Liana adalah seorang wanita bertubuh gemuk yang menemukan kemerdekaan sejatinya melalui tarian. Baginya, setiap gerak tubuhnya adalah bentuk pelarian, sebuah rahasia yang ia simpan rapat-rapat karena ia hanya menari untuk jiwanya sendiri.
Keajaiban—atau mungkin petaka—datang ketika Adrian, seorang produser film ambisius, menemukannya secara tidak sengaja. Adrian sedang mencari sosok penari yang memiliki aura "kebebasan murni" untuk proyek besarnya, dan ia melihat hal itu dalam diri Liana. Namun, saat tawaran diberikan, Liana menggeleng tegas; ia tak ingin tarian sucinya menjadi konsumsi publik.
Tak kehilangan akal, Adrian mulai mendekati Liana dengan pesona dan perhatian palsu. Ia melangkah lebih jauh dengan menyatakan cinta, membuai Liana hingga wanita itu luluh dan setuju untuk tampil di atas panggung dunia. Namun, di puncak popularitasnya, Liana menemukan kebenaran pahit bahwa pernyataan cinta Adrian hanyalah skenario matang untuk memanfaatkannya demi kesuksesan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Adrian menarik kursi kayu di samping tempat tidur, lalu mengambil mangkuk bubur hangat yang masih mengepulkan uap tipis itu dari tangan Mama Liana.
Ia mengaduknya perlahan, memastikan panasnya pas sebelum menyodorkannya pada Liana.
"Sedikit saja, Li. Kamu butuh tenaga untuk bayimu, dan untuk perjalanan kita nanti," ucap Adrian dengan nada yang sangat lembut, hampir seperti bisikan.
Liana menatap sendok di depan bibirnya, lalu beralih menatap mata Adrian.
Ada guratan kelelahan yang luar biasa di wajah pria itu, namun sorot matanya penuh dengan pengabdian yang tulus.
Perlahan, Liana membuka mulutnya dan menerima suapan pertama.
Erwin, yang berdiri di dekat jendela, memalingkan wajah sejenak.
Hatinya mencelos melihat kedekatan itu, namun ia menahan diri. Ia tahu, saat ini egonya tidak lebih penting daripada asupan nutrisi untuk Liana.
"Enak?" tanya Adrian pendek, sambil menyeka sisa bubur di sudut bibir Liana dengan tisu dengan gerakan yang sangat hati-hati, seolah Liana adalah porselen retak yang bisa hancur kapan saja.
Liana mengangguk lemah. "Terima kasih, Adrian."
"Aku yang harusnya berterima kasih, Li. Karena kamu masih mau berjuang," sahut Adrian.
Ia menyuapkan sendok kedua, ketiga, hingga separuh mangkuk tandas.
Suasana di kamar VVIP itu mendadak terasa lebih manusiawi.
Di tengah pengkhianatan Arum yang terbongkar dan ancaman kelumpuhan yang membayangi, momen sederhana di mana Adrian menyuapi Liana menjadi jangkar kecil yang menjaga mereka tetap waras.
"Habiskan ya? Setelah ini kamu harus minum vitaminnya," tambah Adrian lagi, memberikan senyum tipis yang tulus—senyum yang jarang ia tunjukkan pada siapa pun kecuali pada wanita di depannya ini.
Malam yang sunyi di bandara Halim Perdanakusuma seolah terbelah oleh deru mesin pesawat jet pribadi milik Adrian yang sudah siap di landasan pacu.
Ambulans khusus dari rumah sakit membawa Liana langsung ke samping pesawat, di mana sebuah lift hidrolik kecil telah disiapkan untuk mengangkat tandu Liana masuk ke dalam kabin mewah yang telah disulap menjadi ruang perawatan berjalan.
Di dalam kabin yang didominasi warna krem dan kayu mahoni itu, Liana dibaringkan di sebuah tempat tidur medis yang sangat nyaman.
Adrian duduk tepat di sisi kanan Liana, terus menggenggam tangan wanita itu, sementara Mama Liana sudah tertidur kelelahan di kursi first class bagian belakang.
Erwin duduk di kursi putar tepat di depan mereka berdua. Matanya yang tajam tidak sedetik pun lepas dari wajah Liana yang masih pucat, memperhatikan setiap hela napasnya dengan kecemasan yang tidak bisa ia sembunyikan.
Tangannya sesekali bergerak membetulkan letak selimut Liana yang sedikit miring.
Adrian, yang menyadari tatapan posesif dan penuh pengabdian dari Erwin, menyandarkan punggungnya ke kursi kulit.
Ia menatap Erwin dengan sorot mata yang sulit diartikan—antara lelah, menang, dan sisa permusuhan.
"Lihatlah dia seolah-olah kamu sedang mengandung anaknya saja," ucap Adrian tiba-tiba dengan nada rendah, dibarengi senyum sinis yang tipis di sudut bibirnya.
Erwin tertegun sejenak, rahangnya mengeras mendengar sindiran telak itu.
Ia menatap balik Adrian dengan berani, tidak ada ketakutan sedikit pun di matanya.
"Aku tidak perlu memiliki hubungan darah untuk mencintai dan menjaganya, Adrian," sahut Erwin dingin, suaranya mantap mengalahkan suara mesin pesawat yang mulai menderu kencang.
"Bagiku, nyawa yang dia kandung adalah bagian dari dirinya. Dan selama itu adalah bagian dari Liana, aku akan menjaganya seolah itu nyawaku sendiri."
Liana, yang setengah sadar karena pengaruh obat penenang, hanya bisa menggumam pelan.
"Sudah, jangan berdebat..."
Adrian terdiam, senyum sinisnya perlahan menghilang digantikan oleh rasa hormat yang terpaksa ia akui dalam hati.
Ia tahu, di Korea nanti, ia tidak hanya akan berjuang untuk kesembuhan kaki Liana, tapi juga harus berhadapan dengan kesetiaan Erwin yang tak tergoyahkan.
Pesawat jet itu mulai melaju di landasan pacu, lalu perlahan terangkat menembus awan gelap Jakarta, membawa mereka bertiga menuju harapan baru di negeri ginseng, meninggalkan pengkhianatan Arum dan Jordan yang kini sudah mendekam di balik jeruji besi.
Pesawat jet pribadi itu membelah langit malam dengan sangat tenang, hanya getaran halus mesin yang terdengar di dalam kabin mewah yang kedap suara.
Seorang pramugari dengan seragam rapi dan gerakan yang sangat sopan datang membawakan nampan berisi menu khusus yang telah dipesan Adrian: sup kaldu ayam yang lembut dan bubur gandum organik untuk nutrisi Liana dan janinnya.
Adrian segera mengambil alih nampan itu. Ia meletakkan meja kecil di depan tempat tidur Liana dengan sangat hati-hati.
"Biarkan aku, Li," ucap Adrian lembut saat melihat Liana mencoba mengangkat tangannya yang masih terpasang selang infus.
Ia meniup sesendok sup hangat itu dengan perlahan sebelum menyodorkannya ke bibir Liana.
Di seberang mereka, Erwin tetap duduk tegak, matanya mengawasi setiap gerak-gerik Adrian dengan tangan bersedekap, seolah siap mengambil alih jika Adrian melakukan kesalahan sekecil apa pun.
"Enak?" tanya Adrian pendek, matanya menatap dalam ke netra Liana yang tampak sayu namun mulai bercahaya.
Liana menganggukkan kepalanya pelan, menerima suapan demi suapan dengan patuh.
Rasa hangat dari sup itu seolah mengalir ke seluruh tubuhnya, memberikan sedikit kekuatan yang ia butuhkan untuk perjalanan panjang ini.
"Habiskan ya. Dokter Kim di Seoul bilang nutrisi adalah kunci utama sarafmu bisa beregenerasi dengan cepat," tambah Adrian lagi, senyum tipis tersungging di wajahnya yang letih.
Liana terdiam sejenak, lalu menatap Adrian dan Erwin bergantian.
Di ketinggian ribuan kaki di atas permukaan laut, ia merasa aman meski masa depannya masih menjadi tanda tanya besar.
Kabin pesawat jet pribadi itu terasa begitu hening, hanya deru halus mesin yang menemani perjalanan mereka menembus langit malam menuju Seoul.
Adrian masih setia duduk di samping tempat tidur medis Liana, memegang mangkuk sup yang kini sudah setengah kosong.
Di seberang mereka, Erwin duduk bersedekap, matanya terpejam namun badannya tegap, mendengarkan setiap nisan napas Liana.
Liana menerima suapan terakhir dari Adrian, lalu menggeleng pelan tanda sudah kenyang.
Ia menatap langit-langit kabin yang mewah, lalu pandangannya beralih pada Adrian. Tatapannya sendu, sarat akan beban pikiran yang sedari tadi menghimpitnya.
"Adrian..." panggil Liana lirih, suaranya parau.
"Iya, Li? Ada yang sakit?" Adrian langsung mendekatkan wajahnya, cemas.
Liana terdiam sejenak, menggigit bibir bawahnya.
"Kalau pengobatan di Korea ini tidak berhasil... Kalau aku tidak bisa menari lagi..." Liana menjeda kalimatnya, air mata perlahan menggenang di sudut matanya.
"Bagaimana dengan film kita? Premiere kemarin hancur karena kecelakaan itu. Reputasimu, investasimu, semuanya taruhannya di film itu, kan?"
Mendengar pertanyaan itu, Erwin membuka matanya.
Ia menatap Liana dengan tatapan terluka, lalu beralih menatap Adrian dengan tajam, seolah memperingatkan pria itu untuk menjawab dengan benar.
Adrian meletakkan mangkuk sup ke meja di sampingnya.
Ia menghela napas panjang, lalu menggenggam kedua tangan Liana dengan erat, menyalurkan kehangatan dan keyakinan.
"Liana, dengarkan aku," ucap Adrian dengan nada bicara yang sangat serius namun lembut.
"Film itu, premiere itu, semuanya tidak ada artinya dibandingkan dengan nyawamu. Dibandingkan dengan kesembuhanmu."Tapi Adrian, kamu sudah bertaruh segalanya—"
"Aku bertaruh untuk bakatmu, Liana. Bukan hanya untuk tarianmu," potong Adrian tegas.
"Film itu bisa diedit, premiere bisa dijadwalkan ulang. Tapi kamu tidak ada gantinya. Jika kamu tidak bisa menari lagi, kita akan cari cara lain. Kamu bisa berakting, kamu bisa menjadi koreografer, atau kamu bisa fokus menjadi ibu dari anak kita. Aku tidak peduli tentang kerugian materi. Aku hanya peduli kamu kembali tersenyum."
Liana menatap Adrian tak percaya. Pria ambisius yang dulu ia kenal, yang hanya peduli pada rating dan keuntungan, kini bicara tentang nyawa dan kebahagiaannya di atas segalanya.
"Dia benar, Li," sela Erwin tiba-tiba, suaranya berat namun tulus.
"Film itu sampah kalau kamunya hancur. Jangan pikirkan beban itu sekarang. Pikirkan saja bagaimana cara saraf kakimu bisa bangun lagi. Kalaupun tidak, aku yang akan jadi kakimu. Selamanya."
Liana menatap kedua pria itu bergantian. Di ketinggian ribuan kaki, di dalam kabin jet pribadi yang mewah, ia menyadari bahwa meski kakinya lumpuh, ia tidak pernah benar-benar jatuh sendirian.
Ia memiliki dua pelindung yang siap melakukan apa pun demi dirinya.
ditunggu crazy upnya