NovelToon NovelToon
KATAKAN CINTA

KATAKAN CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cintapertama
Popularitas:289
Nilai: 5
Nama Author: Raden Saleh

Orang bilang, cinta masa SMA itu, adalah cinta monyet? Aku rasa iya. Tapi ini berbeda, sejak mengenal gadis cantik bernama Cinta Alisya, disitulah aku sadar, kalau ini lebih dari sekedar cinta monyet. Aku Rangga 18th. Aku akan berjuang demi Cinta, untuk sebuah ungkapan... KATAKAN CINTA.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raden Saleh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Garis Tegas

Keremangan lampu bengkel Mang Ojak mendadak terasa begitu pekat saat kelopak mata Rangga terbuka sempurna. Kesadaran cowok itu kembali pulih dalam hitungan detik. Hal pertama yang dia tangkap oleh indra penglihatannya adalah sosok Tasya yang sedang duduk bersimpuh di lantai semen tepat di samping wajahnya, dengan air mata yang masih basah di pipi dan jemari tangan yang tengah menggenggam erat ujung jarinya.

Tasya tersentak hebat. Rasa panik langsung menyerang seluruh tubuhnya saat menyadari Rangga telah terbangun. Dengan gerakan refleks yang terburu-buru, Tasya menarik kembali tangannya, lalu segera bangkit berdiri sambil memalingkan wajah, menghapus sisa air matanya secara kasar dengan punggung tangan.

"Lu... lu udah bangun, Ngga? Gue cuma mau selimutin lu tadi, takut lu masuk angin," ucap Tasya dengan suara yang agak bergetar, mencoba mengembalikan nada bicaranya yang ketus dan cuek seperti biasanya demi menutupi rasa malu yang luar biasa.

Rangga tidak langsung menjawab. Dia perlahan mengubah posisinya menjadi duduk di atas bangku kayu panjang tersebut. Jaket jins Bina Karya yang dijadikan selimut oleh Tasya merosot ke pangkuannya. Rangga menatap Tasya yang masih berdiri membelakanginya. Dia bukan cowok bodoh yang tidak peka. Tindakan Tasya selama beberapa bulan terakhir ini, dan tangisan tulus gadis itu malam ini, sudah lebih dari cukup untuk menjelaskan semuanya.

Rangga berdiri, melangkah mendekat hingga berdiri tepat di belakang Tasya. "Sya," panggil Rangga lembut.

Tasya menarik napas panjang sebelum akhirnya berbalik, mencoba menatap mata Rangga dengan sisa-sisa keberaniannya. "Apaan?"

"Makasih ya buat semuanya," ucap Rangga dengan pandangan mata yang sangat tulus. "Makasih udah selalu ada di sini, nemenin gue, omelin gue pas gue males, bahkan bawa bekal buat gue sama Aldi. Lu cewek yang luar biasa baik, Sya. Cowok mana pun yang dapetin lu nanti, dia bakal jadi cowok paling beruntung di dunia."

Kalimat Rangga terdengar sangat indah, namun Tasya tahu, ada kata "tapi" yang akan segera menyusul setelah ini. Dada Tasya kembali berdenyut perih.

Rangga menatap lurus ke dalam manik mata Tasya, memberikan sebuah garis tegas yang jujur karena dia terlalu menghormati Tasya untuk memberinya harapan palsu. "Tapi lu tahu sendiri kan, Sya? Hati gue... masih tertinggal di tempat yang sama. Masih dipegang sama orang yang sama di seberang sana."

Tasya terdiam beberapa saat, menatap Rangga dengan senyuman getir yang sangat dipaksakan. Air matanya kembali menggenang, namun kali ini ada rasa lega yang menyertai kepatikan hatinya. Tasya menghargai kejujuran Rangga. Rangga tidak memanfaatkan kerapuhannya, tidak juga mempermainkan perasaannya.

"Gue tahu kok, Ngga," bisik Tasya, suaranya terdengar pasrah namun tegar. "Lu gak usah ngerasa gak enak sama gue. Gue cuma pengen lu tahu perasaan gue, itu aja udah cukup. Sekarang, status kita tetep sahabat karib kan? Awas aja kalau lu jadi canggung sama gue."

Rangga tersenyum, sebuah senyuman hangat yang mencairkan seluruh ketegangan di antara mereka. Dia mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Tasya sebagai tanda kesepakatan persahabatan mereka yang baru. "Selamanya kita tetap sahabat, Sya."

Waktu kemudian melesat pergi seperti putaran roda yang tidak pernah berhenti. Hari berganti bulan, dan bulan berganti menjadi tahun dengan sangat cepat. Masa-masa putih-abu-abu penuh kenakalan remaja, aksi tawuran, dan nongkrong di warung Mak Iyoh akhirnya resmi berakhir saat bel kelulusan SMA Bina Karya berbunyi untuk terakhir kalinya. Dunia nyata yang keras kini telah membentang di hadapan mereka.

Dua tahun telah berlalu sejak malam perpisahan tragis di bandara itu.

Rangga dan Aldi memilih untuk tidak melanjutkan kuliah karena keterbatasan biaya. Namun, mereka tidak menjadi pengangguran jalanan. Berbekal ilmu mekanik yang mereka serap habis-habisan dari Mang Ojak, ditambah keberanian nekat khas anak Bina Karya, mereka berdua mendirikan sebuah bengkel motor kecil sendiri di pinggir jalan raya yang mereka beri nama "Bina Karya Motor".

Siang itu, suasana bengkel sangat ramai oleh deru knalpot dan kepulan asap tipis. Rangga yang kini tampak jauh lebih dewasa, dengan tubuh yang semakin tegap dan rambut yang dipotong rapi, sedang sibuk mengotak-atik karburator sebuah motor sport. Di sudut meja kerjanya yang penuh dengan kunci pas, diletakkan sebuah celengan kaleng besar berkarat. Di permukaan kaleng itu, tertera tulisan tangan Rangga yang menggunakan spidol hitam permanen: *London*. Setiap lembar uang ribuan sisa keuntungan bengkel selalu dia masukkan ke sana dengan konsisten.

Sebuah mobil sedan putih bergaya anak kuliah berhenti di depan bengkel. Tasya turun dari mobil dengan pakaian modis. Dia sekarang sudah berstatus sebagai mahasiswi akuntansi di salah satu kampus swasta ternama. Meskipun demikian, dia tidak pernah absen mengunjungi bengkel dua sahabatnya itu seminggu sekali untuk membantu memeriksa pembukuan keuangan mereka.

"Ngga, Aldi, liat deh. Gue bawa sesuatu buat kalian," ucap Tasya sambil meletakkan sebuah majalah bisnis internasional terbaru di atas meja kerja yang agak kotor.

Rangga menyeka keringat di dahinya dengan handuk kecil, lalu mendekat bersama Aldi. Tasya membuka halaman tengah majalah tersebut, menampilkan sebuah artikel tentang kesuksesan ekspansi bisnis properti milik Tuan Kresna di daratan Eropa.

Namun, bukan profil Tuan Kresna yang membuat jantung Rangga mendadak berdegup kencang setelah dua tahun lamanya, melainkan sebuah foto dokumentasi acara gala dinner di kota London yang terlampir di sana.

Di dalam foto itu, berdirilah Cinta Alisya. Gadis itu kini telah tumbuh menjadi seorang wanita muda yang sangat anggun dan luar biasa cantik dengan gaun malam yang mewah. Namun, senyuman di wajah Cinta dalam foto itu tetap terlihat hambar dan kosong, sama seperti dua tahun lalu. Di sebelah Cinta, berdiri Nicholas yang tampak gagah dengan setelan jas mahal, setia mendampingi sebagai calon tunangan yang direkayasa oleh bisnis orang tua mereka.

"Dia makin cantik ya, Ngga," lirih Tasya, melirik reaksi Rangga yang masih menatap foto Cinta tanpa berkedip.

"Gila, si Nicholas makin belagu aja mukanya di foto," umpat Aldi kesal melihat musuh lamanya.

Rangga perlahan menyentuh permukaan kertas majalah yang menampilkan wajah Cinta.

Kerinduan yang selama dua tahun ini dia kunci rapat di dalam dadanya mendadak bergejolak hebat, membakar kembali seluruh tekad dan semangat mudanya. "Lu tunggu gue, Cin. Sebentar lagi," bisik Rangga dalam hati.

Sore harinya, saat matahari mulai tenggelam di ufuk barat dan kesibukan bengkel mulai mereda, sebuah mobil mewah berwarna hitam metalik tiba-tiba berhenti tepat di area depan "Bina Karya Motor". Seorang pria paruh baya berpakaian jas rapi, lengkap dengan kacamata dan sebuah map dokumen kulit di tangannya, turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam bengkel dengan sopan.

"Selamat sore. Apakah benar ini dengan Saudara Rangga?" tanya pria itu ramah.

Rangga yang sedang membersihkan tangannya dari sisa oli langsung mengangguk. "Iya, benar, Pak. Saya sendiri. Ada yang bisa saya bantu?"

Pria itu tersenyum, lalu membuka map kulitnya dan mengeluarkan selembar surat resmi berlogo sebuah perusahaan manufaktur otomotif raksasa asal Jepang yang memiliki cabang besar di Eropa.

"Saya adalah perwakilan panitia dari ajang *International Mechanic Innovation* yang diadakan secara online bulan lalu. Kami telah memeriksa video presentasi dan hasil modifikasi sistem pembakaran mesin motor yang Anda kirimkan. Tim juri dari Jepang menyatakan bahwa karya modifikasi Anda adalah yang terbaik dan paling jenius untuk kategori mekanik muda tahun ini," jelas pria itu panjang lebar.

Aldi dan Tasya yang mendengar hal itu langsung menghentikan aktivitas mereka, berjalan mendekat dengan mata melotot tidak percaya.

Pria itu menyerahkan surat resmi tersebut beserta sebuah amplop tebal ke atas telapak tangan Rangga. "Selamat, Saudara Rangga. Anda berhak mendapatkan penghargaan utama berupa beasiswa pelatihan kerja tingkat internasional dan kontrak kerja eksklusif di pusat riset otomotif kami di Eropa selama satu tahun penuh. Seluruh biaya akomodasi dan tempat tinggal akan ditanggung sepenuhnya oleh perusahaan."

Tangan Rangga bergetar hebat saat menerima surat tersebut. Matanya perlahan membaca baris demi baris tulisan resmi di atas kertas putih itu, hingga akhirnya pandangannya terkunci pada satu baris kalimat yang menerangkan lokasi kota tempat pusat riset dan pelatihannya akan dilaksanakan: **London, Inggris.**

Napas Rangga mendadak memburu, detak jantungnya berdentum sangat keras seperti genderang perang. Jarak belasan ribu kilometer, samudera yang luas, dan tembok kasta tinggi yang selama dua tahun ini memisahkan dunianya dengan dunia Cinta Alisya, tiba-tiba runtuh dan terpangkas habis hanya dalam selembar surat resmi di tangannya.

"London, Pak? Saya ditempatkan di London?" tanya Rangga memastikan, suaranya bergetar menahan rasa tidak percaya yang teramat sangat.

"Benar, Saudara Rangga. Keberangkatan Anda dijadwalkan bulan depan," jawab pria itu dengan anggukan mantap.

Aldi langsung berteriak histeris, melompat dan memeluk pundak sahabatnya itu dengan penuh kegembiraan. "Gila lu, Ngga! Lu beneran bakal pergi ke London! Lu bakal jemput Cinta!"

Di sebelah mereka, Tasya berdiri mematung. Air mata kebahagiaan sekaligus kesedihan bercampur menjadi satu di sudut kelopak matanya. Dia bahagia karena impian sahabatnya tercapai, namun dia juga tahu bahwa momen ini adalah tanda bahwa Rangga akan benar-benar pergi menjauh dari jangkauannya untuk menjemput cinta sejatinya.

Rangga mendongak, menatap ke arah langit sore Jakarta yang mulai dihiasi lampu kota dengan tatapan mata yang menyala tajam. Pintu menara gading yang selama ini terkunci rapat kini telah terbuka lebar oleh hasil kerja keras dan kejeniusannya sendiri. Babak baru perjuangan ksatria jalanan di tanah Britania Raya resmi dimulai.

1
Kam1la
kabur, Rangga!
Kam1la
berjiwa besar. si Tasya ya...
Kam1la
keren aksinya Cinta👍😍
Kam1la
👍👍
Kam1la
aksi penyelamatan yang keren...
Kam1la
nah, kan ada pernyataan maaf
Kam1la
keren...💪 tetap semangat Rangga, meski diremehkan
Kam1la
Aldi, ada selera humor juga
Kam1la: siap...👍
total 2 replies
Kam1la
seru....! Pernikahan 2 Rahasia, hadir kak....
Lalat Mu
Ceritanya seru kak, semangat nulisnya ya! /Good/
Raden Saleh: Terimakasih atas partisipasinya, semoga terhibur, dan aku semangat lagi menulis, insya Allah lebih seru lagi 😍
total 1 replies
Kim Borahae
ceritanya bagus. semangat ya 💪

btw saya pun baru mula menulis novel kalau ada masa boleh tinggalkan komen.. Tinggal tekan profile saja, terima kasih /Hey//Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!