Namanya Esterlita Hanggara Suparapto, putri bungsu pengusaha transportasi terkenal Anthony Hanggara Suprapto dan Hagia Selvia Suprapto.
Ester adalah gadis cantik berusia 20 tahun, karena statusnya yang merupakan putri bungsu ia mendapatkan kasih sayang berlebih dari kedua orang tuanya dan kedua kakak perempuannya.
Namun ternyata perlakuan itu menjadikan Esterlita menjadi sosok nona muda dengan segudang sifat dan sikapnya yang menyebalkan. Estelerlita menjadi sosok yang sangat arrogant dan suka merendahkan orang lain.
Pergaulannya kian liar,
Keributan demi keributan seringkali ia ciptakan, Titik kesabaran tuan Anthony mencapai batas ketika ia bertemu dengan sang putri di loby hotel bersama seorang pria yang sangat tidak ia suka.
Tuan Anthony marah bukan main,
keputusan di buat,
Jika Ester tak ingin kehilangan haknya atas semua fasilitas dari sang ayah maka ia harus mau menikah dengan Yoga Setyawan.
Supir pribadi sang ayah,
brugh....
Ester pingsan....
apa yang akan terjadi.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon khitara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ban 24 rapuhnya Ester
Mobil Yoga terus melaju menyusuri jalan raya beraspal mengikuti mobil di depannya yang tak lain adalah mobil Pietter.
Di sisinya,
Ester hanya terdiam tanpa suara sedikitpun, sampai akhirnya mobil Pietter benar benar memasuki area tempat parkir.
Sebuah tempat yang tentu sudah dapat di tebak oleh Yoga,
Hotel..
Ya, Pietter sepertinya memang membawa gadis yang berada di mobil bersamanya ke hotel.
Yoga menghentikan mobil yang ia bawa tak jauh dari mobil Pietter yang saat ini sedang berhenti. Dan dari tempatnya sekarang, ia dan juga Ester tentu bisa melihat mobil Pietter dengan jelas.
Yoga dan Ester sama sama duduk terdiam di tempatnya tanpa ada yang bergerak sedikitpun.
Kedua orang itu terus menatap ke arah mobil Pietter,
Tak ada yang keluar dari mobil itu meski mobil itu telah berhenti lumayan lama.
Samar tapi pasti mobil Pietter di sana nampak mulai bergoyang.
Dan Ester tentu melihat itu,
Nafas gadis itu seolah terhenti, tubuhnya terasa membeku.
Mobil Pietter kian jelas bergoyang,
Suara cekikian terdengar samar ketika akhirnya seorang gadis cantik dengan penampilan yang terlihat acak acakan keluar dari mobil Pietter itu.
Gadis itu nampak membenarkan roknya yang panjangnya hanya sebatas pantatnya saja itu, kemudian ia beralih membenarkan pakaian bagian atasnya yang tak kalah acak acakannya sehingga membuat kedua bukit kembarnya hampir keluar.
Entah apa yang baru saja Pietter lakukan pada gadis itu hingga membuat penampilan gadis itu seacak acakan itu.
Tak berselang lama Pietter terlihat juga keluar dari mobil dan langsung menghampiri gadis itu,
Pietter merangkul pinggang gadis itu kemudian mencium bibirnya, sementara tangannya nakal meremas dua gundukan kembar gadis itu.
Keduanya melakukan itu sambil melangkah menuju lobi hotel.
Sementara Ester,
Sungguh saat ini ia tak tahu harus berbuat apa, ia tak menyangka jika laki laki yang baru saja ia lihat bersama wanita lain itu adalah Pietter kekasihnya.
Wajah Ester memucat,
" ayolah yang.....
masak udah satu tahun kita pacaran aku cuma bisa pegang tangan kamu doang..."
Ingatan Ester melayang pada rengekan Pietter kepadanya di hampir setiap mereka bertemu. Ia tak pernah menyangka jika Pietter ternyata memiliki pikiran busuk dan sekotor itu di setiap rengekannya.
" kau baik baik saja ?! Kita ikuti mereka atau......?! "
" bawa aku pergi dari sini...." potong Ester dengan ke dua bola mata yang masih menatap dua orang yang nampak mesra di depan sana.
Yoga menoleh menatap Ester karena ia mendengar suara gadis itu yang terasa bergetar, ia melihat wajah Ester memucat dan kedua bola mata yang sudah memerah menahan tangis.
" apa kau ingin aku turun dan menghajarnya di hadapanmu sekarang agar kau puas ?! " tawar Yoga,
Entah kenapa melihat Ester terlihat serapuh itu ia merasakan nyeri sekaligus ngilu di ulu hatinya.
Ester menggeleng....
" biarkan saja,
itu haknya....bawa saja aku pergi dari sini " jawab Ester pelan
" kau ingin langsung pulang ?! "
" menurutmu ?! " jawab Ester sambil beralih menatap Yoga dengan raut wajah jutek, ia sangat kesal dan sakit hati melihat kenyataan bagaimana sebenarnya Pietter.
Di tambah Yoga yang menurutnya banyak bicara.
Ia ingin segera pergi dari tempat itu, tapi laki laki di sisinya itu terasa banyak bicara dan mengulur waktu.
Yoga menghela nafas sebelum akhirnya ia menyalakan kembali mobil itu, dan tak lama ia pun mulai melajukan mobil itu keluar dari area parkir dan masuk jalan raya.
" kau mau ikut denganku ?! " tanya Yoga lagi
" kemana ?! "
" mau tidak ?! "
" kemana dulu ?! Jangan jangan kau sama seperti Pietter dan ingin membawaku ke tempat mesum..." omel Ester
" astaghfirullah...." jawab Yoga sambil mengusap dadanya,
Di sisinya Ester melirik reaksi laki laki itu atas ucapannya barusan.
Tanpa ia sadari, sudut bibirnya sedikit tertarik ke atas tanda ia menyunggingkan senyum walau samar.
Ester tidak sadar, untuk sejenak ia lupa sakit hatinya kepada Pietter dan itu karena Yoga.
Tak lama mobil Yoga berhenti di tepi alun alun kota yang di jadikan play ground.
Ester menatap ke depan dengan heran.
" kenapa kau membawa ku kemari ?! Kau pikir aku anak kecil ?! " lagi lagi Ester mengomel.
" aku dengar, melihat anak anak kecil bermain lepas saat kita sedih...
itu bisa sedikit mengurangi rasa sedih kita, cobalah..." jawab Yoga sembari melepas sabuk pengamannya kemudian keluar lebih dulu dari mobil.
Ia melangkah memutari mobil dan kemudian membukakan pintu mobil Ester.
" ayo..." ajaknya sambil mengulurkan tangannya berniat membantu Ester yang masih terlihat rapuh keluar dari mobil.
Tapi Ester menepis tangannya.
" jangan lebay...aku bisa keluar sendiri " ucap Ester ketus menolak kebaikan Yoga itu.
Bukannya marah, Yoga hanya tersenyum kecil. Ia sempat melihat semburat kemerahan tadi di wajah Ester saat ia menawarkan kebaikan barusan.
Ia tahu....
Gadis itu malu sekaligus gengsi padanya. Dan itu sungguh terlihat lucu di matanya.
Baru kali ini rasanya ia merasa lucu melihat tingkah ketus dan kemarahan seorang perempuan.
Ia kira semua wanita akan selembut ibunya, atau paling tidak seperti Zahra yang walau tak selembut ibunya tapi juga bukan pemarah. Atau nyonya Hagia mungkin...
Pernah juga sih ia punya teman seorang perempuan yang lumayan pemarah dan keras kepala,
Tapi rasanya ia malah malas melihatnya, tidak seperti saat ia melihat Ester sekarang.
Dan sungguh ia sangat merasa entah melihat karakter lain seorang wanita pada diri Ester.
Menurutnya...
Karakter Ester itu unik....
Ester seperti petasan di matanya, meledak tapi menyenangkan dan lucu.
Diam diam Yoga tersenyum senyum sendiri menatap Ester yang melangkah di depannya.
makasih udah up di hari Minggu ya Kak Thara, aku beneran ga nyangka, love sekebon deh😍😍😍😍
ngakuuuuuuuuuu udah mulai tersepona dan teryoga yoga🤣🤣🤣