NovelToon NovelToon
My Baby Mafia

My Baby Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Action / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:9.4k
Nilai: 5
Nama Author: Four

Hamil dengan pria asing yang ternyata, Mafia???!

Aria hamil dari pria tak dikenal setelah malam yang menghancurkan hidupnya. Ia memilih mempertahankan anak itu, meski pikirannya nyaris runtuh.

Hingga pria itu kembali.

Lorenzo de Santis—datang, mengaku bertanggung jawab, dan masuk ke hidupnya tanpa izin. Namun Aria tidak tahu…
Bahwa kehamilan tersebut bukanlah kebetulan.

Melainkan rencana.

Dan pria yang berdiri di hadapannya bukan sekadar masa lalu yang kelam—
melainkan seorang bos mafia yang sejak awal telah mengendalikan segalanya.

°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon dukungannya ✧⁠◝⁠(⁠⁰⁠▿⁠⁰⁠)⁠◜⁠✧

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MBM — BAB 25

IBU YANG DIBUNUH

Bau minyak panas dan rempah menggantung tebal di udara. Kedai taco kecil di pinggir jalan itu nyaris kosong, hanya ada sepasang lansia di pojok yang sibuk dengan dunianya sendiri.

Lorenzo memilih meja paling ujung. Punggungnya menghadap tembok, mata tetap awas ke pintu. Di depan mereka, dua piring taco al pastor sudah tersaji. Uapnya masih mengepul, tapi Aria tak menyentuh.

Tangannya terkepal di atas paha. Pandangannya jatuh ke meja kayu yang tergores banyak nama. Diam. Sejak di mobil tadi, dia belum bicara.

Lorenzo mengunyah pelan, tapi matanya tak lepas dari Aria. Rahangnya bergerak, bukan karena makanan, tapi karena menahan sesuatu.

"Makanlah." Perintahnya singkat. Datar.

Aria tidak bergerak.

Suara radio tua di dekat kasir mengalun pelan, lagu Spanyol yang terlalu ceria untuk situasi mereka. Sendok beradu dengan piring di dapur. Di luar, klakson mobil sesekali memecah hening.

Lorenzo meletakkan taco-nya. Menyandarkan punggung, menatap Aria lebih tajam.

"Kau mau membuat dirimu mati kelaparan setelah gagal mati tertembak?" Nadanya rendah. Bukan marah, tapi menusuk.

Aria akhirnya mengangkat wajah. Matanya masih menyimpan sisa ketakutan dari toko roti tadi, tapi ada amarah juga di sana.

"Aku... Sebenarnya tidak terlalu lapar," jawabnya pelan. Bohong. Perutnya jelas meremas sejak tadi.

Lorenzo mendengus. "Kalau begitu, kenapa kau berbohong?”

Hening lagi.

Lalu Aria menyerah. Bahunya turun. Dia menatap Lorenzo lelah, semua cerewetnya dari mobil tadi hilang, diganti sesuatu yang lebih rapuh. Tatapan yang serius.

"Kenapa kau tidak bilang dari awal?" suaranya hampir berbisik. "Kalau menikah denganmu... nyawaku jadi taruhan setiap hari?"

Lorenzo tidak langsung menjawab. Jemari panjangnya mengetuk meja sekali. Dua kali. Kebiasaan saat dia berpikir. Namum tatapannya masih ke istrinya.

"Karena jika aku mengatakannya," katanya akhirnya, "kau tidak akan pernah mau menikah denganku."

Jujur. Terlalu jujur sampai Aria terdiam dan berkernyit alis. Ia ingat kalau Lorenzo benar-benar tak mau menikah dan sekarang pria itu sendiri mengatakan hal tersebut?

"Dan aku butuh kau setuju." Lorenzo melanjutkan, suaranya lebih rendah. "Waktu itu."

Aria menggigit bibir bawahnya, seolah dia berpikir telah masuk ke perangkap Lorenzo. "Dan sekarang? Kau menyesal?"

Pertanyaan itu menggantung di antara mereka, bersaing dengan aroma daging dan ketumbar.

Lorenzo menatapnya lama. Mata gelapnya menyisir wajah Aria — dari pelipis yang masih pucat, ke bibir yang digigit sampai merah, ke tangan yang gemetar di atas meja.

"Menyesal?" Dia mengulang. Lalu menggeleng sekali. "Tidak."

Aria mengerutkan alis. "Padahal aku beban. Aku cerewet. Aku bikin kau hampir mati juga. Aku menunggumu untuk kau lepas kendali dan membunuhku."

"Kau memang cerewet," Lorenzo mengakui tanpa dosa. Dia mendorong piring taco ke arah Aria. "Tapi kau satu-satunya orang yang berani ngomel dua puluh menit nonstop di mobilku dan masih hidup."

Ada jeda. Lalu sudut bibir Lorenzo terangkat tipis. Bukan senyum. Hampir.

"Itu butuh nyali. Atau bodoh. Aku belum memutuskan yang mana."

Aria mendengus, tapi bukan marah. Ada sesuatu yang hangat menjalar di dadanya, aneh, mengingat mereka baru saja lolos dari tembakan.

Dia akhirnya meraih taco di depannya. Gigitan pertama hambar di lidah karena tegang, tapi dia paksa telan.

"Lorenzo," panggilnya setelah diam lama.

"Hm."

"Siapa 'mereka' tadi?" Aria menatapnya lurus. "Kau tidak bisa selamanya bilang 'bukan siapa-siapa'. Aku hampir mati, Lorenzo. Aku berhak tahu."

Rahang Lorenzo menegang. Dia menunduk, menatap taconya sendiri seolah makanan itu lebih menarik dari nyawa mereka.

"Hanya keluarga lamaku," jawabnya singkat.

Darah Aria berdesir dingin. "Mereka... keluargamu?"

"Nama, darah, bukan berarti keluarga, Aria." Suara Lorenzo berubah. Dingin. Tajam. Bahaya. "Bagi mereka, kekuasaan adalah untuk menguji ketangguhan seseorang. Dan bagiku, mereka sampah yang harus dibersihkan."

Dia mengangkat wajah, menatap Aria tepat di mata dengan santai. "Dan sekarang kau ikut kotor karena bersamaku."

Aria terdiam. Seharusnya dia takut. Seharusnya dia lari. Tapi yang dia lakukan malah menggenggam ujung meja, menahan diri untuk tidak meraih tangan Lorenzo.

"Kalau begitu," katanya pelan, "ajarkan aku cara membersihkannya. Jangan cuma menyuruhku diam dan dengar musik."

Untuk pertama kalinya sejak tembakan tadi, Lorenzo benar-benar menatapnya. Bukan sekadar melirik. Menatap. Seolah menilai apakah Aria serius, atau hanya bicara karena syok.

Di luar, sirine polisi melengking jauh. Di dalam, hanya ada mereka, dua taco dingin, dan kebenaran yang baru saja diletakkan di meja.

Lorenzo bersandar. Tangannya masuk ke saku jas, mengeluarkan sesuatu dan meletakkannya di meja dengan suara _trak_ pelan.

Pistol kecil. Hitam. Berkilat. Tentu saja Aria menelan ludahnya kasar saat melihat benda tersebut.

"Kau makanlah. Itu adalah cara bertahan hidup."

Aria menatap pistol itu. Lalu menatap Lorenzo. Ketakutan masih ada, tapi di bawahnya... ada sesuatu yang lain. Kepercayaan yang bodoh, mungkin. Atau takdir.

Dia mengambil taco-nya lagi. “Aku akan memakannya, bukan demi kau, tapi anakku.” Kali ini gigitannya lebih mantap.

Lorenzo tidak menjawab. Tapi sudut bibirnya itu — yang hampir seperti senyum — muncul lagi, sepersekian detik lebih lama. Ia merasa ada teman bicara dan seseorang yang seperti rumah.

Di kedai taco kecil yang bau minyak dan bahaya, untuk pertama kalinya, mereka tidak lagi seperti suami-istri yang dipaksa.

Mereka seperti dua orang yang baru saja memutuskan untuk perang bersama.

“Kau bisa mengatakan sedikit tentang dirimu.” kata Aria yang menatap suaminya.

Loren hanya fokus ke makanannya. “Tidak ada yang menarik. Kau tidak akan suka mendengarnya.” kata Lorenzo.

Aria diam beberapa detik, ia tahu Lorenzo hanya akan memberinya teka-teki saja.

“Kau tahu kedai roti ku... Itu bukan aku yang mengelola, maksudku... Ibuku juga berperan selama ini.” kata Aria yang mulai melipat kedua tangannya di atas meja.

Lorenzo sekilas menatapnya.

“Dia seorang reporter aktif yang sedang melalukan siaran langsung di sebuah gedung. Dia bilang.... Ada kriminal di sana,” Aria tersenyum tipis hampir ke miris. “Tapi gedung itu meledak dan ibuku menjadi salah satu korban nya, karena dia terlalu dekat saat itu.”

Pria bermata perak itu terdiam, seolah dia sedang mengingat kejadian ledakan di gedung tersebut, dimana dia sendiri juga ada di dalam sana bersama Emilio untuk melakukan pertemuan.

“Kau tahu soal berita ledakan itu bukan?”

“Ya.” jawab Lorenzo. “Karena aku juga ada di gedung itu.”

Aria terkejut, namun dia berkerut alis. “Aku harap bukan kau yang melakukannya.”

“Bukan aku, tapi musuhku. Anggota kami juga ada yang terkena ledakan, jangan khawatir. kita sama.”

Dengan tenang Lorenzo mengatakannya, lalu dia sadar. “Aku turut berduka atas ibumu.”

Aria mengangguk, menatap suaminya yang kembali fokus ke makanan dengan tatapan tenang.

“Lalu bagaimana dengan ibumu? Aku dengar dia sudah meninggal. Apa yang terjadi?” pertanyaan itu muncul dengan penasaran.

Sementara mata Lorenzo seketika melirik ke Aria.

“Aku membunuhnya.”

Bak sebuah hadiah kejutan, Aria langsung tegang dan tercengang. Sedangkan Lorenzo menatap datar dan jujur.

“Ka-kau... Membunuhnya?”

“Dia tertembak olehku di bagian ulu hatinya. Dan itu sudah cukup lama berlalu.” jelas pria itu yang membuat Aria tegang dan mencoba untuk tenang.

Mendengar pengakuan Lorenzo benar-benar membuatnya gila dan hampir tak bisa bernafas. Namun di sisi baiknya, Aria tidak muntah ketika makan bersama Lorenzo kali ini.

1
Tiara Bella
akhirnya ngobrol dr hati ke hati ini Aria sm Lorenzo... curhat soal ibu mereka berdua
Four.: iya juga 😁
total 1 replies
Kinara Widya
sebenarnya yg membunuh ibunya Loren... Emilio apa lorenzo,..atau jgn2 Monica...
Kinara Widya: lanjut kak...
total 2 replies
vnablu
sabarrr Lorenzo semuanya akan baik-baik saja seiring berjalannya waktu 😌😌
Four.: ho, oh
total 1 replies
vnablu
udah bener kata Lorenzo di rumah aja duduk maniss😄
Four.: membosankan tau
total 1 replies
Tiara Bella
aku suka ceritanya bagus....Dar der dor....
Four.: tancuuuu 😘
total 1 replies
Tiara Bella
makanya Aria km gk ush keluar dr rmh ya itu diincer orang untuk dibunuh.....
Four.: enggak kok, GK sengaja
total 1 replies
Kinara Widya
habis tegang....eee lapar mereka.
Four.: biar GK tegang Mulu 😁
total 1 replies
Tiara Bella
vittorio ember bocor bngt ya.....
Four.: sangat berhati-hati harusnya
total 1 replies
vnablu
kamu salah tuan kan itu memang anak nya Lorenzo sebelum kalian semua punya rencana tersembunyi tapi Lorenzo sudah beberapa langkah di depan kalian semua 😌😌
Kinara Widya: selalu bikin penasaran ni kak four...❤️
total 4 replies
sleepyhead
Baru mendengar Namannya saja kalian sdh begitu khawatir, bagaimana jika dia ada dihadapan kalian 😁
Four.: auto 😱😱😱
total 1 replies
sleepyhead
Karena kau akan selalu aman jika pergi dengannya
sleepyhead: Teh celup lagi 😂
total 2 replies
sleepyhead
🤣🤣🤣🤣 kucing nakal
Four.: nakal banget 🤭
total 1 replies
sleepyhead
Terlalu lama dia dimanfaatkan oleh Papa nya dan Ibu gundiknya
Four.: ho,oh cuman menunggu 20 aja kurang 5 tahun lagi kok😁
total 1 replies
vnablu
semangat terus up nya thorr...aduh Lorenzo bilang aja kamu mau Deket" Aria 🤭🤭
Tiara Bella
Aria percaya deh sm suami km🤭
Four.: ho,oh
total 1 replies
Kinara Widya
makin seru ceritanya...lanjut kak
Four.: wokehhhh
total 1 replies
sleepyhead
wakakakakkk...
Four.: wahhh bahaya nihh orang😌
total 5 replies
sleepyhead
Pintar, gass...
Four.: harus donggg uyyy 😁
total 1 replies
vnablu
yang ada kamu tambah nyaman tidurnya karena ada Lorenzo di sebelah kamu 🤭🤭
Four.: iye juga 😁
total 1 replies
Tiara Bella
apakah Meraka berdua Aria sm Lorenzo akan bucin pd waktunya....
Four.: semoga aja 😌
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!