NovelToon NovelToon
Kontrak Nikah Boss Dody : Demi Nafas Nonik

Kontrak Nikah Boss Dody : Demi Nafas Nonik

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Mafia
Popularitas:988
Nilai: 5
Nama Author: Alya Senja

Demi nafas Nonik, Santi OB miskin rela jual harga diri.
Demi warisan triliunan Opa Darwis, Dody CEO dingin butuh istri kontrak.

Satu tanda tangan di UGD, satu cap jempol Nonik yg sekarat.
Kontrak nikah 250 juta resmi dibuat.

Dia istri di atas kertas. Dia suami yg membeku.
Di antara mereka ada Nonik, bocah 5 tahun yang nyawanya jadi taruhan.

Bisakah hati sedingin es Dody luluh oleh tangis Santi?
Sementara Wati sang HRD dan Wandy sang tunangan siap menikam dari belakang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alya Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SALAH SASARAN

“Aku tak peduli pada bocah itu.”

Kata Wati dengan muka marah pada Madun divideo call.

“Bawa bocah itu pergi sejauh-jauhnya. Kau tinggalkan ke hutan juga boleh. Terserah kau!”

Madun terdiam. Dia tidak mungkin meninggalkan Nonik ke hutan sendirian. Pasti Rani tidak membiarkan anak itu.

“Baik bu. Tapi mana transferannya.”

“Jangan tanya transferan. Kau urus dulu bocah itu. Ngertiiii!”

Wati berteriak keras. Madun hampir saja membanting HP-nya ke lantai. Dia sudah menuruti Wati, tetapi belum juga ditransfer.

“Bu, kau mau ingkar janji!”

Teriak Madun keras. Dia tidak mau kalau dibohongi.

“Kauuuu!”

Teriak Wati marah.

“Brani kau bicara begitu padaku!”

Madun melempar HP-nya ke dinding rumah. Dia kesal karena Wati ingkar janji padanya. Dia pernah bilang, begitu anak itu kebawa maka langsung ditransfer.

“Ada apa.”

Rani memeluk Madun dari belakang. Pelukannya pelan, tapi cukup membuat  bahu Madun yang tegang sedikit turun. Madun menghela nafas. Kemarahannya seperti tertahan di dada.

“Orang hilang pikir.”

Geramnya pelan. Rani tidak melepas pelukannya.

“Sapa.”

Tanyanya pelan di telinga Madun.

“Orang yang nyuruh aku bawa bocah itu.”

Baru dengar itu, Rani langsung melepas pelukannya. Tatapannya berubah serius.

“Jadi gimana sekarang.”

Madun menghela nafas lagi, lebih berat dari sebelumnya.

“Kita tak dapat.”

Muka Rani langsung menegang. Semua bayangan tentang baju baru, skincare, luluran, mandi susu dan makanan enak buat ibu dan adik-adiknya……lenyap dalam satu kalimat itu.

Darto memungut HP yang sudah rusak parah dari lantai. Dia memandangi HP itu dengan seksama.

“Boss, sayang HP-nya rusak.”

Madun tidak menjawab. Dia menghempaskan tubuhnya ke kursi panjang.

Dokter Sapto memandang Madun. Dia tahu Madun sedang tidak enak hati. Salah-salah kalau bicara, dia bisa kena damprat.

“Ei dok. Ngapain kau ikut denger. Sono priksa bocah itu.”

Teriak Darto kepada dokter Sapto.

“Iiiiiyaaaa, Darto. Aku kesana.”

Kata dokter Sapto. Dia segera beranjak menuju kamar tempat Nonik berada.

“Gimana nih boss. Rusak udah rencana kita.”

Kata Darto lagi. Kali ini dia sepertinya mengeluh.

Madun hanya diam.

“Udahlah Darto. Kau diem aja. Madun juga bingung.”

Tangkis Rani.

TING!

Pesan dari T.

“Pak, target sudah ketemu.”

Ritonga gembira dengan memperlihatkan pesan pada Dody. Dody melihat pesan itu dan mukanya gembira.

“Kau amati dulu. Kalau ada perubahan kabari aku.”

“Baik, pak. Laksanakan.”

“Udah ketemu. Orang-orang itu bersembunyi di hutan R. Kita kesana sekarang juga.”

“Baik.”

Mereka segera berangkat. Ritonga mengontak anak buahnya.

“Segera menuju target. Semua kesana. Cepat laksanakan.”

Kata Ritonga di-HP.

“Siap laksanakan.”

Kata suara disebrang sana.

Sebelumnya mereka menuju rumah yang pernah ditempati Madun, Rani, Darto, dokter Sapto dan Nonik. Tetapi mereka sudah kedahuluan. Mereka sudah pergi dari tempat itu. Orang yang menyabit rumput itu ternyata anak buah Ritonga. Dia segera memberi laporan bahwa target sudah pergi.

Pada mulanya Dody kesal. Dia sudah ingin ketemu Nonik, supaya Santi dapat sembuh. Tetapi malahan sudah dibawa pergi duluan.

Rumah itu kosong, sudah lama tidak ditepati. Pemilik terakhir meninggal karena usia tua. Setelah itu tidak ada kabar ada pewarisnya. Tetangga jauhnya bilang.

“Itu rumah udah nngak ada yang menepati lama. Tapi tiba-tiba dua hari yang lalu ada penghuni baru.”

Rumah itu sepertinya baru saja ditinggalkan karena ada barang-barang yang tercecer karena diambil tergesa-gesa. Juga beberapa perabotan makan sempat tertinggal. Kelihatan masih baru. Bukan dari rumah itu. Dari penghuni baru itu.

“Gimana bisa luput.”

Kata Ritonga pada si penyabit rumput.

“Pak, aku lengah. Tak kira mereka tidak segera pergi.”

Kata si penyabit rumput yang sempat melihar Rani dan anak kecil usia sekitar 5 tahun.

“Sudahlah, kau periksa apa-apa didalam rumah itu untuk kebutuhan identifikasi perkara.”

“Siap laksanakan.”

Kata si penyabit rumput penuh hormat.

“Dod, kita terlambat. Anak buahku tak sempat mengendus jejaknya.”

Dody menghela nafas berat.

“Lalu gimana sekarang.”

“Kita tetap jalan.”

Dengan segera mereka bergerak cepat. Karena kesungguhannya maka akhirnya ketemu titik terang. Ada informasi akurat yang dapat dipercaya.

Mereka menuju hutan R. Suasana sudah sore. Sudah merayap gelap menyelimuti. Dody mengamat-amati rumah kecil terpencil di pinggiran hutan.

“Kontak….kontak…..”

Ritonga menghubungi anak buahnya.

“Kontak….kontak…..”

Balas disebrang sana.

“Gimana posisi sekarang.”

“Target terkunci.”

“Oke.”

“Dod, mereka dalam rumah kecil itu.”

Tunjuk Ritonga ke rumah kecil itu.”

Dody mau pergi tapi dicegah Ritonga.

“Tunggu. Jangan gegabah.”

“Tapi kasihan bocah itu.”

Kata Dody memaksa maju. Tapi sekali lagi Ritonga menahannya.

“Kau jangan bertindak sendiri. Mereka punya alat kerja.”

Dody mengurungkan niatnya. Dia pertimbangkan saran Ritonga.

“Lalu?”

“Tunggu aba-aba dariku.”

Ritonga memberi isyarat pada anak buahnya untuk bergerak bersama.

Rumah kecil itu dikepung dari berbagai penjuru. Tidak ada tempat untuk lari.

BRAAAKKKK!

Pintu rumah didobrak. Tiga kepala mendongak terkejut. Seorang tua, perempuan muda dan anak kecil 5 tahun dipangkuan perempuan muda itu.

“Aaaaappppaaaaa!”

Kata orangtua itu terkejut. Dadanya tiba-tiba sesak. Nafasnya seperti terputus-putus. Perempuan muda itu menepuk-nepuk punggung orangtua itu mencoba meredakannya.

“Eeehhh.”

Seru Dody kecewa. Ternyata bukan Nonik. Hanya anak kecil seusia Nonik. Anak laki-laki tapi seperti anak perempuan.

“Aduh, gimana ini bro.”

Kata Dody gusar.

“Maaf….maaf…..salah sasaran.”

Sambung Ritonga meminta maaf. Dia tidak habis pikir, bagaimana anak buahnya bisa salah sasaran.

“Kau ini.”

Kata Ritonga kecewa pada Tarigan.

“Maaf pak. Ini bukan anak kecil yang dicari.”

“Bukan!”

“Siap pak!”

Tarigan memberi hormat.

“Udah udah kau ini.”

Kata Ritonga menutup mukanya karena malu.

“Gimana pak, masih sakit?”

Kata mister Chow membantu mengurut punggung orangtua itu. Tidak lama kemudian nafas orangtua itu stabil kembali.

“Uuuuuhhhhh.”

Orangtua itu bernafas lega.

“Maaf pak, mengejutkan bapak.”

Kata Ritonga meminta maaf.

“Ada apa bapak-bapak ini kemari dengan membawa alat kerja.”

Ritonga memberi isyarat supaya memasukkan alat kerja mereka kembali.

“Ini pak. Kami mencari anak kecil 5 tahun yang hilang. Kami mengira anak kecil didepan itu yang kami kira cari.”

“Ou itu.”

Orangtua itu mengangguk-anggukkan kepala maklum.

“Udah pak, kami mau pergi. Sehat-sehat ya pak.”

Kata Ritonga mengangguk kepada orangtua itu.

“Ini nngak minum-minum dulu. Ayuk minum dulu barang seteguk dua teguk saja.”

Bapak itu menawari kepada Ritonga.

“Maaf pak lain hari. Kami sedang kerja.”

“Baik pak. Silakan.”

Kata orangtua itu.

Sambil mengangguk lagi Ritonga dan lainnya pergi meninggalkan rumah kecil itu.

“Sekarang apa yang dilakukan.”

Kata Dody kecewa. Dia sudah membayangkan ketemu Nonik. Lalu Nonik dibawa kepada Santi. Santi sembuh dari sakitnya. Tidak lagi seperti orang tidak ingat. Tetapi itu semua buyar.

“Kita tetap dalam rencana awal.”

Kata Ritonga.

“Kau punya foto bocah itu?”

Dody merogoh sakunya. Foto Nonik usia 3 tahun yang diujungnya hitam sebagian karena pernah mau dibakar Wati.

“Ini.”

Ritonga mengambil foto itu. Dia mengamati foto itu dengan penuh perhatian.

“Ini bisa.”

Sambung Ritonga. Dody mengambil foto itu untuk memastikan bahwa itu Nonik. Karena baru beberapa hari dia kenal Nonik. Tetapi yang beberapa hari itu dirasa seperti kenal lama. Sebutan “papa” dari Nonik membuatnya seperti orang yang beruntung. Ternyata dia punya anak yang harus dilindungi.

“Nonik.”

Kata Santi mengitari rumah. Dia mau pergi tapi pintu terkunci rapat. Dia menggedor-gedot pintu. Bibik Harti tergopoh-gopoh mendatangi Santi.

“Nyonya.”

“Aku mau ketemu Nonik. Kasihan dia kedinginan.”

Kata Santi lagi.

“Jangan nyonya. Nonik tidak diluar. Tuan Dody sedang mencarinya.”

“Buka pintunya.”

Teriak Santi.

“Udahlah nyonya.”

Kata bibik Harti hampir menangis. Dia sedih sekali dengan kondisi nyonyanya. Dia seperti hilang pikiran.

“Pokoknya aku mau keluar!”

Teriak Santi keras. Dia terus menggedor-gedor pintu semakin keras. Bibik Harti terdiam. Dia tidak akan membiarkan Santi keluar seperti yang dipesankan Dody kepadanya. Walau Santi terus memaksa untuk keluar.

“Mama.”

Teriak Nonik tiba-tiba bangun dari tidurnya. Nafasnya nguk-nguk terdengar keras.

Bersambung

1
gendiz
semangat ya
Alya Senja: Terima kasih kak sudah mampir
total 1 replies
MayAyunda
keren
Alya Senja: Makasih kak sudah mampir 🙏
total 1 replies
Alya Senja
ya terima kasih mau mampir kak. Kita langsung ya kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!