“Pasti ada alasan kenapa mereka menyuruhku kembali. ”
“Lalu bagaimana nona?. ”
“Tentu saja kita kembali, aku mau lihat apa maunya keluarga Starborn. ”
jawab Lunaria sambil tersenyum.
Dimana kota Avalon kota sihir, hanya Lunaria yang tidak bisa menggunakan sihir.
keluarga Starborn mengasingkan Lunaria dari kediaman utama ke villa terpencil milik mereka, keluarga Starborn menganggapnya aib, anak cacat berbeda dengan Learia saudara kembar Lunaria.
Dan saat keluarga Starborn diperintahkan kerajaan Avalon untuk menikahkan putrinya kepada Kael dragomir putra mahkota Avalon, yang dikenal pria sadis, berbahaya dan seorang duda dimana ketiga istrinya terdahulu meninggal secara misterius.
Kael yang dikenal pangeran bintang kesepian, membuat keluarga Starborn tidak rela menikahkan Laeria putri kebangangan mereka menikah dengan Kael.
Tapi mereka tidak tahu rahasia tentang Lunaria.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 6.Pengusiran.
Suara langkah kaki Luna terdengar berat dan tegas saat ia berjalan keluar dari kamar itu, meninggalkan aroma kemarahan yang masih mengudara. Wajahnya merah padam menahan dongkol. Tidak pernah dalam hidupnya, baik di dunia lama maupun di dunia sihir ini, ia berbaik hati menolong orang tapi justru dicekik dan dimaki seperti itu.
"Dasar pria gila! Berterima kasih saja tidak bisa, malah main kasar! Dasar brengsek tingkat dewa!" umpat Luna sambil berjalan menuruni tangga besar villa dengan langkah membabi buta.
Di dalam kamar, suasana menjadi hening dan mencekam.
Ka el drago mir masih duduk di tepi ranjang, tangannya yang tadi mencengkeram leher gadis itu kini mengepal kuat di atas selimut. Matanya yang merah menyala menatap punggung gadis itu yang semakin menjauh, lalu beralih menatap pelayan wanita yang kini berdiri di ambang pintu dengan wajah ketakutan namun tetap tegar.
Ka el benar-benar terkejut. Bukan main terkejutnya.
Selama hidupnya, tidak ada satu pun manusia yang berani bersikap seperti itu padanya. Semua orang, mulai dari menteri kerajaan, para duke, hingga penyihir agung, semua akan gemetar ketakutan hanya dengan satu tatapan matanya. Mereka akan berlutut, memohon ampun, atau bahkan pingsan jika ia sedikit saja meninggikan suara.
Tapi gadis itu?
Gadis itu tidak hanya tidak takut, dia malah memarahinya! Memakinya! Dan yang paling parah... dia mengusirnya!
"Rendahan...?" gumam Ka el pelan, suaranya bergetar menahan amarah yang meledak-ledak. "Dia... dia memanggilku rendahan? Dan menyebutku tidak tahu terima kasih?"
Dunia seolah berputar di kepala Ka el. Egonya yang setinggi langit terasa diremukkan oleh kata-kata tajam gadis itu.
"Kau... berani sekali..." desis Ka el, matanya memancarkan aura membunuh yang begitu pekat hingga udara di sekitarnya terasa memadat. Ia ingin berdiri, ingin mengejar gadis itu dan mengajarkannya arti rasa takut yang sesungguhnya. Ia ingin menghancurkan villa ini menjadi debu hanya dengan jentikan jarinya!
Tapi...
Ugh...!
Saat ia mencoba berdiri, kepalanya terasa pusing luar biasa. Dadanya terasa sesak, sisa rasa sakit akibat mengeluarkan jurus pamungkas tadi masih menyiksa seluruh urat sarafnya. Tenaganya benar-benar kosong. Bahkan untuk berdiri tegak saja rasanya sudah memaksakan diri, apalagi menggunakan sihir atau bertarung.
"Sial..." geram Ka el pelan. Tubuhnya jatuh kembali duduk di tepi ranjang. "Dasar tubuh sialan..."
Di depan pintu, Ivy yang melihat tuannya tidak bergerak, segera mengambil langkah. Ia ingat perintah Nona nya dengan jelas. Usir pria ini.
Meskipun jantungnya berdegup kencang melihat tatapan mengerikan pria itu, Ivy menguatkan hatinya. Nona nya sudah melindunginya, sekarang giliran dia yang harus menuruti perintah Nona.
"Maafkan saya, Tuan. Karena Nona sudah meminta Anda pergi, mohon segera tinggalkan tempat ini," kata Ivy dengan suara sedikit gemetar tapi tetap sopan.
Ka el menatap Ivy tajam, tatapan yang bisa membekukan darah di pembuluh darah.
"Kau tahu siapa aku?!" bentak Ka el, suaranya menggelegar meski lemah. "Beraninya kau menyuruhku pergi?! Aku bisa menghabisi nyawa kalian semua dalam sekejap mata!"
"Terserah Tuan mau siapa anda, tapi di sini perintah Nona adalah hukum tertinggi. Silakan kalau mau menghancurkan kami, tapi tolong lakukan di luar pagar," jawab Ivy memberanikan diri. "Bimo! Rian! Bantu saya!"
Ivy berteriak memanggil kedua murid Luna yang tadi sudah menunggu di luar koridor.
Brak!
Pintu kamar terbuka lebar. Bimo dan Rian masuk dengan postur siap tempur. Wajah mereka sedikit pucat karena aura pria itu memang menyeramkan, tapi ingatan akan ajaran Master mereka membuat mereka berani.
"Ada apa Kak Ivy? Oh, ini si 'Pria tadi' itu ya?" tanya Bimo sambil menunjuk hidungnya.
"Nona memberikan perintah, usir dia keluar sekarang juga!"
"Siap! Ayo Rian!"
Rian dan Bimo langsung maju tanpa ragu sedikitpun. Mereka melihat kondisi pria itu yang jelas-jelas sedang lemah dan tidak bisa bergerak bebas.
"Hei! Bangun! Jangan jadi beban di sini! Keluar!" seru Bimo kasar.
"Berani kalian...!" Ka el membelalakkan mata, amarahnya memuncak. "Jangan sentuh aku! Kalian tahu siapa aku?! Aku adalah Putra Mahkota Avalon! Kalian akan mati! Aku akan membunuh kalian semua!"
Mendengar itu langkah kaki mereka berdua terhenti, mereka berdua saling pandang.
“Bagaimana ini? Kalau benar dia putra mahkota”
“Dia pasti bohong, kamu lebih takut mana pria ini atau master”
Rian lalu memegang tangan kirinya kembali begitu juga Bimo.
“Kalau kamu putra mahkota, maka kami adalah raja”
"Kami tidak peduli!perintah master mutlak, dan kalau master kami bilang kamu keluar! Ya keluar!" potong Bimo tak kalah keras.
Tanpa basa-basi lagi, Bimo dan Rian langsung menarik lengan Ka el.
"Lepaskan! Jangan sentuh aku! Kalian akan menyesal! Ini penghinaan terbesar! ARGHH!!" teriak Ka el sambil mencoba melepaskan diri, mencoba mengerahkan sihirnya. Tapi saat ia mencoba memanggil energi di dalam tubuhnya, yang keluar hanya rasa sakit yang luar biasa.
AKH!
"Arghh...!" Ka el mendesis kesakitan. Tubuhnya benar-benar tidak bisa diajak kompromi.
Karena tidak melawan dengan kuat, tubuh tinggi dan besar Ka el akhirnya terseret keluar dari kamar tidur itu.
"LEPASKAN!KALIAN SEKELOMPOK GILA!!" teriak Ka el terus menerus, suaranya penuh kemarahan dan rasa malu yang luar biasa.
Sepanjang koridor mewah itu, ia diseret seperti seorang penjahat biasa atau gelandangan yang tertangkap basah. Para pelayan yang melihat hanya bisa menutup mata atau membuang muka, takut ikut kena masalah. Tapi bagi Bimo dan Rian, ini perintah Master, dan perintah Master adalah hukum mutlak.
Mereka menyeret Ka el turun dari tangga utama, melewati ruang tamu, hingga sampai ke teras depan, lalu terus menuju gerbang pagar utama.
Di sana, Luna sudah berdiri dengan tangan disilang di dada, wajahnya datar tanpa ekspresi menatap aib yang sedang ia buat.
Ka el melihat Luna dari posisinya yang terseret. Matanya menyala penuh kebencian dan dendam.
Kau tunggu ya, gadis sialan... batin Ka el. Aku tidak akan melupakan penghinaan ini.
"Sudah sampai! Keluar sana!" seru Bimo.
DOR!
Dengan satu dorongan kuat dari belakang, tubuh Ka el terdorong keluar melewati ambang pintu gerbang dan jatuh terduduk di tanah halaman luar.
Debu beterbangan. Ka el duduk di tanah, pakaiannya berantakan, rambutnya acak-acakan. Penampilan sang Pangeran Kematian yang biasanya gagah dan mempesona kini hancur lebur. Ia terlihat seperti orang mabuk atau gelandangan yang baru diusir.
Ia mendongak perlahan, menatap ke arah gerbang. Tatapannya begitu mengerikan, begitu gelap, dan penuh janji pembalasan. Siapa pun yang melihat tatapan itu pasti akan langsung lari tunggang langgang ketakutan.
Tapi Bimo dan Rian hanya mengangkat bahu.
"Dasar orang tidak tahu diuntung," celetuk Rian. "Makasih sudah mampir, jangan datang lagi ya!"
"Pergi sana sebelum kami gampar lagi!" tambah Bimo.
Ka el mengepal kedua tangannya kuat-kuat sampai kuku-kukunya menancap ke telapak tangan hingga berdarah.
"Kalian... kalian akan menyesal..." suara Ka elrendah dan berat, penuh ancaman maut.
"Halah, banyak bacot! Bye bye!"
DUG!
Gerbang besi besar itu ditutup rapat dengan keras oleh Bimo.
KREK!
Suara gembok dikunci.
Ka el terdiam sendirian di luar. Di bawah sinar bulan purnama yang dingin. Hening. Hanya ada suara angin yang berhembus menusuk tulang.
Rasa malu, marah, dan kesal bercampur menjadi satu di dadanya. Ini adalah hari terburuk dalam sejarah hidupnya. Dia, pewaris takhta, penyihir terkuat, ditendang keluar seperti sampah oleh sekelompok anak kecil dan seorang gadis tanpa sihir!
"ARGHHHH!!!"
Ka el berteriak kencang melepaskan kekesalannya ke langit malam.
"AKU BERSUMPAH, KITA AKAN BERTEMU LAGI! DAN SAAT ITU TERJADI, AKU AKAN MEMBUATMU MENYESAL!!"
Teriakannya menggema di seluruh bukit, tapi tidak ada yang mempedulikannya. Di dalam villa, lampu-lampu mulai dimatikan satu per satu, seolah mengabaikan keberadaannya sama sekali.
"Shadow...!" panggil Ka el dengan suara parau.
Sesaat kemudian, bayangan hitam mulai berkumpul di tanah di sampingnya. Perlahan, wujud naga hitam kecil itu muncul kembali. Ia terlihat masih sangat lemas, matanya setengah terpejam, sisiknya kehilangan cahaya.
"Master... kenapa belum istirahat...?" tanya Shadow dengan suara lemah dan mengantuk. "Aku masih capek banget, energiku baru balik 10 persen nih..."
"Banyak bicara!" bentak Ka el kasar, meski suaranya lemah. "Ubah wujudmu jadi yang terbesar! Kita harus pergi dari tempat terkutuk ini sekarang juga!"
"Hah? Tapi Master... aku kan belum pulih... kalau terbang jauh bisa jatuh lho..." Shadow mencoba mengelak. Ia bisa merasakan tuannya sedang dalam mood yang sangat buruk.
"AKU TIDAK PEDULI!" Ka el menendang tanah dengan marah. "Aku tidak mau tinggal sedetik pun di tempat ini! Aku mau kembali ke Istana! Segera! Atau jangan salahkan aku kalau aku biarkan kamu tidur selamanya!"
Shadow menelan ludah. Walaupun lemas, instingnya mengatakan kalau ia tidak menurut, tuannya benar-benar bisa mengamuk dan menyiksanya.
"Iya-iya! Jangan marah-marah dong, nanti lukanya buka lagi..." gerutu Shadow pelan. "Ya sudah, aku coba ya... tapi jangan protes kalau lambat ya..."
Naga hitam itu mengangkat kepalanya tinggi ke langit. Tubuh kecilnya mulai membesar, memanjang, sisik-sisik hitamnya tumbuh menjadi baju zirah alami yang keras. Sayapnya yang tadinya kecil melebar hingga menutupi cahaya bulan.
Dalam beberapa detik, Shadow berubah menjadi seekor naga raksasa yang gagah namun terlihat sedikit lesu dan lelah. Ia mendengus keras, napasnya mengeluarkan asap tipis.
Ka el dengan susah payah berdiri. Kakinya masih gemetar, tapi ia memaksakan diri untuk terlihat tegap. Ia berjalan mendekati kaki sang naga, lalu memanjat naik dengan bantuan cakar-cakar Shadow, hingga akhirnya duduk kokoh di atas punggung kekar di belakang leher naga itu.
"Pergi... Terbang setinggi mungkin... Langsung ke Istana Avalon!" perintah Ka el tajam.
"Siap, Bos..."
WUSSSSS!!!
Sayap raksasa Shadow mengepak keras sekali. Hembusan angin dari sayapnya membuat tanah di sekitar gerbang Villa Star born berterbangan, pohon-pohon kecil tumbang, dan pagar tanaman rusak parah. Itu adalah bentuk protes terakhir mereka.
Naga raksasa itu perlahan terangkat ke udara, awalnya agak oleng karena kelelahan, tapi perlahan mulai stabil dan terbang menembus awan.
Ka el duduk tegak di atas punggung naga, wajahnya dingin mematikan menatap ke bawah. Ia melihat bangunan megah namun menyebalkan itu semakin mengecil di kejauhan.
Ia memejamkan mata, mencoba menenangkan gejolak emosinya.
Angin malam menerpa wajahnya, membersihkan sisa-sisa debu perang, tapi tidak bisa membersihkan rasa penasaran aneh yang tiba-tiba muncul di hatinya.
Gadis itu... aneh. Dia tidak punya sihir, tapi auranya kuat. Dia lemah, tapi dia tidak takut pada kematian. Dan yang paling gila... dia memperlakukannya seperti sampah.
"Kita lihat saja nanti...jangan sampai kita bertemu lagi" gumam Ka el.
Sosok naga hitam itu pun semakin menjauh, menghilang di balik kabut malam, meninggalkan Villa Star born yang kini kembali tenang dan damai.
Keesokan Harinya di Villa Star born
Matahari pagi bersinar cerah, seolah kejadian mengerikan semalam hanyalah mimpi buruk.
Suasana di villa kembali hidup dan ceria. Suara tawa dan teriakan latihan terdengar dari halaman belakang.
Luna ria duduk santai di kursi goyang teras, memakai gaun santai berwarna putih, wajahnya terlihat sangat rileks dan cantik. Di tangannya ada secangkir teh hangat yang mengepul.
Di bawah sana, Bimo, Rian, dan Lira sedang berlari mengelilingi villa sebanyak sepuluh kali sebagai pemanasan, sementara Ivy sibuk menyiapkan sarapan.
Luna tersenyum kecil menikmati hari tenang nya
“Hidup kedua ini menyenangkan, tidak ada paksaan menikah, tidak perlu bertengkar dengan selingkuhan mantan dan tidak perlu bertengkar merebutkan wilayah kekuasaan. ”lanjut Luna, “Santai... ”
Luna untuk pertama kali dalam hidupnya, dia bisa bersantai karena sepanjang hidupnya di kehidupan yang dulu.
Dia harus bekerja keras, untuk membuktikan dirinya pada ayah angkatnya dan saat meninggal ayah angkatnya malah memberikan perintah untuk menikah dengan Jakson.
Nasib seakan memberikan dirinya kebebasan untuk hidup untuk dirinya sendiri, tanpa perintah dan keharusan untuk menjalankan.