NovelToon NovelToon
The Art Of Ruin - Rahim Yang Dirampas

The Art Of Ruin - Rahim Yang Dirampas

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Perjodohan
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: 羽菜

Mikayla tidak hanya dikhianati.

Ia dihancurkan.

Dipaksa menikah menggantikan kakaknya, lalu dikhianati oleh suaminya sendiri bersama wanita yang seharusnya ia lindungi. Lebih kejam lagi, keluarganya sendiri merampas masa depannya membuatnya kehilangan satu hal yang paling berharga bagi seorang wanita.

Setiap hari diberi obat agar tidak bisa mengandung, Rahimnya dibuat tidak berfungsi, Namun mereka lupa satu hal, wanita yang mereka hancurkan tidak benar-benar mati.

Dua tahun kemudian, ia kembali dengan identitas baru sebagai Michelle Ad Lynne lebih cerdas, lebih dingin, dan jauh lebih berbahaya. Dengan kekuatan finansial triliunan dan kecerdasan yang terasah, ia tidak datang untuk meminta keadilan.

Ia datang untuk menghancurkan.

Sedikit demi sedikit, segala yang dia bangun mulai runtuh tanpa peringatan. Tanpa ampun, kenyataan itu menghantamnya keras seperti pisau yang terus-menerus menebas luka lama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 羽菜, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Ruang tamu kecil itu mendadak sunyi, hanya menyisakan suara isak tangis Dewi yang pecah. Ia memegang tangan Ilham erat-erat, sementara pikirannya melayang ke sebuah sore yang mendung, hanya beberapa hari sebelum peristiwa kecelakaan itu merenggut Mikayla dari mereka.

Bayangan itu masih begitu jernih di ingatan Dewi.

Hari itu, Mikayla datang tanpa kabar. Wajahnya pucat, matanya sembab, dan tubuhnya yang biasanya tegak tampak rapuh. Begitu pintu terbuka, tanpa sepatah kata pun, Mikayla langsung menghambur ke pelukan Ilham kakak yang selalu menjadi tempatnya bersandar saat Raffan jauh di Sulawesi.

"Kak... aku mau cerai," bisik Mikayla saat itu, suaranya parau dan bergetar hebat di pundak Ilham. "Aku sudah tidak sanggup lagi, Kak. Aku tidak bisa menghadapi mereka semua sendirian.”

Dewi yang saat itu hanya bisa berdiri terpaku di ambang pintu dapur, melihat betapa hancurnya adik iparnya. Mikayla menceritakan betapa dinginnya rumah Abimanyu, betapa jahatnya Lisa, dan betapa tajamnya lisan Naura kakak kandungnya sendiri yang tega membangun istana di atas penderitaan adiknya.

"Mama tahu, Kak... Mama tahu Mas Elang dan Mbak Naura ada hubungan, tapi Mama malah menyuruhku bersabar demi nama baik," Mikayla terisak lebih keras hari itu. "Hidup mereka mewah dari hasil pengkhianatan padaku. Aku ingin pergi, Kak. Aku ingin bebas.”

Dewi mengusap air matanya, menatap kunci butik di meja dengan perasaan campur aduk. "Aku selalu ingat hari itu, Kak Raffan," ucap Dewi tersendat. "Mika memeluk Ilham lama sekali, seolah itu adalah pelukan pamit. Dia bilang dia merasa seperti berjalan di atas duri setiap hari di rumah itu."

Ilham menunduk dalam, tangannya mengepal hingga buku-bukunya memutih. "Dan aku... aku hanya bisa bilang 'sabar sebentar lagi, kita cari jalan keluar bersama'. Seharusnya saat itu aku tidak membiarkan dia pulang ke rumah terkutuk itu. Seharusnya aku menahannya di sini, meskipun rumah kita sempit.”

Raffan menghela napas berat, matanya memerah menatap langit-langit rumah. "Mereka semua akan membayar setiap tetes air mata Mika, Wi. Terutama Ibu dan Naura. Mereka menikmati kemewahan dari menjual kebahagiaan Mika. Sekarang, biarkan mereka melihat bagaimana kita bangkit tanpa bantuan sepeserpun dari uang haram mereka.”

___

Di Berlin: Michelle yang Terus Memantau

Melalui layar monitor di ruang belajarnya, Michelle melihat momen mengharukan itu lewat kamera tersembunyi yang terpasang di rumah Ilham. Ia tersenyum tipis, sebuah ekspresi yang sangat jarang muncul.

"Mereka adalah alasan aku masih ingin berbuat baik, Ethan," bisik Michelle saat Ethan masuk membawakannya segelas susu hangat.

"Kakak-kakakmu adalah orang baik, Michelle. Mereka pantas mendapatkan kehidupan yang tenang sementara kita mengurus sisa-sisa 'sampah' di Jakarta," sahut Ethan sambil mengelus bahu Michelle.

Michelle kembali fokus pada dokumen kuliah S2-nya. "Biarkan Ilham membangun mimpinya lewat Sweet Melody. Dan biarkan Raffan menjadi panglima perangku di pengadilan. Sementara aku... aku akan memastikan bahwa saat aku kembali nanti, aku sudah memiliki kekuatan finansial yang cukup untuk membeli seluruh perusahaan Rajendra Abimanyu dan mengubahnya menjadi taman bermain bagi anak-anak yang terbuang."

Terapi Michelle menunjukkan kemajuan pesat. Kekuatannya kembali, kecerdasannya semakin terasah, dan identitas Michelle Ed Lynne kini benar-benar telah menyatu dengan jiwanya yang haus akan keadilan.

Kontras dengan ketenangan dan rencana besar yang sedang disusun Michelle di Berlin, kediaman keluarga Pandu kini tak ubahnya seperti neraka dunia. Rumah yang dulu dipenuhi ambisi dan kebanggaan palsu atas "prestasi" Naura, kini hanya bergema dengan teriakan histeris yang menyayat hati.

Naura, sang putri emas yang dulu selalu dipuja karena kecemerlangannya, kini hancur total. Depresi berat menghantamnya setelah menyadari kenyataan pahit janinnya kebanggaan keluarga hilang, rahimnya diangkat, dan masa depannya sebagai "Calon nyonya Elang Abimanyu" musnah seketika.

Suara barang pecah belah terdengar dari balik pintu kamar Naura yang dikunci dari luar. Naura terus meracau, suaranya serak karena terlalu banyak berteriak.

"Kembalikan! Kembalikan anakku! Itu satu-satunya tiketku untuk menguasai Abimanyu!" teriak Naura, diikuti suara benturan kepalanya ke pintu. "Mika! Ini pasti gara-gara Mika! Dia mengutukku! Dia belum mati, dia pasti ada di sini menertawakanku!"

Sinta berdiri di depan pintu dengan wajah yang tampak sepuluh tahun lebih tua. Matanya cekung, rambutnya berantakan, dan tangannya gemetar saat memegang nampan makanan yang sudah dingin. Ia tidak berani masuk karena Naura sering menyerangnya dengan kuku dan benda tajam apa pun yang bisa ditemukan.

"Naura, Nak... makanlah sedikit," isak Sinta pelan. "Ibu ada di sini..."

"Ibu jahat! Kenapa Ibu tidak memberikan darah Mika padaku?!" raung Naura dari dalam. "Kalau Ibu bisa meracuni rahimnya selama lima tahun, kenapa Ibu tidak bisa mengambil darahnya untukku?!”

Pandu, ayah Mikayla yang selama ini lebih banyak diam dan membiarkan istrinya mengatur segala sesuatu demi uang, kini hanya bisa terduduk di ruang tamu yang berantakan. Ia tidak lagi memiliki pekerjaan, karena semua rekan bisnisnya menjauh begitu skandal perselingkuhan putrinya dan kekejaman istrinya terbongkar.

"Ini karma, Sinta," gumam Pandu dengan suara hampa. "Kita kehilangan dua anak sekaligus. Mika pergi membawa kebencian, dan Naura... dia kehilangan akal sehatnya."

"Jangan bicara begitu, Pandu! Kita harus menyelamatkan Naura!" balas Sinta histeris.

"Menyelamatkan bagaimana?" Pandu menatap istrinya dengan tatapan benci. "Raffan dan Ilham sudah memutus hubungan dengan kita. Mereka membawa semua tabungan mereka, kita tidak punya uang lagi untuk pengobatan psikiater Naura yang mahal. Rajendra Abimanyu bahkan sudah mengirim pengacara untuk menuntut kita balik karena 'pencemaran nama baik'!”

Di luar rumah, para tetangga sering berbisik-bisik. Rumah itu kini dijuluki "Rumah Terkutuk". Tidak ada lagi kemewahan, tidak ada lagi mobil-mobil mahal Abimanyu yang parkir di depan. Yang ada hanyalah aroma obat penenang dan teriakan Naura yang tak kunjung henti.

Sinta teringat saat Mikayla datang terakhir kali ke rumah ini, meminta perlindungan. Saat itu, Sinta justru mengusirnya dan menyuruhnya "sadar diri" sebagai istri.

Kini, ia tersadar bahwa saat ia menutup pintu untuk Mikayla, ia sebenarnya sedang menutup pintu keselamatan bagi keluarganya sendiri.

Suasana di dalam rumah itu semakin mencekam saat petang jatuh. Cahaya lampu yang temaram gagal menyembunyikan debu yang mulai menebal di perabotan mewah hasil gratifikasi keluarga Abimanyu. Bau apak dan aroma sisa obat penenang yang menyengat memenuhi udara, menciptakan atmosfer yang menyesakkan dada.

Di dalam kamar, Naura tidak lagi berteriak. Ia kini tertawa-tawa kecil yang melengking dan terdengar jauh lebih mengerikan daripada raungannya tadi. Ia berjongkok di sudut kamar yang gelap, mengais-ngais lantai seolah sedang mencari sesuatu yang hilang.

"Mika... kamu di sana, kan?" bisik Naura pada bayangannya sendiri di cermin yang sudah retak. "Lihat, gaun pengantinku sudah siap. Mas Elang akan datang menjemputku. Kamu jangan iri ya... Oh, aku lupa, kamu kan sudah tidak punya apa-apa. Kamu sudah mati, Mika! Hahaha!"

Tiba-tiba, ia memukul cermin itu dengan tangan kosong hingga berdarah. Ia histeris lagi saat melihat darah merah mengalir di tangannya. Darah yang mengingatkannya pada malam di rumah sakit, saat ia memohon-mohon setetes darah adiknya namun hanya kesunyian yang ia dapatkan.

Sinta terjatuh di depan pintu kamar Naura. Nampan makanan di tangannya terguling, isinya berserakan di lantai. Ia sudah tidak punya kekuatan lagi, setiap kali Naura menyebut nama Mikayla, jantung Sinta seolah diremas oleh tangan tak terlihat.

"Darah Mika..." bisik Sinta mengulangi racauan anaknya. "Andai aku tahu... andai aku tidak menukar nyawanya dengan uang ini."

Ia merogoh saku daster kusamnya, mengeluarkan selembar foto lama keluarga mereka sebelum Mikayla menikah. Di sana, Mikayla tersenyum tulus, merangkul Naura yang tampak angkuh. Sinta baru menyadari satu hal: Mikayla adalah satu-satunya perekat yang menjaga keluarga mereka tetap "manusia". Tanpa Mikayla, mereka hanyalah sekumpulan pemangsa yang kini saling memakan satu sama lain.

Pandu berdiri, kakinya terseret saat melangkah menuju pintu depan. Ia melihat tumpukan surat tagihan dan surat panggilan pengadilan dari Rajendra Abimanyu yang menumpuk di meja teras. "Aku akan pergi mencari Ilham," ucap Pandu datar tanpa menoleh ke arah istrinya.

"Untuk apa?! Ilham membenci kita! Dia tidak akan mau melihat wajahmu!" teriak Sinta dari lantai.

"Aku akan bersujud di kakinya jika perlu. Aku akan menjual rumah ini," Pandu berbalik, matanya berkilat penuh keputusasaan. "Rumah ini sudah menjadi kuburan sebelum kita mati, Sinta. Jika kita tidak keluar sekarang, kita semua akan gila bersama Naura."

1
Nurhartiningsih
makin seru ih
Nurhartiningsih
wah jodoh yg sesungguhnya Dateng tuh mika
Nurhartiningsih
cerita yg sangat bagus..sayang terlalu bertele tele
Nurhartiningsih
lanjut...mkin bikin penasaran
Nurhartiningsih
lanjut..makin seru aja
Nurhartiningsih
mkin ngga sabar lihat kehancuran elang
Nurhartiningsih
lanjutkan
Nurhartiningsih
lanjut.. update nya jangan lama2
Nurhartiningsih
lanjut
Nurhartiningsih
lanjut yuk...semngt mik buat balas dendamnya
Nurhartiningsih
lanjuut
羽菜 Hana
siap kak, biasanya aku baca-baca di malam hari. 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!