Yasmin adalah definisi dari kepolosan yang berbahaya. Kecantikannya yang luar biasa justru menjadi magnet bagi perundungan di sekolah. Dia tidak butuh pahlawan berkuda putih; dia hanya butuh cara untuk bertahan hidup.
Lalu hadirlah Vyan. Ketua OSIS sempurna dengan senyum ramah yang mematikan.
Bagi Vyan, membalas dendam tidak perlu menggunakan otot. Dia tidak memukul, dia tidak berteriak. Dia hanya berbisik, menyusun skenario, dan menghancurkan reputasi musuhnya hingga mereka memohon ampun di bawah kakinya. Dia genius, dia bermuka dua, dan dia... sadis.
Vyan telah memagari Yasmin dengan otoritasnya. Siapa pun yang berani menyentuh Yasmin, harus siap menghadapi "pelajaran" dari sang Ketua OSIS yang tidak mengenal kata maaf.
Namun, di tengah perlindungan gelap itu, muncul Ray—sang atlet populer yang menawarkan kehangatan tulus, dan Dean—masa lalu yang kembali dengan sejuta rahasia.
Apakah Vyan benar-benar mencintainya, atau Yasmin hanyalah pion dalam skenarionya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Filanina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 Keluarga Ray dan Vyan
Cahaya matahari pagi menyelinap masuk melalui jendela-jendela besar di kediaman keluarga Rizal Hadyanta, memantul di atas lantai marmer yang mengilap. Rumah itu bukan sekadar besar; ia adalah pernyataan kekayaan. Di tengah ruang makan yang luas, Ray sudah duduk rapi dengan seragam sekolahnya, menanti kehadiran kedua orang tuanya.
Tak lama, Pak Rizal dan Bu Desi muncul dengan langkah tergesa, seolah waktu adalah komoditas yang paling berharga bagi mereka. Namun, bagi keluarga ini, sarapan adalah ritual sakral yang tak boleh dilewatkan—satu-satunya momen untuk menjadi keluarga biasa.
"Gimana pertandingan kamu kemarin, Ray?" tanya Pak Rizal sambil mengoleskan mentega ke rotinya.
"Iya. Sampai harus pergi tiga hari. Pasti menang, kan?" tambah Bu Desi, menatap putranya dengan bangga.
"Iya, Ma, Pa. Tim Ray menang juara pertama," jawab Ray dengan senyum tipis yang sopan.
"Hebat, Ray! Sekalipun waktu muda Papa tidak begitu suka olahraga, tapi melihat kamu jadi tegap dan berprestasi begini, Papa bangga. Olahraga itu menyehatkan," ujar Pak Rizal, meski matanya tetap tertuju pada tablet yang menampilkan grafik saham.
"Gimana kabar Vyan di sekolah?" tanya Bu Desi tiba-tiba, memecah suasana.
Gelar piala basket seolah kehilangan kilaunya dalam sekejap. Pak Rizal mendadak terdiam, gerakannya memotong omelet melambat, sementara Ray merasakan ketegangan yang familiar merayap di tengkuknya.
"Vyan baik. Sepertinya dia semakin pintar. Kemarin kita bertanding tiga kali... dan Ray kalah," urai Ray jujur, suaranya sedikit merendah saat menyebut kekalahan itu. Mengalah pada Vyan di depan ayahnya seolah menjadi ritual yang wajib dia lakukan. Itu adalah nasihat ibunya sendiri.
"Haha... kamu memang tidak mungkin menang kalau melawan Vyan kalau soal otak," celetuk Bu Desi dengan tawa ringan, tanpa menyadari raut wajah suaminya yang berubah kaku.
"Anak itu pasti selalu cari gara-gara sama kamu, kan, Ray?" tanya Pak Rizal dengan nada yakin.
"Nggak kok, Pa. Dia biasa saja," bela Ray.
"Nggak perlu bohong. Papa tahu sifatnya. Lalu, apa kompensasi kekalahan kamu kali ini?"
Ray menghela napas, mencoba mengatur kata-katanya. "E... Ray hanya harus kerja paruh waktu selama dua minggu."
Pak Rizal berhenti mengunyah, ia segera meraih gelas airnya dan meminumnya dengan cepat. "Kerja apa?"
"Ee... emmm... Belum tahu, Pa. Vyan yang menentukan," ucap Ray. Dia tidak berani mengatakan yang sebenarnya.
"Ah, tidak apa-apa kok, Pa. Ray memang perlu sedikit latihan kerja biar tahu susahnya mencari uang. Iya, kan, Ray?" sela Bu Desi, mencoba mencairkan suasana yang mulai membeku.
Ray hanya bisa tersenyum kaku. Ia tahu, 'latihan kerja' versi Vyan adalah menjadikannya kuli untuk memeras keringatnya sekaligus mempermalukannya. Ray menyingkirkan bayangan itu.
"Oh ya, Ray sudah bilang ke teman-teman OSIS kalau Ray mau jadi donatur untuk acara Hari Kartini nanti. Bisa kan, Ma?" tanya Ray, mencoba mengalihkan pembicaraan.
Bu Desi mengangguk cepat. "Boleh saja. Kamu minta berapa?"
"Hebat kalau begitu," sela Pak Rizal dengan nada otoriter yang tak terbantahkan. "Berapapun jumlahnya, biar Papa yang kasih."
Ray tersentak, wajahnya menunjukkan keterkejutan yang nyata. "Nggak. Nggak usah dari Papa."
Pak Rizal meletakkan garpunya dengan denting yang cukup keras di atas piring porselen. Suasana ruang makan mendadak sunyi. "Kamu masih belum bisa menerima Papa, Ray?"
"Bukan begitu, Pa..."
"Kalau kamu tidak mau menerima uang dari Papa, itu artinya kamu masih belum menerima Papa sebagai papamu," ucap Pak Rizal, matanya mengunci pandangan Ray dengan tekanan yang berat.
"Tapi Vyan—"
"Kenapa kamu harus mempedulikan omongan anak itu? Pokoknya Papa yang akan kasih semua dananya. Jangan berani-berani menolak," putus Pak Rizal tanpa memberi celah untuk berdebat.
Ray hanya bisa menghela napas panjang, menatap piringnya yang masih setengah penuh. Ia merasa terjepit. Di satu sisi pasti Vyan pasti menuduhnya menghamburkan uang ayahnya untuk pamer, di sisi lain dia tidak bisa membantah perkataan ayah tirinya.
Harusnya aku bicara saat Papa sudah berangkat kerja tadi, batin Ray penuh penyesalan.
...****************...
Pagi itu, suasana meja makan di rumah minimalis Vyan terasa panas, meski kopi di cangkir sudah mendingin. Vyan meletakkan sendoknya dengan denting yang keras.
"Kalau kekurangan dana, aku akan jadi donatur, katanya! Huh! Anak preman itu benar-benar semakin sombong," gerutu Vyan, matanya berkilat penuh kebencian setiap kali membayangkan wajah percaya diri Ray.
Bu Dinda menghela napas, menyesap tehnya dengan tenang. "Kamu sudah membahas masalah ini semalaman, Vyan. Sudahlah. Itu urusan mereka."
"Tapi aku tidak bisa memaafkan dia, Bun! Dia pikir dengan uang itu dia bisa membeli segalanya?"
"Apa kamu takut ayahmu memberikan semua kekayaan dan perusahaannya kepada Ray?" Bu Dinda menatap putranya dalam-dalam. "Tenang saja, Vyan. Kamu tetap anak sahnya. Kamu sendiri yang memilih untuk pergi dari rumah mewah itu."
Vyan memalingkan wajah, rahangnya mengeras. "Jangan bicara soal itu, Bun. Aku tidak sudi mememakai uang Ayah. Bukankah kita bisa hidup nyaman tanpa bantuannya?"
Bu Dinda tersenyum tipis, sedikit menggoda. "Tanpa bantuannya? Bukannya kamu masih memegang kartu kredit pemberiannya?"
Vyan terdiam sejenak, lalu mendengus. "Tidak pernah aku pakai. Tapi... ya, kalau benar-benar terdesak, mungkin akan aku pakai."
"Terserah kamu saja. Ayo berangkat, nanti kita terlambat."
...****************...
Jam istirahat biasanya menjadi waktu yang bising, namun di laboratorium kimia yang terletak di ujung koridor, suasananya mencekam. Empat orang siswi berada di dalam, pintu tertutup rapat. Ray, yang kebetulan lewat untuk mengambil bola basket yang tertinggal, menghentikan langkahnya saat mendengar suara gedoran dan makian dari dalam.
"Kita sudah terlalu kesal melihat tingkahmu! Dasar cewek murahan! Berani-beraninya kamu mengincar Vyan! Kami tidak akan melepaskanmu begitu saja!"
"Terus... Kakak-kakak mau apa?" Suara itu bergetar, ketakutan.
"Lihat larutan asam ini..."
"Aaaa...!"
BRAK!
Ray menendang pintu laboratorium hingga terbuka lebar. Empat pasang mata menoleh serentak. Sebuah tabung reaksi berisi cairan bening jatuh dari tangan Sandra—salah satu siswi sekelas Vyan—dan pecah berkeping-keping di lantai. Asap tipis menguar dari cairan yang tercecer, untungnya tidak mengenai kaki mereka.
"Sedang apa kalian?!" bentak Ray, langkahnya lebar menghampiri mereka.
"Ra.. Ray..." Sandra pucat pasi. "Tidak. Kita tidak sedang melakukan apa-apa kok."
"Nggak ngapa-ngapain apa?! Apa yang kalian bertiga lakukan pada dia?!" Ray menunjuk Yasmin yang wajahnya sudah pias, diapit oleh dua siswi lainnya.
Kedua siswi itu segera melepas cengkeraman mereka pada lengan Yasmin. Namun, sebelum Ray sempat memaki lebih jauh, Yasmin justru melangkah maju, menghalangi Ray.
"Aku dan ketiga Kakak ini sedang beres-beres, lalu kami main-main dengan larutan asam. Lihat, ternyata larutan asam sangat berbahaya ya," tutur Yasmin. Ia mencoba tersenyum, meski tangannya gemetar.
Ray terbelalak. "Bodoh! Kenapa malah membela mereka?!"
"Tapi benar, Kak. Aku diajak ke sini untuk belajar. Soalnya aku kan bodoh, jadi perlu banyak bimbingan," lanjut Yasmin.
Sandra dan kawan-kawannya saling pandang, lalu segera menyambar kesempatan itu.
"Iya, benar! Wah, jadi berantakan, ayo kita bereskan!"
Mereka segera jongkok, memunguti pecahan tabung dengan terburu-buru.
"Aku tahu kalian teman sekelas Vyan," ucap Ray dengan nada rendah yang mengancam. Ketiganya tidak berani mengangkat kepala.
"Biar aku bantu—" Yasmin hendak jongkok.
"Nggak usah!!" sahut ketiganya kompak, ketakutan jika Ray semakin marah.
"Jangan sampai hal ini terjadi lagi," tegas Ray.
Ia segera menarik tangan Yasmin, membawanya keluar dari ruangan yang berbau bahan kimia tajam itu.
Rayandra Putra Hadyanata