NovelToon NovelToon
Pertemuan Diatas Luka

Pertemuan Diatas Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ersy 07

Dihianati oleh kekasih yang dicintai memang begitu menyakitkan, apalagi kekasih yang ia percaya akan membuat dirinya bahagia ternyata diam diam menjalin hubungan dengan sepupunya. Namaku Alisha Azura inilah kisah cintaku dan perjalanan hidupku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ersy 07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Karena Frustasi

  "Loh bik, kok minumannya dibawa ke dapur lagi?" Santa heran melihat bin Surti membawa nampan yang masih utuh kembali ke dapur.

"Tamunya sudah enggak ada lagi non, kayaknya sudah pergi. Non Alisha juga udah enggak ada diruang tamu" jawab bik Surti meletakkan nampan diatas meja dapur. Santa mengernyit bingung, tanpa banyak kata gadis tersebut langsung keluar dari dapur berjalan ke ruang tamu. Dan benar saja ruang tamu sudah enggak ada siapapun termasuk kakaknya. "Loh mereka pada kemana nih, masak iya kak David anterin Alisha ke kamarnya" gumam Santa melihat pintu kamar Alisha dari lantai bawah nampak tertutup rapat.

   Santa segera menghubungi kakaknya saat itu juga. Beruntung panggilan langsung terhubung saat itu juga.

"Halo kak, kamu dimana sih kok enggak ada di rumah Alisha" cetus Santa saat panggilan tersambung.

"Maafin kakak San, kakak tadi terburu buru sampai lupa ajak kamu" terdengar suara David dari sebrang telfon.

"Terus gimana dong, gue berangkat kuliahnya besok kalau mobilnya kakak bawa" protes Santa kesal.

"Yaudah kamu sekarang susul kakak ke bandara ambil mobilnya, kakak tunggu disini"

"Ah elah ujung ujungnya gue sendiri kan yang repot!" kesal Santa langsung memutuskan panggilannya sepihak.

Santa langsung pergi meninggalkan rumah Alisha saat itu juga dan langsung menghentikan taxi. "Tujuannya kemana mbak?" tanya supir taxi sopan.

"Langsung ke bandara pak" jawab Santa. Setelah setengah jam kemudian mobil taxi tersebut sudah sampai di bandara. Dari pintu luar nampak David masih menunggu kedatangan adiknya.

"Pak berhenti disini saja pak" ucap Santa saat melihat kakaknya. "Baik mbak" mobil taxi pun berhenti tepat disamping David. Setelah membayar ongkos taxi, Santa langsung menghampiri kakaknya.

Pluukkk...

Santa langsung memukul lengan kakaknya dan David hanya tersenyum kecil melihat adiknya merajuk.

 "Udah jangan marah lagi, nanti uang jajanmu kakak tambah bulan ini" bujuk David seraya menjawil hidung mancung adiknya. "Dasar tukang sogok" ketus Santa masih cemberut.

"Enggak mau nih, yaudah enggak jadi kakak tambahin kalau gitu" goda David.

  "Enak aja mau ingkar janji, enggak bisa gitu dong pokoknya bulan ini uang jajan harus lebih banyak dari bulan kemarin" protes Santa.

"Yaudah jangan marah lagi ya adik kakak yang paling jelek.." goda David terkekeh kecil.

"Kak David..!! Aku beneran ngambek nih"

"Hahaha...bercanda dek, yaudah senyum dulu dong biar kakak semangat kerjanya" ucap David menjawil pipi adiknya. Santa langsung tersenyum dan memeluk kakak satu satunya.

  "Kak hati hati disana, jaga kesehatan kakak ya.. jangan lupa makannya dijaga biar sakit lambung kakak enggak kumat lagi. Sering sering kasih kabar Santa, maaf Santa belum bisa ikut pulang kesana " ucap Santa lembut.

   "Iya dek, kamu juga jaga diri baik baik disini. Jangan suka kelayapan malam malam bahaya apalagi kamu cewek" nasehat David.

"Iya kak, tapi enggak janji" jawab Santa sambil nyengir kuda.

"Santa Aurora..." ucap David menyebut nama lengkap adiknya matanya mendelik tajam.

  "Hehehe... bercanda kak, serius amat sih nanti cepat tua loh" goda Santa terkekeh.

"Yaudah Kakak masuk dulu ya, pesawatnya mau berangkat sekarang" pamit David mencium kening adiknya sebelum melepas pelukannya.

"Ya hati hati ya kak, sampai bertemu lagi" ucap Santa melambaikan tangannya sampai kakaknya menghilang dari balik pintu masuk.

Huft...

"Sepi lagi deh apartemen gue" gumam Santa melihat pesawat yang ditumpangi kakaknya sudah terbang ke angkasa. Santa masuk kedalam mobilnya lalu meninggalkan bandara.

           >>>>>>>>

 Didalam kamarnya Alisha masih duduk di kursi rodanya. Cantik tersebut berada di balkon sejak kepergian David setengah jam lalu. Alisha melihat David keluar dari rumahnya dari atas balkon. Entah apa yang ada dalam pikirannya tiba tiba air mata yang sejak tadi ia tahan pada akhirnya pecah saat itu juga. "Maaf aku kak David, mungkin jawabanku mengecewakanmu bahkan mungkin mengecewakanmu. Aku yakin pria sepertimu sangat mudah mendapatkan wanita manapun yang pantas untukmu tapi bukan aku. Saat ini aku hanya seorang gadis lumpuh yang tidak pantas bersanding denganmu" ucap Alisha pelan kedua tangannya memukul kedua pahanya namun ia tidak merasakan apapun dikedua kakinya seolah olah mati rasa. Dan itu semakin membuat Alisha marah bercampur frustasi.

  Alisha mendorong kursi rodanya masuk kedalam kamarnya dan ia melempar semua barang barangnya yang ada diatas meja rias miliknya.

Prang

Prang

Prang

Pyarrr

Pyarrr

Bahkan botol parfum mahal harganya pun tidak luput dari amukannya, vas bunga diatas meja rias ia lempar ke dinding kamar.

Pyaarrr...

Setelah melampiaskan kemarahannya Alisha menangis sejadi jadinya dan berteriak frustasi.

Aaarrgghh....

"Lebih baik aku mati saja Tuhan... dari pada aku hidup tapi menjadi orang tidak berguna dan cacat. Aku mau mati saja Tuhan... agar tidak menyusahkan kedua orang tuaku"

Aaarrgghh...

Alisha jatuh dari atas kursi roda sehingga kedua kaki dan tangannya terluka terkena pecahan beling. Namun Alisha seolah olah tidak peduli dengan kondisinya tangan dan kakinya. Ia menarik seprei melemparnya ke lantai, bantal guling selimut semua ia lempar ke sembarang arah. Bahkan kedua kaki serta tangannya sudah banyak mengeluarkan berdarah.

Setelah puas melampiaskan amarahnya Alisha melihat kondisi kamarnya yang sudah berubah berantakan. Bahkan pecahan beling dan berbagai barang termasuk berbagai skincare miliknya sudah tidak berbentuk lagi. Tiba-tiba tatapan mata Alisha tertuju pada pecahan beling yang berada tidak jauh dari jangkauannya. Dengan tangan bergetar Alisha meraih pecahan beling tersebut. Ia genggam pecahan beling tersebut yang berbentuk runcing dan tajam. Ia tatap beling tersebut dengan pandangan kosong seolah harapan hidupnya sudah tidak ada lagi.

"Lebih baik aku mati saja, percuma aku hidup seperti ini lebih baik aku mati saja"

"Hahaha...iya lebih baik aku mati saja...

Hiks hiks hiks...

"Mama..

Papa maafkan Alisha..."

Alisha menggores pergelangan tangan kirinya mengunakan pecahan beling tersebut tak lama darah mengalir deras sampai mengenai dress putih yang dipakai Alisha.

"Maafkan Alisha ma, pa..."

Bruk...

Tak berapa lama Alisha jatuh pingsan tak sadarkan diri dilantai dengan tangan masih menggenggam beling tersebut.

Sedangkan didapur Alena sedang sibuk memasak untuk makan malam dibantu oleh bik Surti dan Siti. "Siti tolong antarkan potongan buah ini ke kamar Alisha ya, tadi Alisha bilang ingin makan potongan buah segar" ucap Alena seraya memberikan piring berisi potongan buah buahan segar ke tangan asisten rumah tangganya. "Baik nyonya" jawab Siti sopan menerima piring tersebut.

Siti langsung pergi ke kamar nona mudanya yang berada dilantai atas.

tok

tok

"Non ini saya mbak Siti mau mengantarkan pesanan non Alisha" ucap Siti seraya mengetuk pintu kamar Alisha namun sudah berulang kali diketuk tidak ada sahutan sama sekali dari dalam kamar.

"Non Alisha, mbak masuk ya non.."

Ceklek...

Saat pintu terbuka alangkah terkejutnya Siti melihat kamar nona mudanya tersebut.

"Astaghfirullah...

Non Alisha...ya Allah non Alisha..!! Teriak Siti histeris seraya berusaha berjalan dengan langkah hati hati karena takut terkena pecahan beling yang berserakan dilantai. Siti mendekati nona mudanya yang sudah tergeletak dilantai. "Ya Allah non, non Alisha kenapa, astaghfirullah...non bangun non..."tangis Siti pecah melihat kondisi nona mudanya. Wajahnya begitu pucat dengan banyaknya bercak darah di pakaian Alisha.

Tolong...

Tolong...

Teriakkan Siti terdengar begitu nyaring sampai terdengar ke lantai bawah. Alena dan bik Surti yang mendengar teriakkan Siti mereka langsung berjalan tergopoh gopoh menaiki tangga menuju kamar Alisha. Saat sampai didepan kamar putrinya Alena begitu terkejut.

Deg

Jantung Alena seolah berhenti berdetak saat itu juga, melihat putrinya tergeletak dilantai dengan kepala masih berada dipangkuan Siti. Dengan kondisi pergelangan tangan kirinya banyak mengeluarkan darah segar.

"Astaghfirullah ya Allah...

Alisha anakku...!!" teriak Alena histeris dengan airmata mengucur deras. Wanita paruh baya tersebut segera mendekati putrinya tanpa memperdulikan pecahan beling berserakan dilantai. "Bik tolong panggilkan suami saya dan Siti tolong suruh supir segera menyiapkan mobil kita harus membawa Alisha ke rumah sakit sekarang juga"

"Baik nyonya.." jawab bik Surti dan Siti mereka langsung keluar dari kamar nona mudanya dengan langkah tergopoh gopoh menuruni tangga.

Bik Surti mengetuk pintu ruang kerja Mohan dengan tempo cepat.

Tok

Tok

Tok...

"Tuan tolong buka pintunya.." panggil bik Surti dengan nafas ngos-ngosan.

Ceklek.. pintu terbuka.

"Ada apa bik" tanya Mohan setelah pintu terbuka.

"Tuan, nona Alisha pingsan dan banyak darah keluar dari pergelangan tangannya.."

"Astaghfirullah..." Mohan langsung bergegas pergi ke kamar putrinya dengan perasaan kawatir.

"Ma, Alisha kenapa.." tanya Mohan setelah sampai didalam kamar putrinya. Mohan melihat istrinya sudah menangis terisak seraya memangku kepala putrinya yang sudah tidak sadarkan diri. Mohan langsung menggendong putrinya ala bridal style dengan langkah cepat untuk dibawa ke rumah sakit agar segera mendapatkan pertolongan. Sedangkan Alena mengikuti suaminya dari belakang.

Setelah masuk kedalam mobil Alisha dibaringkan dengan kepala dipangkuan mamanya. Sedangkan Mohan langsung mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi agar segera sampai dirumah sakit. Beruntung jalanan tidak begitu macet sehingga tidak berapa lama mereka sudah sampai rumah sakit.

Mohan langsung meminta time medis segera menyiapkan brankar pasien. Suster dengan sigap menyiapkan brankar pasien dan Mohan membaringkan putrinya diatas brankar pasien. "Nak papa mohon bertahanlah sayang" ucapnya lembut dengan air menetes perlahan. Setelah sampai didepan ruang UGD langkah Alena dan Mohan ditahan oleh seorang suster " Mohon maaf pak Bu silahkan tunggu diluar, biarkan dokter yang menangani putri anda" ucap suster sebelum menutup pintu UGD. Pada akhirnya kedua orang tua Alisha hanya bisa menunggu didepan ruang UGD dengan perasaan cemas.

1
Erny Ersy07
alamat palsu 😄
Ahmad Muzayyin
duuuh alamat ini..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!