Orang yang terlalu penasaran tidak selamanya berakhir indah. Contohnya Kimi Ariana yang kadang dipanggil Kimi Arigato, padahal tidak punya darah Jepang. Saking tak bisa menahan penasaran, Kimi kerap mencoba hal-hal yang di luar nalar.
Dan percobaan paling absurd yang merubah hidupnya?
Mencoba pacaran dengan.. perempuan tampan-ah, bukan, perempuan keren yang justru dijauhi banyak orang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Benrycia_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Dua hari kemudian~
Kimi berbaring dengan boneka di pelukannya, matanya terbuka lebar. Tidur? Lupakan. Ia menoleh ke samping, Juli sudah pulas bahkan mendengkur pelan. Matanya melirik jam dinding, hampir tengah malam. Sial.
Dua hari terakhir, tim keamanan berpatroli tanpa henti. Tapi malam ketiga ini, langkah kaki di luar mulai jarang terdengar. Mungkin karena dua malam sebelumnya aman-aman saja.
Kimi menatap dinding yang memisahkan kamarnya dan Ruby. Sejak pengumuman itu, Juli jadi teman sekamarnya. Saat kamar mereka pindah ke bawah, Juli memilih kamar tepat di sebelah kamar Ruby. Bukan karena mau, tapi ia tahu persis Kimi ogah jauh-jauh dari Ruby. Peserta lain membiarkan saja, tidak ada yang curiga. Lagipula mereka pun tidak ingin bersebelahan dengan Ruby dan Anela.
Kimi mendengus, lalu mendekatkan telinga ke dinding... Hening. Tidak ada suara apa pun.
Gak lagi mesum kan? batinnya curiga.
Pelatihan tinggal lima minggu lagi, tapi rasa penasarannya soal Ruby masih sebesar gunung. Jangankan habis, setengahnya saja belum.
Salah sendiri, Kim. Penasaran sama orang yang udah punya pacar. batinnya ngenes.
Ia akhirnya menyerah pada pikirannya sendiri, lalu bangkit perlahan, melewati kaki Juli yang terjulur keluar selimut. Langkahnya mendekat ke jendela yang menghadap sisi samping asrama cowok. Bagian belakang memang tak terlihat dari sini, tapi rasa ingin tahunya keburu menggelitik. Sekarang atau tidak sama sekali.
Kimi memakai jaket kodoknya, lalu membuka pintu kamar pelan-pelan. Kepalanya menyembul ke luar, matanya menyapu koridor. Sepi. Ia berjinjit menuju pintu belakang, lewat di depan kamar Ruby sambil menahan napas.
Kunci pintu berputar dengan suara klik halus. Kimi menahan napas lagi. Begitu pintu terbuka, ia. melirik kanan-kiri. Ke kanan ada gudang, ke kiri area terbuka yang menuju belakang asrama cowok.
Angin malam yang lembap menyentuh pipinya. Pagar hitam tinggi menjulang, membatasi area pelatihan dari hutan gelap di luar. Seharusnya ia takut, tapi rasa penasarannya menang telak.
Belum sempat menutup pintu, suara langkah dan percakapan samar terdengar dari arah kanan.
Kimi refleks masuk lagi dan menahan pintu terbuka sedikit. Dua satpam lewat dengan santai, senter mereka menyorot pagar belakang asrama cowok. Kimi menunggu beberapa saat sampai keduanya benar-benar pergi.
Begitu aman, ia melangkah keluar lagi. Pandangannya menyapu sekitar, tepatnya ke area pagar yang 'katanya' jadi tempat masuk cowok asing misterius. Sampai mata kimi pegal, tapi ia tidak menemukan apa-apa.
"Apaan sih, gak ada yang menarik juga," gumamnya kesal.
Tapi bukannya balik, Kimi malak lanjut jalan. Ia melewati sisi belakang asrama cowok, lalu gedung gym, hingga tiba di belakang perpustakaan.
Ia menghela napas. Nihil. Tapi sebelum sempat berbalik, terdengar suara- bruk! dari dalam perpustakaan, seperti suara buku jatuh.
Kimi menelan ludah, yakin setengah mati kalau di dalam sana harusnya tidak ada orang. Ia mengendap ke arah jendela besar di sisi kiri. Di dalam gelap, tapi satu cahaya redup tampak di pojok ruangan. Ada bayangan bergerak mondar- mandir di sana.
Matanya melebar. Enggak, itu gak mungkin orang, pikir Kimi. Memangnya siapa yang membaca jam segini, di kegelapan, sambil mondar-mandir?
Belum sempat menjerit memanggil bantuan-
Grep!
Sebuah tangan menutup mulut dan menariknya ke bawah hingga nyaris terduduk.
"Jangan berisik," bisik suara di telinganya.
Kimi terpaku, Suara ini...
~
Beberapa saat sebelumnya~
Ruby terbangun mendengar pintu kamar sebelah terbuka pelan. Suara itu halus, tapi entah bagaimana bisa menariknya keluar dari alam mimpi. Ia membiarkan, pikirnya mungkin itu Juli yang kembali menemui Bu Salma karena merasa situasi mulai aman.
Setelah kembali tertidur beberapa menit, Ruby kembali terbangun. Entah kenapa sudut hatinya meronta, seolah memaksanya memastikan keadaan.
Sambil menahan kantuk, Ruby bangkit dan sempat melirik Anela yang tidur tenang di sebelahnya. Ia melirik jam dan hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Nekat banget. Segitu s*nge -nya ya?" gumamnya, setengah kesal setengah geli, sambil melangkah keluar kamar.
Ruby menoleh ke kamar sebelah, langkahnya ragu saat mendekat. Tapi yang aneh tangannya malah bergerak sendiri membuka pintu.
Mau ngapain sih gue? batinnya bingung.
Ia cuma ingin memastikan Kimi tidur dengan aman. Tapi saat masuk ke kamar, cahaya temaram menyingkap sesuatu: yang tidur di kasur ternyata Juli. Artinya yang keluar dari asrama malam-malam ini... Kimi?
Ruby menelan ludah, lalu mengusap wajah gusar. Mau apa bocil itu keluar tengah malam? batinnya kalut sendiri.
Akhirnya ia menepuk lengan Juli pelan. Cewek itu langsung terbangun, kaget setengah mati.
"Ru?! Lo ngapain di sini?" tanya Juli horor, matanya celingukan, "Kimi mana?"
"Dia keluar," jawab Ruby singkat.
"Keluar mana?
"Asrama. Lo mau ikut nyusul gak?"
Butuh beberapa detik bagi Juli untuk mencerna situasi sebelum akhirnya bangkit, menyusul Ruby yang sudah lebih dulu melangkah ke luar kamar.
Keduanya membuka pintu belakang perlahan. Dari kejauhan, dua petugas patroli terlihat berjalan santai, sepertinya baru memeriksa area sekitar.
"Kalau mereka udah ngecek, berarti sekitar sini aman. Tapi Kimi gak kelihatan juga," bisik Juli.
"Belum tentu," sahut Ruby cepat. "Dia belum terlalu lama perginya."
Mereka menyusuri sisi belakang asrama cowok, tapi tak ada tanda-tanda mencurigakan.
"Tuh anak kan kecil, bisa aja nyempil entah di mana. Jangan-jangan dia diculik beruang," celetuk Juli.
Ruby menoleh tajam, "Lo kalau mau ngelawak, gak usah sekarang."
"Muka gw keliatan lagi becanda?" Juli menatap serius. "Menurut lo anak itu bisa kemana?"
"Dari pada ngoceh, mending pake mata lo buat nyari," balas Ruby ketus.
Mereka terus berjalan sampai akhirnya berhenti di belakang perpustakaan. Di sana, sebuah kodok menempel tepat di kaca jendela. Bukan seekor, bukan seorang, tapi sebuah.
"Itu.. dia kan?" bisik Juli, menunjuk dengan ekspresi datar.
"Semoga nggak sih," jawab Ruby setengah kesal.
"Enggak gimana? Yang suka keroppi di asrama ini cuma satu orang."
Ruby mengangkat bahu, lalu melangkah pelan mendekat. Juli mengikuti dengan hati-hati. Begitu berdiri tepat di belakang Kimi, Ruby menyadari sesuatu. Ia langsung menutup mulut Kimi dan menariknya ke bawah, Juli refleks ikut berjongkok.
"Jangan berisik," bisik Ruby.
Kimi yang tadinya melotot langsung mengangguk patuh. Setelah tangan Ruby dilepas, kimi malah memeluk Ruby dengan sok manja.
Bangun tidur aja wangi, gak pake jaket tapi tetep anget, batin Kimi sambil senyum-senyum sendiri.
"Uby ngagetin banget. Kirain aku siapa. Jantungku mau copot tau. Nih, coba rasain sendiri," bisiknya sambil mengomel.
Ruby menegang saat Kimi tiba-tiba menarik tangannya dan meletakkannya begitu saja di dadanya.
"Deg-degan kan? Aku hampir pingsan tau," kata Kimi polos.
"Astaga, sumpah," Juli langsung menarik tangan Ruby, takut betah menempel di san. "Kim, lo itu suka banget bikin orang pengen nyosor ya.
"Aku kenapa?" Kimi menatap polos. Menurutnya biasa. saja, jadi ia tak paham kenapa Juli kesal. "Lo tahan-tahan aja ya, Ru," ujar Juli sambil menghela napas.
Ruby terkekeh tanpa suara. "kalau ada apa-ap, berarti bukan salah gw kan?"
Juli melotot. "Coba aja lo berani..." Ia berhenti, matanya melirik Kimi yang masih nyaman memeluk Ruby.
Akhirnya ia cuma bisa geleng- geleng kepala. "Itu yang di dalam siapa?" tanya Juli lagi.
Kimi dan Ruby akhirnya sadar. Mereka bangkit bersamaan, mengintip dari jendela. Sosok itu masih berdiri di dalam, sesekali mondar-mandir gelisah.
"Gw panggil bantuan, kalian tunggu di sini. Jangan sampai ketauan," kata Ruby serius, lalu melangkah pergi.
Kimi dan Juli saling pandang, tapi saat mereka kembali mengintip, Juli mulai mengernyit. Sosok itu tiba- tiba terdiam, lalu bergerak semakin dekat ke jendela. Wajahnya samar- Samar mulai terlihat.
"Eh, kok gw kayak pernah liat ya?" gumam Juli pelan.
Kimi di sebelahnya langsung panik. "Jul, kita ketauan! Dia ke sini! Ayo kabur!"
Mereka mundur, tapi sosok itu membuka jendela dengan wajah datar, nafusnya tersengal.
Juli mendelik, telunjuknya terulur menunjuk ke depan, "Lo... lo... pacarnya Anela kan?!"
Kimi langsung menganga. Pacar Anela di
perpustakaan tengah malam? batinnya bingung.
"Kamu hobi baca buku ya?"