Setiap orang punya kemampuan yang berbeda-beda, ada yang berbakat di olahraga, ada yang berbakat di ilmu pengetahuan, ada juga yang berbakat di seni. Kayla seorang siswa yang membuktikan bahwa setiap orang bisa berubah asal punya kemauan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Geb Lentey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
Langit sore mulai berubah jingga ketika mereka berempat berjalan keluar dari tempat melukis itu. Jalanan tidak terlalu ramai, hanya suara kendaraan sesekali lewat dan angin yang berhembus pelan. Suasana terasa lebih ringan dibandingkan beberapa jam sebelumnya.
Kayla berjalan di tengah, sesekali melirik ke arah lukisan kecil yang tadi ia bawa pulang. Di sampingnya, Salsa masih tersenyum-senyum sendiri, sementara Raka berjalan sambil mengibaskan tangannya yang masih sedikit terkena cat.
Raka menghela napas panjang.
“Gue kayaknya emang gak bakat deh di lukis,” katanya tiba-tiba. “Gambarku jelek banget.”
Salsa langsung tertawa kecil. “Ih, tadi kamu yang paling semangat loh.”
Raka mengangkat bahu. “Semangat doang gak cukup ternyata.”
Reyhan yang berjalan sedikit di depan menoleh, lalu berkata santai, “Semua orang punya bakatnya masing-masing.”
Raka mendengus pelan. “Iya sih… tapi kayaknya bakat gue bukan di situ.”
Reyhan tersenyum tipis. “Ya gak harus di situ.”
Kayla memperhatikan mereka berdua.
“Ada yang jago gambar, ada yang jago musik…” lanjut Reyhan pelan, “ada juga yang jago bikin orang ketawa.”
Raka langsung menoleh. “Nah itu gue banget sih.”
Salsa langsung nyeletuk, “Iya, bikin ketawa karena gambarnya.”
Mereka semua tertawa.
Namun Reyhan melanjutkan, kali ini dengan nada sedikit lebih dalam.
“Dan ada juga yang jago bertahan.”
Langkah Kayla sedikit melambat. Ia menoleh ke arah Reyhan.
Reyhan tidak menatapnya langsung, tapi Kayla tahu kalimat itu ditujukan untuknya. Hatinya terasa hangat. Tidak berisik. Tidak berlebihan. Tapi cukup.
“Aku gak tahu bakatku apa sih sebenarnya,” kata Kayla pelan.
Raka langsung menjawab, “Lah kamu kan jago matematika.”
Salsa mengangguk. “Iya, itu jelas banget.”
Kayla tersenyum kecil. “Iya… tapi kadang aku ngerasa itu bukan bakat, tapi karena aku dipaksa keadaan aja.”
Reyhan berhenti sebentar.
Mereka semua ikut berhenti.
Lalu Reyhan menatap Kayla.
“Bakat itu bukan cuma soal apa yang kamu bisa,” katanya.
“Tapi apa yang tetap kamu lakukan… walaupun capek.”
Kayla terdiam.
Kalimat itu terasa dalam.
Ia mengingat semua prosesnya.
Dari dulu yang malas, yang sering dihukum karena tidak mengerjakan PR, yang merasa bodoh, yang pernah diejek, yang jatuh dan bangkit lagi.
Perlahan.
Sakit.
Tapi nyata.
“Berarti…” bisik Kayla, “aku cuma gak nyerah ya?”
Reyhan tersenyum kecil.
“Iya.”
“Dan itu gak semua orang punya.”
Sunyi beberapa detik.
Namun kali ini bukan sunyi yang berat.
Melainkan sunyi yang penuh makna.
Raka tiba-tiba bertepuk tangan kecil sambil menggelengkan kepalanya. “Wah… dalam banget. Gue jadi termotivasi nih.”
Salsa tertawa. “Besok kamu belajar gak?”
Raka langsung menjawab cepat, “Ya jangan langsung diuji dong.”
Mereka kembali berjalan. Langkah mereka santai. Tawa kecil masih terdengar. Dan untuk pertama kalinya setelah semua yang terjadi Kayla merasa dirinya tidak harus menjadi sempurna.
Tidak harus selalu kuat. Tidak harus selalu benar. Karena yang penting ia tidak berhenti. Dan di sampingnya ada orang-orang yang melihat itu.
Menerima itu. Dan tetap berjalan bersamanya. Langit semakin gelap. Namun langkah Kayla justru terasa semakin terang.
Mereka pulang ke rumah masing-masing, berharap besok adalah hari baru yang penuh kegembiraan, penuh harapan baru. Tanpa adanya gosip, bisikan demi bisikan yang hanya menggangu.
Langkah demi langkah menuju rumah, di persimpangan jalan Raka dan Reyhan belok ke kiri, Kayla belok ke kanan, dan Salsa berjalan lurus.