NovelToon NovelToon
GARIS WAKTU YANG PATAH

GARIS WAKTU YANG PATAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Time Travel / Misteri
Popularitas:151
Nilai: 5
Nama Author: Hyouketsu no Namie

Arka selalu mengira air mata adalah tanda kelemahan—sampai dia menyadari air matanya bisa membuka pintu menuju masa lalu.

Setiap kali kesedihannya mencapai titik paling dalam, dunia di sekelilingnya luntur, dan ketika dia membuka mata lagi, dia sudah berada di hari yang berbeda—hari-hari sebelum ibunya tiada. Bagi Arka, ini adalah keajaiban yang selama ini dia doakan: kesempatan untuk mengubah segalanya, untuk membuat ibunya tetap hidup.

Tapi waktu tidak memberi tanpa mengambil.

Setiap kali Arka mengubah satu detik di masa lalu, satu orang dari masa depannya menghilang—bukan mati, tapi terhapus, seolah tak pernah ada. Sahabat yang selalu ada untuknya. Seseorang yang dia cintai. Bahkan dirinya sendiri, versi demi versi, mulai memudar dari dunia yang dia kenal.

Arka harus memilih: berhenti sekarang dan menerima kehilangan yang sudah terjadi, atau terus melangkah lebih jauh ke masa lalu—mempertaruhkan semua yang tersisa—demi satu pelukan terakhir dari ibunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyouketsu no Namie , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

YANG TERTINGGAL

Arka duduk di lantai apartemennya selama hampir satu jam, tidak bergerak, ponsel masih menyala di tangannya sampai akhirnya layar itu meredup sendiri karena tidak disentuh.

Damar.

Nama itu terus berputar di kepalanya, seperti lagu yang liriknya hilang separuh—dia tahu nadanya, tahu perasaannya, tapi kata-katanya menghilang setiap kali dia mencoba menangkapnya.

Dia ingat wajah Damar. Itu yang paling membuatnya takut—bukan karena dia lupa, tapi karena dia masih ingat, dengan sangat jelas. Wajah bulat dengan kacamata yang selalu melorot. Tawa yang terlalu kencang untuk ruangan kecil. Cara Damar selalu membawa dua bungkus makanan setiap kali main ke rumah Arka, "biar nggak laper di jalan," katanya, padahal jaraknya cuma lima menit jalan kaki.

Tapi setiap kali Arka mencoba mengingat bagaimana mereka bertemu—momen pertama, hari pertama persahabatan itu dimulai—ingatan itu terasa seperti foto yang separuh terbakar. Ada, tapi tidak lengkap. Seperti dia ingat *hasil* dari sesuatu yang tidak pernah terjadi.

Arka memutuskan untuk pergi ke tempat yang seharusnya menjadi bukti paling kuat: rumah Damar.

Dia masih ingat alamatnya—gang kecil di belakang komplek lama mereka, rumah dengan pagar besi hijau yang catnya selalu mengelupas, dan pohon mangga besar di halaman yang buahnya sering mereka curi berdua waktu kecil.

Dia naik motor, melewati jalan-jalan yang familiar tapi terasa sedikit asing—seperti déjà vu yang terbalik, di mana yang asing adalah hal-hal yang seharusnya dia kenal.

Ketika dia tiba di gang itu, rumah dengan pagar hijau memang ada di sana. Tapi pagarnya berwarna biru. Dan pohon mangganya tidak ada—digantikan oleh pohon kelapa yang lebih kecil, lebih muda, seolah ditanam baru-baru ini.

Seorang wanita paruh baya sedang menyapu halaman. Arka turun dari motor, mendekat dengan hati-hati.

"Permisi, Bu," katanya. "Maaf, ini... ini rumah keluarga Damar, ya? Damar Setiawan?"

Wanita itu menghentikan sapuannya, mengangkat wajah dengan ekspresi bingung yang tulus—bukan bingung karena lupa, tapi bingung karena nama itu benar-benar tidak punya makna apa pun baginya.

"Damar? Siapa, ya? Saya udah tinggal di sini dari saya kecil, mas. Nggak ada nama Damar di sini."

"Mungkin... keluarga sebelumnya? Yang tinggal di sini sebelum Ibu?"

Wanita itu menggeleng. "Ini rumah orang tua saya, mas. Dari saya lahir udah di sini. Mungkin mas salah alamat?"

Arka tersenyum kecil, mengucapkan terima kasih, lalu berjalan kembali ke motornya dengan kaki yang terasa seperti bukan miliknya.

Salah alamat. Itu kemungkinan yang masuk akal. Tapi Arka tahu, jauh di dalam dirinya, bahwa dia tidak salah alamat. Dia hanya... salah dunia.

Tempat kedua yang dia kunjungi adalah sekolah dasar mereka—SD Negeri 04, tempat Arka dan Damar pertama kali bertemu di kelas 2, menurut ingatan yang (mungkin) tidak pernah terjadi.

Dia tidak masuk ke dalam—hanya berdiri di depan gerbang, melihat anak-anak berseragam merah-putih berlarian di halaman, suara mereka riuh dan ceria, sama seperti dulu.

Arka mengeluarkan ponselnya, membuka aplikasi pencarian, mengetik nama lengkap Damar.

Damar Setiawan.

Hasil pencarian muncul—beberapa profil media sosial dengan nama yang sama, tapi tidak ada satu pun yang wajahnya familiar. Orang-orang asing dengan nama yang sama, hidup di kota lain, dengan wajah yang tidak pernah Arka kenal.

Dia mencoba nama lengkap dengan kombinasi lain—nama panggilan, nama orang tua Damar yang dia ingat (Pak Joko dan Bu Tati)—tapi hasilnya sama. Tidak ada jejak. Tidak ada bekas.

Seperti menggali tanah yang sudah lama ditutup, mencari sesuatu yang sebenarnya tidak pernah ditanam di sana.

Sore itu, Arka pulang ke apartemennya dengan kepala penuh pertanyaan yang tidak punya jawaban. Dia duduk di sofa, menatap dinding penuh foto pemandangan—dan untuk pertama kalinya, dia menyadari sesuatu yang ganjil.

Foto-foto itu semua diambil dari sudut yang sepi. Tidak ada orang. Tidak pernah ada orang.

Apakah ini... apakah ini selalu seperti ini? Atau apakah dulu ada foto-foto lain—foto aku dan Damar—yang sekarang sudah tidak ada?

Dia tidak bisa membedakannya. Itulah yang paling menakutkan. Realitas yang baru ini terasa benar-benar utuh, benar-benar konsisten—seperti dunia ini sudah seperti ini sejak awal, dan hanya Arka yang membawa "versi lain" di kepalanya, seperti orang yang membawa peta kota yang sudah tidak ada lagi.

Dia mengambil buku catatan lama—jurnal yang dia tulis semasa SMA, yang masih dia simpan di kotak di bawah kasur. Dia membuka halaman-halaman lama, mencari nama Damar di sana.

Halaman-halaman itu masih ada. Tulisan tangannya sendiri, dari bertahun-tahun lalu. Tapi di mana seharusnya ada cerita tentang "main ke rumah Damar" atau "berkelahi sama Damar gara-gara PR," sekarang tertulis cerita yang berbeda—cerita tentang dia menghabiskan waktu sendirian, membaca buku, atau pergi ke perpustakaan sekolah sampai sore.

Tulisan tangannya sendiri. Tapi cerita yang berbeda.

Seolah jurnal itu—seluruh sejarahnya—sudah menyesuaikan diri, menulis ulang dirinya sendiri untuk cocok dengan dunia yang baru.

Arka menutup jurnal itu dengan tangan gemetar.

Malam itu, dia tidak bisa tidur. Dia duduk di balkon, menyalakan rokok, menatap kota yang sama seperti malam sebelumnya—lampu-lampu yang memantul di aspal basah, hujan yang turun lagi, seperti tidak ada yang berubah.

Tapi semuanya sudah berubah. Ibunya hidup. Dan seseorang—Damar—membayar untuk itu, dengan cara yang paling kejam: tidak hanya kehilangan nyawa, tapi kehilangan keberadaan. Seolah dia tidak pernah lahir.

Arka mencoba memahami logikanya. Jika perubahan kecil—tujuh menit keterlambatan—bisa menghapus seseorang sepenuhnya dari dunia, lalu apa hubungan antara tujuh menit itu dan Damar?

Dia memikirkannya berulang-ulang, sampai sebuah ingatan—ingatan dari dunia yang lama, dunia sebelum perubahan—muncul perlahan, seperti foto yang baru selesai dicuci dalam cairan kimia.

Dalam dunia yang lama, ibunya meninggal pada 14 Maret. Beberapa bulan setelah itu, ayah Arka—yang hancur karena kehilangan istrinya—memutuskan untuk pindah rumah, menjual rumah lama mereka karena tidak tahan dengan kenangan. Mereka pindah ke komplek yang lebih kecil, lebih murah, di seberang kota.

Di komplek itulah Arka bertemu Damar—tetangga baru yang kebetulan seumuran, yang menjadi teman pertamanya di lingkungan yang asing.

Tapi sekarang, di dunia baru ini, ibunya hidup. Tidak ada alasan untuk ayahnya menjual rumah. Mereka tetap tinggal di rumah lama, di komplek lama—komplek yang berbeda dari komplek tempat Damar tinggal.

Arka dan Damar tidak pernah menjadi tetangga. Tidak pernah bertemu. Tidak pernah berteman.

Damar tidak menghilang karena dihapus secara ajaib dari keberadaan.

Damar menghilang karena—dalam dunia baru ini—persahabatan mereka tidak pernah punya alasan untuk terjadi.

Arka merasakan sesuatu yang dingin menjalar di sepanjang tulang belakangnya. Bukan hanya rasa takut. Tapi sesuatu yang lebih berat: pengertian.

Setiap detik yang dia ubah di masa lalu bukan hanya mengubah satu kejadian. Itu mengubah seluruh rantai kejadian yang mengikutinya—setiap pertemuan, setiap kebetulan, setiap "alasan" yang membuat dua orang berada di tempat yang sama, di waktu yang sama.

Dan dia—hanya dia—yang masih membawa ingatan dari rantai yang lama. Rantai yang sekarang sudah putus, tergantikan oleh rantai yang baru, yang tidak pernah menyertakan Damar di dalamnya.

"Aku menyelamatkan Mama," gumam Arka ke gelapnya malam, suaranya hampir tidak terdengar di antara suara hujan, "tapi dengan cara apa lagi yang nggak akan ngambil sesuatu dari orang lain?"

Tidak ada jawaban. Hanya hujan, dan lampu-lampu kota yang terus berkilau, tidak peduli dengan apa yang baru saja Arka pahami—bahwa kekuatan yang dia miliki bukanlah hadiah.

Itu adalah pertukaran. Dan dia baru memulai pembayarannya.

1
Wawan
Salam kenal untuk Arka ✍️💪
HYOUKETSU NO NAMIE: Salam kenal juga kak🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!