Seorang murid sekte luar yang dihina karena akar spiritualnya yang cacat secara tidak sengaja membangkitkan sebuah pusaka kuno di lembah terlarang. Pusaka tersebut tidak memberinya kekuatan instan, melainkan sebuah metode kultivasi purba yang memungkinkannya menyerap dan memurnikan Qi dari garis keturunan binatang buas mitologis. Untuk mencapai puncak, ia harus menempuh jalur yang penuh darah dan memburu eksistensi terkuat di langit dan bumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Izin Turun Gunung dan Hukum Rimba
Sebelum matahari bersinar terang di atas Sekte Pedang Langit, Lin Tian telah menyelesaikan persiapannya. Ia mengenakan jubah abu-abu sederhana yang biasa dipakai oleh pengembara, meninggalkan jubah sekte putih bersulam perak miliknya di dalam lemari. Di dunia luar, identitas sebagai murid sekte besar bisa menjadi tameng, namun lebih sering menjadi target empuk bagi para bandit dan kultivator liar yang mengincar kekayaan.
Di halaman, Lin Chen sedang berlatih mengayunkan pedang besi dengan ritme napas yang teratur.
"Chen'er, hentikan sebentar," panggil Lin Tian.
Lin Chen segera menyarungkan pedangnya dan menghampiri sang kakak.
"Aku akan meninggalkan sekte selama beberapa minggu," ucap Lin Tian langsung pada intinya. "Selama aku pergi, kau dilarang keluar dari Pelataran 404 kecuali untuk mengambil jatah bulanan. Aku sudah memasang beberapa perangkap benang baja di sekitar dinding halaman. Faksi Zhao baru saja kehilangan taring utamanya, mereka tidak akan berani menyerang secara terbuka dalam waktu dekat. Fokuslah menyerap sisa Batu Roh itu."
"Aku mengerti, Kakak Tian. Berhati-hatilah," jawab Lin Chen, matanya menyiratkan tekad bulat. Ia tahu dirinya belum cukup kuat untuk ikut dan hanya akan menjadi beban.
Setelah memastikan adiknya aman, Lin Tian melangkah menuju Balai Ekspedisi.
Bangunan ini merupakan salah satu tempat paling sibuk di Puncak Luar. Ratusan murid berlalu-lalang mencari misi sekte untuk ditukarkan dengan poin kontribusi atau sekadar mencari alasan resmi untuk turun gunung. Begitu Lin Tian melangkah masuk, suasana di sekitarnya mendadak canggung.
Bisik-bisik langsung terdengar. Tatapan mata yang bercampur antara kekaguman, ketakutan, dan rasa ingin tahu tertuju padanya. Kabar tentang monster tingkat tiga yang menghancurkan Zhao Kuang dengan satu pukulan telah menyebar luas. Banyak murid luar tingkat menengah yang secara refleks memberi jalan saat Lin Tian melintas.
Lin Tian mengabaikan mereka. Matanya menyapu papan pengumuman raksasa di tengah balai. Ia mencari misi yang mengarah ke wilayah utara.
Pilihannya jatuh pada sebuah perkamen kulit berwarna kuning kusam: [Misi Tingkat Menengah: Mengumpulkan 10 Inti Beruang Punggung Besi di pinggiran Pegunungan Darah Besi. Imbalan: 200 Poin Kontribusi].
Lin Tian mencabut perkamen itu dan membawanya ke meja penjaga. Seorang diaken paruh baya dengan aura tingkat tujuh menatap perkamen itu, lalu menatap Lin Tian dengan dahi berkerut.
"Lin Tian, aku tahu kau memiliki kekuatan bertarung yang jauh melampaui tingkatmu," ucap diaken itu sambil mengetukkan jarinya ke meja. "Tapi Pegunungan Darah Besi bukanlah tempat untuk anak-anak sekte yang baru mekar. Itu adalah zona tanpa hukum. Di sana, binatang buas adalah bahaya kedua; bahaya pertamanya adalah manusia. Kultivator liar, tentara bayaran, dan buronan dari berbagai kerajaan berkumpul di sana. Misi ini setidaknya membutuhkan tim berisi tiga orang tingkat lima."
"Saya lebih suka bergerak sendiri, Diaken," jawab Lin Tian datar, menyodorkan plakat identitasnya tanpa ragu.
Diaken itu menghela napas, menyadari tatapan pemuda di depannya sama kerasnya dengan batu karang. Ia menstempel plakat Lin Tian. "Terserah kau. Misi ini memberimu izin keluar dari sekte selama tiga puluh hari. Jika kau tidak kembali setelah batas waktu, kau akan dianggap tewas."
"Terima kasih."
Lin Tian mengambil kembali plakatnya dan langsung berbalik pergi.
Tiga hari kemudian.
Ratusan mil di utara Sekte Pedang Langit, lanskap hijau perlahan berubah menjadi tanah berbatu kemerahan. Pegunungan Darah Besi menjulang tinggi di kejauhan, puncaknya diselimuti awan kelabu gelap yang memancarkan tekanan alam yang berat.
Di kaki pegunungan tersebut, terdapat sebuah pemukiman kumuh yang cukup besar bernama Kota Perbatasan Tebing. Ini bukan kota yang bernaung di bawah hukum kerajaan mana pun, melainkan titik kumpul bagi para pemburu harta karun dan kultivator liar sebelum memasuki gunung.
Jalanan kota itu dipenuhi lumpur, bercak darah kering, dan bau alkohol murahan. Tidak ada tata krama di sini. Orang-orang berlalu-lalang membawa senjata tajam yang tak disarungkan, dengan bekas luka mengerikan melintang di wajah atau tubuh mereka.
Lin Tian berjalan menembus keramaian dengan langkah santai. Jubah abu-abunya menutupi sebagian besar tubuhnya, namun wajahnya yang terlalu bersih dan usianya yang masih muda membuatnya terlihat sangat mencolok di tempat kasar seperti ini. Layaknya seekor domba putih yang berjalan masuk ke sarang serigala.
Sebuah seringai tipis muncul di wajah seorang pria berwajah bopeng yang duduk di depan kedai arak. Pria itu menyikut rekannya yang memegang kapak besar. Mereka berdua, kultivator liar tingkat empat, saling bertukar pandang penuh arti, lalu bangkit dan mulai mengikuti Lin Tian dari kejauhan.
Lin Tian terus berjalan menuju sudut kota yang sepi, mengarah ke gerbang masuk Hutan Darah Besi. Pendengarannya yang dipertajam oleh energi naga telah mendeteksi langkah kaki kedua pria itu sejak sepuluh menit yang lalu.
Tepat ketika Lin Tian memasuki sebuah lorong tebing sempit di luar kota, dua sosok melompat dan menghalangi jalannya, sementara satu sosok lagi muncul dari belakang, menutup jalan keluarnya. Ternyata mereka bertiga.
"Hei, Tuan Muda," sapa pria berbopeng dengan senyum menjijikkan, memutar belati beracun di tangannya. "Kelihatannya kau tersesat dari rumah hangatmu. Udara di gunung ini tidak baik untuk kulit halus sepertimu. Bagaimana kalau kau serahkan cincin atau kantong penyimpananmu, dan kami akan berbaik hati menunjukkan jalan pulang?"
Pria pembawa kapak di belakang Lin Tian tertawa parau. "Jangan banyak omong. Potong saja tangannya, ambil barangnya, lalu buang mayatnya ke jurang. Kita tidak butuh masalah dari sekte besar."
Lin Tian menghentikan langkahnya. Angin lembah bertiup, menyingkap tudung jubahnya dan memperlihatkan wajahnya yang setenang air telaga.
Di dalam sekte, aturan mengikat tangannya untuk tidak membunuh secara sembarangan kecuali di Arena Hidup Mati. Namun di sini, di bawah langit bebas ini, hukum yang berlaku adalah hukum rimba. Makhluk terkuat memakan yang lemah. Dan di dalam pembuluh darahnya, mengalir naluri dari makhluk purba paling buas yang pernah ada.
"Kalian kebetulan sekali datang," ucap Lin Tian, suaranya pelan dan mengalun sangat dingin. "Aku baru saja membutuhkan informasi tentang wilayah ini."
Ketiga bandit itu tertegun sesaat sebelum meledak dalam tawa meremehkan. Seorang bocah yang auranya hanya terlihat di tingkat tiga berani mengancam tiga kultivator liar tingkat empat?
"Bocah sombong! Mati kau!"
Bandit dengan kapak di belakang Lin Tian kehilangan kesabarannya. Ia mengayunkan kapak besarnya yang dilapisi Qi berwarna merah kotor langsung ke leher belakang Lin Tian. Serangan yang kejam dan mematikan.
Tanpa menoleh, Lin Tian mengambil setengah langkah ke samping. Kapak besar itu meleset dari sasarannya, menghantam tanah berbatu hingga memercikkan bunga api.
Sebelum si pembawa kapak bisa menarik senjatanya kembali, tangan kanan Lin Tian melesat ke belakang layaknya kilat, mencengkeram tenggorokan pria bertubuh besar itu.
BAM!
Hanya dengan kekuatan murni otot tanpa menggunakan setetes Qi pun, Lin Tian mengangkat pria seberat seratus kilogram itu ke udara dan membantingnya ke dinding tebing berbatu di sebelahnya dengan tenaga yang mengerikan.
Suara retakan tengkorak terdengar nyaring. Bandit berkapak itu tewas seketika bahkan sebelum sempat berteriak, tubuhnya merosot ke tanah meninggalkan jejak noda merah di dinding tebing.
Tawa pria berbopeng dan rekannya terhenti seketika seolah leher mereka baru saja dicekik tak kasatmata. Mata mereka terbelalak menatap mayat rekan mereka, lalu menatap Lin Tian dengan kengerian yang perlahan merayap naik ke ubun-ubun.
Lin Tian berbalik. Ia tidak mengusap debu di tangannya, matanya menatap dua bandit tersisa layaknya naga yang sedang menunduk menatap sepasang tikus got.
"Sekarang," kata Lin Tian, melangkah maju dengan tekanan aura yang membuat udara di sekitarnya terasa seberat timah, "mari kita bicara tentang Bunga Teratai Api Berdarah."