyusupkan kehangatannya melalui sela-sela jariku, lalu membawa punggung tanganku ke bibirnya untuk dikecup lama.

​"Menjadi orang biasa dan ngelewatin susahnya hidup bareng lo..." bisik Arka tepat di depan bibirku, "...jauh lebih baik daripada gue harus jadi raja kesepian di menara kaca yang nggak punya hati itu, Nja."

​Di bawah langit malam yang sunyi, dijaga oleh kabut pegunungan dan jauh dari kebisingan serta intrik kotor Jakarta, aku menyandarkan kepalaku di bahu lebarnya. Arka merangkul pinggangku, mendekapkan tubuh kami di bawah satu selimut yang sama.

​Untuk pertama kalinya sejak surat penggusuran laknat itu datang ke hidupku, aku merasa seluruh beban berat di dadaku terangkat sepenuhnya.

​Meskipun aku tahu persis bahwa besok pagi kami harus turun gunung dan kembali menghadapi badai murka dari ayahnya yang pasti jauh lebih brutal... setidaknya malam ini, di vila di atas awan ini, kami tidak perlu memikirkan apa pun. Malam ini, kami hanyalah dua manusia biasa yang sedang saling mencintai dan berpegangan tangan, tanpa label, tanpa status, dan tanpa rasa takut.

1
Indah
Terima kasih buat autornya yg membuat karya sebagus da semenarik ini🙏🙏
Indah
Arka junior dah launcing
Indah
Sampai akhir papanya tetep gak berubah
Indah
Ketegangan masih berlanjut
Indah
/Sob//Sob//Sob/...
Indah
Saingan cinta datang💪💪
Indah
Gak mudah memang...
Cinta perjuangan n pengorbanan ...
Ea.....🤭🤭
Indah
/Smile/
Indah
waaahhh....
emak emak baperan ini jd ikut guling2 saking so sweetnyaaaa....
Indah
Gak perlu bilang i love u dr perilaku n perbuatanya juga dah jelas arka suka ma kamu ja
Indah
Ngeri2 sedep suasananya pas bapaknya Arka muncul/Skull//Skull/
Indah
Nemu satu lagi karya yg bagus disini yg sesuai selera q 😍😍
Indah
Sadarnya Senja akan perasaanya...
Tp q rasa perjalananya akan sangat sulit/Whimper//Whimper/
Indah
Bacanya ikutan gak karuan rasanya...
Deg Degkan tp jg sambil senyum senyum gak jelas😍😍
Indah
Rasa itu kah yg muncul tiba2...
Nhi Nguyễn
/Smile/
Nhi Nguyễn
/Smile//Smile/
ana khoirul mala
bagus kak ceritanya...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!