Kanaya Tabitha adalah definisi wanita sempurna. Cantik, pintar, dan mandiri, dia sukses membangun bisnisnya dari nol. Di balik keanggunannya, Kanaya adalah sosok wanita tangguh yang menguasai seni bela diri tingkat tinggi, dan jangan harap ada pria yang bisa mendekatinya dan mengusik hidup tenang nya, hubungan dan cinta tidak ada di dalam daftar hidup nya.
Namun, dunia indahnya runtuh saat sebuah rahasia besar mendadak memutarbalikkan hidupnya. Tubuhnya mengalami perubahan aneh yang tak masuk akal. Bagaimana bisa dia hamil tanpa pernah disentuh pria mana pun?
Kanaya tidak tahu bahwa setiap malam, rahimnya telah diklaim oleh Alexander Giorge, Raja Vampir yang posesif dan berbahaya di balik kegelapan.
"Kamu milik ku, Kanaya. Berlari lah sejauh apa pun, darah daging ku akan selalu membimbingku kembali ke tempat tidurmu. Jika ada pria lain yang berani menyentuhmu, ku pastikan namanya tinggal sejarah."_ Alexander Giorge.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HANGAT
"Fanya, dunia memang mengerikan, tapi aku bersumpah demi hidupku, selama aku ada di sini, tidak ada satu pun makhluk atau bahaya yang boleh menyentuhmu," ucap James menyeka sisa air mata di pipi Fanya dengan ibu jarinya, gerakannya sangat hati-hati.
Fanya menunduk, mencoba memproses segalanya.
Penglihatan tentang api hitam, abu yang terbang, dan kini pengakuan pria misterius yang baru saja menciumnya.
"Kamu bukan manusia, kan?" tanya Fanya lirih, memberanikan diri menatap mata James kembali.
James tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menyiratkan kesedihan sekaligus ketulusan.
"Bukan. Aku adalah makhluk yang sudah hidup selama ratusan tahun untuk menjaga mereka yang berhak dilindungi, dan malam ini, aku menyadari bahwa kamu adalah seseorang yang ingin ku lindungi dengan caraku sendiri," jawab James jujur.
Fanya terdiam, pikirannya tiba-tiba buntu, harusnya dia lari, harusnya dia takut setengah mati, tapi entah kenapa rasa hangat yang dia rasakan saat James di dekat nya, membuat otak anak nya benar-benar berhenti bekerja.
"Kamu gila," gumam Fanya, meski nadanya tidak lagi terdengar menuduh.
"Mungkin saja. Dokter," jawab James terkekeh pelan.
Sekarang sudah sangat larut. Apakah kamu mau aku mengantarmu pulang? Mobilmu tidak aman untuk dikendarai dalam kondisi tangan yang gemetar seperti itu," tawar James, mengubah topik dengan nada yang sangat perhatian.
Fanya memandang tangannya sendiri yang memang masih bergetar hebat, lalu menatap James, mencoba mencari kebohongan di wajah pria itu, namun yang dia temukan hanyalah ketulusan yang membuat detak jantungnya kembali berpacu, kali ini bukan karena takut.
"Antar aku," jawab Fanya singkat, akhirnya menyerah pada keadaan.
James segera membukakan pintu mobil untuk Fanya.
Setelah Fanya keluar dan masuk ke kursi penumpang, James dengan cekatan mengambil alih kursi kemudi.
Sebelum menjalankan mobil, James melirik Fanya sekali lagi.
"Setelah ini, kamu masih mau berhubungan denganku, Fanya? Setelah kamu tahu siapa aku sebenarnya?" tanya James, suaranya terdengar sedikit ragu.
Fanya menoleh ke arah jendela, menatap bayangan dirinya sendiri di kaca yang gelap sebelum memandang James.
"Aku juga tidak tahu, tapi untuk sekarang, jalan saja, aku cuma ingin pulang," jawab Fanya, menyandarkan kepalanya ke jok mobil, mencoba memejamkan mata untuk menenangkan pikirannya yang berisik.
James tersenyum kecut, dan mulai menjalankan mobil Fanya.
Waktu terus berputar hingga jarum jam menunjukkan pukul dua tengah malam.
Keadaan di dalam kamar utama mansion Alexander sangat sunyi, hanya menyisakan suara deru angin malam dari luar jendela.
"Uuungghh...."
Sebuah lenguhan pelan tiba-tiba keluar dari mulut Naya, alisnya bertaut rapat, dan dahinya mendadak dipenuhi oleh butiran keringat dingin.
Alexander yang sejak tadi tidak tidur dan hanya mengawasi Naya langsung menegakkan tubuhnya, matanya menatap waspada saat melihat kedua tangan Naya bergerak mencengkeram erat selimut di atas perutnya.
"S-Sakit... ugh, perutku..." rintih Naya pelan, matanya masih terpejam.
Rasa mules yang luar biasa, mendadak menyerang bagian bawah perutnya, rasanya seperti diremas-remas dengan sangat kuat.
Mendengar rintihan itu, jantung Alexander rasanya seperti berhenti berdetak, pria yang biasanya tidak pernah takut pada apa pun di dunia ini mendadak diserang rasa panik yang luar biasa.
"Naya? Naya, bangun, Sayang. Bagian mana yang sakit?" tanya Alexander cepat, suaranya yang biasa terdengar berat kini terdengar sedikit bergetar karena cemas.
Naya membuka matanya perlahan, air mata langsung menetes di sudut matanya karena tidak kuat menahan rasa mules yang semakin menjadi-jadi.
"Alex... sakit banget... perutku uugh!" keluh Naya sambil mencengkeram lengan kekar Alexander yang berada di dekatnya.
Cengkeraman tangan Naya begitu kuat, menunjukkan seberapa hebat rasa sakit yang sedang dia tahan.
Alexander mencoba menarik napas dalam-dalam, memaksa otaknya untuk tetap tenang dan tidak ikut panik, walau sebenarnya melihat Naya kesakitan seperti ini membuat hatinya terasa seperti diiris-iris, dia paling tidak bisa melihat wanita ini menderita.
"Tenang ya, aku di sini, jangan tegang," ucap Alexander lembut.
Alexandre langsung naik ke atas ranjang dan duduk di samping Naya, membawa tubuh lemas wanita itu ke dalam pelukannya.
Tangan besar Alexander yang hangat langsung disusupkan ke balik selimut, menempel tepat di atas perut buncit Naya yang terasa sangat keras dan tegang.
Alexander memejamkan matanya sejenak, menyalurkan energi milik nya yang menenangkan secara perlahan-lahan ke dalam rahim Naya, mencoba berkomunikasi dengan bayinya agar tidak menyiksa ibunya.
"Anak pintar... jangan buat ibumu kesakitan, hm? Tenang di dalam sana," bisik Alexander dengan suara yang sangat rendah.
Naya yang awalnya terus mengerang kesakitan, perlahan-lahan mulai merasakan rasa hangat yang mengalir dari telapak tangan Alexander.
Rasa sakit yang melilit di perutnya berangsur-angsur mereda, meninggalkan rasa nyaman yang membuatnya bisa kembali bernapas dengan lega.
Naya menyandarkan kepalanya di dada bidang Alexander, napasnya masih terengah-engah dan gaun tidurnya sudah agak basah karena keringat dingin.
"Masih sakit, hm?" tanya Alexander lembut, tangannya masih terus bergerak memutar, memijat lembut perut Naya dengan penuh kesabaran.
Naya menggelengkan kepalanya pelan di dada Alexander.
"Udah mendingan... tapi jangan dilepas tangannya..." ucap Naya lirih.
Alexander tersenyum mendengar permintaan lirih itu, dia semakin mempererat pelukannya dari belakang, menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Naya dan menghirup aroma tubuh wanita itu yang selalu bisa menenangkannya.
"Tidak akan kulepas, Sayang, aku akan menemanimu sampai kamu tertidur lagi," jawab Alexander berbisik di telinga Naya.
Naya membiarkan pria itu memeluknya malam ini, dalam kondisi lemah dan kesakitan seperti ini, dia harus menurunkan egonya karena dia tidak bisa membohongi tubuhnya bahwa sentuhan sang Raja Vampir adalah satu-satunya obat penawar yang dia butuhkan saat ini.
"Kamu... beneran nggak bakal sakitin anak ini, kan?" tanya Naya tiba-tiba dengan suara yang sangat pelan, matanya menatap lurus ke depan dengan sayu.
Alexander menghentikan gerakan tangannya sejenak di atas perut Naya, mengecup bahu Naya yang terbuka dengan sangat lembut sebelum menjawab pertanyaan itu.
"Dia adalah darah dagingku, Naya, dan kamu adalah duniaku. Aku rela menghancurkan seluruh dunia ini dengan tangan ku sendiri jika ada yang berani menyentuh seujung rambut kalian," jawab Alexander dengan nada suara yang sangat dalam.
Naya tertegun mendengar kalimat posesif namun penuh ketulusan itu.
Entah mengapa, rasa takut yang sejak pagi bersarang di hatinya perlahan mulai mengikis, digantikan oleh rasa aman yang aneh di dalam dekapan seorang monster yang paling ditakuti.
"Makasih, Alex..." bisik Naya lirih, sebelum akhirnya matanya kembali terpejam rapat, menyusul rasa nyaman yang terus diberikan oleh pijatan lembut tangan Alexander di perutnya.
Alexander hanya tersenyum tipis mendengarnya, dan dan terus mengelus perut Naya dengan lembut sepanjang malam, menjaga tidur wanita miliknya itu dengan penuh cinta.
semangat ka 💪💪💪💪