Matteo Adrian Reins Smith kembali ke Seoul bukan sebagai pecundang, melainkan sebagai pemimpin industri yang ia bangun dari rasa iri dan ambisi untuk melampaui bayang-bayang ayahnya dan keraguan kakaknya. Namun, di balik kemegahan takhtanya, hati Matteo kosong. Ia dihantui memori Manila—tentang Sheena yang tak lain adalah adik iparnya sendiri.
Di sisi lain kota Seoul, Park Chae-young hidup dalam bayang-bayang masa lalu yang traumatis. Lima tahun lalu, sebuah pengkhianatan cinta membawanya ke sebuah bar, dan ia terbangun dengan hidup yang hancur. Ayahnya meninggal karena terkejut, meninggalkan Chae-young hamil di usia muda. Kini, di usia 28 tahun, ia adalah desainer hantu di balik brand ‘Forever-young’ yang viral. Ia membesarkan sepasang anak kembar yang menjadi satu-satunya alasan ia bertahan hidup.
Akankah takdir mempertemukan mereka kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31: Makan Malam Yang Canggung
Makan malam di kediaman utama Smith di Manila berlangsung dalam suasana yang begitu kental dengan ketegangan yang tersembunyi. Sesuai permintaan Lee Young-ae, Mark dan Sheena terpaksa menunda kepulangan mereka ke kediaman pribadi demi jamuan makan malam menyambut keluarga Matteo.
Di meja makan jati yang panjang, posisi duduk mereka seolah membagi dua kubu yang cerminannya hampir identik. Matteo duduk bersisian dengan Chae-young, sementara di hadapan mereka, Mark duduk di samping Sheena. Di antara mereka, Chanyeol dan Kendrick duduk bersebelahan, sesekali saling melirik dalam diam—dua bocah dengan garis wajah yang sama namun pancaran mata yang berbeda.
Dentingan alat makan perak yang beradu dengan piring porselen menjadi satu-satunya suara yang mendominasi. Lee Young-ae, sang ibu matriark, mencoba mencairkan suasana dengan senyum anggunnya.
"Matteo, Chae-young-ah," panggil Lee Young-ae lembut. "Ibu sudah memikirkan ini sejak kalian mendarat. Mengenai pesta pernikahan, Ibu merasa kita perlu mengadakan perayaan yang layak di Manila. Dunia harus tahu secara resmi bahwa keluarga Smith telah lengkap."
Chae-young meletakkan sendoknya perlahan. Ia melirik Matteo sejenak sebelum menatap ibu mertuanya dengan tatapan tenang namun tak tergoyahkan.
"Terima kasih atas perhatiannya, Ibu," ucap Chae-young sopan. "Tapi menurutku, pesta besar tidak diperlukan lagi. Kami sudah mendaftarkan pernikahan kami secara resmi, dan yang terpenting anak-anak sudah besar. Mereka sudah memahami status kami. Aku lebih menghargai ketenangan privasi keluarga kami saat ini."
Matteo mengangguk pelan, mendukung pernyataan istrinya. "Chae-young benar, Ibu. Kami tidak butuh pesta untuk membuktikan apa pun pada orang lain."
Lee Young-ae menghela napas, sedikit kecewa namun menghargai ketegasan menantunya. Sementara itu, Sheena yang sedari tadi hanya diam, sesekali melirik ke arah Chae-young dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara rasa hormat dan kecanggungan karena sejarah masa lalunya dengan si kembar Smith. Mark di sampingnya tetap dengan ekspresi datarnya, seolah-olah ia adalah patung es yang tidak terganggu oleh percakapan tersebut.
Setelah makan malam yang menguras energi mental itu berakhir, Mark dan Sheena akhirnya berpamitan untuk pulang. Chae-young mengantar si kembar ke kamar mereka yang terletak di sayap kanan mansion, memastikan Chanyeol dan Chaerin tertidur lelap setelah hari yang panjang.
Saat Chae-young kembali ke kamar utama yang telah disiapkan, ia tertegun di ambang pintu. Kamar itu sangat luas dengan dekorasi aristokrat yang kental, namun hanya ada satu ranjang king size besar di tengah ruangan.
Matteo baru saja keluar dari kamar mandi dengan kemeja yang sudah dilepas kancing atasnya. Ia terdiam melihat istrinya yang berdiri mematung di dekat pintu.
"Pelayan tidak menyiapkan kamar tambahan di sayap ini, Chae-young-ah," ucap Matteo dengan suara beratnya, mencoba terdengar senormal mungkin meskipun ia sendiri merasa sedikit gugup. "Ibu pasti akan curiga jika kita meminta pisah kamar di rumahnya sendiri."
Chae-young mengeratkan pegangannya pada tas kecilnya. Di Seoul, mereka masih bisa menjaga jarak dengan alasan belum terbiasa, namun di sini, di bawah atap keluarga besar Smith, mereka adalah pasangan suami istri sah di mata semua orang.
"Aku tahu," jawab Chae-young pendek. Ia melangkah masuk, menghindari kontak mata langsung dengan Matteo. "Aku akan menggunakan sisi kiri ranjang."
Suasana kamar mendadak terasa sangat sempit meski ruangannya begitu luas. Chae-young segera mengganti pakaiannya di ruang rias dan kembali dengan piyama sutra yang tertutup. Saat ia berbaring, ia bisa merasakan beban kasur di sisi lain saat Matteo ikut naik ke ranjang.
"Chae-young-ah," panggil Matteo dalam kegelapan kamar yang hanya diterangi lampu tidur remang-remang.
"Tidurlah, Matteo. Besok kita punya jadwal padat dengan ibumu," potong Chae-young, membelakangi Matteo dan menarik selimut hingga ke bahu.
Matteo menatap punggung istrinya. Ia ingin mendekat, namun ia menghormati garis tak kasat mata yang masih dibangun Chae-young. Ia menyadari bahwa memenangkan hati Chae-young jauh lebih sulit daripada memenangkan pasar saham. Namun di sini, di kamar yang sama, ia merasakan sebuah kemajuan kecil. Setidaknya, malam ini ia tidak perlu menatap balkon dari kejauhan, ia berada cukup dekat untuk mendengar napas wanita yang kini resmi menjadi miliknya.
...Penonton Kecil di Balik Pintu...
Cahaya matahari Manila yang lembut mulai menyusup di sela-sela gorden sutra yang berat, menandai dimulainya pagi pertama mereka di kediaman utama Smith. Jarum jam menunjukkan pukul setengah enam pagi saat Matteo perlahan membuka matanya.
Namun, ada yang aneh. Tubuhnya terasa berat, dan bahu kirinya terasa kaku seolah tertindih sesuatu yang hangat.
Matteo melirik ke samping, dan jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat. Di sana, Chae-young tertidur lelap dengan posisi yang sangat tidak terduga—wanita yang semalam menjaga jarak itu kini memeluk lengan Matteo erat-erat, seolah suaminya adalah bantal guling yang paling nyaman di dunia.
Perlahan, Matteo mengubah posisinya menjadi miring, menghadap sepenuhnya ke arah istrinya. Ia menahan napas agar tidak membangunkan Chae-young. Dalam jarak sedekat ini, Matteo bisa melihat segalanya dengan jelas. Rambut bronte waves yang biasanya tertata rapi kini berantakan di atas bantal putih, namun entah kenapa justru terlihat begitu artistik di mata Matteo.
Ia memperhatikan kulit wajah Chae-young yang putih bersih dan mulus. Padahal, semalam ia melihat sendiri Chae-young hanya mencuci wajah tanpa memakai pernak-pernik perawatan yang berlebihan. Tanpa riasan, tanpa polesan, kecantikan alami Chae-young justru terpancar lebih kuat di bawah sinar remang pagi.
Kenapa kau bisa secantik ini dipagi hari? batin Matteo takjub.
Tangan Matteo bergerak tanpa sadar. Dengan gerakan yang sangat halus, ia menyelipkan sehelai rambut yang menghalangi kening istrinya. Jarinya sempat bersentuhan dengan kulit hangat Chae-young, membuat desiran aneh menjalar di dadanya. Terbawa suasana yang begitu tenang, Matteo memajukan wajahnya dan mengecup kening Chae-young cukup lama. Sebuah kecupan yang penuh dengan rasa syukur dan perlindungan.
Begitu ia menjauhkan wajahnya, Matteo mendadak tersadar dengan perilakunya sendiri. Ia tersenyum tipis, merutuki betapa lemahnya ia di depan wanita ini. Alih-alih bangun, Matteo justru melingkarkan tangannya di pinggang Chae-young, menarik istrinya lebih dekat ke dalam pelukannya yang hangat, dan kembali memejamkan mata untuk menikmati momen langka ini.
Namun, di balik daun pintu kamar yang sedikit terbuka, ada dua pasang mata yang mengamati dengan binar jenaka. Chanyeol dan Chaerin berdiri di sana sejak tadi, awalnya ingin membangunkan Daddy mereka untuk berenang.
Chae-rin hampir saja memekik senang melihat pemandangan langka itu, namun dengan sigap Chanyeol menutup mulut adiknya dengan tangan kecilnya.
"Ssttt..." bisik Chanyeol sangat pelan.
Ia menarik tangan Chae-rin, membimbing adiknya menjauh dari pintu kamar orang tua mereka. Wajah Chanyeol tampak sangat puas, ia senang melihat Daddy-nya akhirnya bisa menaklukkan Mommy yang biasanya dingin.
"Ayo kembali ke kamar, Chae-rin-ah. Jangan ganggu Daddy dan Mommy. Mereka sedang istirahat," ucap Chanyeol dengan nada dewasa yang meniru gaya bicara Matteo.
"Tapi Daddy peluk Mommy erat sekali, Kak!" bisik Chae-rin sambil cekikikan saat mereka berjalan kembali ke sayap kamar mereka.
"Itu artinya mereka sudah tidak bertengkar lagi. Ayo, kita main puzzle saja dulu," balas Chanyeol sambil tersenyum bangga.
Di dalam kamar, Matteo yang sebenarnya memiliki pendengaran tajam, sempat mendengar bisikan halus putra-putrinya di koridor. Ia tidak membuka mata, hanya mempererat pelukannya pada Chae-young dan tersenyum dalam tidurnya. Pagi di Manila ini benar-benar menjadi pagi paling sempurna yang pernah terjadi di dalam hidupnya.