NovelToon NovelToon
Pembalasan Sempurna Kirana

Pembalasan Sempurna Kirana

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Dikhianati hingga mati, Kirana terbangun di masa lalu dengan satu tujuan: membalas dendam pada adik tiri dan mantan tunangannya. Demi merebut kembali warisannya, ia nekat mengikat pernikahan kontrak dengan Adyatma Surya—CEO kejam berdarah naga yang dikutuk. Menawarkan diri sebagai penawar nyawa pria itu, Kirana tak menyadari bahwa kontrak berdarah tersebut justru menjebaknya dalam obsesi gelap sang predator yang takkan pernah melepaskannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pembalasan Sempurna Kirana Bab 4: Pembersihan di Menara Nusantara

Cahaya matahari pagi memantul menyilaukan dari fasad kaca gedung pencakar langit Nusantara Group yang menjulang di kawasan Sudirman. Di lobi utama yang biasanya hanya diwarnai rutinitas membosankan para karyawan dan dering telepon resepsionis, pagi ini suasana terasa sangat mencekam bagaikan menjelang eksekusi mati.

Desas-desus tentang kekacauan epik di Hotel Kempinski kemarin siang telah menyebar bak api liar di padang rumput yang kering. Semua orang di gedung ini—dari petugas kebersihan hingga manajer tingkat menengah—telah melihat cuplikan video amatir yang bocor di internet. Mereka tahu: sang pewaris sah telah kembali.

Bukan sebagai gadis penurut yang sering mereka pandang sebelah mata, melainkan sebagai Nyonya Surya yang berdiri di samping 'Dewa Kematian Bisnis'.

Tepat pukul delapan pagi, iring-iringan tiga mobil SUV hitam pekat dengan plat nomor khusus berhenti secara serempak di depan pintu putar lobi.

Dari mobil tengah—sebuah Maybach antipeluru—Kirana melangkah keluar. Penampilannya hari ini berteriak tentang kekuasaan absolut. Ia mengenakan setelan jas wanita (power suit) berwarna putih gading dengan potongan tegas yang membalut tubuh rampingnya, lipstik merah gelap di bibirnya, dan sepasang kacamata hitam desainer yang menyembunyikan kilatan matanya.

Di belakangnya, Reno melangkah dengan presisi militer, membawa sebuah koper logam berisi dokumen. Dan yang membuat seluruh napas karyawan di lobi terhenti adalah enam pengawal elit Surya Corp berseragam serba hitam yang langsung membentuk formasi pelindung V di sekeliling Kirana. Lencana naga perak di kerah jas para pengawal itu memantulkan cahaya pagi yang mengintimidasi.

Setiap karyawan dan staf keamanan yang berpapasan langsung menepi merapat ke dinding, menundukkan kepala dalam-dalam. Tidak ada satu pun yang berani berbisik, apalagi mengeluarkan ponsel untuk memotret. Aura dominasi yang memancar dari setiap langkah sepatu hak tinggi Kirana terasa mencekik udara di sekitarnya.

Sementara itu, di lantai lima puluh—pusat kekuasaan Nusantara Group—ruang rapat direksi sedang memanas layaknya panci bertekanan tinggi.

Herman mondar-mandir di depan meja mahoni panjang dengan napas memburu. Kemeja mahalnya kusut, dasinya sudah ia longgarkan sejak satu jam yang lalu. Di sekeliling meja bundar itu, dua belas direktur senior pemegang saham minoritas tampak gelisah, saling berbisik dengan wajah tegang.

Di sudut ruangan, Bagas duduk merosot di kursinya dengan wajah pucat pasi dan kantung mata hitam legam akibat tidak tidur semalaman. Di dekat jendela, Riana berdiri memeluk dirinya sendiri, menggigit kuku-kuku jarinya yang dicat cantik hingga nyaris berdarah.

"Kita harus memblokir aksesnya!" bentak Herman sambil menggebrak meja dengan kepalan tangannya, membuat beberapa direktur terlonjak. "Suruh bagian keamanan mengunci lantai ini! Dia tidak bisa semena-mena mengambil alih perusahaan yang telah kubangun dengan susah payah! Hubungi tim kuasa hukum kita sekarang juga, cari celah sekecil apa pun di akta pernikahannya!"

"Pak Herman," salah satu direktur senior—Pramono—bersuara pelan, menyeka keringat dingin di dahinya dengan sapu tangan. "Saya sudah berkonsultasi dengan kepala departemen hukum kita subuh tadi.

Suaminya adalah Adyatma Surya. Tidak ada satu pun pengacara waras di negara ini yang berani menggugat atau mencari celah legalitas dokumen yang dikeluarkan oleh firma hukum internal Surya Corp. Jika kita menuntut mereka, besok pagi Nusantara Group akan rata dengan tanah dan kita semua akan berakhir di jalanan."

"Omong kosong! Aku ayah kandungnya! Aku walinya!" raung Herman putus asa.

Brak!

Suara dentuman keras memotong teriakan Herman. Pintu ganda ruang rapat direksi yang terbuat dari kayu jati tebal itu ditendang terbuka dari luar. Dua satpam Nusantara Group yang berjaga di depan pintu telah didorong ke samping tanpa perlawanan berarti oleh para pengawal elit Surya Corp.

Kirana melangkah melintasi ambang pintu dengan santai, seolah ia sedang berjalan di taman bunganya sendiri. Sepatu hak tingginya mengetuk lantai kayu mahoni dengan ritme yang mematikan, menggema di ruangan yang tiba-tiba menjadi sunyi senyap.

Ia melepas kacamata hitamnya, menyerahkannya kepada Reno tanpa melihat, lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Matanya menyapu wajah-wajah pucat para direktur, melewati Riana yang langsung menunduk gemetar, melewati Bagas yang menahan napas, sebelum akhirnya terkunci pada kursi direktur utama di ujung meja—kursi yang selalu diduduki oleh Herman.

"Selamat pagi, para direktur yang terhormat," sapa Kirana. Suaranya mengalun merdu namun sedingin es. Sebuah senyum tipis menghiasi bibirnya, namun sama sekali tidak mencapai matanya. "Dan Ayah... sepertinya kau sedang berdiri di dekat kursiku."

Herman menggeram, urat-urat di lehernya menonjol keluar. Wajahnya merah padam menahan rasa malu dan amarah yang meledak-ledak. "Kirana! Apa-apaan kelakuanmu ini?! Kau tidak punya sopan santun menerobos rapat direksi internal yang sangat tertutup! Pengawal! Seret wanita durhaka ini keluar dari ruanganku!"

Herman berteriak menunjuk satpam perusahaannya yang gemetar di dekat pintu. Namun, tidak ada satu pun dari satpam itu yang berani melangkah maju.

Mereka terlalu sibuk menelan ludah melihat tangan para pengawal elit Surya Corp yang kini bersiaga di balik jas mereka, siap mencabut senjata api kapan saja.

"Rapat direksi internal?" Kirana mengulang kata-kata itu sambil tertawa renyah, sebuah tawa yang membuat bulu kuduk semua orang berdiri. Ia memberi isyarat kecil dengan telunjuknya.

Reno segera melangkah maju, meletakkan koper logam di atas meja bundar, membukanya, dan mulai membagikan salinan dokumen hukum bertanda tangan asli kepada setiap direktur di meja tersebut.

"Berdasarkan akta pernikahan saya yang telah dilegalisasi oleh negara, dan merujuk pada surat wasiat almarhum Kakek yang diaktifkan secara otomatis... per pagi ini, enam puluh persen saham Nusantara Group resmi berada di bawah kendali mutlak saya," ucap Kirana dengan nada bicara yang jernih dan berwibawa, mematikan segala bentuk perlawanan argumen.

Kirana menopang kedua tangannya di atas meja, mencondongkan tubuhnya ke depan menatap ayahnya. "Itu artinya, sayalah pemegang saham mayoritas tunggal. Sayalah pemilik sah perusahaan ini. Dan rapat apa pun yang kalian adakan di dalam gedung ini tanpa persetujuan tertulis dari saya... adalah ilegal."

Ia menegakkan tubuhnya kembali, matanya berubah menjadi setajam pisau bedah. "Minggir dari kursiku, Herman."

Herman tersentak mendengar putri kandungnya memanggil nama depannya tanpa embel-embel 'Ayah'. Kakinya gemetar karena amarah dan rasa terhina yang luar biasa. "Kau anak durhaka! Kau pikir kau cukup pintar untuk menjalankan perusahaan raksasa ini sendirian? Kau akan menghancurkan aset kita dalam seminggu!"

"Lebih baik hancur menjadi debu di tanganku, daripada dirampok perlahan oleh benalu-benalu seperti kalian," desis Kirana kejam.

Ia tidak mempedulikan ayahnya lagi dan menoleh ke arah Bagas yang sejak tadi berusaha menyembunyikan diri di balik bahu direktur lain. "Reno, bacakan laporannya. Biar semua orang di ruangan ini tahu tikus seperti apa yang selama ini menggerogoti lumbung kita."

Reno membetulkan letak kacamata bacanya, menarik selembar kertas dengan kop surat berlambang naga.

"Berdasarkan audit investigatif kilat yang dilakukan oleh tim siber intelijen Surya Corp semalaman penuh, kami menemukan bukti tak terbantahkan. Terdapat tiga belas transfer ilegal, pemalsuan laporan keuangan di divisi pengadaan barang, dan praktik pencucian uang dari kas utama Nusantara Group ke beberapa rekening cangkang di Cayman Islands atas nama Bagas Pramoedya. Total kerugian perusahaan mencapai angka tiga ratus dua puluh miliar rupiah."

Ruang rapat seketika riuh rendah. Terdengar helaan napas terkejut. Para direktur yang tadinya diam kini menoleh menatap Bagas dengan tatapan membunuh. Uang tiga ratus miliar bukanlah jumlah yang kecil; itu adalah dividen tahunan mereka yang dicuri!

"I-itu bohong! Itu fitnah keji!" Bagas melompat berdiri dengan panik, kakinya gemetar hingga menabrak kursi. Ia menunjuk Kirana dengan jari gemetar.

"Rana, kau merekayasa semua data ini karena dendam pribadi setelah aku meninggalkanmu, kan?! Kau menggunakan peretas untuk memalsukan bukti! Ayah, kumohon, ini murni fitnah!"

Kirana bahkan tidak repot-repot membalas racauan pria menyedihkan itu. Ia hanya melirik jam tangannya, lalu menoleh ke arah pintu. "Silakan masuk, Pak Polisi. Waktu kalian tepat sekali."

Enam petugas kepolisian berseragam lengkap dari unit kejahatan ekonomi khusus (Cyber & Financial Crime) melangkah masuk ke dalam ruangan.

"Saudara Bagas Pramoedya," ucap komandan polisi tersebut dengan suara bariton yang tegas. Ia mengeluarkan selembar surat perintah penangkapan.

"Anda resmi kami tahan atas tuduhan penggelapan dana korporat berskala besar, pencucian uang internasional, dan penipuan terencana tingkat tinggi. Anda memiliki hak untuk tetap diam, karena segala yang Anda katakan dapat dan akan digunakan untuk melawan Anda di pengadilan."

Dua petugas segera maju dan memelintir kedua tangan Bagas ke belakang tubuhnya. Bunyi 'klik' dari borgol besi yang dingin terdengar sangat memuaskan di telinga Kirana.

"Tidak! Lepaskan aku! Aku direktur di sini!" Bagas menjerit histeris, meronta-ronta seperti babi yang akan disembelih.

Matanya liar mencari bantuan. "Rana! Rana, maafkan aku! Aku khilaf! Aku masih mencintaimu! Riana, tolong aku! Ayah, gunakan pengacaramu!"

Bagas terus berteriak memohon ampun saat ia diseret secara paksa keluar dari ruang rapat. Suara lolongannya menggema di lorong lantai lima puluh, menjadi tontonan gratis bagi seluruh staf di luar sana. Kehancuran reputasinya kini mutlak.

Pria itu dipastikan akan membusuk di sel isolasi selama belasan tahun ke depan.

Riana, yang dipanggil namanya oleh Bagas tadi, justru mundur ketakutan hingga punggungnya menabrak kaca jendela. Wajah gadis itu seputih kertas HVS. Ia menunduk dalam-dalam, menutupi wajahnya dengan rambut panjangnya, berusaha membuat dirinya sekecil mungkin agar Kirana melupakan keberadaannya.

Namun, Kirana memiliki memori yang sangat baik. Dendamnya belum lunas.

"Riana."

Panggilan pelan itu terdengar seperti vonis malaikat pencabut nyawa. Riana tersentak hebat, bahunya bergetar tak terkendali. Ia mendongak menatap kakak tirinya dengan mata yang sudah basah oleh air mata ketakutan.

"K-Kak Kirana... Kakak tersayang... a-aku benar-benar tidak tahu apa-apa soal uang ratusan miliar itu..." Riana terisak, memohon belas kasihan dengan wajah memelas andalannya. "Mas Bagas yang merencanakan semuanya... aku ditipu olehnya, Kak..."

"Oh, simpan air mata palsumu itu," potong Kirana dengan nada jijik, memandang Riana seolah melihat sampah yang membusuk. "Aku tahu kapasitas otakmu tidak cukup pintar untuk merencanakan pencucian uang lintas negara. Tapi soal memanfaatkan fasilitas, kau ahlinya."

Kirana memberi isyarat, dan Reno membacakan laporan berikutnya.

"Saudari Riana, menjabat sebagai Manajer Hubungan Masyarakat (PR). Ditemukan bukti penyalahgunaan dana operasional divisi sebesar dua setengah miliar rupiah dalam satu tahun terakhir. Dana tersebut dialokasikan untuk pembelian tas desainer limited edition, perawatan spa mewah bulanan, dan dua kali liburan pribadi ke Eropa bersama Saudara Bagas dengan kedok perjalanan dinas dan lobi klien."

Para direktur kembali mendengus marah.

Kirana mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap adik tirinya dengan tatapan yang bisa membekukan darah. "Dengar baik-baik, parasit. Kau resmi kupecat secara tidak hormat. Kau tidak akan mendapatkan uang pesangon sepeser pun. Bereskan barang-barang rongsokanmu, tinggalkan kunci mobil fasilitas perusahaan di meja resepsionis, dan angkat kaki dari gedungku dalam waktu lima belas menit."

"Kak... kumohon... jangan permalukan aku seperti ini..." isak Riana, menutupi wajahnya yang memerah padam karena ditelanjangi aibnya di depan seluruh jajaran petinggi perusahaan.

"Jika kau masih ada di dalam gedung ini di menit keenam belas," desis Kirana mengabaikan isakan itu, "aku akan menyuruh pengawalku untuk melemparmu keluar dari pintu depan lobi. Biar seluruh karyawan melihat wajah aslimu."

Menyadari bahwa tidak ada lagi harapan, Riana berlari keluar dari ruangan sambil menangis tersedu-sedu, sepatu hak tingginya tersandung-sandung karpet. Hilang sudah citra bidadari polosnya. Mulai hari ini, ia hanyalah pengangguran yang menjadi bahan tertawaan se-Jakarta.

Kini, target utama tersisa satu orang di ruangan itu. Sang mantan Direktur Utama, Herman.

Mantan penguasa Nusantara Group itu kini masih berdiri mematung di ujung meja, namun ia tampak lima belas tahun lebih tua dari usianya. Bahunya merosot turun. Wajah arogan yang selalu ia pamerkan kini hancur lebur. Kartu as yang selama ini ia pegang dengan sombong telah dibakar habis hingga menjadi abu oleh putri yang dulu selalu ia injak-injak.

"Kau benar-benar menghancurkan keluargamu sendiri, Kirana," bisik Herman dengan suara parau dan bergetar. "Kau tidak punya hati."

"Keluarga?" Kirana memiringkan kepalanya, matanya berkilat penuh dengan api kebencian yang selama ini ia pendam. "Keluargaku sudah mati bersama Ibuku. Kalian selama ini hanyalah sekelompok lintah rakus yang kebetulan menumpang hidup dari harta peninggalan ibuku."

Kirana berjalan santai mendekati ayahnya. Ia berhenti tepat di hadapan pria tua itu, berdiri dengan sangat tegak.

"Sebagai tindakan 'kemanusiaan' terakhirku sebelum aku kehilangan kesabaranku," bisik Kirana tepat di depan wajah Herman. "Aku tidak akan memenjarakanmu atas tuduhan kelalaian luar biasa membiarkan Bagas merampok perusahaanku sendiri. Aku akan membiarkanmu menghirup udara bebas."

Herman mengangkat wajahnya, secercah harapan palsu melintas di matanya.

"Tapi..." Kirana tersenyum miring. "...kau resmi dicopot dari jabatan Direktur Utama, per detik ini juga. Kau dipensiunkan secara paksa. Dan sisa saham minoritas sepuluh persen milikmu... akan aku beli paksa dengan harga diskon lima puluh persen dari harga pasar saat ini, sebagai ganti rugi atas kerugian perusahaan di bawah pimpinanmu."

"Kau tidak bisa melakukan itu! Itu perampokan!" teriak Herman tertahan.

"Aku bisa, dan aku baru saja melakukannya," jawab Kirana final. "Nikmati masa tuamu di luar sana, Herman. Dan jangan pernah berani menampakkan wajahmu di depanku lagi, atau aku akan meminta suamiku untuk benar-benar menghancurkan sisa hidupmu."

Menyadari nama 'suami' yang disebut Kirana, nyali Herman seketika menciut habis. Berurusan dengan Kirana mungkin ia hanya akan kehilangan harta. Tapi jika ia berurusan dengan Adyatma Surya, ia akan kehilangan nyawa.

Dengan langkah gontai, kaki yang diseret, dan tanpa sisa martabat sedikit pun, Herman berbalik dan berjalan perlahan keluar dari ruang rapat. Kekuasaannya telah berakhir. Dinasti kecilnya telah runtuh dalam waktu kurang dari satu jam.

Keheningan yang luar biasa kembali menyelimuti ruang rapat direksi. Para direktur senior yang tersisa menelan ludah dengan susah payah, tidak berani bernapas terlalu keras. Pembersihan berdarah yang baru saja terjadi begitu cepat, brutal, tanpa ampun, dan sangat efisien.

Kirana berbalik. Ia berjalan memutari meja mahoni panjang itu, lalu dengan gerakan anggun namun penuh dominasi, ia duduk di kursi kulit kebesaran Direktur Utama. Ia menyilangkan kakinya dengan elegan, meletakkan kedua tangannya di atas lengan kursi, lalu menatap sisa pasukannya di meja bundar tersebut.

"Baiklah, Tuan-Tuan," ucap Kirana, senyum dingin nan karismatik menghiasi bibirnya. "Parasitnya sudah berhasil dibersihkan. Udara di ruangan ini terasa jauh lebih segar sekarang. Sekarang, mari kita bicara tentang masa depan Nusantara Group di bawah kepemimpinan saya."

1
Aisyah Suyuti
.menarik
Luzi
kerenn
Mifta Nurjanah
eps brpa pas dia udh jebol??😭😭
Emi Widyawati
baca awal, sudah jatuh cinta. bagus banget Thor 👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!