Kurza adalah vampir terkuat dimasa lalu, entah apa yang ada dipikiranya sehingga dia memutuskan untuk beristirhat/tidur di dalam sebuah goa . sebelum Putri Kerajaan Alabas tanpa sengaja membangunkan Kurza dari tidurnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arafi Arif Dwi Firmansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13. Terbangun dari Lamunan
Miyuki terdiam sejenak merasakan hangatnya kecupan Kurza di punggung tangannya. Kata-kata tuannya bahwa ia adalah "jantung" bagi eksistensi Kurza membuat dadanya yang semula terasa sesak kini dipenuhi kehangatan yang asing namun menyenangkan. Ia mengangkat wajahnya, menatap mata Kurza yang kini tampak tenang.
"Tuan," ucapnya dengan nada yang lebih lembut dari biasanya, "saya siapkan air dulu untuk mandi," ijin Miyuki. Ia melangkah menuju pintu penghubung ke ruang sebelah yang ada di dalam kastel tersebut. Bak besar ia siapkan dengan mengisi air, dia kembali ke kamar dan mengajak Kurza. "Tuan, bak sudah disiapkan. Biarkan saya membantu Tuan membersihkan diri.." seru Miyuki di depan pintu kamar. "Mari kita mandi bersama, Tuan. Biarkan saya membasuh sisa debu pertempuran dari tubuh Tuan." Kurza menatap Miyuki dengan sedikit terkejut, namun kemudian tersenyum tipis. Ini adalah pertama kalinya Miyuki mengajaknya secara terbuka seperti itu.
Di dalam ruang pemandian, suasana menjadi sangat sunyi. Hanya terdengar suara gemericik air yang jatuh ke lantai kayu. Saat mereka masuk ke dalam bak air yang besar, Miyuki mengambil posisi di belakang Kurza. Jemarinya mulai memijat dan menggosok bahu lebar tuannya dengan sangat lembut. "Tuan," bisik Miyuki di dekat telinga Kurza, sementara air membasahi helai rambut putihnya.
"Saat di taman tadi, melihat Tuan menyentuh Putri Khaya... saya merasakan sesuatu yang tidak logis dalam diri saya. Tapi di sini, di dalam air ini, saya merasa hanya sayalah yang benar-benar memiliki Tuan." ucap Miyuki, Kurza memejamkan mata, menikmati sentuhan tangan Miyuki yang sangat telaten. "Kau memang unik, Miyuki. Kau tahu itu." seru Kurza, Miyuki menyandarkan kepalanya di bahu Kurza, membiarkan tubuh mereka terendam dalam kehangatan yang sama.
Di bawah temaram cahaya lilin yang memantul pada permukaan air yang ada di bak, suasana di pemandian itu berubah menjadi sangat intens. Ketegangan yang sebelumnya berasal dari medan perang kini berubah menjadi ketegangan yang penuh gairah di antara mereka berdua.Miyuki, yang selama ini selalu bersikap dingin dan kaku sebagai prajurit, kini melepaskan semua batasan itu. Ia memeluk Kurza dari belakang, merasakan otot-otot tuannya yang masih hangat oleh darah murni kerajaan.
Kurza berbalik perlahan, menangkap wajah Miyuki dengan tangannya yang kuat, lalu menatap jauh ke dalam mata wanita itu. Tidak ada lagi perintah atau kepatuhan buta; yang ada hanyalah tarikan magnetis yang tak tertahankan. Sentuhan yang awalnya lembut berubah menjadi lebih mendalam dan penuh keinginan. mereka seolah ingin melenyapkan jarak yang ada. Bagi Miyuki, ini bukan sekadar pemuasan hasrat, melainkan cara baginya untuk mengklaim bahwa dirinya adalah milik Kurza sepenuhnya, jauh melebihi siapapun di kerajaan Alabas.
Sementara bagi Kurza, kehadiran Miyuki di pelukannya memberikan kehangatan yang tidak bisa diberikan oleh darah murni manapun kehangatan sebuah koneksi jiwa. Malam itu, kastel tua di atas tebing menjadi saksi bisu bagaimana sang vampir penguasa dan pelayan setianya tenggelam dalam lautan emosi yang selama ini mereka pendam. Suara napas yang memburu menyatu dengan kesunyian malam, menciptakan sebuah simfoni yang hanya milik mereka berdua. Beberapa jam kemudian, saat api lilin mulai meredup dan fajar hampir menyingsing, mereka beristirahat dalam pelukan satu sama lain di atas ranjang besar mereka, diselimuti oleh ketenangan yang luar biasa.
***
Suara berisik kelelawar yang bangun dari tidurnya seketika memecahkan keheningan, menarik Kurza kembali dari kabut masa lalu yang hangat ke realitas yang dingin. Matanya berkedip, perlahan fokus kembali pada sosok Khiya yang masih duduk di hadapannya, menanti kelanjutan cerita dengan ekspresi penuh selidik.
"Kau melamun cukup lama, tuan Kurza," ujar Khiya sambil menopang dagu, matanya yang tajam seolah berusaha menembus isi kepala Kurza. "Senyum di wajahmu tadi... itu bukan senyum seorang pemimpin yang baru memenangkan perang. Itu senyum pria yang sedang merindukan rumah. atau mungkin, merindukan pelayannya."
Kurza menghela napas panjang, sisa-sisa kehangatan kulit Miyuki dan aroma tubuh Miyuki perlahan memudar dari ingatannya. Ia menyandarkan punggungnya ke sisi peti mati Miyuki, kembali ke sosoknya yang dingin dan penuh rahasia. "Masa lalu punya cara sendiri untuk menjebak kita, Khiya," jawab Kurza dengan suara rendah.
"Miyuki bukan sekadar pelayan. Dia adalah bagian dari sejarah yang tidak akan pernah dipahami oleh orang-orang seperti para jenderal raja atau bahkan kau sendiri." Khiya hanya mengangkat bahu, meski rasa penasarannya semakin memuncak. jadi kenapa tuan tidak Bangunkan Miyuki?" tanya Khiya lagi.
Kurza kembali terdiam, mencari jawaban yang bisa di pahami oleh Khiya. "Membangunkannya tidak semudah yang kau bayangkan, Khiya," jawab Kurza dengan nada suara yang bergetar namun dalam. "Dia tidak sedang tidur dalam arti yang biasa kau pahami. Setelah perang besar terakhir, aku memutuskan untuk beristirahat untuk waktu yang lama. mereka mengikutiku, untuk sekarang terlalu beresiko untuk membangunkan paksa mereka." jawab Kurza .
Kurza menatap Khiya dengan mata yang berkilat lembut, memperlihatkan kesedihan sekaligus tekad yang kuat.
"Aku bisa saja membangunkannya secara paksa dengan darahku, tapi itu akan menghancurkan kewarasannya. Aku lebih memilih menunggunya bangun dengan sendirinya, meski itu butuh waktu yang lama. Karena bagiku, lebih baik membiarkannya bermimpi indah daripada memaksanya bangun, yang beresiko kehilangan kesadaran dan mengamuk." Seru Kurza. Khiya tertegun, tidak menyangka bahwa di balik sifat angkuh Kurza, terdapat pengertian yang begitu besar terhadap pelayannya."
Suara berisik kelelawar tadi, menjadi tanda kalau hari sudah semakin sore. "Ayo kita kembali ke desa" perintah Kurza sambil berdiri dari sandaranya di peti miyuki. Mereka berdua berjalan menuju pemukiman. Di sepanjang jalan, Kurza menceritakan betapa megahnya ibu kota Alabas, tempat di mana kastelnya berdiri kokoh di atas tebing tinggi, menghadap langsung ke lembah yang selalu berkabut.
Sesampainya di desa, Kurza menatap Khiya sekali lagi. "Istirahatlah malam ini. Besok, perjalanan menuju Alabas akan panjang. Kau harus menyiapkan mentalmu, karena begitu kita melewati gerbang kastel itu, kau bukan lagi gadis desa biasa. Kau adalah milikku" Seru Kurza. Khiya mengangguk pelan, masih mencoba mencerna perubahan besar yang akan menimpa hidupnya. Di dalam benaknya, ia mulai membayangkan kastel megah yang diceritakan Kurza, dan bagaimana rasanya menggantikan peran Miyuki sebagai pelayan pribadi sang vampir.
Malam terakhir di desa terasa begitu sunyi, hanya suara jangkrik yang menemani keremangan di dalam tempat sederhana yang tadi siang dibuatkan oleh warga desa. Khiya berbaring di tepi ranjangnya, memberi ruang kosong untuk Kurza, Khiya menatap kearah samping yang menampilkan bayangan pepohonan tertiup angin. Pikirannya masih dipenuhi oleh bayang - bayang Miyuki dan kehidupan baru yang menantinya di Kastel Alabas.
Kurza masuk tanpa suara, sosoknya yang tinggi hampir memenuhi ruangan yang sempit itu. Ia menatap Khiya yang tampak gelisah. Kurza melangkah mendekat dan duduk di samping Khiya. Ia bisa merasakan kehangatan tubuh gadis itu, sebuah kontras yang mencolok dengan dinginnya hawa kastel yang selama ini ia tinggali sendirian.
"Apakah kau takut?" tanya Kurza sambil menatap mata Khiya. "Aku... aku hanya merasa aneh," bisik Khiya jujur. "Aku tidak sekuat Miyuki, tapi kau memilihku untuk melayanimu. Aku takut aku tidak bisa memuaskanmu seperti dia." Kurza tersenyum tipis, sebuah senyuman yang jarang ia perlihatkan. "Aku tidak memintamu menjadi Miyuki. Aku memintamu menjadi milikku. Tugasmu hanya satu: pastikan aku tidak merasa sendirian lagi di kastel itu."
Bersambung. . .