Keyla, seorang mahasiswi berparas menawan dengan hati yang begitu lugu, menghabiskan bertahun-tahun masa remajanya hanya untuk mengejar punggung seorang pria yang tak ubahnya bongkahan es di kutub terdalam: Rendi.
Sejak hari pertama di bangku kelas 3 SMA, Keyla telah menambatkan hatinya secara mutlak. Namun, Rendi bukanlah pangeran dongeng yang siap menyambut cintanya. Di tengah rasa putus asa akibat penolakan Rendi yang terus-menerus, hadir sosok Indra, pria hangat yang merengkuh Keyla saat ia hancur. Mampukah Keyla bertahan ketika dunia dan sahabatnya sendiri berkonspirasi untuk menghancurkannya? Dan akankah Rendi, sang pria gunung es, menyadari bahwa ia telah mematahkan hati satu-satunya wanita yang bersedia mati untuknya, sebelum semuanya terlambat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pengamat Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Rasa Ini
"Semakin aku diabaikan, semakin akar cinta ini mencekik jantungku. Awalnya kupikir rasa ini hanyalah tunas kecil yang akan layu jika tak disiram. Namun aku salah. Rasa ini adalah benalu berduri; ia tak butuh air atau cahaya darimu untuk tumbuh. Ia menghisap kewarasanku, melilit nadiku, dan memaksaku berdarah hanya agar aku tetap bisa merasakan eksistensimu di dalam jiwaku." (Buku Harian Keyla, Halaman 101)
Malam merangkak pelan memeluk ibu kota, menyisakan rintik hujan yang mengetuk kaca jendela kamarku dengan irama monoton. Di atas meja belajarku, buku-buku tebal berserakan, terbuka pada halaman-halaman yang dipenuhi coretan highlighter kuning dan hijau. Besok adalah hari keempat Ujian Kelulusan Sekolah, mengujikan mata pelajaran Kimia dan Bahasa Inggris.
Namun, alih-alih menghafal tabel periodik atau tenses, mataku hanya menatap kosong ke arah ujung pulpen yang kupegang.
Sedetik. Hanya sedetik tatapan itu terjadi di kelas tadi pagi, namun efeknya bagai gempa bumi berkekuatan sembilan skala Richter yang meluluhlantakkan seluruh sisa pertahanan logikaku.
Aku memejamkan mata, membiarkan kepalaku bersandar pada sandaran kursi. Saat kelopak mataku tertutup, yang muncul bukanlah rumus molekul, melainkan sepasang mata kelam milik Rendi. Mata yang memancarkan kehancuran, kelelahan, dan sebuah permohonan sunyi yang tak terucapkan.
Aku menyentuh dada kiriku. Ada ritme yang tak beraturan di sana, berdenyut dengan rasa ngilu yang begitu pekat.
Inikah yang namanya cinta? bisikku dalam hati, sebuah pertanyaan retoris yang telah kutanyakan ribuan kali pada diriku sendiri.
Jika cinta adalah kebahagiaan, lalu mengapa aku selalu menangis? Jika cinta adalah tempat bersandar, lalu mengapa aku merasa seperti sedang memeluk kaktus berduri yang setiap durinya menancap tepat di ulu hatiku? Semakin Rendi mendorongku menjauh, semakin ia mengabaikanku, mengusirku, dan menatapku dengan dingin, akar perasaan ini justru semakin dalam menghunjam dasar jiwaku.
Aku merindukannya. Aku merindukan laki-laki yang bahkan tak pernah mengizinkanku untuk mengenalnya.
Pagi harinya, aku berangkat ke sekolah dengan kantung mata yang tersembunyi di balik sapuan tipis concealer. Suasana gerbang sekolah dipenuhi oleh wajah-wajah tegang dan langkah-langkah terburu-buru. Ujian telah menyedot seluruh energi masa muda kami.
Saat aku melangkah masuk ke kelas XII-IPA 1, mataku secara refleks mencari sosoknya di sudut belakang.
Ia sudah ada di sana. Duduk dengan postur yang sama, kaku dan tertutup. Kemeja putihnya terlihat sedikit basah di bagian bahu, mungkin karena ia menerobos gerimis pagi ini tanpa payung atau jas hujan.
Aku berjalan menuju mejaku yang berada di depannya. Sengaja kuperlambat langkahku saat melewatiny, berharap ia akan mendongak. Berharap keajaiban sedetik kemarin akan terulang kembali. Aku menahan napas, menanti.
Namun, gunung es itu telah kembali utuh.
Rendi tidak menoleh sedikit pun. Matanya terpaku pada selembar kertas buram di atas mejanya, tangannya sibuk mencoret-coret sesuatu dengan cepat. Garis rahangnya terlihat mengeras, auranya memancarkan peringatan mutlak agar tidak ada satu pun manusia yang berani mengganggunya. Tatapan rapuh yang ia tunjukkan kemarin seolah telah ia bunuh dan ia kubur dalam-dalam semalaman.
Kekecewaan menghantam dadaku, menguras oksigen dari paru-paruku. Aku menarik kursi dan duduk dengan bahu merosot. Apa yang kau harapkan, Keyla? Bahwa ia akan tiba-tiba tersenyum padamu? Aku merutuki kebodohanku sendiri.
Bel masuk berbunyi, dan ujian Kimia pun dimulai.
Suasana kelas kembali senyap, kaku, dan mencekam. Pengawas hari ini berjalan mondar-mandir dengan tatapan mengintimidasi. Aku menunduk menatap lembar soal, mencoba memaksa otakku bekerja.
Namun di belakangku, Rendi kembali menjadi hantu yang menyiksaku dalam diam. Aku tidak mendengar suara coretan pensilnya sebebas kemarin. Kudengar ia terbatuk beberapa kali, batuk yang terdengar basah dan menyakitkan. Sesekali terdengar suara decakan pelan dari lidahnya, sebuah tanda frustrasi yang sangat jarang ia keluarkan.
Aku menggigit bibirku kuat-kuat. Tanganku yang memegang pensil bergetar. Aku ingin menoleh. Aku ingin memastikan keadaannya. Tapi aku tahu, jika aku menoleh hari ini, ia akan memberiku tatapan jijik atau merendahkan seperti yang Siska tuduhkan padanya. Aku tak sanggup menerima tatapan kebencian itu lagi.
Waktu berlalu layaknya tetesan air dari keran yang bocor—lambat dan menyiksa.
Saat bel tanda ujian selesai akhirnya berbunyi, Rendi menjadi orang pertama yang bangkit. Ia mengumpulkan LJK-nya ke depan meja pengawas dengan langkah lebar, lalu langsung keluar dari kelas tanpa menoleh ke belakang sedikit pun. Ia pergi secepat angin, menghindari interaksi apa pun.
Aku menatap pintu kelas yang kosong dengan dada yang terasa sangat sesak. Akar cinta ini benar-benar sedang mencekikku, membuatku tak bisa bernapas setiap kali ia menghilang dari pandanganku.
"Akhirnya selesai juga bagian pertama!" erang Bella keras, meregangkan tubuhnya hingga terdengar bunyi gemeretak dari tulang punggungnya. "Gue rela deh ngawinin anak IPA asal nggak disuruh ngerjain soal Hidrokarbon lagi seumur hidup gue!"
Lidya memukul pelan bahu Bella dengan buku catatannya. "Lo mau ngawinin anak IPA siapa? Reza? Doni? Yang ada lo berdua malah bikin pabrik kebodohan."
"Sialan lo, Lid!" sungut Bella, bibirnya mengerucut sebal.
Siska yang duduk di sampingku menutup tempat pensilnya dengan anggun. Ia menatapku lekat, menyadari bahwa aku hanya diam mematung sejak Rendi keluar dari kelas. Senyum lembut Siska yang tak pernah absen itu kembali menghiasi wajahnya.
"Keyla, kamu pucat banget hari ini. Mendingan kita ke kantin yuk, minum yang hangat-hangat," ajak Siska sambil merangkul lenganku.
"Iya, Key. Lo dari tadi diem aja. Soalnya susah banget ya?" tambah Lidya khawatir.
Aku menggeleng pelan, memaksakan senyum tipis. "Nggak apa-apa kok. Ayo ke kantin, aku juga butuh minum."
Kantin sekolah siang itu dipenuhi siswa yang sedang melepas stres pasca-ujian. Kami berempat berhasil mengamankan meja di dekat jendela. Lidya dan Bella sibuk memesan makanan, sementara aku dan Siska duduk berhadapan.
Siska menatapku dengan sorot mata yang penuh dengan 'kasih sayang' buatan. Tangannya terulur menyentuh punggung tanganku yang terasa dingin.
"Key," panggil Siska dengan suara yang sangat pelan, sangat melodius, layaknya seorang psikolog yang sedang menangani pasiennya yang paling rapuh. "Sampai kapan kamu mau menyiksa dirimu sendiri seperti ini?"
Aku menunduk, menatap serat-serat kayu di meja kantin. "Aku nggak nyiksa diri, Sis."
Siska menghela napas panjang, sebuah embusan yang dramatis. Ia menggeleng pelan. "Mata kamu nggak bisa bohong, Keyla. Setiap kali Rendi lewat, setiap kali kamu ngeliat bangku kosongnya, kamu kayak orang kehilangan nyawa. Kamu masih berharap sama dia kan? Setelah semua kata-kata kasar yang dia lempar ke kamu? Setelah dia ngehina niat baik kamu di lorong itu?"
Kata-kata Siska kembali memutar kaset memori yang paling ingin kuhapus. Dadaku kembali berdenyut ngilu.
"Dia nggak bermaksud kasar, Sis. Hidupnya... hidupnya terlalu keras. Aku yang salah karena nggak bisa memahami cara berpikirnya," belaku lemah, suaraku nyaris seperti bisikan putus asa.
Siska mengeratkan genggamannya di tanganku, matanya menatapku dengan intensitas yang mengunci mentalku.
"Keyla sayang, berhentilah mencari pembenaran atas sikap buruk laki-laki," ucap Siska dengan nada keibuan yang sangat mematikan. "Kemiskinan dan penderitaan itu bukan alasan (untuk) menjadi manusia yang tidak tahu adab. Kamu pikir dengan terus-terusan mengalah dan menerima perlakuannya, dia akan tiba-tiba berubah jadi pangeran yang mencintaimu? Enggak, Key. Dia cuma akan semakin merendahkanmu. Dia akan berpikir bahwa kamu adalah gadis lemah yang bisa dia injak-injak harga dirinya kapan saja."
Aku memejamkan mata, membiarkan kata-kata Siska merasuk. Racun itu terasa begitu logis, begitu masuk akal. Di mata orang normal, perasaanku ini adalah sebuah kebodohan yang hakiki.
"Aku nggak nuntut dia buat balas perasaanku, Sis," isakku tertahan, air mata mulai menggenang di pelupuk. "Aku cuma mau dia tahu kalau ada orang yang peduli sama dia. Aku cuma nggak mau dia ngerasa sendirian."
"Tapi dia ingin sendirian, Key!" desak Siska, kali ini suaranya sedikit lebih tegas, menekankan setiap suku kata ke dalam otakku. "Dia yang menolakmu. Dia yang menutup pintunya. Kalau kamu terus memaksa masuk, kamu bukan lagi orang yang peduli, tapi kamu adalah pengganggu. Kamu harus bunuh perasaan ini, Keyla. Sebelum perasaan ini yang membunuhmu."
Aku mengangkat wajahku, menatap Siska dengan pandangan nanar. "Gimana caranya, Sis? Gimana caranya ngebunuh perasaan yang bahkan aku sendiri nggak tahu kapan mulainya?"
Siska tersenyum. Senyum kemenangan yang tersembunyi dengan sangat rapi di balik kedok empati. Ia mengusap air mataku dengan lembut menggunakan ibu jarinya.
"Buka matamu untuk orang lain, Key," bisik Siska bagai ular yang sedang merayu mangsanya. "Indra selalu ada buat kamu. Dia laki-laki yang nyata, yang punya masa depan terang, yang bisa menempatkanmu seperti seorang ratu. Belajarlah menerima Indra. Begitu kamu merasakan kehangatan yang benar-benar nyata, kamu akan sadar betapa konyolnya kamu menangisi bongkahan es yang kotor itu."
Tepat saat nama Indra disebut, rombongan Lidya dan Bella kembali ke meja membawa nampan berisi batagor dan es jeruk. Di belakang mereka, berdiri sosok tegap Indra. Laki-laki itu rupanya tak sengaja berpapasan dengan mereka saat hendak memesan minuman.
"Hai, Key," sapa Indra dengan senyum lesung pipinya yang mempesona. Ia mengenakan seragam yang rapi, memancarkan pesona kapten futsal yang tak tertandingi. "Gimana ujian Kimia hari ini? Lancar?"
Indra meletakkan sebotol minuman isotonik dingin di dekat tanganku. "Nih, buat gantiin cairan tubuh yang hilang gara-gara mikirin rumus."
Aku menatap botol itu, lalu menatap Indra. Laki-laki ini begitu sempurna. Siska benar. Jika aku menyerahkan hatiku pada Indra, hidupku akan dipenuhi oleh kejutan manis, senyuman, dan pujian. Aku tidak perlu menangis semalaman. Aku tidak perlu merasa ditolak atau dihinakan.
Tapi hatiku... hatiku menolak berkompromi.
"Makasih, Ndra," jawabku pelan, memaksakan seutas senyum yang kuciptakan dengan susah payah.
Siska menatapku penuh harap, mengisyaratkan agar aku membuka diri pada Indra. Namun aku tidak bisa. Aku menundukkan wajahku kembali, menyibukkan diri mengaduk-aduk es jerukku.
"Sama-sama, Key. Oh ya, besok kan ujian terakhir. Habis ujian selesai, anak-anak kelas aku mau ngadain makan-makan santai di kafe seberang sekolah," ajak Indra, matanya memancarkan harapan yang besar. "Kamu... mau ikut? Lidya, Bella, Siska juga boleh gabung. Sekalian ngerayain kebebasan kita."
Bella langsung bersorak kegirangan. "Wah, asik tuh! Boleh banget, Ndra! Gue butuh banget asupan gizi yang enak habis diperkosa soal ujian seminggu ini!"
"Gue juga ikut deh," sahut Lidya santai. Lidya menendang pelan kakiku di bawah meja, memberikanku kode agar aku tidak menolak.
Indra menatapku intens. "Gimana, Key? Kamu ikut kan?"
Aku merasakan tatapan Siska, Lidya, Bella, dan Indra menusukku dari berbagai arah. Mereka semua menungguku mengatakan 'iya'. Mereka semua berusaha menarikku ke dalam dunia yang terang benderang.
Namun di dalam kepalaku, yang tergambar justru pemandangan lain. Besok adalah ujian terakhir. Itu artinya, besok adalah hari terakhir aku bisa melihatnya di kelas ini. Setelah ujian selesai, kami akan libur panjang menunggu pengumuman. Rendi pasti akan langsung menghilang, ditelan oleh pekerjaannya di pasar atau di jalanan. Aku mungkin tidak akan pernah melihatnya lagi. Kesadaran itu membuat dadaku serasa dihantam palu godam. Kehilangan Rendi selamanya terasa jauh lebih menakutkan daripada harus menelan kata-kata kasarnya.
"A-aku... lihat besok ya, Ndra," jawabku akhirnya, suaraku bergetar. "Takutnya Mama udah nyuruh langsung pulang buat acara keluarga."
Raut wajah Indra sedikit meredup, namun ia dengan cepat menutupinya dengan anggukan maklum. Siska membuang muka, mendesah pelan dengan penuh kekecewaan yang kentara. Lidya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Mereka menyerah untuk memaksaku hari ini.
Saat bel istirahat usai, aku meminta izin untuk mencuci muka di toilet sebelum kembali ke kelas. Aku memisahkan diri dari teman-temanku, berjalan menyusuri koridor belakang yang sepi. Hujan mulai turun rintik-rintik lagi, membasahi pelataran sekolah dengan hawa dingin yang menusuk tulang.
Saat aku berbelok ke arah gudang alat olahraga, langkahku mendadak terhenti.
Napas di tenggorokanku tercekat.
Di ujung koridor yang sedikit temaram itu, Rendi berdiri membelakangiku. Ia sedang bersandar pada pilar beton, menatap ke arah lapangan yang diguyur gerimis.
Di tangannya, ia memegang sebuah ponsel batangan model lama yang tombolnya sudah pudar. Layarnya menyala redup. Ia sedang menelepon seseorang.
Dalam keheningan koridor itu, suaranya terdengar sayup-sayup, namun cukup jelas untuk menembus indra pendengaranku.
"Iya, Pak... saya mohon maaf sekali," suara Rendi terdengar sangat serak, bergetar menahan sesuatu yang tak kasatmata. Ia sedikit menundukkan kepalanya, gestur seorang laki-laki yang sedang membuang seluruh sisa harga dirinya ke tanah. "Saya tahu saya sudah menunggak tiga bulan... Tapi tolong, jangan keluarkan Nanda dari panti. Saya janji, bulan depan setelah ujian ini selesai, saya akan ambil kerja shift malam penuh. Saya akan bayar semuanya beserta bunganya, Pak. Saya mohon... jangan telantarkan adik saya di jalan."
Jantungku berhenti berdetak. Dunia di sekelilingku seketika hening. Hanya ada suara rintik hujan dan suara keputusasaan dari laki-laki di ujung sana.
Rendi... ia sedang memohon pada pihak panti asuhan. Uang yang ia hasilkan dari kuli dan badut ternyata tidak cukup untuk menutupi biaya hidup adiknya. Nilainya yang anjlok membuatnya terancam kehilangan beasiswa, dan kini, ia terancam kehilangan tempat bernaung satu-satunya bagi Nanda.
Ia memutus panggilan itu. Lengannya yang memegang ponsel terkulai lemas di sisi tubuhnya. Ia menengadahkan kepalanya ke belakang, menyandarkannya pada pilar beton yang keras.
Dari tempatku berdiri, aku bisa melihat rahangnya mengeras. Dadanya naik turun dengan ritme yang cepat dan tak beraturan. Dan di bawah cahaya koridor yang temaram, aku melihat punggung tangannya terangkat, mengusap matanya dengan kasar.
Laki-laki gunung es itu... sedang menangis dalam kebisuan yang paling menyiksa.
Air mataku tumpah seketika, mengalir deras membasahi pipiku. Kakiku gemetar hebat, rasanya ingin ambruk ke lantai saat itu juga.
Kata-kata Siska kembali terngiang di kepalaku. Dia ibarat penyakit... Dia nggak punya hati... Bunuh perasaanmu, Keyla.
Aku meremas ujung rok seragamku dengan kuat hingga buku-buku jariku memutih.
Tidak, Siska. Kamu salah besar, jeritku dalam hati sambil terisak pelan agar tak terdengar olehnya.
Ia bukan monster yang tak punya hati. Ia adalah manusia yang hatinya terlalu besar, namun dipaksa hancur oleh kejamnya dunia. Ia menolakku dengan kasar karena ia merasa dirinya adalah noda kotor yang akan menghancurkan masa depanku jika ia membiarkanku mendekat. Ia menolak belas kasihanku karena itu adalah satu-satunya benteng yang tersisa agar ia tetap merasa menjadi manusia, bukan pengemis.
Akar cinta yang mencekik jantungku ini... ia tidak melilitku untuk membunuhku. Ia melilitku untuk menahanku agar tidak lari.
Aku menatap punggung lebarnya yang berguncang samar. Di detik itu, aku membuat sebuah keputusan gila. Sebuah keputusan yang mungkin akan menghancurkan persahabatanku dengan Siska, melukai Indra, dan membuatku dibenci oleh Rendi selamanya.
Aku tidak peduli lagi. Aku tidak akan mundur.
Aku tidak bisa membiarkannya menangis sendirian di ujung koridor ini sementara aku hidup nyaman di rumah istanaku. Jika ia membenciku karena aku mencoba membantunya, maka biarlah aku menjadi orang yang paling ia benci di dunia ini. Asalkan ia dan adiknya bisa bertahan hidup.
Aku memutar tubuhku perlahan, berjalan mengendap-endap mundur agar suara langkahku tak mengganggunya. Aku berlari menuju toilet, menghapus air mataku dengan kasar, lalu membasuh wajahku.
Saat aku menatap pantulan wajahku di cermin toilet, mataku tak lagi memancarkan keraguan. Aku telah menemukan jawabannya.
"Inikah rasanya cinta pertama? Ya. Rasanya seperti mati berkali-kali. Namun jika kematianku bisa menjadi tameng yang melindungimu dari kejamnya dunia, Rendi, maka aku akan dengan senang hati mati ribuan kali untukmu." (Buku Harian Keyla, Halaman 103)
Aku berlari kembali menuju kelas. Besok adalah hari terakhir ujian. Besok adalah hari terakhirku berstatus sebagai teman sekelasnya. Dan aku tahu persis apa yang harus kulakukan, meski itu berarti aku harus mengirimkan sebuah pesan cinta tanpa nama yang mungkin akan menjadi bom bunuh diri bagi hatiku sendiri.
semangat ya kak
so happy next cerita mereka dah dewasa
lama" muak ga sih di GITUIN Mulu udah tau ga mau masih aja
biarpun niatnya baik