NovelToon NovelToon
KAF FA RO

KAF FA RO

Status: sedang berlangsung
Genre:Iblis / Kutukan / Balas Dendam
Popularitas:544
Nilai: 5
Nama Author: Bp. Juenk

Rafiq Al-Farizi adalah pria agamis yang kehilangan segalanya dalam waktu singkat. Ujian itu membuat imannya runtuh.

Ia bertemu dengan Mbah Jaya, seorang dukun yang menawarkan "keadilan" melalui ilmu hitam. Langkah demi langkah, hingga akhirnya Ia mengucapkan sumpah setia kepada makhluk gaib.

Sebagai tanda perjanjian, muncul tulisan KAF FA RO di jidatnya—stempel bahwa jiwanya telah menjadi milik kegelapan. Dengan kekuatan barunya, ia memburu balas dendam kepada semua yang menghancurkannya.

Namun semakin dalam ia melangkah, semakin ia sadar: bukan ia yang mengendalikan kegelapan, tapi kegelapan yang mengendalikannya. Dan harga dari perjanjian ini lebih mahal dari nyawanya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kyai Mansyur

Tiga minggu telah berlalu sejak Ustad Salim terbaring tak sadarkan diri di rumah sakit.

Tiga minggu pula Tono dan Aisyah menjalani siksaan yang tak kunjung usai. Rumah megah di pinggiran kota yang dulu menjadi kebanggaan kini berubah menjadi tempat yang paling mereka hindari. Tapi mereka tidak punya tempat lain untuk pergi.

Tono duduk di ruang tamu dengan laptop terbuka di pangkuannya. Tubuhnya yang dulu kekar kini kurus kering. Tulang pipinya menonjol, matanya cekung dengan lingkaran hitam pekat di bawahnya, seperti dua lubang yang tak berdasar.

Jenggotnya yang dulu selalu rapi dicukur kini tumbuh liar, tidak terawat. Kemeja batik lengan panjang yang ia kenakan terlihat kebesaran di tubuhnya yang menyusut, kerahnya longgar, lengan bajunya bergelambir.

Rambutnya yang mulai beruban di pelipis terlihat kusut, tidak pernah ia sisir.

Layar laptop menampilkan laporan keuangan perusahaan. Angka merah di mana-mana. Proyek di IKN resmi dibatalkan minggu lalu karena kegagalan memenuhi persyaratan administrasi.

Dua proyek perumahan mangkrak karena kontraktor mundur. Klien-klien lama satu per satu mengundurkan diri, lebih memilih membayar denda daripada melanjutkan kerja sama dengan perusahaannya. Karyawan mulai berdatangan mengajukan surat pengunduran diri.

Bahkan Hendri, asisten pribadi yang dulu sangat setia pada Rafiq, sudah tidak pernah lagi menunjukkan batang hidungnya di kantor.

Tono menutup laptop dengan kasar. Ia tidak bisa fokus. Bau itu—bau bangkai yang sudah berbulan-bulan tidak hilang—semakin kuat hari ini. Ia sudah memeriksa setiap sudut rumah, memanggil tukang untuk mengecek saluran udara dan saluran air.

Tidak ada yang ditemukan. Tapi bau itu tetap ada, seperti sudah meresap ke dalam dinding, ke dalam lantai, ke dalam udara itu sendiri.

"Aisyah!" teriaknya. Suaranya serak, parau, seperti orang yang jarang bicara.

Aisyah muncul dari dapur. Keadaannya tidak lebih baik. Wajahnya pucat pasi, kulitnya terlihat kusam, rambutnya yang dulu panjang hitam berkilau kini kusut dan tampak kering.

Matanya sembab, ada lingkaran hitam di bawahnya yang tidak pernah hilang meskipun ia sudah berusaha tidur lebih awal. Gamis rumah berwarna krem yang ia kenakan longgar di tubuhnya yang semakin kurus.

Perutnya masih rata, tapi ada sesuatu di wajahnya yang berubah—bukan kebahagiaan calon ibu, tapi ketakutan yang konstan.

"Ada apa?" tanyanya, suaranya lesu.

"Kau dengar itu?" Tono menoleh ke arah jendela. Di luar, suara tetangga yang sedang berbincang di halaman. Tapi bukan itu yang ia maksud. Ada suara lain. Suara yang tidak bisa didengar oleh telinga biasa. Suara bisikan.

Bisikan yang datang dari dalam dinding, dari bawah lantai, dari atas atap. Bisikan yang tidak jelas kata-katanya, tapi setiap malam semakin keras, semakin dekat, semakin mengancam.

Aisyah menggeleng. "Aku tidak dengar apa-apa. Aku hanya mencium bau itu. Semakin kuat."

Tono menghela napas panjang. Ia menatap keluar jendela. Di halaman depan, seorang tetangga sedang berjalan pulang dari warung. Ketika melewati pagar rumah Tono, ia berhenti sesaat. Wajahnya berubah.

Hidungnya mengernyit. Ia menutup hidung dengan tangannya, mempercepat langkah, dan tidak menoleh ke belakang.

Tono sudah tidak asing lagi dengan reaksi itu. Setiap orang yang lewat di depan rumahnya selalu menunjukkan reaksi yang sama.

Menutup hidung. Wajah jijik. Langkah cepat. Seperti rumahnya adalah kuburan yang terbuka, mengeluarkan bau kematian yang tidak bisa disembunyikan.

Beberapa tetangga yang dulu sering berkunjung untuk sekadar mengobrol atau meminjam sesuatu, kini tidak pernah lagi muncul.

Bahkan ketika berpapasan di jalan, mereka memilih menunduk atau menyeberang. Tono dan Aisyah telah menjadi wabah. Warga komplek perumahan itu tidak ingin terkena dampaknya.

"Pak Bambang tidak pernah datang lagi," kata Aisyah pelan. "Padahal dulu dia sering ke sini. Sekarang teleponnya tidak pernah diangkat."

Tono tidak menjawab. Ia sudah tahu. Pak Bambang, RT yang dulu sangat bersemangat membantunya menjatuhkan Rafiq, kini menghilang seperti ditelan bumi. Rumahnya selalu terkunci, pagarnya selalu tertutup.

Kabar yang beredar, Pak Bambang sekarang jarang keluar rumah. Katanya, ia tidak bisa tidur. Katanya, ia selalu melihat bayangan hitam di setiap sudut rumahnya.

Tono menutup matanya. Ia ingin menangis, tapi air matanya sudah habis. Yang tersisa hanya ketakutan. Ketakutan yang merayap setiap hari, setiap jam, setiap menit.

Dan di sudut ruangan, di tempat paling gelap di antara lemari dan dinding, dua titik merah menyala. Menatap. Menunggu.

Di rumah sakit umum kota, di ruang perawatan VIP lantai dua, Ustad Salim terbaring tak sadarkan diri. Tubuhnya yang dulu tegap kini terlihat lemah di atas ranjang putih rumah sakit.

Koko putih yang ia kenakan saat meruqyah Pak RT sudah diganti dengan baju pasien rumah sakit berwarna biru muda bergaris-garis. Rambutnya yang putih dan jenggotnya yang putih terlihat kontras dengan kulitnya yang pucat kebiruan.

Matanya terpejam rapat, dadanya naik turun pelan, diatur oleh ventilator yang berbunyi berirama.

Di samping ranjang, istri Ustad Salim, Bu Hj. Fatimah, duduk di kursi plastik dengan tubuh yang tak henti-hentinya bergetar. Wajahnya yang tua dipenuhi kerutan, matanya sembab karena berhari-hari menangis.

Jilbab putih yang ia kenakan sedikit miring, tidak lagi rapi seperti biasanya. Tangannya yang keriput menggenggam tangan suaminya yang dingin, sesekali ia usap-usap, seolah berharap tangan itu akan menggenggam balik.

Dua orang anak Ustad Salim berdiri di belakang ibunya. Putra sulungnya, Hasan, seorang pemuda berusia 25 tahun dengan kemeja lengan panjang dan celana bahan, menatap ayahnya dengan mata sembab.

Di sampingnya, adik perempuannya, Karina yang merupakan putri bungsu Ustad Salim yang berusia 19 tahun—masih duduk di bangku kuliah, menangis tersedu-sedu di pundak kakaknya.

"Dokter bilang semua organ normal," kata Hasan pada ibunya dengan suara berusaha tegar. "Jantungnya sehat. Paru-parunya bersih. Otaknya tidak ada pendarahan. Tapi... tapi beliau tidak sadar."

Bu Fatimah mengangguk pelan. Ia sudah mendengar penjelasan dokter berkali-kali. Tidak ada penyebab medis yang bisa ditemukan. Ustad Salim seperti tertidur panjang, dan tidak ada yang bisa membangunkannya.

"Dokter bilang mungkin ada faktor non-medis," lanjut Hasan dengan hati-hati.

"Mungkin... mungkin ada hubungannya dengan apa yang terjadi malam itu. Dengan Pak RT. Dengan ruqyah itu."

Bu Fatimah mengangkat wajahnya. Matanya yang basah menatap putranya. "Ayahmu sudah sering meruqyah orang, Nak. Tidak pernah begini. Tidak pernah. Ada sesuatu yang berbeda malam itu. Ada sesuatu yang... yang tidak bisa Ayahmu hadapi sendirian."

Hasan menggigit bibirnya. Ia ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak tahu harus mulai dari mana. Ia mendengar kabar yang beredar di komplek perumahan.

Tentang Pak RT yang semakin parah kondisinya. Tentang rumah Tono dan Aisyah yang mulai dihindari tetangga. Tentang Rafiq—pria yang dulu menjadi imam masjid mereka, yang dulu sangat dihormati, yang kini menghilang dan dikabarkan berubah menjadi sesuatu yang menakutkan.

1
La Rue
Sensasi horornya benar² terasa. Tapi aku suka,karena gaya penulisan yang khas dari Sang Penulis. Semoga banyak yang mampir karena ceritanya bagus dan jarang typo 👍
La Rue: sama-sama
total 2 replies
La Rue
Waduh makin seram tapi semakin penasaran 😱🤭
La Rue
seram tapi penasaran 😱🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!