"Garis ini adalah batas antara hakmu dan dosamu. Melangkah satu senti saja, kau kehilangan segalanya."
Sepuluh tahun lalu, Sasmita Janardana diusir dalam keadaan hancur. Fitnah keji dari Rena, sang ibu tiri, membuatnya kehilangan kasih sayang ayah dan haknya sebagai putri tunggal. Ia dibuang ke luar negeri, sementara Rena dan putranya, Vano, berpesta di atas penderitaan mendiang ibu Sasmita.
Kini, Sasmita kembali setelah kematian misterius ayahnya. Ia tidak datang untuk menangis. Ia datang dengan sebuah wasiat kuno yang sah secara hukum: Rumah mewah Janardana harus dibagi dua secara mutlak.
Sasmita tidak mengusir mereka. Ia justru melakukan penyiksaan yang lebih lambat: Memaksa musuh-musuhnya hidup di bawah atap yang sama, namun terpisah oleh garis merah yang tidak boleh dilintasi.
Di sisi kiri, Rena mulai kehilangan kewarasannya. Di sisi kanan, Sasmita mulai membongkar brankas rahasia yang menyimpan bukti pembunuhan ibunya. Di tengah persaingan panas itu, muncul Bramasta, pengacar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25: PERJAMUAN DARAH DAN EMAS
Lautan malam itu tampak seperti hamparan tinta hitam yang bergejolak, memantulkan sisa-sisa kilat yang masih menyambar di cakrawala Jakarta yang menjauh. Speedboat militer yang dikemudikan Nikolai membelah ombak dengan kecepatan yang menyakitkan tulang rusuk Saga. Setiap hantaman lambung kapal pada permukaan air terasa seperti peringatan bahwa ia sedang meninggalkan satu-satunya dunia yang pernah ia kenal.
"Sepuluh menit lagi, kita akan memasuki koordinat pertemuan," Nikolai berteriak di tengah raungan mesin. Wajahnya yang kaku diterangi oleh cahaya hijau redup dari radar navigasi. "Begitu kita merapat ke The Volkov, jangan lepaskan pandanganmu dari lantai sampai aku memberimu aba-aba. Pengawal pribadi ayahmu tidak suka pada orang asing yang terlalu banyak ingin tahu."
Saga tidak menjawab. Ia mencengkeram besi pegangan kapal hingga buku-buku jarinya memutih. Di dalam benaknya, bayangan Sakti yang menangis dan pengkhianatan Beno masih berputar seperti kaset rusak. Ia merasa seperti baru saja dikuliti hidup-hidup oleh takdir.
Tiba-tiba, sebuah siluet raksasa muncul dari balik kabut laut. Sebuah kapal pesiar mewah berukuran megah, namun dicat dengan warna abu-abu gelap yang menyamarkannya di kegelapan malam. Tidak ada lampu pesta yang menyala; hanya lampu-lampu navigasi kecil yang berkedip secara ritmis. Inilah The Volkov, benteng terapung milik Viktor Sokolov.
Begitu speedboat mereka merapat ke dek bawah, Saga disambut oleh barisan pria berseragam hitam dengan senjata otomatis tersampir di dada. Mereka berdiri tegak, tidak bergerak sedikit pun, seolah mereka adalah bagian dari mesin kapal itu sendiri. Nikolai melompat keluar, memberi isyarat agar Saga mengikutinya.
Mereka naik melalui lift berlapis emas menuju dek paling atas. Pintu lift terbuka, menyingkapkan sebuah ruangan luas yang dipenuhi dengan artefak seni kuno, permadani bulu beruang, dan aroma cerutu Kuba yang sangat mahal. Di ujung ruangan, membelakangi pintu, seorang pria berdiri menatap laut melalui jendela kaca setinggi langit-langit.
Pria itu mengenakan jubah sutra hitam. Rambutnya sudah memutih di bagian pelipis, namun bahunya tetap lebar dan kokoh. Ia tidak menoleh saat Saga masuk.
"Ibumu, Ratna, selalu menyukai laut," suara pria itu berat dan bergema, memiliki getaran otoritas yang membuat nyali siapa pun menciut. "Dia bilang laut adalah satu-satunya hal di dunia ini yang tidak bisa dibeli atau dikendalikan oleh manusia. Dia benar."
Saga menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya. "Lalu kenapa kamu membiarkan dia hidup dalam ketakutan selama dua puluh tahun di daratan yang kamu benci?"
Pria itu berbalik perlahan. Viktor Sokolov.
Wajahnya adalah versi maskulin dari wajah Saga. Tulang pipi yang tinggi, mata abu-abu yang tajam, dan dagu yang keras. Ada bekas luka tipis yang memanjang dari telinga hingga lehernya—sebuah tanda dari masa lalu yang berdarah.
"Ketakutan adalah pelindung terbaik, Sasmita," Viktor menyebut nama lamanya dengan aksen yang hampir lembut. "Jika dia tidak takut, dia akan menjadi ceroboh. Dan jika dia ceroboh, musuh-musuhku di Moskow akan menemukannya jauh sebelum Hendra Waskita melakukannya."
Viktor melangkah mendekat. Setiap langkahnya terasa seperti intimidasi yang halus. Ia berhenti tepat di depan Saga, menatap jam saku yang masih dipegang erat oleh putrinya.
"Jam itu adalah janji," ujar Viktor. "Janji bahwa suatu hari, darah Sokolov akan kembali ke sumbernya. Kamu telah menghancurkan Waskita Group, kamu telah mempermalukan Dewan, dan kamu telah mematikan aliran dana ilegal yang mereka curi dariku. Untuk itu, aku bangga padamu."
"Aku tidak melakukan itu untukmu," desis Saga. "Aku melakukannya untuk keadilan. Untuk ibuku."
Viktor tertawa, sebuah suara kering yang tidak mengandung kehangatan. "Keadilan? Keadilan adalah dongeng yang diceritakan orang lemah untuk menghibur diri mereka sendiri. Di dunia ini, yang ada hanyalah kekuatan dan kehendak. Dan malam ini, aku ingin melihat seberapa besar kekuatan kehendakmu."
Viktor memberi isyarat pada Nikolai. Nikolai melangkah maju dan meletakkan sebuah nampan perak di atas meja jati di antara mereka. Di atas nampan itu terdapat sebuah pistol berlapis krom dan sebuah foto.
Saga menatap foto itu. Jantungnya berdegup kencang. Itu adalah foto Romo Waskita, sedang terikat di sebuah kursi di ruangan gelap yang tampaknya berada di bagian bawah kapal ini.
"Dia adalah pria yang memerintahkan kematianmu malam ini," ujar Viktor dingin. "Dia juga pria yang membiarkan ibumu disiksa secara mental oleh Hendra selama puluhan tahun demi mengamankan kontrak bisnisnya. Dia ada di bawah sana, di ruang interogasi. Jika kamu menginginkan 'keadilan', ambillah pistol ini dan selesaikan sejarahmu dengannya."
Saga menatap pistol itu, lalu menatap ayahnya. "Kamu ingin aku menjadi pembunuh? Hanya untuk membuktikan bahwa aku adalah anakmu?"
"Aku ingin kamu menjadi penguasa, Saga. Seorang penguasa tidak bisa membiarkan musuh yang sudah jatuh tetap hidup untuk merayap kembali," Viktor mencondongkan tubuhnya. "Jika kamu tidak bisa menarik pelatuk itu untuk pria yang menghancurkan hidupmu, maka kamu hanyalah warga sipil yang malang. Dan warga sipil tidak punya tempat di kapal ini."
Saga mengambil pistol itu. Beratnya terasa asing di tangannya, namun dinginnya logam itu seolah merayap ke dalam jiwanya. Ia teringat wajah Romo yang angkuh saat perjamuan semalam. Ia teringat bagaimana Romo tertawa saat membicarakan kematian ibunya seolah itu hanya statistik bisnis.
"Ikuti aku," perintah Nikolai.
Saga mengikuti Nikolai menuruni tangga besi menuju perut kapal. Udara di sini terasa lembap dan berbau karat. Di sebuah ruangan kecil berlampu temaram, Romo Waskita benar-benar ada di sana. Wajahnya hancur karena siksaan, giginya tanggal, dan ia gemetar hebat saat melihat Saga masuk.
"Sa... Sasmita... tolong..." suara Romo nyaris hilang. "Aku dipaksa... Dewan yang memerintahkan... tolong lepaskan aku..."
Saga berdiri di depan Romo. Ia mengangkat pistolnya, mengarahkannya tepat ke dahi pria tua itu. Tangan Saga tidak gemetar. Kemarahan sepuluh tahun, kesedihan karena kehilangan Sakti, dan kepahitan atas nasib ibunya kini terkumpul di ujung telunjuknya.
"Kamu bilang keadilan adalah dongeng, Romo?" suara Saga sangat rendah, nyaris seperti bisikan maut. "Malam ini, aku akan membuktikan bahwa dongeng bisa menjadi kenyataan yang sangat berdarah."
Jari Saga menekan pelatuk. Sedikit demi sedikit.
Romo memejamkan mata, kencing di celananya karena ketakutan yang luar biasa. Suasana ruangan itu begitu sunyi, hingga suara napas mereka terdengar seperti deru ombak.
Klik.
Suara itu kosong. Tidak ada tembakan. Tidak ada peluru yang menembus tengkorak Romo.
Saga menurunkan pistolnya, menatapnya dengan jijik, lalu melempar pistol itu ke lantai di depan kaki Nikolai.
"Katakan pada ayahku," Saga berbalik menuju pintu. "Bahwa aku tidak butuh membunuh pria tua yang sudah hancur ini untuk membuktikan siapa aku. Kekuatanku bukan pada pistol itu, tapi pada kenyataan bahwa aku masih memegang kendali atas emosiku sendiri."
Saga melangkah keluar, meninggalkan Romo yang terisak lega dan Nikolai yang berdiri terpaku dengan tatapan takjub.
Ia kembali ke dek atas, menemui Viktor yang sedang menuangkan anggur merah ke gelas kristal. Viktor menatap putrinya, mencari jejak penyesalan atau ketakutan di wajahnya, namun ia hanya menemukan ketenangan yang dingin.
"Kamu tidak membunuhnya," ujar Viktor, suaranya sulit diartikan.
"Membunuhnya sekarang terlalu mudah baginya," jawab Saga. "Aku ingin dia hidup cukup lama untuk melihat bagaimana aku akan menggunakan dana Yayasan Melati Putih—dan dana Sokolov yang aku bekukan—untuk memburu setiap anggota Dewan Waskita yang tersisa. Aku ingin dia membusuk di penjara biasa, di mana dia akan diingat sebagai pecundang, bukan martir."
Viktor menatap Saga cukup lama, lalu perlahan, sebuah senyuman muncul di wajahnya yang keras. Kali ini, senyum itu tampak nyata.
"Ibumu benar," bisik Viktor. "Kamu memang berbeda. Kamu tidak memiliki kekejaman yang buta seperti aku, tapi kamu memiliki kecerdasan yang jauh lebih mematikan. Kamu baru saja lulus ujian pertamamu, Saga."
Viktor mengangkat gelasnya ke arah Saga. "Selamat datang di keluarga, Tuan Putri. Besok pagi, kita akan tiba di Singapura. Sakti dan Bramasta sudah menunggumu di pelabuhan pribadi kita. Aku sudah memastikan keselamatan mereka sebagai hadiah untuk keteguhan hatimu."
Mendengar nama Sakti dan Bramasta aman, pertahanan Saga runtuh sesaat. Ia terduduk di sofa bulu beruang, air mata mulai mengalir di pipinya. Rasa lega yang luar biasa menyapu dirinya.
"Tapi ingat satu hal," Viktor menambahkan dengan nada serius. "Persidangan Agatha akan tetap berlanjut di Jakarta, dan Dewan Waskita akan mencoba menyewa pembunuh internasional untuk menghabisimu di luar negeri. Mulai besok, hidupmu bukan lagi tentang mencari kebenaran, tapi tentang mempertahankan kekuasaan."
Saga menghapus air matanya. Ia berdiri tegak, menatap bayangan dirinya di jendela kaca yang luas. Ia melihat seorang wanita yang sudah melewati api dan badai, seorang wanita yang telah kehilangan rumahnya yang terbagi, namun kini sedang membangun sebuah istana baru di atas kejujuran dan kekuatan.
"Aku siap," ujar Saga. "Bawa aku ke Singapura. Bawa aku ke mana pun musuhku bersembunyi. Karena mulai malam ini, tidak akan ada tempat di dunia ini yang cukup aman bagi siapa pun yang berani mengusik ketenangan ibuku."