Rania Azarina Seorang manajer Brand Strategy di perusahaan ternama, ia sudah bekerja mati-matian demi kursi Direktur Regional. Sayangnya, tepat ketika garis finis sudah di depan mata, direksi mengumumkan syarat paling absurd dalam sejarah perusahaan: kandidat direktur harus memiliki kehidupan pribadi yang stabil—alias sudah menikah.
Masalahnya, Rania masih lajang.
Lebih parah lagi, pesaing terbesarnya adalah Gavin Mahendra—manajer Creative Campaign yang menyebalkan, terlalu santai, dan punya bakat alami membuat tekanan darahnya naik hanya dengan satu senyuman tengil.
Ketika keduanya sama-sama terancam kehilangan peluang promosi
sebuah ide nekat muncul, menikah kontrak.
Kesepakatannya sederhana. Menikah selama enam bulan, lalu bercerai setelah salah satu mendapatkan jabatan impian.
Tapi Bagaimana jika pernikahan palsu ini justru melahirkan perasaan yang terlalu nyata untuk diakhiri?
⚠️⚠️⚠️
DILARANG KERAS PLAGIAT ATAU COPY PASTE JIKA TIDAK INGIN KENA DENDA KARNA PELANGGARAN HAK CIPTA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana Mi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 4 Pasal-Pasal Kegilaan
Rania Azarina duduk diam sambil menatap map hitam di atas meja.
Ruangan meeting kecil di lantai sembilan itu mendadak terasa begitu sempit.
Atau mungkin karena fakta bahwa dalam lima menit terakhir, ia baru saja menyetujui ide paling absurd sepanjang hidupnya.
Menikah kontrak.
Dengan Gavin Mahendra.
Saingan profesionalnya.
Musuh bebuyutannya.
Dan manusia yang paling sering membuatnya ingin pindah divisi.
“Kenapa diam?” tanya Gavin santai dari seberang meja. “Menyesal?”
Rania mengangkat wajah.
“Saya hanya sedang mempertimbangkan apakah membatalkan keputusan ini akan dianggap melanggar perjanjian.”
Gavin terkekeh.
“Belum tanda tangan.”
“Sayang sekali.”
Rania menarik map itu ke hadapannya.
Di sampul depan tertulis dengan huruf kapital tebal:
PERJANJIAN NIKAH KONTRAK
RANIA AZARINA & GAVIN MAHENDRA
Kelopak mata Rania berkedut.
“Kamu bikin ini pakai template legal beneran?” tanya Rania.
“Dibantu Bimo dari divisi legal.”
Rania langsung mendongak.
“Kamu melibatkan orang lain?”
“Dia pikir ini buat simulasi kasus.”
Rania menatap Gavin tak percaya.
“Kamu bohong ke legal?”
“Saya menyederhanakan fakta.”
“Kamu manipulatif.”
“Terima kasih.”
Rania mengembuskan napas panjang lalu mulai membaca isi kontrak.
Pasal pertama.
Pihak pertama dan pihak kedua sepakat melangsungkan pernikahan resmi selama enam bulan kalender.
Masih masuk akal.
Pasal kedua.
Kedua pihak wajib menjaga citra sebagai pasangan harmonis di lingkungan kantor dan keluarga.
Oke.
Masih bisa diterima.
Lalu matanya berhenti di pasal berikutnya.
Pihak pertama dan pihak kedua dilarang terlibat hubungan romantis dengan pihak lain selama masa kontrak berlangsung.
Rania mendongak tajam.
“Serius?”
Gavin mengangguk.
“Itu penting.”
“Kenapa?”
“Bayangkan kalau kamu tiba-tiba jalan sama pria lain terus ketahuan direksi,” jelas Gavin.
“Saya tidak punya waktu buat jalan sama siapa pun.”
“Bagus. Berarti pasal ini aman.”
Rania mendecak.
Lalu lanjut membaca.
Ia membalik halaman.
Dan membeku.
Pasal kelima
Dilarang jatuh cinta selama masa kontrak.
Untuk sesaat, keduanya diam.
Hanya beberapa detik.
Tapi cukup untuk membuat ruangan terasa aneh.
Karena meskipun pasal itu terdengar konyol...
Tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar bisa menjamin hal itu mustahil terjadi.
Rania membaca ulang kalimat itu.
Sekali.
Dua kali.
Lalu mengangkat wajah perlahan.
“Apa kamu menulis ini dengan sadar?”
Gavin menyandarkan tubuh ke kursi.
“Sepenuhnya.”
“Ini pasal paling tidak masuk akal yang pernah saya baca.”
“Justru itu antisipasi.”
“Antisipasi apa?”
“Hal-hal yang tidak direncanakan.”
Rania mendengus.
“Kamu pikir saya bisa jatuh cinta sama kamu?”
Gavin menatapnya santai.
“Saya juga berharap tidak.”
Rania meletakkan map di meja.
“Pasal ini dicoret.”
“Kenapa?”
“Karena absurd.”
“Karena kamu takut?”
Tatapan Rania langsung menajam.
“Saya takut?”
“Kalau memang tidak takut, kenapa buru-buru dicoret?”
Rania menunjuk wajahnya sendiri.
“Saya ini realistis. Menikah sama kamu selama enam bulan saja sudah cukup menyiksa. Tidak perlu ditambah drama.”
Gavin tersenyum tipis.
“Baik. Kita revisi.”
Ia mengambil pulpen lalu mencoret pasal itu.
Rania menghela napas lega.
Namun detik berikutnya, Gavin menulis kalimat baru.
Jika salah satu pihak mulai memiliki perasaan pribadi, pihak tersebut wajib merahasiakannya sampai kontrak selesai.
Rania melotot.
“Kamu bercanda?”
“Ini kompromi.”
“Ini kegilaan versi lain.”
“Lebih fleksibel.”
Rania langsung merebut pulpen dari tangan Gavin dan mencoret ulang pasal itu sampai tintanya nyaris menembus kertas.
“Tidak ada pasal cinta-cintaan.”
“Galak.”
“Profesional.”
Satu jam kemudian, meja meeting mereka sudah dipenuhi coretan revisi.
Rania duduk dengan lengan terlipat.
Gavin bersandar santai.
Di tengah mereka tergeletak draft kontrak yang kini penuh catatan merah.
“Pasal tujuh,” baca Rania keras-keras.
Pasangan wajib saling menggandeng tangan saat menghadiri acara formal.
“Perlu,” kata Gavin.
“Tidak.”
“Biar meyakinkan.”
“Diganti.”
“Dengan?” tanyanya.
Rania berpikir sejenak.
“Kontak fisik hanya boleh dilakukan kalau situasi mendesak.”
Gavin mengangkat alis.
“Contohnya?”
“Kalau ada direksi.”
“Masuk akal.”
Ia mencatat revisi itu.
Rania lanjut membaca.
“Pasal sepuluh. Wajib tinggal serumah maksimal dua minggu setelah akad.”
Ia menatap Gavin tajam.
“Kenapa ada ini?”
“Biar kredibel.”
“Kita bisa tinggal terpisah.”
“Kalau direksi tiba-tiba mampir?”
Rania terdiam.
Ia benci mengakuinya.
Tapi Gavin benar.
“Fine,” gumamnya.
“Berarti setuju?”
“Dengan syarat kamar terpisah.”
“Deal.”
“Dan kamu tidak boleh menyentuh barang saya.”
“Seprotektif itu?”
“Laptop saya lebih mahal dari mobil pertama kamu.”
Gavin terkekeh.
“Catat.”
Ketukan pelan terdengar dari pintu.
Sebelum sempat menjawab, pintu terbuka.
Nisa muncul sambil membawa dua gelas kopi.
Ekspresinya terlalu polos untuk seseorang yang baru saja membocorkan potensi skandal kantor ke grup chat.
“Maaf ganggu, Bu. Saya bawain kopi.”
Rania menyipit.
“Kamu tahu saya di sini?”
“Ehm… kebetulan lewat.”
Bohong.
Sangat bohong.
Tatapan Nisa berpindah cepat dari Rania ke Gavin.
Lalu ke map hitam di meja.
Matanya membulat.
“Oh.”
Sunyi.
Rania langsung tahu.
Anak ini sedang menghubungkan titik-titik.
“Nisa,” panggil Rania datar.
“I-iya, Bu?”
“Apa yang kamu lihat?”
Nisa menelan ludah.
“Ini... rapat biasa?”
“Bagus.”
Nisa mengangguk terlalu cepat.
Lalu, tanpa bisa menahan diri, bertanya,
“Kalau misalnya ini bukan rapat biasa… saya boleh jadi bridesmaid nggak?”
Sunyi.
Gavin tersenyum santai.
Rania menutup mata.
“Kalau sampai ada satu kata yang bocor ke grup chat kantor—”
“Tidak akan!” jawab Nisa cepat-cepat.
“Tadi pagi kamu kirim meme saya dan Pak Gavin pakai editan gaun pengantin.”
Nisa tersedak.
“Itu... kreativitas tim.”
“Keluar.”
“Siap.”
Nisa langsung kabur.
Namun tepat sebelum menutup pintu, ia sempat berbisik pelan,
“Kalau jadi, tema warna sage green lagi tren, Bu.”
BRAK.
Rania menutup pintu dengan keras.
Ia berbalik dan mendapati Gavin sedang menahan tawa.
“Jangan mulai.”
“Tim kamu kreatif.”
“Saya bisa mutasi mereka semua.”
Pukul dua siang, kontrak akhirnya selesai direvisi.
Rania membaca halaman terakhir.
Durasi kontrak: enam bulan.
Tujuan: memenuhi syarat evaluasi kandidat direktur regional.
Perceraian dilakukan secara baik-baik setelah evaluasi final.
Ia menatap kolom tanda tangan kosong di bawah.
Masih ada kesempatan mundur.
Masih ada waktu membatalkan semuanya.
“Ragu?”
Suara Gavin terdengar lebih pelan dari biasanya.
Rania mengangkat kepala.
Pria itu menatapnya serius.
Tanpa senyum jahil.
Tanpa nada menggoda.
Hanya tatapan lurus yang entah kenapa terasa menenangkan.
“Kita masih bisa batal.”
Gavin mengatakannya tenang.
Tapi jemarinya mengetuk meja pelan.
Gelisah.
Seolah sebagian dirinya berharap Rania benar-benar membatalkan semuanya.
Dan sebagian lain justru takut mendengar kata tidak.
Namun kalimat itu justru membuat Rania terdiam.
Karena untuk pertama kalinya, Gavin memberinya pilihan tanpa tekanan.
Dan anehnya...
Itu membuat keputusan ini terasa lebih nyata.
Rania mengambil pulpen.
Tangan Rania sempat berhenti di atas kertas.
Ujung pulpen sempat bergetar di antara jari-jarinya.
Sekali tanda tangan, semuanya berubah.
Tapi rasanya untuk mundur itu juga tidak mungkin.
Akhirnya, setelah meyakinkan dirinya sendiri, Rania menorehkan tinta hitam itu dengan rapi di atas kertas.
Rania Azarina.
Gavin menatap tanda tangan itu.
Untuk sepersekian detik, Gavin menahan napas.
Lalu ikut membubuhkan namanya di bawah.
Gavin Mahendra.
Selesai.
Sunyi memenuhi ruangan.
Tidak ada tepuk tangan.
Tidak ada efek dramatis.
Hanya dua tanda tangan di atas kertas.
Namun keduanya tahu—
hidup mereka baru saja berubah.
“Sekarang apa?” tanya Rania.
Gavin menutup map perlahan.
“Besok sore kita ketemu keluarga masing-masing.”
Rania mengernyit.
“Buat apa?”
“Ngasih tahu kalau kita mau nikah hari Sabtu.”
Wajah Rania langsung kosong.
Ia berkedip.
Sekali.
Dua kali.
“Tunggu.”
“Ya?”
“Ini hari Kamis.”
“Betul.”
“Berarti tinggal dua hari.”
“Matematika kamu bagus.”
Rania menatap Gavin tak percaya.
Lalu tanpa pikir panjang, ia mengambil map kontrak dan memukul lengan pria itu.
“Kamu gila!”
Gavin menahan tawa.
“Sudah terlambat sadar.”
Dan saat itu juga, Rania resmi menyadari satu hal.
Menikah kontrak dengan Gavin mungkin memang keputusan paling nekat dalam hidupnya.
Tapi menghadapi keluarganya dalam dua hari ke depan?
Itu jauh lebih mengerikan.
Apalagi Mama Ratna dan Mama Ambar.
Ceritanya bikin penasara.