NovelToon NovelToon
Love Mercenary Killer

Love Mercenary Killer

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: bgreen

Penculikan yang salah berujung pada malam panas. Lalu, wanita menghilang. Obsesi sang pembunuh bayaran dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bgreen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ciuman panas

Maple berjalan pelan di tengah hiruk-pikuk jalanan London. Langkahnya goyah menyusuri trotoar berbatu di sekitar Piccadilly Circus, di mana layar neon besar berkedip-kedip menyala terang meskipun langit sudah mulai mendung.

Udara pekat dengan bau diesel dari bus merah khas kota ini, campuran wangi roti panas dari kedai lokal dan parfum mahal dari toko-toko mewah di Oxford Street.

Namun ia tak bisa merasakan apa-apa selain kebingungan yang menguasai dirinya—tak tahu harus pergi ke mana, dengan keadaan hidup yang seolah hanya membawa dia pada jalan buntu yang semakin sempit.

Tiba-tiba, angin kencang dari arah Sungai Thames menerpa wajahnya, membawa kabut tipis yang biasa menghiasi ibukota Inggris.

Sebelum ia bisa mencari tempat berteduh di bawah kanopi toko atau markas bis, hujan turun dengan derasnya—air hujan menusuk seperti jarum, membasahi mantel tebal yang dikenakannya dalam sekejap.

Suara gemericik air yang membanjiri jalanan berbatu seolah memperkuat deru kesedihan di dalam hatinya.

Cuaca yang berubah secara tiba-tiba membuatnya berpikir bahwa hidup ini memang tak ada gunanya; seolah alam semesta sendiri sedang menindasnya, sama seperti kota besar yang selalu terasa terlalu luas dan dingin baginya.

Dari kecil ia sudah yatim piatu, tumbuh di panti asuhan di pinggiran kota Manchester sebelum pindah ke London beberapa tahun lalu.

Dirinya mulai mengingat kembali, di usia yang seharusnya penuh dengan impian dan kenangan indah, ia harus bekerja keras dari pagi hingga malam sebagai pramusaji di restoran kecil di daerah Covent Garden—tanpa waktu untuk menikmati remajanya di antara atraksi seni kota ini, tanpa seseorang yang bisa menjadi sandaran di tengah hiruk-pikuk kehidupan kota besar.

Ia melangkah tanpa tujuan di tengah derasnya hujan, air mata mengalir lepas melebur dengan tetesan air hujan di wajahnya yang sudah merah karena dingin.

Orang-orang yang tadinya ramai berdesakan di trotoar kini sudah hilang semuanya—berlindung di dalam kafe hangat atau berlari pulang ke apartemen mereka yang terletak di balik gedung-gedung bergaya Victoria.

Jalanan yang ramai kini hanya sepi, hanya dirinya dan hembusan angin yang menusuk tulang melalui celah-celah pakaiannya.

Rasa putus asa semakin membanjiri pikirannya saat ia melihat jalan raya di sebelahnya, di mana mobil-mobil dan bus merah terus melaju dengan cepat seperti tidak peduli akan apa yang terjadi di sekitarnya.

Tanpa sadar, tangannya meraba kantong dalam mantelnya dan mengeluarkan sebuah senjata kecil—sesuatu yang diberikan oleh seorang pria yang menculiknya beberapa lalu. Ia mengangkat senjata itu, menyandarkannya di pelipis kepalanya, jari jemari sudah siap menarik pelatuk.

"Klik—"

Suara kosong yang keluar membuat hatinya terkejut dan kemudian penuh kemarahan. "Sial... Dasar pria brengsek! KAU MEMBERIKU SENJATA KOSONG!" teriaknya dengan suara yang hancur, bergema di jalan sepi yang hanya diiringi suara hujan dan deru mesin mobil dari kejauhan.

Rasa dipermainkan membuatnya semakin kehilangan kendali, pikirannya hanya terpaku pada satu hal: mengakhiri segalanya sekarang juga.

Dengan tatapan kosong yang tak ada harapannya, ia melangkah perlahan ke tengah jalan raya. Cahaya lampu mobil mulai muncul dari kejauhan, semakin dekat dengan kecepatan tinggi yang membuatnya merasa bahwa akhirnya semua akan berakhir.

"Tiiiiittttt—!!!"

Suara klakson yang menusuk telinga menyertai dengan kilatan cahaya yang membakar matanya.

Saat mobil hampir menjatuhkannya, sepasang tangan kuat tiba-tiba menarik tubuhnya ke belakang dengan keras. Tubuhnya terbentur dengan tubuh seseorang, membuat kedua orang itu terjatuh di tepi jalan yang licin akibat hujan dan genangan air yang menggenang di antara batu trotoar.

"Apa kau sudah gila?!" suara pria yang menolongnya terdengar tegas dan penuh kekhawatiran, meskipun wajahnya tetap tampak dingin.

Di tengah derasnya hujan dan kabut yang mulai kembali menyelimuti kota, mata Rex menatap Maple dengan tatapan yang dalam—seolah bisa melihat kedalaman kesedihan yang tersembunyi di balik pandangan kosongnya.

Tanpa berkata apa-apa lagi, ia menggenggam tangan wanita itu dengan erat dan membawanya menuju ke mobil yang terparkir di bawah kanopi gedung kantor di dekat Trafalgar Square.

"Lepaskan aku! Dasar bajingan, kau pria brengsek! Kau senang mempermainkanku dengan memberiku senjata kosong bukan?!" seru Maple dengan suara yang bergetar, mencoba melepaskan diri dari genggaman pria itu. Air mata masih mengalir deras, bercampur dengan hujan yang terus menerus turun.

Rex berhenti sejenak, menoleh dengan wajah yang tak menunjukkan emosi apa-apa sambil melihat lampu-lampu jalan yang menerangi jalanan basah.

"Jika kau benar-benar ingin mati, aku bisa membantumu dengan cara yang cepat." Ucapnya dengan nada yang dingin, lalu menarik kembali tangan Maple dan terus mengarah ke mobil.

Maple hanya bisa diam dan mengikutinya. Ia duduk di kursi belakang dengan pandangan yang tetap kosong, tubuhnya masih menggigil karena basah dan dingin akibat angin yang masuk melalui celah jendela mobil.

Ia tak peduli kemana pria ini akan membawanya—baginya, tidak ada tempat yang lebih buruk dari keadaan hidupnya saat ini di kota London yang seolah selalu menolak keberadaannya.

*

Beberapa menit kemudian, mobil berhenti di depan sebuah gedung apartemen mewah di daerah Belgravia, di mana rumah-rumah bergaya georgia berdiri megah di sepanjang jalan raya yang tenang.

Lampu-lampu taman di setiap halaman memancarkan cahaya hangat yang kontras dengan suasana hujan yang suram.

Rex keluar dari mobil dan dengan cermat membuka pintu untuk Maple, tangannya langsung menggenggam tangan wanita itu lagi saat ia turun, mengarah ke pintu masuk gedung yang dihiasi batu bata merah khas arsitektur London.

Mereka memasuki lift yang luas dengan dinding berlapis marmer putih dan lantai karpet tebal.

Lift perlahan naik hingga mencapai lantai paling atas—lantai yang hanya menghuni satu unit hunian saja: sebuah penthouse mewah dengan teras pribadi yang menghadap ke pemandangan Menara Big Ben yang jauh di kejauhan, meskipun kini tertutup kabut dan hujan.

Rex keluar dari lift dengan langkah santai, seolah rumah itu memang miliknya sendiri. Ia membuka pintu penthouse dengan sebuah kunci besi tua yang terlihat antik, dan cahaya hangat dari lampu kristal dalam ruangan langsung menyambut mereka.

Ruangan yang luas dengan lantai kayu oak berkualitas tinggi, perabotan klasik Inggris, dan lukisan-lukisan lama menghiasi dindingnya terlihat jelas di hadapan mata Maple.

Maple dengan cepat melepaskan genggaman Rex saat mereka berada di dalam ruangan. Ia berdiri di tengah ruangan yang hangat karena sistem pemanas sentral, namun tubuhnya masih menggigil—baik karena dingin maupun karena kebingungan yang baru muncul di dalam dirinya. Udara dalam ruangan terasa segar dengan campuran wangi kayu dan dupa mahal.

"Maple..." ucapnya dengan suara pelan, hampir tak terdengar di ruangan yang sepi kecuali suara nyala kayu bakar dari perapian di sudut ruangan.

Rex menoleh ke arahnya, matanya tetap memperhatikan setiap gerakan wanita di depannya sambil melepas jaket yang basah.

"Maple Campbell itu namaku," tambahnya dengan pandangan kosong yang mulai sedikit berubah, menunjukkan rasa kelelahan yang mendalam.

Tanpa sadar, tangannya meraih kedua tangan Rex dan dengan perlahan menempatkannya di lehernya sendiri. Kulitnya yang dingin membuat Rex sedikit terkejut.

"Aku mohon... Bunuhlah aku dengan cepat. Jangan biarkan aku merasakan penderitaan lagi di kota yang tak pernah merasa seperti rumah bagiku." ucapnya dengan air mata yang mengalir deras, mata tertutup rapat siap menerima akhir yang telah lama diinginkannya.

Rex hanya diam sejenak. Secara logika, membunuh wanita ini akan menghindarkan masalah bagi dirinya—tak ada saksi yang akan mengenali dirinya di kota yang penuh dengan orang asing, dan semua akan berakhir dengan cepat. Namun sesuatu di dalam hatinya membuatnya tidak bisa melakukan itu.

Ia melihat wajah Maple yang pucat dan lelah, dan tanpa sadar, tangannya yang tadinya berada di lehernya bergerak perlahan ke belakang, menekan tengkuknya dengan lembut sebelum ia mendekatkan wajahnya dan mulai melumat bibir wanita itu.

Bibirnya terasa dingin karena terkena hujan dan angin London, namun ada sesuatu yang membuat Rex tidak bisa melepaskannya.

Ciuman itu awalnya lembut, namun perlahan-lahan menjadi lebih dalam dan menuntut. Rex menggigit pelan bibir bawah Maple hingga ia sedikit membuka mulutnya, memungkinkan lidahnya untuk menjelajahi bagian dalam mulutnya yang terasa segar dan lembut.

Maple hanya diam dan pasrah, tak ada sedikit pun perlawanan dari dirinya—rasa kelelahan yang mendalam membuatnya tak punya tenaga untuk menolak, bahkan pada pria yang awalnya ia sangka akan membunuhnya.

Setelah beberapa saat, Rex melepaskan ciumannya. Ia menempelkan keningnya pada kening Maple, nafasnya sedikit tidak teratur karena gairah yang mulai muncul di dalam dirinya. "Rex... Kau bisa memanggilku Rex," ucapnya dengan suara yang dalam, napas hangatnya menyentuh kulit Maple yang dingin. Di baliknya, cahaya dari perapian menerangi ruangan dengan warna oranye yang hangat.

Rex menatap wajah Maple dengan pandangan yang semakin dalam, ibu jarinya perlahan mengusap bibirnya yang masih basah akibat ciuman mereka tadi.

Namun tak disangka, Maple yang selama ini pasrah tiba-tiba mengangkat wajahnya dan dengan cepat mencium bibir Rex kembali.

Ini adalah ciuman pertamanya yang diberikan dengan sukarela—seolah rasa lelah dan kesedihan yang selama ini menyelimutinya tiba-tiba digantikan oleh keinginan untuk merasa hidup lagi, jauh dari dinginnya jalanan London yang selalu menyisakan rasa kosong di hatinya.

Rex dengan cepat menanggapi ciuman itu, kali ini lebih intens dan liar. Gairah yang tumbuh di antara mereka berdua membuat tubuh yang tadinya dingin karena hujan kini menjadi hangat. Tangan mereka saling meraba tubuh satu sama lain, mencari kontak fisik yang bisa menghilangkan rasa kosong yang selama ini mereka rasakan...

1
perahu kertas
😯😯
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!