NovelToon NovelToon
Penyesalan Kalian Sudah Terlambat!

Penyesalan Kalian Sudah Terlambat!

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Bad Boy / Idola sekolah
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Widia ayu Amelia

Aira dan Airin adalah kembar yang tak pernah serupa. Airin adalah "Permata Maheswari"—cantik, cerdas, dan dicintai. Sementara Aira hanyalah "Cacat Produksi"—kusam, bodoh, dan terbuang di gudang belakang karena tak mampu bersaing dengan standar keluarga yang gila gelar.

Satu-satunya cahaya dalam hidup Aira adalah ingatan tentang Alvaro, bocah laki-laki kumal yang dulu ia selamatkan dan ia beri seluruh hatinya. Namun, ketika Alvaro kembali sebagai pewaris tunggal konglomerat yang tampan dan berkuasa, takdir mempermainkan Aira dengan kejam.

Alvaro salah mengenali "Ai" sahabat kecilnya. Berkat kelicikan dan nama mereka yang hampir mirip, Airin dengan mudah mencuri identitas Aira. Kini, pria yang paling dicintai Aira justru menjadi orang yang paling rajin menghina dan merundungnya demi membela sang kembaran palsu.

Di tengah luka yang menganga, muncul Bara—sang bad boy penguasa sekolah yang menolak tunduk pada siapa pun. Bara berjanji akan memberikan dunia pada Aira.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widia ayu Amelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

29

"Varo! Apa yang dia lakukan padamu?! Jauhkan tangan kotor itu dari tunanganku!"

Pekikan melengking itu menyambar udara balkon yang tadinya hening, menghancurkan momen rapuh di mana Alvaro baru saja mulai meragu. Airin muncul dari balik pintu kaca dengan gaun sutranya yang berkilauan, wajahnya merah padam dengan air mata yang mulai menggenang—akting kelas atas yang selalu berhasil menipu dunia.

Ia berlari ke arah kami, langsung merangsek masuk ke tengah-tengah, mendorong bahuku kasar demi memeluk lengan Alvaro dengan protektif. "Varo, kamu tidak apa-apa? Dia menyakitimu? Dia mencoba merayumu lagi, kan? Ya Tuhan, Aira... sampai kapan kamu mau mencuri milikku?! Kamu sudah mencuri desainku, sekarang kamu mau mencuri laki-laki yang kucintai?!"

Aku terhuyung ke belakang, menatapnya dengan pandangan kosong. "Mencuri desainmu? Airin, berhenti berbohong! Kamu tahu persis siapa yang menjahit gaun itu sampai jarinya berdarah!"

"Cukup, Aira!" Suara Alvaro kembali mengeras. Ragu yang tadi kulihat di matanya seolah tertutup kembali oleh awan gelap. Ia menatapku dengan sorot yang lebih dingin dari sebelumnya. "Jangan bawa-basa soal masa kecil untuk menutupi kelakuan busukmu malam ini."

"Tapi, Al... pita merah itu..."

"Pita merah itu hanyalah halusinasimu!"

Suara baru muncul. Mama Ratna melangkah masuk ke balkon dengan langkah yang diatur sedemikian rupa agar terlihat berwibawa namun penuh duka. Di tangannya, ia mendekap sebuah map kuning yang tampak kusam. Ia menatapku dengan pandangan menyesal yang memuakkan, seolah-olah aku adalah beban paling berat di hidupnya.

"Varo....maafkan Tante," bisik Mama Ratna, suaranya bergetar hebat. "Tante tidak bermaksud menyembunyikan ini dari kalian. Tante hanya... Tante hanya ingin melindungi nama baik putri Tante yang malang ini."

Ia menyerahkan map kuning itu kepada Alvaro. "Bacalah, Varo. Biar kamu tahu kenapa Aira sering berbicara aneh dan mengaku-ngaku sebagai 'Ai' kecilmu. Biar kamu tahu kenapa dia begitu terobsesi dengan kesuksesan kakaknya sendiri."

Alvaro membuka map itu dengan tangan gemetar. Di dalamnya, terpampang selembar riwayat pengobatan medis dari sebuah Rumah Sakit Jiwa ternama di kota ini. Nama 'Aira Maheswari' tertulis jelas di sana, lengkap dengan diagnosis gangguan identitas disosiatif dan kecenderungan delusi obsesif.

"Riwayat pengobatan... mental?" Alvaro membacanya dengan suara parau. Ia menatapku, matanya dipenuhi rasa jijik yang luar biasa. "Jadi semua cerita soal masa kecil, soal pita merah, soal gaun itu... semuanya cuma halusinasimu karena kamu gila?"

"Itu palsu, Al! Mama... kenapa Mama sejahat ini?!" teriakku histeris. Aku mencoba meraih lengan Alvaro, memohon agar dia melihat mataku sekali saja. "Mama menyogok orang untuk buat surat itu! Aku tidak pernah ke RSJ! Aku dikurung di gudang, bukan dirawat!"

Tiba-tiba, kerumunan tamu mulai berdatangan ke area balkon karena mendengar keributan. Aku bisa merasakan tatapan menghakimi dari ratusan pasang mata. Mereka berbisik, menyebutku gadis gila yang haus perhatian.

Saat itu, seseorang dari kerumunan tidak sengaja menyenggol bahuku dengan keras. Tubuhku yang sudah lemah kehilangan keseimbangan. Secara refleks, aku mencoba bersandar pada lengan Alvaro untuk menahan jatuh.

Namun, Alvaro justru dengan kasar mendorong pundakku menjauh.

Bruk!

Aku jatuh tersungkur di lantai marmer yang dingin. Rasa sakit menjalar dari sikuku, tapi itu tidak sebanding dengan perih di dadaku saat melihat Alvaro berdiri tegak di depanku dengan wajah yang membeku seperti es.

"Jangan sentuh aku dengan tanganmu yang penuh delusi itu, Aira!" bentak Alvaro. Suaranya menggelegar, membuat seluruh balkon menjadi sunyi senyap. "Kamu benar-benar sakit! Kamu butuh obat, bukan kasih sayang! Berhenti berhalusinasi kalau kamu itu 'Ai', karena 'Ai' yang kukenal tidak mungkin memiliki jiwa sekotor dan segila kamu!"

"Alvaro... tolong..." aku terisak di lantai, menatap ujung sepatunya. Aku merasa seperti debu yang tidak berharga. Semua orang menertawakanku, menghinaku, memandangku seolah aku adalah sampah yang harus segera dibuang.

"Bawa dia pergi, Pa. Aku takut dia mencelakai Varo lagi," rengek Airin sambil membenamkan wajahnya di dada Alvaro.

Prasetya melangkah maju, tangannya sudah siap untuk menarik kerah bajuku dan menyeretku keluar secara paksa. "Kamu benar-benar memalukan keluarga Maheswari, Aira! Masuk ke mobil sekarang, atau Papa akan membiarkanmu membusuk di jalanan!"

Tepat saat tangan Prasetya hampir menyentuhku, sebuah dentuman keras terdengar dari pintu utama ballroom yang menuju balkon.

BRAKK!

Pintu kayu jati yang berat itu terbuka dengan sekali tendangan. Keheningan yang mencekam mendadak menyergap. Seluruh tamu menoleh, menahan napas serentak.

Di ambang pintu, beridiri seorang pria yang seolah baru saja turun dari langit untuk menghakimi bumi. Dia bukan lagi Bara yang mengenakan seragam berantakan atau jaket kulit yang berbau oli. Malam ini, dia mengenakan setelan jas hitam bespoke yang sangat mewah, membungkus tubuh tegapnya dengan sempurna. Rambut hitamnya yang liar kini disisir rapi ke belakang, mempertegas dahi yang kuat dan rahang yang setajam silet.

Auranya begitu mendominasi, begitu dingin, dan begitu berkuasa hingga lampu kristal di langit-langit seolah meredup demi memberikan panggung padanya. Ketampanannya yang beringas kini terlihat sangat mahal dan elegan.

"Angkat tangan kotor loe dari dia, Pak Tua."

Suara itu rendah, namun memiliki kekuatan yang sanggup meruntuhkan nyali siapa pun. Bara melangkah masuk, setiap ketukan sepatunya di lantai marmer terdengar seperti detak jantung yang mengancam. Ia menerjang kerumunan tamu yang langsung terbelah memberinya jalan, seolah mereka sedang memberikan jalur bagi seorang raja yang sedang murka.

Bara berhenti tepat di depan Prasetya dan Ratna. Ia menatap mereka dengan sorot mata yang penuh dengan penghinaan murni.

"Loe berdua... adalah orang tua iblis paling menjijikkan yang pernah gue temui," desis Bara tepat di depan wajah Prasetya. Prasetya yang tadinya sombong, mendadak gemetar di bawah tatapan Bara. "Membungkus kebohongan dengan kertas medis palsu? Loe pikir duit loe bisa nutupin bangkai yang baunya udah sampai ke langit?"

Bara menoleh ke arah Alvaro yang masih mematung memeluk Airin. Ia menyeringai dingin, sebuah seringai yang membuat Alvaro tampak seperti anak kecil yang tidak tahu apa-apa.

"Dan loe..." Bara melangkah mendekat ke arah Alvaro. "Loe bukan cuma buta karena cinta palsu ular ini, Varo. Loe mati rasa. Loe membiarkan satu-satunya orang yang tulus sama loe menangis di lantai demi memeluk sampah yang dibungkus sutra."

"Bara, jangan ikut campur! Ini urusan keluarga kami!" teriak Ratna dengan suara gemetar.

Bara tidak menghiraukannya. Ia berlutut di depanku. Tatapannya yang tadi setajam silet seketika melembut saat melihat wajahku yang basah oleh air mata dan sikuku yang berdarah. Tanpa ragu, ia melepaskan jas mahalnya dan menyampirkannya ke bahuku, membungkusku dengan aroma maskulinnya yang menenangkan.

"Maaf gue telat, Ra," bisiknya pelan, hanya untukku.

Di depan ratusan pasang mata yang masih terbelalak, di depan Alvaro yang mulai tampak goyah, dan di depan Airin yang pucat pasi, Bara menyelipkan satu tangannya di bawah lututku dan satu lagi di punggungku. Dengan satu gerakan yang sangat mantap dan gagah, ia mengangkatku.

Bridal style.

Aku menyembunyikan wajahku di ceruk lehernya, menghirup aroma keberanian yang terpancar darinya. Bara berdiri tegak, mendekapku seolah-olah aku adalah permata paling berharga di dunia ini.

"Gue bawa dia pergi," ucap Bara dengan suara yang menggema di seluruh balkon. "Dan jangan pernah ada yang berani nyari dia lagi. Karena mulai detik ini, siapapun yang bikin dia nangis, bakal berurusan sama gue—Bara Galaksi."

Bara berbalik, membawaku pergi meninggalkan gedung gala yang penuh dengan kepalsuan itu. Langkahnya tenang namun pasti, membelah kerumunan orang yang menatap kami dengan berbagai macam ekspresi: iri, kagum, dan tidak percaya.

Aku tidak menoleh lagi ke arah Alvaro. Aku tidak peduli lagi pada gaun yang dicuri atau riwayat medis palsu itu. Karena dalam dekapan Bara, aku baru saja menyadari satu hal: Sang Serigala tidak butuh bukti apa pun untuk tahu bahwa aku adalah rumahnya. Dan malam ini, dia baru saja membawaku pulang.

1
Allea
aishhh paling kesel kalo bqca cewe oon nya kebangetan dikira cowo di dunia novel cm satu doang kali 🤭🤭
Aletheia: sabar kak🙏
total 1 replies
Ma Em
Aira seharusnya keluar saja dari rumah itu untuk apa Aira bertahan dirumah seperti neraka itu karena Aira tdk diharapkan dan selalu direndahkan tanpa Aira Airin hanya tong kosong hanya sampah Aira msh mau saja dibodohi .
Aletheia
gak semudah itu kak,kan nunggu Aira dewasa atau lulus SMA dulu
Allea
sampai bab ini masih mempertahankan kebodohannya ckck aira aira dah pergi aja sih,selama ada kemauan jalan selalu ada pergilah menjauh dari keluargamu buktikan kamu hebat
Ma Em
Semangat Aira buktikan kalau Aira bkn anak yg bawa aib bkn anak yg bawa sial tapi sebaliknya Aira anak yg berprestasi dan sangat bersinar buat ayah , ibu dan Airin menyesal dan bongkar semua kebohongan dan keburukan Airin didepan Alvaro dan bilang pada Alvaro bahwa teman masa kecilnya bkn Airin tapi Aira , Airin cuma ngaku2 saja jadi Aira , jgn mau memaafkan mereka yg selalu menghina dan merendahkan kamu Aira .
Ma Em
Aira jgn takut dgn Alvaro , lawan dia kalau Aira takut Alvaro makin berani menghina Aira , semoga saja kebenaran tentang Airin yg ngaku2 teman Alvaro waktu kecil segera terungkap .
Ma Em
Aira bangkitlah lawan mereka yg selalu menghina dan merendahkan kamu , bongkar semua keburukan dan kelicikan Airin agar kedua orang tuamu tau bahwa yg bodoh itu Airin bkn Aira , Aira jgn mau dipermainkan dan dimanfaatkan lagi sama Airin balas lah perbuatan mereka padamu Aira jgn takut ada Barra yg akan menjadi pelindungmu Air 💪💪💪.
Ma Em
Makanya Aira kamu hrs bangkit jgn mau diperalat sama Airin , buat Airin membayar semua perbuatan nya padamu Aira buat kedua orang tuamu menyesal juga Alvaro tunjukan pada mereka keahlianmu yg sebenarnya bkn Airin yg pintar tapi otak Aira yg digunakan Airin untuk mengelabui orang mereka .
Aletheia: sabar ya kak,kita buat supaya Aira bisa teguh jika nanti harus meninggalkan keluarganya☺️
total 1 replies
Ma Em
Bagus Aira bangkitlah dan balas semua perbuatan mereka yg sdh menyakiti dan memfitnah mu Aira terutama Airin jgn diberi maaf juga Alvaro buat dia menyesal .
Ma Em
Heran ya ada orang tua berat sebelah sama anak sendiri dijelek jelekan didepan orang lain hanya untuk dapat perhatian dari Alvaro , tunggu saja saat waktu sdh tiba dan kebenaran akan terungkap siapa Airin dan siapa Aira .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!