Aldi Mahendra seorang pemuda yang hidup sebatang kara, dia dari usia empat tahun hidup di jalanan. Hingga akhirnya bertemu seorang kakek yang mengangkatnya menjadi cucunya. Aldi di sekolah hingga lulus SMK, kini dia bekerja sebagai kuli panggul di pasar.
Walaupun uangnya tak seberapa tapi bisa untuk makan setiap hari, apalagi pekerjaan untuk lulusan SMK itu sedikit susah. Aldi di pandang rendah oleh siapapun hingga saat ini berusia 19 tahun dia tetap berusaha hidup di setiap gempuran ombak yang besar datang di kehidupannya.
Semua berubah ketika mendapatkan sebuah cincin merah delima, kehidupannya berubah menjadi lebih baik lagi tapi sesuatu keanehan di kedua matanya membawa dia kedalam dunia yang seharusnya tidak terjadi.
Perjalanan kota maupun di desa menjadi tolak ukur bagi pengalaman Aldi menjadi lebih berani lagi, seperti bentuk tubuhnya yang tinggi dan kekar dengan wajah tegasnya mulai terlihat dalam perjalanan hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D.P. Auzora., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah Kebahagiaan Namun Disimpan
"Terima Kasih ya Al?," ucap Sita.
"Sama-sama mbak, jaga ya hadiah dariku?," ujar Aldi, dia memandang begitu dalam wajah Sita.
"Pasti mbak jaga," balas Sita.
Kemudian Aldi mendekati Bima yang sedang asik bermain sendiri, Aldi memijat punggung Bima dengan perlahan menikmati setiap kebersamaan mereka.
Bima sangat menikmati bermain dengan Aldi dia sangat senang sekaligus bahagia. Sita yang di belakang kini mendekat di belakang Aldi.
Tangan yang begitu lembut menyentuh punggung yang terbentuk oleh kerja keras, Aldi terkejut mbak Sita kini memeluk dirinya dari belakang.
"Mbak kenapa?," tanya Aldi bingung.
"Gak kenapa-kenapa. Mbak ngerasa aman dan bahagia melihat Bima tertawa," balas Sita.
"Hmmm iya mbak," ucap Aldi.
Dengan penuh kelembutan Sita memijat bahu Aldi, sentuhan hangat Aldi rasakan begitu nyaman untuk pertama kalinya.
"Om, Bima mau bermain sendiri," ucap Bima.
"Jangan jauh disini saja," balas Aldi.
"Iya om," ucap Bima.
Bima sedikit menjauh dari Aldi dia bermain sendiri dengan penuh kebahagiaan.
Sita kini lebih mendekat dirinya, membuat jantung Aldi berdegup kencang sedikit bingung harus bagaimana. Dia merasakan sebuah benda menyentuh lembut punggungnya.
"Mbak?," panggil Aldi.
"Iya Al," balas Sita.
"Mbak kenapa?," Aldi bertanya lagi.
"Gak kenapa-kenapa kok, mbak nyaman saja di dekatmu seperti ini," jawab Sita.
"Tapi mbak itunya?," nada Aldi sedikit bergetar karena merasakan sesuatu di punggungnya.
"Kenapa emangnya Al, sudah kamu diam saja. Mbak cuman pijitin kamu," balas Sita.
Aldi terdiam dia memejamkan matanya menikmati setiap pijatan lembut jari jemarinya Sita yang begitu nyaman. Begitu lama mereka bermain di kedung hingga akhirnya Bima sudah kecapean.
Sita dan Bima beranjak terlebih dahulu pulang kerumah sedangkan Aldi menyusul di belakang kembali ke rumahnya, basah kuyup tapi penuh kenangan tersendiri.
Sita yang berjalan pulang wajahnya memerah karena malu apa yang dia lakukan kepada pemuda itu, dia mengingat dirinya seorang janda anak satu mana mungkin bisa memiliki Berondong Muda yang sangat tampan.
"Apa aku salah dekat dengannya?, aku sendiri sangat nyaman tapi!," Sita bergelut sendiri dengan hati terdalamnya, dia kebingungan sendiri dengan apa yang dia rasakan namun dia berusaha untuk fokus kepada putranya terlebih dahulu.
Aldi berganti pakaian yang terbaik dia punya, sederhana tapi sangat nyaman bagi dirinya sendiri.
Suara knalpot racing terdengar nyaring di telinga Aldi, dia melihat Niko memakai motor tua yang sangat nyentrik di desanya. RX king motor milik Niko.
"Sudah siap Al?," tanya Niko.
"Sudah dong, tapi anterin aku ke rumah mbak Sita buat titipin kunci rumah," ujar Aldi.
"Gas yok," balas Niko.
Aldi naik ke motor Niko dengan perlahan, rumah Sita hanya terhalang perkarangan rumah saja setelah sampai Aldi pergi kerumah Sita sedangkan Niko menunggu di pinggir jalan.
"Mbak Sita?," teriak Aldi.
"Iya bentar," balas Sita, lalu membuka pintunya rumahnya.
"Astaga mbak, itu keliatan," ujar Aldi sambil menutup matanya.
"Bonus buat berondong mbak," balas Sita.
"Ini kunci rumah saya mbak, titip ya?," ucap Aldi.
"Siap Al," balas sita.
"Dada janda cantik, besar juga," Aldi berkata lalu berlari pergi meninggalkan Sita yang terdiam tanpa kata.
Sita yang mendengarkan itu terdiam sesaat wajahnya memerah karena salah tingkah di goda oleh Berondong Muda secara terang-terangan.
Dia tidak menyangka bahwa Aldi akan berkata seperti itu kepada dirinya. "Dasar Berondong, bikin nyaman saja," gumam pelan Sita lalu menutup pintu rumahnya.
Kini Aldi dan Niko berangkat ke kota, perjalanan mereka cukup jauh hingga satu jam lebih sedikit. Aldi sangat menikmati perjalanannya dia di minta Niko untuk membawa motornya keluar desa hingga masuk kekota.
Setelah itu bergantian, mereka berdua berhenti di sebuah warung makan pinggir jalan.
"Istirahat dulu Al, kita makan disini," ujar Niko.
"Ikut aja aku," balas Aldi.
"Lu mau makan sama apa?," tanya Niko.
"Telur sama sayur santan aja," balas Aldi.
"Dihh kok cuman telur sih, samaan aja kayak aku," ujar Niko.
Lalu Niko memesan dua porsi nasi ayam telur satu di setiap porsinya, lalu Niko memesan es teh tidak terlalu manis dua untuk dia dan Aldi.
Mereka kini duduk di pinggir jalan di bawah pohon yang sangat rindang dan sejuk. Aldi dan Niko menyalakan rokok menunggu pesanannya yang belum diantarkan.
"Tadi malam pulang jam berapa lu Al?," tanya Niko.
"Aku pulang jam setengah satu," balas Aldi.
"Malem bener. Nah pasti indah deketin lu yak?," tanya Niko mulai penasaran.
"Tau aja lu. Dia tuh kenapa sih kalau deket sama gua pakaiannya sedikit terbuka!," Aldi kebingungan kenapa indah seperti itu.
"Dih lu jadi cowok gak peka, dia tuh suka ke lu Al," balas Niko.
"Ahhh gak mau gua, gua mau fokus ke diri sendiri dulu aja," ujar Aldi, dia ingin menjadi petani sukses di desanya.
Niko hanya terdiam tanpa kata setelah mendengarkan perkataan Aldi yang belum memikirkan dekat dengan seseorang tapi dia sedikit tau jika Aldi lebih dekat dengan Sita janda anak satu.
Tidak berselang lama pesanan mereka datang. Niko dan Aldi kini menyantap makanan yang ia pesan bersama.
Setelah sekian lama Aldi kini makan ayam goreng dan telur utuh, biasanya dia kalau ingin makan seperti ini harus bekerja dua hari baru tersisihkan uangnya.
Pas sekali ayam goreng itu paha cukup besar untuk keduanya, Aldi kini teringat dengan kakeknya yang dulu ingin makan seperti ini saja harus mencari di hutan belantara. Dapat satu saja bersyukur kalau tidak dapat ya tetap bersyukur namanya mencari rezeki tidak ada yang tau kapan dapatnya.
Setelah selesai makan mereka melanjutkan udut dua batang terlebih dahulu.
"Ini sudah dekat kok Al, setengah jam dah sampai kostan adikku," ujar Niko.
"Siap dah, tapi nanti anterin aku ke toko emas yang bisa jual emas," balas Aldi.
"Toko emas ya bisa jual emas Al," ujar Niko, dia bingung dengan perkataan Aldi.
"Aduhh iya-iya kok bisa bego banget aku," Aldi menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali, dia terlalu banyak pikiran tentang beberapa hari ini.
Kemudian mereka melanjutkan perjalanan menuju kostan adik Niko, keberuntungan Aldi sangat bagus ternyata kostan adik Niko dekat dengan toko emas.
Niko mengajak terlebih dahulu Aldi masuk kedalam kostan adiknya yang ternyata itu usaha milik orang tua mereka berdua, setelah tau arahnya Aldi berpamitan untuk pergi ke kota emas depan jalan tadi.
Aldi berjalan kaki melihat gedung besar dari kejauhan lalu bangunan tinggi di setiap jalan menuju toko emas itu. Aldi masuk kedalam dengan perlahan namun pandangan beberapa orang merasa jijik melihatnya.
Pakainya Aldi di nilai sudah tidak pantas masuk ke toko emas, beberapa karyawan menghindari Aldi tidak ada yang mau melayaninya hingga akhirnya wanita begitu cantik datang melayani Aldi.
Ratna Wijaya nama di tanda pengenalnya dia seperti pegawai baru di toko emas itu, memang terkenal baik tidak memandang status sama sekali membuat beberapa pegawai pria lainnya sangat menyukainya.
"Mas ada keperluan apa datang kesini?," suara begitu lembut bertanya langsung kepada Aldi.
"Saya mau jual emas batangan mbak," balas Aldi.
Pegawai dan pengunjung terkejut mendengarkan apa niat pemuda yang mereka nilai tidak pantas.
"Dihh sok kaya banget sih, baju sudah kumuh kayak begitu di pakai terus masuk kedalam sini bikin kotor saja," seorang ibu-ibu berkata begitu tajam kepada Aldi yang terdiam tidak menggubrisnya.
Aldi sudah terbiasa dengan cemoohan dari orang yang selalu menghina dirinya, walaupun awalnya sangat kesal tapi seiring berjalannya waktu dia memahami dan tidak merespon penilaian buruk kepada kehidupannya.
Aldi tersenyum kecil lalu mengeluarkan emas batangan cukup besar di atas meja, emas batangan itu di bungkus rapi oleh kain putih bersih.
Ratna yang melihat begitu murni bersih matanya melotot terkejut ternyata benar asli, dengan tangan bergetar hebat dia memegang emas itu. Dia tidak menyangka dalam hidupnya akan menyentuh emas batangan seberat ini.
"Sebentar mas saya panggil manager dulu," ujar Ratna, dia pergi memanggil manager toko emas itu.
Aldi berdiri dengan santai seperti penuh kemenangan atas segalanya, umpatan dan penghinaan setiap orang ketika dia masuk seperti di tampar keras tanpa bersuara kembali.
°°°°°
Ceritanya udah bagus, hanya tinggal memperbaiki peletakkan tanda baca.