NovelToon NovelToon
Saat Takdir Menautkan Hati

Saat Takdir Menautkan Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Rani Ramadhani

Sejak bangku taman kanak-kanak, sekolah dasar, menengah, hingga ruang kuliah, mereka selalu dipertemukan, seolah takdir tak ingin memisahkan langkah keduanya. Namun perbedaan watak dan sifat menjadikan mereka dua kutub yang selalu berlawanan, sering berselisih paham atas hal-hal kecil, dan saling memandang dengan dingin. Kini, dua jiwa yang dulu saling menjauh dan penuh pertikaian, terpaksa disatukan dalam satu ikatan pernikahan. Di atas janji yang tertulis di atas kertas, tersembunyi sebuah tanya besar: mungkinkah benci yang lama terjalin perlahan meleleh, berubah menjadi rasa cinta yang tumbuh diam-diam di tengah perbedaan dan perselisihan yang selama ini ada di antara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hadiah Istimewa

Udara malam menyusup pelan lewat celah jendela yang terbuka. Suasana di ruang tamu sudah sangat hidup dan hangat. Tawa serta canda Meisya, Haikal, dan Zikri terdengar bergema, membuat suasana rumah yang biasanya tenang itu kini penuh warna dan keakraban.

Farzhan berdiri diam di dekat tangga, punggungnya tegak dan sikapnya tenang seperti biasa, meski jantungnya berdegup tidak karuan di dalam dada. Ia menatap pintu koridor dengan pandangan yang tak lepas, menanti saat yang ditunggu-tunggu itu.

Dan tepat saat itu, Vira muncul dari balik pintu.

Seluruh ruangan seketika menjadi hening sejenak. Semua mata tertuju padanya, terpesona.

Vira tampak begitu cantik malam itu. Ia mengenakan gaun berwarna merah muda lembut yang pas di badan, sedikit mekar di bagian bawah hingga membuatnya tampak anggun dan manis. Rambut panjangnya diikat separuh ke belakang, dengan beberapa ikal indah yang jatuh menyentuh pipinya. Wajahnya bersih dengan riasan tipis yang membuat kedua matanya terlihat semakin besar, berbinar, dan hidup di bawah cahaya lampu ruangan.

"Wohooo... cantiknya sepupuku ini!" seru Meisya langsung berteriak kegirangan, memecah keheningan.

"Benar sekali! Sepupu kami memang yang paling cantik!" tambah Haikal sambil bersorak riang.

Vira tersenyum malu-malu, tangannya meremas ujung gaunnya pelan. "Ih, apa-apaan ini... kalian semua menatapku begitu. Aneh sekali rasanya."

Ia lalu menoleh ke arah Farzhan. Pria itu masih berdiri terpaku di tempat, menatapnya lekat-lekat tanpa berkedip sedikit pun. Di balik tatapan dingin dan tajamnya itu, ada kekaguman yang jelas terpancar dan sulit disembunyikan. Farzhan hanya bisa mengangguk pelan, lalu sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis. "Kamu sangat cantik malam ini."

Pujian yang sederhana dan singkat itu langsung membuat pipi Vira memerah merona.

Acara pun dimulai. Lampu ruangan sedikit diredupkan, menyisakan cahaya lembut yang berasal dari lilin-lilin yang tertancap indah di atas kue ulang tahun yang besar dan elegan.

"Happy Birthday to You..

Happy Birthday to You..

Happy Birthday, Happy Birthday, Happy Birthday to You...."

Suara mereka bernyanyi bersama dengan penuh semangat dan kehangatan. Vira menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya mulai berkaca-kaca menahan haru. Tidak pernah ia menyangka, suaminya yang dingin, tertutup, dan kaku itu mampu menyiapkan semua ini dengan begitu indah. Tidak pernah ia membayangkan bisa merayakan ulang tahun dengan suasana sehangat dan seakrab ini.

"Tiup lilinnya, Vi! Ayo, make a wish!" seru Zikri bersemangat.

Vira mengangkat kedua tangannya di depan dada, memejamkan mata sejenak dengan tulus memanjatkan doa dan harapan dalam hatinya. Lalu, dengan satu hembusan napas yang kuat, PFFT! Semua lilin padam seketika.

"YEAAAY!!"

Sorak sorai kembali terdengar memenuhi ruangan. Lampu dinyalakan kembali hingga ruangan terang benderang. Vira tersenyum sangat lebar, menampakkan deretan giginya yang rapi dan putih, senyum yang paling bahagia yang pernah ia tunjukkan malam itu.

Saatnya memotong kue. Dengan bantuan Farzhan yang memegang tangannya pelan namun tegas, mereka memotong kue itu bersama-sama.

Potongan pertama, Vira ambil dengan sendok besar, lalu tanpa ragu sedikit pun, ia menyuapkannya langsung ke mulut Farzhan.

"Nah! Potongan pertama untuk suamiku tersayang!" katanya dengan nada ceria dan penuh kasih sayang.

Farzhan menerimanya dengan tenang, lalu mengunyahnya perlahan. Rasanya manis dan lembut di mulut, namun terasa jauh lebih manis dan nikmat di dalam hatinya saat ini.

Potongan kedua diberikan kepada Meisya dan Haikal yang langsung menyambar dengan lahap sambil berterima kasih dengan riang.

Potongan ketiga dan terakhir diberikan kepada Zikri yang langsung membuka mulutnya lebar-lebar seperti anak kecil yang tidak sabaran.

Usai menikmati kue, tibalah saat yang paling ditunggu-tunggu oleh semua orang: Pembagian kado!

"Ayo buka kado! Ayo cepat buka kadonya!" Meisya sudah tidak sabar lagi menunggu, suaranya terdengar antusias.

Satu per satu kado dibuka oleh Vira dengan penuh rasa penasaran dan gembira.

Dari Meisya dan Haikal, ia mendapatkan sebuah tas tangan yang sangat cantik dan sweater tebal yang terasa hangat dan lembut.

Dari Zikri, ia mendapatkan sekotak cokelat impor dan sebuah boneka beruang besar yang terlihat sangat lucu dan menggemaskan.

Vira mengucapkan terima kasih berkali-kali kepada mereka semua, wajahnya berseri-seri menampakkan kebahagiaan yang tulus.

Dan akhirnya, tersisa satu kotak terakhir. Kotak yang paling kecil, namun terlihat paling mewah. Warnanya hitam mengkilap dengan pita emas yang terikat rapi di tengahnya. Itulah kado pemberian Farzhan.

Semua orang terdiam dan memperhatikan. Suasana menjadi sedikit tegang dan penuh antisipasi.

Farzhan maju selangkah, mengambil kotak itu lalu menyerahkannya kepada Vira. Wajahnya tetap datar dan dingin, berusaha terlihat tenang, keren, dan terlihat tidak terlalu memedulikan hal apapun, padahal di balik sikapnya yang tenang, tangannya sedikit gemetar menahan rasa gugup.

"Ini... untukmu. Selamat ulang tahun," katanya singkat, padat, dan berbicara dengan nada resmi seperti biasa.

Vira menerima kotak itu dengan jantung yang berdebar kencang. Ia membuka tutupnya perlahan dan hati-hati.

KLIK.

Di dalamnya, terhampar beludru berwarna biru tua yang lembut, dan di atasnya... berkilauan indah sebuah cincin.

Bukan cincin biasa. Itu adalah cincin dengan satu berlian besar yang dipotong dengan sangat sempurna, dikelilingi oleh batu-batu kecil lainnya yang berkilauan memantulkan setiap cahaya lampu yang menyentuhnya. Desainnya elegan, mewah, dan sangat klasik. Sangat mencerminkan selera Farzhan yang tinggi, tegas, dan tidak berlebihan.

Mata Vira membelalak lebar tak percaya. Tangannya terangkat spontan menutup mulutnya yang terbuka kaget.

"Zhan... ini..."

Farzhan hanya mengangguk pelan. "Pakai. Supaya semua orang tahu bahwa kamu adalah istriku. Cincin lamamu sudah terlalu biasa, ini yang baru. Lebih bagus dan pantas untukmu."

Tidak ada kata-kata puitis. Tidak ada pernyataan cinta yang berlebihan seperti yang sering ada di dalam film-film. Farzhan hanya berkata dengan nada datar, "Selamat ulang tahun, Vira. Semoga panjang umur dan selalu bahagia."

Sederhana. Dingin. Namun di balik itu tersimpan rasa yang sangat tulus dan mendalam.

Namun bagi Vira, itu sudah lebih dari cukup. Bahkan bagi hatinya, hal itu jauh lebih indah dan berharga dibandingkan seribu kata manis.

Air mata bahagia akhirnya jatuh membasahi pipinya yang merona. Ia tidak peduli lagi ada orang lain yang melihat atau tidak. Ia langsung melompat masuk ke dalam pelukan, memeluk leher Farzhan dengan sangat erat.

"Terima kasih, Zhan... terima kasih banyak," isaknya pelan di bahu suaminya, suaranya terdengar penuh haru. "Ini adalah hadiah paling istimewa yang pernah aku terima. Aku sangat bahagia..."

Farzhan tersentak kaget sejenak oleh pelukan tiba-tiba itu, namun tangannya perlahan naik dan membalas pelukan itu dengan lembut, mengusap punggung istrinya dengan gerakan halus dan penuh kasih. Wajahnya memerah padam karena rasa malu dan bahagia, tapi kali ini ia tersenyum sangat lebar dan tulus.

"Iya... sama-sama," jawabnya pelan di telinga Vira.

Di belakang mereka, Meisya, Haikal, dan Zikri saling berpandangan satu sama lain, lalu tersenyum lebar melihat pemandangan itu. Mereka bertepuk tangan pelan dengan rasa lega dan bahagia.

"Akhirnya... langit yang tadinya tampak mendung dan dingin, kini cerah dan bersinar terang," gumam Zikri pelan dengan senyum puas.

Malam itu berakhir dengan kebahagiaan yang luar biasa dan hangat. Cincin berlian itu kini melingkar manis dan kokoh di jari manis Vira, menjadi bukti nyata bahwa di hati pria yang sedingin dan sekeras apa pun sekalipun, selalu ada tempat yang sangat hangat, lembut, dan khusus, yang disiapkan hanya untuk satu orang; wanitanya.

1
Pich
kenapa ga di cium sekalian haeh🥱
Rocean: masih kicik🤣
total 1 replies
Sheer
asikkk ada yg cemburu🤣🤭
Sheer
boleh juga vira . diam diam 🤭
Rocean: diam diam menghanyutkan ya
total 1 replies
Sheer
demen bnget kalo cerita yang sangai gini.
Rosella
lucu bangets yaampun🤣
Pich
ihh gemas deh sama mereka🤭
Pich
dia pikir mau ngapain🤣
Rocean: 🤣🤣🤣🤣
entahlah
total 1 replies
Seai
🥴
Rosella
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!