Pada malam hari Aletta tengah berjalan santai menikmati udara malam yang begitu dingin sambil mau makan buah jeruk. Ya Aletta sangat menyukai jeruk mereka seperti sahabat sejati sebab jika Aletta kemana-mana dirinya selalu membawa jeruk. "Tinggal 5 butir dan bijinya ada 7 makan aja deh semuanya." Ucapnya semangat. Aletta langsung memasukkan 5 butir jeruk ke dalam mulutnya saat sedang asyik maunya tiba-tiba Aletta mengalami sesak nafas dan langsung terjatuh.
Uhukkkk....uhukkkk.
"Sesak banget dada gue."
"Sialan ya kali gue metong karena keselek 7 biji jeruk yang bener saja lelucon macam ini." Ucapnya kesal.
Kesadaran Aletta mulai menghilang dan Aletta berdoa kepada Tuhan untuk meminta kehidupan yang kedua.
"Tuhan jika akhir hidupku aku minta ke pada mu kehidupan untuk kedua kalinya aku ingin memperbaiki semuanya dan aku ingin minta maaf sama Mommy, Daddy dan para Abang lucknut." Ucapnya lirih tersenyum lebar di akhir kesadarannya dan sisa hembusan nafas terakhirnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen Putri Arabella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pulang Ke Mansion
Keesokan harinya tepatnya jam15.00 Aretta tengah membereskan pakaian untuk di masukkan kedalam tas karena hari ini Aretta akan pulang ke kediaman Wilson.
"Kan udah bibi bilang non biar bibi aja beresin non Aretta istirahat aja kan non baru sembuh nanti sakit lagi bagaimana? Bibi sedih kalo non sampai sakit lagi." Cerocos bi Nilam.
Aretta terkekeh geli ternyata masih ada orang yang sayang sama tubuh ini seenggaknya dia gak sendirian banget.
"Udah gak papa bi lagian ini barangnya cuma sedikit ko." Ucap Aretta.
Bi Nilam menghela nafas panjang memang keras kepala sekali nona mudanya ini. "Baiklah non."
"Bi kita pulang naik tadi atau di jemput?" Ucap Aretta.
"Kita naik tadi non." Ucap bi Nilam.
Sudah di duga akan seperti itu, keluarganya mana peduli sama dirinya jangankan mengirim jemputan menengoknya di rumah sakit saja tidak.
"Bi Retta udah selesai nih."
"Yasudah kit langsung pulang aja non biar nanti sampe mansion gak malem."
Bi Nilam dan Aretta bergegas untuk pulang sampainya di depan rumah sakit bi Nilam langsung menghentikan tadi yang kebetulan lewat.
"Ayo non masuk." Ucap bi Nilam.
Aretta dan bi Nilam memasuki tadi tersebut. "Ke jalan mawar ya pak." Ucap bi Nilam yang di angguki oleh supir tadi.
sepanjang jalan hanya ada keheningan, pandangan Aretta ke arah jalanan dengan pikirannya sedak berkecamuk.
"Gue harus secepatnya membereskan yang ada di sini." Batin Aretta.
"Gue juga mau cepet-cepet ketemu sama Daddy Mommy dan para Abang lucknut. untung aja si Aretta asli sekolah di Alexander jadi gue bisa liat keadaan Abang kembaran gue baik-baik aja atau enggak setelah kepergian gue." Batin Aretta lagi.
Setelah 1 jam bi Nilam dan Aretta telah sampai di kediaman Wilson lalu keduanya turun dari tadi.
"Makasih ya pak." Ucap bi Nilam.
Aretta mengamati sekitarnya memandangi bangunan yang ada di depannya. " Masih besaran mansion Alexander." Batinnya.
"Eh bi Nilam sudah sampe." Ucap satpam yang menjaga di depan gerbang.
"Iya pak Uya. Ayo non masuk." Ajak bi Nilam.
Aretta bergegas masuk kedalam kediaman Wilson dirinya melihat banyak motor sport yang berjejer rapi di depan teras.
"Banyak banget motor sama mobil di sini." Ucap Aretta.
"Itu punya teman-teman geng nya abang-abang non emang udah biasa main di sini bahkan sering nginep dan juga semua keluarga besar Wilson ada di sini non mereka pada nginep katanya sih dari 2 Minggu yang lalu." Ucap bi Nilam.
"Kek pada gak punya rumah sampai nginep segala." Celetuk Aretta yang mendapat kekehan kecil dari bi Nilam.
Sampainya bi Nilam dan Aretta di depan pintu masuk suara gelak tawa terdengar menggema di seluruh penjuru mansion Wilson. Aretta melihat mereka terlihat sangat bahagia tanpa hadirnya Aretta di tengah-tengah mereka.
Bi Nilam dan Aretta tidak mempedulikan keberadaan mereka semua, bi Nilam dan Aretta terus saja berjalan menuju paviliun belakang mansion Wilson hingga sebuah suara menghentikan langkah mereka berdua dan semua atensi mengarah ke pada mereka berdua.
"Aretta abis dari mana?Tanya Rachel sepupu Aretta.
"Abis dari mana Lo ngej*lang ya?" Ucap remeh Robert.
"Luh ngangk*Ng di mana berbulan-bulan gak pulang?" Ucap pedas Renan.
Aretta membalikkan badannya menatap dingin ke orang yang telah menghentikan langkahnya.
Deg
Deg
Mereka semua tertegun dengan tatapan dingin Aretta suasana di ruangan keluarga menjadi mencekam karena Aretta mengeluarkan aura dinginnya.
"Ingat romah Lo?" Ucap pedas Renan Abang ke dua Aretta.
Aretta tak bergeming dirinya masih setia menatap mereka semua dengan tatapan yang tajam. Revan menyadari arti tatapan Aretta yaitu tatapan kebencian, dendam, marah, kecewa dan terluka melihat tatapan Aretta membuat Revan merasakan sakit yang gak bisa di ungkapkan.
"Lo budek apa gimana di tanya bukannya jawab malah diem aja." Ucap pedas Melisa, ia juga sepupu Aretta.
"Bukan urusan Lo." Ucapnya dingin. mereka yang mendengar terkejut Aretta yang mereka kenal gak berani berbicara dingin seperti itu Aretta yang mereka kenal adalah Aretta gak punya malu dan selalu bertingkah agar mendapat perhatian dari mereka semua.
"Jangan kurang ajar kamu Aretta." Ucap dingin Kalingga papa dari Aretta.
Aretta menaikkan sebelah alisnya ia bingung siapa orang tua ini berani sekali berbicara dingin kepadanya. "Bi pak tua itu siapa sih?" Tanya Aretta ke pada bi Nilam.
Deg
Mereka terkejut dengan apa yang diucapkan Aretta barusan kenapa dirinya gak mengenali papa kandungnya padahal selama ini Aretta selalu saja mencari perhatian papa kandungnya.
Lalu sekarang kenapa mereka tidak mengenalinya? Apa ini trik Aretta agar mereka memperhatikannya?.
"Gak usah pura-pura gak ingat gue tau ini trik Lo agar dapat perhatian dari kita semua sayangnya trik murahan Lo gak berhasil." Ucap ketus Robert kakak ke tiga Aretta.
"Gue gak ingat siapa kalian." Santai Aretta.
Mereka menjadi geram dengan ucapan santai Aretta. ”Cih murahan trik lo sama kek orangnya." Ucap sinis temannya Robert yang bernama Dani.
Aretta langsung menoleh ke arah Dani menatap dingin Dani yang membuat tubuh Dani gemetaran. "Lo siapa?"
"Dari mana saja kamu selama 6 bulan ini Aretta?" Ucap tegas Jenny mamanya Aretta.
"Bukan urusan anda Nyonya." Dingin Aretta dengan pandangan yang sulit di artikan.
Plak
Kepala Aretta menoleh kesamping sebab Kalingga menamparnya begitu kuat. "Di mana sopan santun kamu anak sialan pantaskah kamu berbicara seperti itu sama orang tua mu sendiri hah." Marah Kalingga yang di balas kekehan kecil oleh Aretta.
"Apa itu sopan santun hem? saya gak punya orang tua dari kecil tuan saya gak tau sopan santun dan saya tidak pernah di ajarkan apa itu sopan santun. dan saya akan sopan kepada orang yang menghormati saya dan menganggap saya." Sarkas Aretta. Kalingga yang mendengar ucapan Aretta semakin marah begitupun dengan yang lainnya.
"Kurang ajar." Geram Matthew Wilson opah Aretta.
Plak
Plak
Plak
Matthew menampar Aretta berkali-kali sampai darah keluar di sudut pinggir bibirnya, tapi Aretta tidak mempedulikan itu dirinya biasa saja seperti menikmati siksaan yang diberikan oleh Matthew.
Bugh
Bugh
Bugh
Lalu Matthew memukul dan menendang Aretta sehingga Aretta tersungkur ke lantai keluarga Wilson yang melihat itu tersenyum senang melihat penderitaan Aretta begitupun dengan teman-temannya para abang-abangnya Aretta amat sangat senang melihat Aretta di siksa seperti itu.
Namun tidak dengan bi Nilam yang sudah nangis tersedu-sedu melihat Aretta babak belur di tangan keluarganya sendiri, padahal Aretta baru saja pulang dari rumah sakit tapi sudah mendapatkan luka lagi.
Bi Nilam bergegas menghampiri Aretta memeluknya erat melindungi Aretta dari siksaan Matthew. "Stop Tuan Besar stop hiksss jangan sakiti non Aretta lagi." Ucap bi Nilam memohon.
"Apa yang kamu lakukan Nilam minggir dari situ jangan coba-coba untuk melindungi anak sialan itu." Marah Henry Kaka pertama Kalingga.
"Enggak Tuan, maaf sebelumnya nona Aretta memang tidak mengenali kita semua karena nona Aretta mengalami amnesia, selama 6 bulan ini non Aretta gak ngej*lang atau ngangk*Ng seperti yang Tuan Muda tuduhkan tapi nona Aretta berada di rumah sakit dia koma selama 6 bulan Tuan jadi saya mohon sama Tuan saya mohonnn banget stop jangan sakiti nona Aretta lagi dia baru saja keluar dari rumah sakit hikshh...hikshh..." Ucap bi Nilam.
Deg
Mereka sangat terkejut mendengar penuturan bi Nilam. jadi selama 6 bulan ini Aretta itu di rumah sakit dirinya koma dan kami semua menuduhnya dia menjadi Sugar Baby dan hari ini dia baru keluar dari rumah sakit tapi mereka sudah menyiksanya lagi.
Kalingga dan Jenny merasakannya sesak di hatinya begitupun dengan abang-abang Aretta mereka ingin memeluk Aretta tapi gengsi mereka lebih besar.
Aretta berusaha berdiri dari duduknya ia menatap mereka semua dengan tatapan yang begitu tajam yang membuat tubuh mereka semua gemetaran.
"Gue emang gak ingat sama kalian semua tapi gue gak akan pernah lupa sama kelakuan buruk kalian semua terhadap gue bahkan gue bersumpah sampai gue mati dan kalian nangis darah untuk minta maaf ke gue, gue gak akan pernah maafin kalian sampaigue mati pun gue gak akanmaafin kalian semua kalian semua akan hancur kalian akan hancur karena ulah kalian sendiri." Ucap Aretta dingin dan tegas tatapan matanya dalam.
"Jika suatu saat semuanya terbongkar jangan harap gue akan muncul di hadapan kalian semua gue akan menghapus marga Wilson dari nama belakang gue kalo bisa gua akan ganti nama gue dengan nama yang baru itu sumpah gue." Ucap Aretta.
Tubuh Kalingga dan Jenny seketika menegang mereka tidak mengenali putri bungsu mereka saat ini, putri bungsu mereka telah berubah apa dirinya sudah sangat keterlaluan selama ini?.
"Kamu berubah nak hati mama sakit kamu gak mencari perhatian sama kita semua." Batin Jenny sendu.
"Kamu berubah dek." Batin para abangnya Aretta.
"Putri kecil papa, maafin papa nak papa bersalah banget sama kamu selama ini." Batin Kalingga.
"Sepertinya aku harus menyelidiki ulang kematian istriku. Naomi semoga kamu tenang di dana dan doakan aku agar aku bisa segera mengungkapkan siapa pelakunya yang sebenarnya." Batin Matthew Wilson.
"Sialan lo Aretta gue gak akan biarin lo bongkar semuanya." Batin Rachel mengepalkan tangannya kuat.
"Sialan kenapa lo gak mati aja sih kenapa masih pake hidup segala aarrgghhhhhh kalo gini caranya gue gak bisa miliki Sean selamanya. gak pokoknya si cupu harus membatalkan pertunangannya sama Sean dan hubungan gue sama Sean harus segera di publish dengan begitu gue dan Sean akan bertunangan dan kita akan menjadi pasangan yang sangat cocok dan bahagia." Batin Melissa yang menatap Aretta tajam.
Aretta tau bahwa ke dua sepupunya itu tengah menatap dirinya seperti ingin menerkam hidup-hidup tapi Aretta hanya acuh dan tanpa mempedulikan yang lain Aretta bergegas untuk ke paviliun belakang mansion Wilson dirinya merasa sangat lelah dan segera ingin beristirahat.
Sedangkan di ruang tamu para tertua keluarga Wilson masih di sibukkan dengan pikiran mereka masing-masing, mereka bertekad untuk menyelidiki ulang atas kematian ibu dan mertua mereka dan hanya para tetua yang akan menyelidikinya tanpa memberi tahu anak-anak mereka.
Para tetua masih terus mengingat dengan ucapan Aretta yang meyakinkan bahwa Aretta gak bersalah selama ini. jika memang benar Aretta tidak bersalah selama ini itu berarti mereka sudah sangat berdosa terhadap Aretta mungkin saja kesalahan mereka gak bisa di maafkan.
Mengingat itu mereka juga mengingatkan tatapan penuh kekecewaan, dendam dan terluka yang begitu dalam di mata Aretta.
"Ini sudah malam lebih baik kalian ke kamar kalian masing-masing." Ucap Matthew yang memecahkan lamunan mereka semua lalu dirinya pergi meninggalkan ruang tamu untuk menuju kamarnya.
"Kalian semua juga nginep di sini aja jangan pulang ini udah malam." Ucap Alina kepada teman-temannya Robert. mereka pun menganggukkan kepalanya lalu bergegas pergi untuk menuju kamarnya masing-masing begitupun dengan Alina yang langsung berjalan menuju kamarnya.
•
•
Selamat membaca semoga suka dengan ceritanya:)