Dengan wajah tenang, Mela tiba-tiba mengajukan perceraian pada suaminya, Rahman. Tentu saja, hal itu membuat Rahman dan ibunya terkejut, karena mereka merasa selama ini semua baik-baik saja.
Tapi, Mela sudah mengetahui semuanya, perselingkuhan Rahman dengan mantan kekasihnya yang sudah berjalan selama sepuluh tahun.
Hati Mela hancur, apalagi, saat ibu mertuanya dan putrinya sendiri justru membela selingkuhan suaminya yang bernama Camila.
"Ingat umur. Kau itu sudah tua, sudah mempunyai anak. Harusnya, kau bisa lebih fleksibel. Camila bisa membantu perkembangan bisnis keluarga. Sedangkan kau? Sudah bagus kami menampungmu."
"Kau bisa apa tanpa kami, hah?"
Ucapan ibu mertua dan suaminya, membuat Mela semakin mantap untuk bercerai.
Baginya, perceraian bukan pelarian, melainkan pintu keluar dari kebohongan panjang yang nyaris mematikan jiwanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 Kehidupan Baru
Pagi hari di rumah keluarga Wijaya terasa berbeda, lebih tenang, lebih teratur, seolah setiap sudut rumah telah disiapkan untuk menyambut hari dengan sempurna.
"Lina, sarapannya jangan lupa dihabiskan." Suara lembut itu terdengar dari dapur.
Camila berdiri di sana, mengenakan pakaian rumah sederhana yang justru menonjolkan keanggunannya. Gerakannya ringan namun cekatan.
Ia menuangkan susu ke dalam gelas, menata roti di piring dengan rapi, lalu membawanya ke meja makan. Sebelum itu, ia lebih dulu memastikan obat untuk mertuanya sudah disiapkan dengan teliti.
"Ini, minum dulu, Ma," ujarnya sambil menyerahkan obat.
Dyah yang duduk di meja makan menatapnya sambil tersenyum. "Terima kasih, Camila," ucapnya dengan nada suara penuh dengan kepuasan.
Sudah beberapa hari sejak pernikahan itu berlangsung. Dan sejauh ini, semuanya berjalan tanpa cela.
Camila bangun paling pagi. Menyiapkan sarapan, mengurus Lina, hingga memperhatikan kebutuhan Dyah tanpa diminta. Semua ia lakukan dengan ketulusan yang tampak nyaris sempurna.
"Cepat makan, nanti telat," ucapnya pada Lina.
Lina mengangguk, tidak membantah. "Tapi, nanti mama anterin Lina, ya," pintanya.
"Pasti, sayang," balas Camila.
Tak lama, langkah kaki terdengar dari tangga. Rahman muncul dengan sikap tenang, sorot matanya langsung tertuju pada meja makan.
"Kamu sudah siap, mas?" tanya Camila.
Rahman hanya mengangguk kecil, lalu duduk di samping Lina.
Tanpa banyak bicara, Camila kembali ke dapur, membuatkan kopi, lalu meletakkannya di hadapan Rahman. Barulah ia duduk di kursinya, berhadapan dengan Lina, di sisi Rahman yang lain.
Pagi itu terasa hangat. Nyaris seperti gambaran keluarga yang utuh.
Dyah memandangi mereka berdua dengan senyum tipis yang sulit disembunyikan
"Jadi, kapan kalian akan bulan madu?" tanya Dyah.
Camila dan Rahman berhenti sejenak, lalu saling pandang.
"Itu... Kami tidak ada rencana untuk bulan madu, Ma," jawab Rahman.
Dyah mengernyit. "Tidak ada bagaimana? Kalian itu pengantin baru, harus berbulan madu dan buatkan cucu lagi untuk Mama."
Rahman menghela napas pelan. "Perusahaan masih sibuk, Ma. Lagi pula, kalau kami pergi, siapa yang akan mengurus Mama dan Lina?"
"Kau ini..." Dyah mendengus. "Di rumah ada pelayan. Tidak perlu khawatirkan kami. Yang penting, kalian menikmati waktu bersama."
Hening sejenak.
Camila melirik Rahman. Pria itu tampak tidak tertarik memperpanjang pembicaraan. Maka, ia pun angkat suara.
"Tidak apa-apa, Ma," ucap Camila lembut. "Aku juga tidak ingin bulan madu sekarang."
Dyah terlihat terkejut. "Kenapa?"
Camila tersenyum. "Aku ingin membantu Mas Rahman di perusahaan."
Rahman menoleh, sedikit terkejut. Namun, ia tidak mengatakan apapun.
"Susah payah Mas Rahman memulihkan perusahaan keluarga. Aku tidak ingin hanya diam saja," lanjut Camila.
Dyah langsung mengangguk puas. "Itu baru istri yang baik. Tidak seperti seseorang yang hanya bisa berdiam diri di rumah, tidak bisa melakukan apapun selain menjadi ibu rumah tangga." Ada nada geram dalam ucapannya.
"Sudahlah, Ma. Jangan ungkit hal itu lagi," potong Rahman.
Namun, Dyah belum sepenuhnya mereda. "Mama masih kesal kalau ingat wanita tidak tahu diri itu. Sudah hidup enak di sini, tapi malah merasa tersakiti."
Camila tersenyum, lalu menggenggam tangan Dyah dengan lembut. "Semua sudah berlalu, Ma. Sekarang yang penting, ada aku di sini."
"Ya," sahut Dyah puas. "Kamu memang yang terbaik, Camila."
Suasana kembali hangat.
Rahman menatap Camila dan tersenyum tipis. Ia akhirnya mendapatkan wanita yang selama ini ia inginkan, cantik, perhatian, dan mengerti keadaan.
Namun entah mengapa, ada sesuatu yang perlahan berubah. Perasaan yang dulu membuatnya begitu yakin, kini seperti memudar, tipis, nyaris tidak terasa.
Di tempat lain, kehidupan berjalan dengan cara yang berbeda.
Di desa Morana, matahari baru saja naik, menyinari hamparan lahan yang mulai sibuk.
Mela sudah berada di lahan, memeriksa tanaman, mengatur pekerja.
"Yang ini pindahkan ke sana!"
"Airnya jangan terlalu deras!"
Aktivitas yang berjalan seperti biasa. Namun tidak sepenuhnya sama.
Darmi berdiri sambil menyilangkan tangannya, memperhatikan. Tatapannya bergantian antara dua orang.
Mela dan Dino.
Keduanya bekerja seperti biasa. Namun, ia merasa mereka lebih banyak diam.
"Yati," bisik Darmi pelan.
"Apa?"
"Menurutmu... mereka kenapa?" Darmi menunjuk dengan Mela dan Dino bergantian dengan dagunya.
Yati melirik sekilas. Lalu mengangkat bahu. "Kenapa apanya?"
"Ya, itu... " Darmi mendekat sedikit. "Aku perhatikan , beberapa hari ini mereka terlihat berbeda."
Yati memperhatikan keduanya lebih lama. "Iya juga, ya."
Biasanya, Mela dan Dino saling bicara ringan. Kadang bercanda, kadang berdebat kecil. Namun sekarang, mereka lebih banyak diam. Bukan canggung tapi, seolah menahan sesuatu.
"Aku tanya, ya," ucap Darmi tiba-tiba.
"Eh, jangan—" Yati ingin menarik lengan Darmi, namun terlambat. Wanita itu sudah berdiri di dekat Mela.
"Mel!" panggil Darmi.
Mela menoleh. "Iya?"
Darmi mendekat. "Kenapa kamu sama Dino sekarang jadi... aneh?"
Mela mengernyit. "Aneh?"
"Iya," sahut Darmi cepat. "Aku perhatikan, kalian dari tadi diam terus."
Mela melirik ke arah Dino yang kebetulan juga menoleh. Sejenak, tatapan mereka bertemu. Lalu, mereka sama-sama mengalihkan pandangan.
"Tidak ada apa-apa, mbak," jawab Mela singkat.
Darmi belum puas dengan jawaban itu. Jadi, Ia berbalik ke arah Dino.
"Kalau kamu?"
Dino mengangkat bahu. "Sama."
"Apanya yang sama?"
"Tidak ada apa-apa," jawab Dino santai.
Darmi menyipitkan mata, jelas merasa ada yang mereka sembunyikan. Namun, sebelum ia bicara lagi, Mela sudah kembali ke pekerjaannya. Begitu juga dengan Dino. Seolah ingin menghindari percakapan itu.
Namun, Darmi tidak bodoh. Ia menatap keduanya, lama.
"Ini bukan ‘tidak ada apa-apa’," gumamnya pelan. "Pasti ada yang mereka sembunyikan. Aku yakin itu."
Di sisi lain, Mela bekerja seperti biasa. Namun pikirannya, tidak sepenuhnya di sana.
Begitu juga dengan Dino. Percakapan malam itu, tentang masa lalu, tentang perasaannya, membuatnya menjadi canggung.
Namun, satu hal yang pasti, ungkapan itu mengubah sesuatu yang dulu samar, kini perlahan menjadi nyata.
Dan justru karena itu, ia tahu, Mela menjadi lebih hati-hati. Karena tidak ingin kesalahan yang sama terulang lagi.
atau ada yg lain mau mau jadi super Hiro nya mbak mela ??