Hwang zin bukanlah orang dari era ini,dia lahir di tahun 2028 dan berusia 30 tahun,dia yatim piatu,Dia bekerja keras selama hidupnya.
Dia menjadi koki , petugas pengangkutan barang, bartender,pelayan restoran dan lainnya,dia hidup dengan menghemat banyak uang saat tabungannya mencapai 100 juta dalam 15 tahun hidupnya.
Hwang zin membeli bangunan toko kecil yang lengkap penuh dengan barang-barang grosir dari barang orang tua hingga anak-anak dan makan pokok dan sejenisnya.
dia akan mulai berbisnis tapi siapa kira saat dia dalam perjalan pulang justru mobilnya tertabrak truk dan bangun disini .....bukannya mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooi Xyujin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bekerja Sama
Hwang Zin menoleh pada para pria dengan tatapan yang lebih tegas. "....Untuk para pria pergilah menebang bambu sebanyak mungkin karena ini untuk rumah 80 orang, kita akan membuat lebih dari 50 buah...."
Dia juga berencana membangun desa yang lengkap dengan fasilitas dasar, jadi mungkin waktu mereka disini akan lebih lama dari yang dijadwalkan.
".....Bukan hanya itu kita juga akan membuat balai desa dan dapur umum untuk kalian memasak nanti... jadi mohon kerja samanya, kami akan melakukan hal yang sama juga....!"
"Baik!" jawab mereka serempak dengan semangat yang membara.
Jiang Feng melihat dengan jelas bahwa pemuda ini benar-benar menawan – sangat tenang dalam menghadapi masalah, mencari solusi dengan cepat dan bijak.
Perasaannya padanya semakin dalam, bahkan dia harus menahan diri agar tidak langsung mendekat dan memeluknya di depan banyak orang.
"Ada apa?" tanya Hwang Zin saat menoleh pada pria di sampingnya, melihatnya dengan pandangan yang terasa cukup panas.
Jiang Feng menggelengkan kepalanya dengan senyum lembut. "Tidak ada.. lanjutkan......"
Hwang Zin tak terlalu memikirkan itu dan segera menanyakan berapa orang pria di antara warga – totalnya ternyata 60 orang.
Jadi dia membagi mereka menjadi 2 kelompok: 30 orang ditambah ditemani beberapa prajurit akan pergi menebang bambu, sedangkan sisanya akan mengali tanah untuk membuat pondasi bambu.
Hwang Zin akan mengawasi proses pembangunan di lokasi, sementara Jiang Feng pergi bersama kelompok penebang bambu dengan tidak terlalu senang harus menjauh dari anak itu.
".....Paman gali sedalam ini, buat saja sesuai garis...." Hwang Zin sebelumnya sudah menandai denah lapangan luas itu dengan kotak-kotak menggunakan batu kecil agar memudahkan para warga mengali.
Total dia membuat rancangan untuk 10 rumah dulu, dan dia yakin mungkin dibutuhkan waktu lebih lama dari yang dia kira untuk membantu menyelesaikan semua pembangunan.
Semua orang bergegas bergerak untuk melakukan tugas masing-masing.
Mereka menata bambu-bambu yang sudah ditebang secara sejajar; saat empat dinding bambu terbangun, di setiap sudut akan diikat serat kayu bambu agar lebih kokoh.
Mereka membuat pintu dan jendela juga dari bambu, tak lupa beberapa wanita yang ditugaskan menganyam daun lontar untuk atap. Sedangkan batu dari sungai dibuat untuk menjadi lantai di dalam rumah agar tidak licin dan basah.
Saat satu rumah berhasil berdiri dengan kokoh, semua orang bersorak-sorai dengan gembira – ternyata pembuatannya tidak terlalu lama, hanya perlu waktu 5 jam untuk menyelesaikan satu unit.
Kondisi rumah memang sangat sederhana, hanya bilik kotak tanpa dekorasi apapun yang bisa menampung 3 orang dewasa.
Namun ini sudah jauh lebih baik daripada tinggal di gua atau terbuka – mereka tak perlu lagi terpapar panas matahari atau hujan, dan nantinya saat mereka memiliki cukup uang bisa membangun rumah yang lebih baik lagi.
Pembagian tugas yang terstruktur benar-benar membantu mempercepat prosesnya. Semua orang termasuk para prajurit bersemangat untuk kembali bekerja, bahkan Dokter Shen juga ikut membantu menganyam daun setelah selesai memeriksa kesehatan beberapa warga yang merasa lelah.
Karena Hwang Zin sudah menunjukkan cara membuat rumah bambu dengan jelas, para warga segera mencontohnya dengan sangat teliti.
Melihat semuanya bekerja dengan giat, Hwang Zin memutuskan untuk pergi ke area tenda sementara untuk memasak bagi semua orang – kali ini dia memilih bekerja sendiri agar bisa mengatur rasa dan porsi dengan tepat.
Tidak masalah baginya walau harus bekerja sendirian.
Dia membuat roti kukus dan bubur milet karena saat ini persediaan makanan yang ada hanya itu saja, dan dia belum berani mengambil barang dari tokonya yang bisa menyebabkan masalah.
Dia menghidupkan tungku yang sudah disiapkan, menambahkan air ke dalam wajan besar, lalu menuangkan beras yang sudah dicuci ke dalam panci sebelum menutupnya rapat.
Di dalam tenda, semua peralatan memasak sudah disiapkan dengan lengkap berkat persiapan Jiang Feng sebelumnya.
Dia juga membawa bumbu dan bahan lain dalam ransel kecil yang selalu dia bawa kemana-mana.
Hwang Zin mengambil tepung terigu yang dibawa oleh rombongan, menaruhnya di wajan besar, kemudian menambahkan air secukupnya, tak lupa menambahkan ragi pengembang, gula, dan sedikit garam untuk rasa.
Setelah itu dia mengaduk dan menguleni adonan dengan giat – untungnya kondisi tubuhnya sudah jauh lebih baik sekarang, jika tidak mungkin dia tidak akan mampu menguleni adonan dalam jumlah banyak seperti ini.
Setelah adonan jadi dan terasa elastis, dia menutupnya dengan kain bersih agar bisa mengembang dengan baik, sebelum mengecek kondisi bubur di dalam panci.
Saat panci dibuka, beras sudah mulai mengental menjadi bubur namun belum matang sepenuhnya.
Hwang Zin pergi ke tasnya dan mengambil buah kering yang dia bawa khusus, menghancurkannya dengan hati-hati sebelum mencampurkannya ke dalam bubur agar rasanya lebih kaya – setelah itu dia menutup panci kembali dan menunggu hingga matang sempurna.
Matahari mulai tenggelam dan semua orang memutuskan untuk beristirahat sementara. Para prajurit segera membagikan air bersih pada semua orang agar mereka bisa membersihkan diri sebelum makan.
Jiang Feng duduk bersama kepala desa dan beberapa orang tua warga di depan tungku kecil yang sudah dinyalakan, mengobrol dan merencanakan apa yang akan mereka lakukan pada hari berikutnya.
Sudah ada 4 rumah yang berhasil terbangun, namun masih ada beberapa yang belum memiliki atap dan batu sungai juga belum sepenuhnya menutupi lantai tanah.
Mereka sepakat untuk fokus membangun struktur rumah dan membuat atap dulu sebelum melanjutkan pengumpulan batu dari sungai agar tidak ada yang tinggal tanpa tempat berlindung malam ini.
"Bau harum apa ini?" suara seorang warga terdengar saat mencium aroma harum yang menyebar ke seluruh area.
Semua orang mengendus udara dan langsung merasa lapar karena aroma makanan yang menggugah selera.
"Ini masakan bos kecil kami...." jawab Hang Si dengan tawa bangga, merasa bangga dengan kemampuan memasak Hwang Zin.
"Boss kecil?"
Semua orang langsung mengerti bahwa pemuda yang pandai itu ternyata adalah "boss kecil", yang berarti Jenderal Jiang adalah "boss besar" nya – mereka melihat kedua pria itu dengan pandangan baru yang lebih penuh rasa hormat.
Hwang Zin sedang mengawasi api tiba-tiba bersin dan mengusap hidungnya dengan wajah masam.
Saat ini dia duduk di depan tungku dengan penuh perhatian mengatur besar kecilnya bara api agar mantau matang merata.
Bubur sudah siap dan hanya menunggu mantau matang sebelum bisa dibagikan kepada semua orang.
"Waktunya makan...!"
Tak lama kemudian, Hwang Zin keluar dari tenda dengan membawa nampan berisi mantau hangat dan meminta orang-orang untuk berkumpul makan – tak lupa dengan tegas meminta mereka untuk mencuci tangan lebih dulu di ember air yang sudah disiapkan.
Bagaimanapun dia tak ingin ada yang jatuh sakit dan membuat semua pekerjaan tertunda akibat masalah kesehatan. Semua orang menurut tanpa basa-basi dan segera berbaris setelah mencuci tangan dengan bersih.
Anak-anak berjongkok di tanah dengan tangan mereka memegang roti kukus yang bahkan lebih besar dari wajah mereka.
Wajah mereka berseri-seri penuh kebahagiaan saat mengigit roti kukus yang harum dan lembut.
Hwang Zin mengakui bahwa dia menambahkan terlalu banyak ragi pengembang sehingga roti kukus jadi lebih besar dari biasanya, namun itu bukan masalah karena semua orang tampak sangat puas dengan makanan yang dia buat.
Semuanya tertawa dan mengobrol dengan riang, membentuk kelompok-kelompok kecil sesuai dengan keluarga atau tetangga mereka.
Suasana yang hangat membuat semua orang merasa seperti sudah menjadi satu keluarga besar.
Hwang Zin duduk bersama Jiang Feng dan kelompok kepala desa serta orang tua warga di depan api unggun yang menyala hangat.
"....Paman ayo kerjakan perlahan-lahan saja... bagaimanapun kami akan disini selama 1 bulan sebelum kembali...." dia berkata dengan suara lembut, memberikan jaminan bahwa mereka tidak akan ditinggalkan begitu saja.
"Baik tuan..." pria itu mengangguk dengan wajah bahagia, sangat senang karena ada orang yang peduli dengan nasib mereka.
"Apa rencana kalian selanjutnya? Tanah ini milik Kaisar, kalian mungkin tak akan bisa menjadi petani ...?" tanya Jiang Feng pada semua orang dengan nada yang memperhatikan.
"......Tak masalah tuan, kami bisa berburu atau berkerja di pasar desa terdekat... pada dasarnya kami biasanya tak bertani, hanya kadang menanam sayuran kecil untuk dimakan sendiri saja...." ucap kepala desa padanya dengan jujur, tidak ingin menyembunyikan kondisi mereka.
Jiang Feng mengangguk lega mendengarnya."...Baguslah..."
"Paman, jika musim dingin kalian masih bertahan disini, lebih baik lapisi pondok bambu dengan lumpur kuning – ini akan mencegah angin masuk dan membuat rumah lebih hangat...."
Hwang Zin memberitahu mereka dengan cermat untuk mencegah warga desa kedinginan saat musim dingin tiba nanti.
"Boss kecil terimakasih! Kami akan melakukannya saat musim tiba....!" jawab mereka dengan penuh rasa terima kasih
Melihatnya dengan pandangan yang sudah seperti menyaksikan seorang pemimpin yang cerdas dan peduli.
3 bulan kemudian.
Hwang Zin duduk dengan santai di bawah pohon besar dekat balai desa yang dibuat untuk desa Zu.
Sudah 3 bulan berlalu dan rumah-rumah warga kini tertata rapi – mereka berhasil menyelesaikan lebih dari 60 rumah, bahkan tinggal lebih lama karena mendapatkan tambahan perintah untuk menyempurnakan seluruh pembangunan desa.
Saat dia sedang merenung, seseorang menepuk pundaknya dengan lembut.
Hwang Zin berbalik dan melihat seorang bocah kecil dengan mata besar yang penuh semangat, mengenakan pakaian yang terlalu besar untuk tubuhnya dengan celana digulung hingga lutut.
Bocah itu membawa tong kayu kecil di kedua tangannya.
"Ada apa?" Hwang Zin hampir tertawa melihat penampilannya yang lucu.
"Bos kecil aku menemukan udang..." ucapnya dengan suara susu, tangan kecilnya berusaha mengangkat tong untuk menunjukkan isinya.
"Benarkah?" Hwang Zin menunduk dan melihat ember kayu itu berisi udang-udang sungai segar dan beberapa ikan kecil yang berenang kesusahan.
"Kamu .... jangan cari lagi, terlalu berbahaya untuk anak-anak bermain di sungai...." ucapnya dengan wajah serius, meskipun hatinya terasa hangat melihat kegigihan bocah itu.
Namun anak berkata dengan percaya diri."Tapi airnya sangat sedikit..."
Hwang Zin menyentuh dahi anak itu dengan lembut. "....Tetap saja, lain kali ajak orang dewasa, mengerti?"
Bocah itu mengangguk cepat dengan wajah bulat yang berseri-seri. "Baik! Lalu bos kecil apa kamu bisa membuat yang enak dari udang ini....?"
"......" Jadi ternyata dia menunjukkan padaku hanya untuk meminta aku memasaknya.