Kaito Nakamura, pemuda keturunan penjaga warisan energi kuno dari pegunungan Jepang, datang ke Malang, Indonesia untuk memulai hidup baru sebagai orang biasa. Ia menyembunyikan kekuatan luar biasa yang terakumulasi selama lebih dari seribu tahun, memilih bekerja sebagai satpam di Gedung Surya Pratama agar tetap tenang dan jauh dari sorotan.
Namun kedamaiannya terganggu saat ia bertemu Anindya Prameswari, pewaris perusahaan tempat ia bekerja, serta kedatangan Rafael Wijaya—tunangan Anindya yang angkuh dan berkuasa. Saat terlibat dalam perselisihan, rahasia kekuatan Kaito perlahan mulai tercium, menjadikannya sasaran kebencian dan rencana jahat Rafael.
Di tengah tugas menjaga keamanan, menyembunyikan jati diri, dan tumbuhnya perasaan pada Anindya, Kaito harus memilih: tetap hidup dalam bayang-bayang, atau mengeluarkan kekuatan seribu tahun itu untuk melindungi orang-orang yang ia sayangi—meski berarti membongkar semua rahasianya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aldiaza Ahyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 1
Langkah Pertama di Tanah Rantau
Udara di luar ruang kedatangan Bandara Internasional Juanda terasa hangat dan lembap, sangat berbeda dengan udara dingin dan segar yang biasa Kaito Nakamura hirup di pegunungan Shikoku, Jepang. Jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul setengah enam sore, dan matahari mulai condong ke barat, mewarnai langit dengan semburat jingga kemerahan yang indah.
Kaito berdiri tegak di pinggir trotoar, memegang gagang tas ransel besar berwarna hitam di satu tangan dan koper ukuran sedang di tangan lainnya. Pakaiannya sederhana: kemeja lengan panjang berwarna biru dongker yang dibuka kancing paling atas, celana kain panjang berwarna krem, dan sepatu kulit yang sudah terawat rapi. Wajahnya yang tampan dengan rahang tegas dan mata yang tajam namun tenang membuatnya terlihat mencolok, meski ia berusaha tampil sesederhana mungkin.
Di dalam hatinya, ada perasaan campur aduk. Sedikit gugup, namun lebih banyak rasa lega dan harapan. Ia telah meninggalkan desa kelahirannya, meninggalkan makam leluhurnya, dan melepaskan segala ikatan yang selama ini mengikatnya. Tujuannya datang ke negeri ini sederhana: hidup sebagai orang biasa, menyembunyikan kekuatan yang dibawanya selama ribuan tahun, dan menguji apakah ia bisa menjalani hidup tanpa bergantung pada kekuatan luar biasa itu.
“Jadi… ini Indonesia,” gumamnya pelan, suaranya rendah namun tegas. Ia sudah mempelajari bahasa Indonesia selama hampir dua tahun sebelum berangkat, membaca buku, mendengarkan rekaman, dan berlatih bicara sendiri agar tidak canggung saat tiba. Meski begitu, mendengar suara-suara di sekelilingnya yang berbicara dengan nada yang lantang dan cepat membuatnya sedikit tertegun.
“Taksi, Mas? Mau ke mana? Ada taksi aman!”
“Antar ke mana saja, Pak! Murah, terpercaya!”
Beberapa sopir taksi dan pengemudi kendaraan lain segera mendekat, menawarkan jasa mereka dengan senyum lebar dan semangat yang membara. Kaito yang terbiasa dengan ketenangan dan kesopanan yang lebih tertahan di Jepang, sedikit terkejut melihat keramahan yang begitu terbuka ini. Ia mengangkat tangan sedikit, tersenyum tipis — senyum yang jarang ia tunjukkan.
“Saya mau ke Malang,” jawabnya dengan suara yang cukup jelas, meski logat Jepangnya masih terasa sedikit kental.
Salah satu sopir taksi paruh baya dengan kulit kecokelatan dan rambut yang mulai memutih di pelipisnya segera melangkah mendekat, matanya berbinar mendengar jawaban itu.
“Malang? Bagus, bagus! Kota sejuk, udaranya enak. Ayo, saya antar. Harganya pas, tidak mahal. Namaku Pak Joko, percaya saja!”
Kaito mengangguk setuju. Ia tidak punya banyak pilihan, dan sikap sopir itu terlihat tulus. Setelah memasukkan barang bawaannya ke bagasi mobil, ia duduk di kursi belakang, menghela napas panjang seolah melepaskan beban berat yang dibawanya selama ini.
Perjalanan dari Surabaya ke Malang memakan waktu sekitar dua jam. Sepanjang jalan, Kaito menatap ke luar jendela, mengamati pemandangan yang baru baginya. Melihat sawah hijau membentang luas, deretan pohon kelapa, rumah-rumah dengan gaya arsitektur yang berbeda, dan lalu lintas yang terasa lebih ramai namun tetap berjalan dengan ritme tersendiri.
Pak Joko yang sejak tadi ingin mengobrol, akhirnya membuka suara sambil sesekali melirik ke kaca spion.
“Mas orang asing ya? Dari mana asalnya? Bahasa Indonesianya lumayan bagus, lho!”
Kaito tersenyum tipis. “Terima kasih. Saya dari Jepang. Sedang mencoba berbicara dengan benar.”
“Wah, Jepang! Negeri yang maju dan disiplin itu. Selamat datang di Indonesia, selamat datang di Malang nanti!” seru Pak Joko antusias. “Mau tinggal di situ untuk berlibur atau bekerja?”
“Bekerja,” jawab Kaito singkat. “Mencari kehidupan baru.”
“Bagus sekali! Di sini orangnya ramah-ramah, asalkan kita baik hati juga pasti akan diterima. Malang itu kota kecil tapi nyaman, biaya hidupnya tidak terlalu mahal dibanding kota besar lain. Cocok untuk orang yang ingin hidup tenang.”
Kata-kata Pak Joko menenangkan hati Kaito. Ia merasa telah membuat keputusan yang tepat memilih kota itu. Selama sisa perjalanan, Pak Joko bahkan dengan sukarela menceritakan banyak hal: makanan khas, tempat wisata, kebiasaan warga, hingga sedikit seluk-beluk kehidupan di kota itu. Kaito mendengarkan dengan saksama, menyimpan setiap informasi itu baik-baik dalam ingatannya.
Setelah dua jam lebih berkendara, mobil memasuki wilayah kota Malang. Benar saja, udara yang masuk ke dalam mobil terasa lebih sejuk dan segar, persis seperti yang digambarkan. Jalanan lebih rapi, dan suasana kota terasa lebih tenang namun tetap hidup.
Mereka berhenti di sebuah perumahan sederhana namun bersih dan asri, persis alamat yang sudah Kaito pesan sebelumnya melalui kontak dari agen perumahan. Sebuah rumah kontrakan berukuran tidak terlalu besar, cukup untuk satu orang, dengan halaman kecil yang ditumbuhi rumput hijau dan beberapa tanaman bunga di pinggirnya.
Setelah membayar ongkos perjalanan dan berpamitan dengan Pak Joko yang berpesan “semoga sukses di sini”, Kaito akhirnya berdiri sendirian di depan rumah barunya. Ia memegang kunci di tangannya, merasakan tekstur logamnya yang dingin.
“Ini awalnya,” bisiknya pada dirinya sendiri. “Mulai hari ini, jadilah Kaito, orang biasa saja. Jangan gunakan kekuatan itu kecuali jika nyawa orang lain terancam.”
Ia membuka pintu dan melangkah masuk. Rumah itu masih kosong, hanya ada perabotan dasar: tempat tidur, lemari, meja, dan kursi. Tapi bagi Kaito, itu sudah lebih dari cukup. Ia meletakkan barang bawaannya, lalu berjalan ke teras belakang, menatap langit malam yang mulai gelap dan dihiasi bintang-bintang yang terlihat lebih jelas dibandingkan di kota besar.
Hari-hari Awal yang Kacau tapi Lucu
Seminggu pertama di Malang adalah masa penyesuaian yang cukup menguji kesabaran Kaito, sekaligus mengundang tawa. Meskipun ia sudah belajar bahasa, bahasa sehari-hari dan logat lokal sering kali membuatnya bingung setengah mati.
Suatu pagi, ia berjalan keluar untuk mencari sarapan. Di ujung jalan, ada sebuah warung makan sederhana yang dipenuhi asap dan bau harum masakan yang menggugah selera. Pemiliknya adalah seorang wanita paruh baya yang ramah, dipanggil Bu Siti.
“Mau makan apa, Mas?” tanya Bu Siti sambil tersenyum lebar.
Kaito melihat tulisan di papan nama menu, tapi banyak istilah yang belum ia pahami sepenuhnya. Ia menunjuk ke salah satu gambar.
“Saya mau yang ini. Nasi goreng… dan teh manis.”
“Baik, nasi goreng satu, teh manisnya hangat atau dingin?”
Kaito mengerutkan dahi, bingung. “Teh… manis. Bukan panas?”
Bu Siti tertawa mendengar jawabannya. “Panas itu artinya hangat, Mas! Kalau dingin itu sudah diberi es batu. Mau yang mana?”
“Ooooh… paham. Hangat saja, terima kasih.”
Setelah pesanan datang, Kaito mulai menyantapnya. Rasanya sangat lezat, pedasnya pas, bumbunya meresap sempurna. Ia merasa baru pertama kali merasakan makanan seenak ini. Tanpa sadar, ia menyantapnya dengan lahap, sampai habis tak tersisa sedikit pun.
Bu Siti yang memperhatikan dari balik meja tertawa geli. “Wah, lahap sekali makannya. Masuk ke perut ya? Biasanya tamu dari luar negeri takut pedas, tapi kamu malah habis sampai bersih.”
Kaito tersipu malu, mengusap sudut bibirnya. “Sangat enak. Rasanya luar biasa. Terima kasih, Bu.”
Namun, kejadian lucu belum berhenti di situ. Saat ia membayar, ia mengambil uang kertas yang ia bawa. Karena baru saja menukar uang, ia masih bingung membedakan pecahannya. Ia menyerahkan lembaran terbesar yang ia pegang, kira-kira pas.
“Ini uangnya,” katanya yakin.
Bu Siti menatap uang itu lalu menatap Kaito dengan mata terbelalak, lalu tertawa terbahak-bahak sampai perutnya terasa sakit. Kaito tertegun, bingung bukan kepalang.
“Ada apa? Salah?” tanyanya cemas.
“Salah besar, Mas! Ini uang seratus ribu, padahal makanannya cuma dua puluh ribu saja! Kalau begini, kamu bisa bangkrut dalam sehari kalau tidak hati-hati!”
Wajah Kaito memerah padam karena malu. Ia juga ikut tertawa kecil, menyadari kebodohannya sendiri. “Maaf… maafkan saya. Masih belajar membedakan uangnya.”
Sejak hari itu, Bu Siti selalu meluangkan waktu sebentar untuk mengajari Kaito hal-hal kecil, mulai dari nama makanan, cara menghitung uang, hingga kata-kata yang sering dipakai dalam percakapan sehari-hari. Kaito pun sering menjadi bahan candaan halus di warung itu, tapi ia tidak merasa tersinggung — justru merasa hangat diterima seperti itu.
Rekan baru pertamanya datang tidak lama kemudian. Saat ia mendaftar sebagai calon satpam di kantor keamanan, ia bertemu dengan Budi Santoso, seorang pemuda ceria, berbadan agak gemuk, dan mulutnya tidak pernah berhenti berbicara. Begitu tahu Kaito orang asing, Budi langsung menganggapnya sebagai teman baru yang harus diawasi dan dibimbing.
“Wah, namamu Kaito ya? Panggil saja Kaito, tidak usah pakai sebutan resmi. Di sini santai saja,” kata Budi sambil menepuk punggung Kaito dengan cukup keras — tanpa sadar ia hampir membuat Kaito melangkah mundur setengah meter, padahal tenaga tepukan itu tidak seberapa dibandingkan kekuatan yang dimilikinya.
“Terima kasih, Budi. Saya senang bisa kenal denganmu,” jawab Kaito sambil menahan senyum, merasa terhibur dengan sikap temannya yang sangat terbuka itu.
Budi sering mengajak Kaito pulang bersama, mengajari dia jalan pintas, mengajari cara naik angkutan umum, dan kadang mengajaknya makan siang bersama. Di situlah sering muncul momen kocak. Suatu kali saat makan bakso, Budi menertawakan cara Kaito memegang sendok dan garpu yang terlihat sangat kaku dan teratur.
“Kaito, santai saja makannya! Jangan seperti sedang mengikuti upacara kenegaraan! Ini makanan enak, dimakan dengan nikmat saja!” kata Budi sambil tertawa terbahak-bahak.
Kaito menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu mencoba mengikuti gaya Budi — sedikit lebih santai, meski tetap tidak bisa seleluasa temannya itu. “Di tempat saya, diajarkan untuk makan dengan tertib dan sopan. Jadi kebiasaan sudah terbawa.”
“Nah, di sini sopan itu tetap harus, tapi tidak perlu kaku sampai kaku tulang! Nanti kalau sudah terbiasa, kamu pasti bisa, percaya saja!”
Momen-momen sederhana seperti itu membuat hari-hari Kaito tidak lagi terasa sepi. Perlahan namun pasti, ia mulai merasa bahwa tempat ini bukan lagi sekadar tempat merantau, tapi mulai terasa seperti rumah.
Pertemuan yang Membuat Jantung Berdebar
Seminggu setelah diterima bekerja sebagai satpam percobaan di Gedung Surya Pratama, Kaito mulai menjalani rutinitasnya. Gedung itu cukup besar, terdiri dari dua belas lantai, berisi kantor berbagai perusahaan dan juga beberapa unit apartemen mewah.
Kaito ditugaskan berjaga di pintu masuk utama, mengawasi kendaraan yang keluar masuk dan mencatat tamu yang datang. Bersama Pak Suryo, kepala satpam yang tegas namun baik hati, ia belajar tugas-tugasnya dengan teliti.
Suatu sore, suasana di lobi sedang agak sibuk. Kaito sedang memeriksa daftar catatan saat suara langkah kaki halus namun tegas terdengar mendekat. Ia mengangkat wajah, dan untuk sesaat, napasnya terasa terhenti sejenak.
Seorang wanita muda berjalan masuk dengan anggun. Usianya sekitar dua puluh tujuh tahun, mengenakan kemeja putih rapi dipadukan dengan rok kain berwarna biru tua, dan sepatu hak rendah yang membuatnya terlihat sopan namun tetap percaya diri. Wajahnya lembut dengan kulit bersih, mata yang berbinar cerdas, dan senyum tipis yang terukir di bibirnya. Rambutnya yang hitam panjang diikat rapi ke belakang, memancarkan kesan elegan namun tidak sombong.
Itu adalah Anindya Prameswari, atau yang sering dipanggil Anin — pewaris sekaligus direktur muda perusahaan pemilik gedung itu.
Kaito baru saja mendengar namanya dari Pak Suryo, tapi belum pernah bertemu secara langsung. Ia segera berdiri tegak, menundukkan kepala sedikit memberi hormat sesuai aturan yang diajarkan.
“Selamat sore, Nona,” ucapnya dengan nada hormat.
Anin melangkah mendekat, menatap wajah Kaito dengan pandangan yang ramah namun menyelidik. Ia tahu baru ada satpam baru, namun tidak menyangka orangnya terlihat seperti ini — berbeda dari kebanyakan orang yang biasa ia temui.
“Selamat sore. Kamu satpam baru ya? Nama saya Anindya, panggil saja Anin. Tidak perlu terlalu kaku, cukup santai saja asalkan tetap disiplin,” katanya dengan suara lembut namun jelas.
Kaito mengangguk. “Baik, Bu… eh, maksud saya, Mbak Anin. Nama saya Kaito Nakamura. Senang bisa bekerja di sini.”
Logat Jepangnya yang sedikit terdengar membuat Anin mengangkat alisnya sedikit, lalu tersenyum makin lebar. “Kaito? Asal dari mana?”
“Dari Jepang, Mbak. Baru saja pindah ke Malang beberapa hari yang lalu.”
“Wah, selamat datang di Indonesia. Semoga betah bekerja dan tinggal di sini. Kalau ada hal yang tidak dimengerti, jangan ragu bertanya pada Pak Suryo atau siapa saja ya.”
“Terima kasih banyak, Mbak. Saya akan berusaha sebaik mungkin,” jawab Kaito, dan entah kenapa jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya — sesuatu yang tidak pernah ia rasakan selama hidupnya, bahkan saat menghadapi ujian terberat di desanya dulu.
Anin mengangguk puas, lalu melanjutkan langkahnya menuju lift. Namun, sebelum masuk, ia menoleh sebentar ke arah Kaito dan tersenyum lagi. Senyum itu terasa hangat, seolah menerangi seluruh ruangan lobi yang luas itu.
Setelah Anin menghilang di balik pintu lift, Budi yang kebetulan bertugas bersamanya menyenggol lengan Kaito dengan sikap menggoda.
“Wah… lihat saja matamu itu! Jangan-jangan sudah jatuh hati pada direktur muda kita, ya?” goda Budi sambil tersenyum miring.
Wajah Kaito langsung memerah padam, ia memalingkan wajah mencoba menyembunyikan kegelisahannya. “Jangan bicara sembarangan, Budi. Dia atasan kita. Saya hanya merasa hormat saja.”
“Hormat atau lebih dari itu? Jangan bohong! Saya sudah melihatnya berkali-kali, ekspresi wajahmu itu tidak bisa dibohongi,” ejek Budi makin keras, sampai Pak Suryo yang sedang duduk di meja hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum melihat kelakuan kedua anak buahnya itu.
“Sudah, sudah! Jangan berisik di sini. Kalau ada tamu lewat, nanti dianggap tidak sopan. Kaito, abaikan saja ocehan Budi itu, dia memang suka mengganggu orang yang baru kenal,” kata Pak Suryo menengahi, namun matanya juga menyiratkan rasa geli.
Kaito menghela napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang masih belum kembali normal. Ia mengakui dalam hati, sosok Anindya memang menarik perhatiannya. Tidak hanya karena kecantikannya, tapi juga karena pancaran ketenangan dan kebaikan yang terpancar dari dirinya. Namun, ia sadar akan perbedaan status yang sangat jauh. Ia hanyalah seorang satpam biasa, sementara dia adalah pewaris perusahaan besar. Tidak mungkin ada hubungan lebih dari itu.
Namun, takdir sering kali bekerja dengan cara yang tidak terduga.
Kejadian Kecil yang Membuka Mata
Beberapa hari kemudian, hujan turun dengan sangat lebat disertai angin kencang pada sore hari. Langit berubah menjadi gelap gulita meski hari masih belum sepenuhnya malam. Banyak orang yang terjebak di dalam gedung karena tidak membawa payung.
Anindya yang baru saja selesai bekerja berdiri di depan pintu keluar, melihat hujan yang turun seperti air dicurahkan dari langit. Ia lupa membawa payung hari itu, dan sopirnya sedang terlambat datang karena terjebak kemacetan parah. Ia tampak bingung, berdiri di bawah atap penyangga sambil memandang jalanan yang mulai tergenang air.
Kaito yang sedang berpatroli melihatnya dari kejauhan. Tanpa berpikir panjang, ia mengambil payung besar yang disediakan untuk keperluan petugas, lalu melangkah mendekat.
“Mbak Anin,” panggilnya dengan nada sopan.
Anin menoleh, terkejut melihat kedatangannya. “Ya, Kaito? Ada apa?”
“Maaf mengganggu. Saya melihat hujannya sangat deras. Silakan pakai payung ini sampai kendaraan Anda tiba. Saya punya satu lagi di pos jaga,” katanya sambil menyodorkan payung itu dengan kedua tangan.
Anin menatap wajah Kaito, melihat ketulusan di matanya. Ia tersenyum terima kasih. “Wah, terima kasih banyak, Kaito. Kalau tidak ada ini, saya pasti basah kuyup menunggu di sini. Tapi nanti bagaimana denganmu?”
“Tidak apa-apa, Mbak. Saya sudah terbiasa dengan cuaca apa pun. Di tempat saya dulu, hujan deras juga sering turun di pegunungan. Tidak masalah bagi saya,” jawab Kaito dengan jujur.
“Terima kasih sekali lagi. Nanti kalau sudah selesai, saya akan kembalikan sendiri ke pos jaga,” kata Anin sambil menerima payung itu.
Saat jari-jari mereka tanpa sengaja bersentuhan sebentar, ada getaran halus yang terasa di tangan keduanya. Kaito merasa seperti tersengat aliran listrik kecil, dan jantungnya kembali berpacu. Anin pun tertegun sejenak, merasakan kehangatan yang luar biasa dari tangan Kaito — kehangatan yang seolah menembus dinginnya udara sore itu.
Tidak lama kemudian, mobil jemputan Anin tiba. Sebelum masuk ke dalam mobil, ia menoleh lagi dan melambaikan tangan. “Terima kasih, Kaito! Hati-hati bertugas!”
Kaito hanya mengangguk sambil tersenyum tipis, berdiri tegak sampai mobil itu hilang dari pandangan. Di dalam hatinya, ada rasa senang yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Namun, ada kejadian lain yang terjadi tak lama sesudah itu. Saat Kaito kembali berjalan menuju pos jaga, ia melihat sebuah pohon besar yang tumbuh di pinggir halaman gedung tiba-tiba berderak keras. Karena terpaan angin yang sangat kencang dan tanah yang basah, akarnya terlihat mulai terangkat dan pohon itu condong ke arah tempat parkir, persis di atas beberapa sepeda motor yang terparkir rapi.
Di bawah pohon itu, tanpa sadar ada seorang anak kecil berusia sekitar tujuh tahun yang sedang bermain, terpisah dari ibunya yang sedang membayar tiket parkir. Anak itu tidak menyadari bahaya yang mengancamnya.
“AWAS!” teriak Kaito sekuat tenaga.
Ia tidak sempat berpikir dua kali. Instingnya langsung bekerja. Dengan kecepatan yang luar biasa — jauh melebihi kemampuan manusia biasa — ia berlari mendekat. Dalam sekejap mata, ia sudah berada di bawah pohon itu. Sambil melindungi tubuh anak itu dengan badannya sendiri, ia mengangkat kedua tangannya menahan batang pohon yang sudah hampir roboh itu.
DUARRR!
Suara berat terdengar, namun pohon itu tidak jatuh. Kaito menahannya dengan kekuatan yang ia miliki — kekuatan setara seribu tahun pengalaman dan energi yang terakumulasi. Otot-ototnya terasa tegang, keringat dingin membasahi dahinya, namun ia tetap berdiri kokoh seolah pohon itu hanyalah sebatang kayu ringan.
Orang-orang di sekitar berteriak kaget, Pak Suryo dan Budi segera berlari mendekat. “Kaito! Pegang baik-baik! Kami bantu!”
Dengan bantuan tali dan tenaga beberapa orang lain, akhirnya pohon itu berhasil diamankan dan ditopang dengan kuat. Begitu bahaya berlalu, Kaito melepaskan pegangannya, berdiri tegak seolah tidak ada beban berat yang baru saja ia angkat. Ia menoleh ke anak kecil itu, mengusap kepalanya dengan lembut.
“Sudah aman, Nak. Jangan bermain di tempat berbahaya lagi ya,” katanya dengan nada lembut.
Anak itu hanya mengangguk ketakutan, lalu segera dipeluk ibunya yang datang dengan wajah pucat pasi, mengucapkan terima kasih berulang kali sambil menangis haru.
Namun, Budi dan Pak Suryo menatap Kaito dengan mata terbelalak penuh keheranan. Batang pohon itu setebal pinggang orang dewasa, beratnya bisa mencapai lebih dari satu ton. Bagaimana mungkin seorang manusia biasa bisa menahannya sendirian?
“Kaito… kau tadi… menahan pohon itu sendirian?” tanya Budi dengan suara terbata-bata.
Kaito tersenyum tipis, mencoba mengalihkan perhatian. “Beruntung saja pohonnya belum roboh sepenuhnya. Ditambah anginnya mulai reda. Kalau tidak, saya juga tidak sanggup.”
Pak Suryo mengerutkan dahi, menatap Kaito dengan pandangan yang lebih dalam. Ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh satpam muda itu, tapi ia memilih tidak bertanya saat itu juga. “Terima kasih, Kaito. Kau telah menyelamatkan nyawa anak itu. Kami sangat berterima kasih.”
Berita kejadian itu menyebar cepat di dalam gedung. Termasuk sampai ke telinga Anindya. Saat ia mendengarnya, ia langsung teringat pada sosok Kaito yang tenang namun selalu sigap. Rasa penasarannya makin bertambah besar. Siapa sebenarnya pria itu? Apa yang membuatnya terasa begitu berbeda dari orang lain?
Sore itu, saat Kaito pulang kerja, ia mendapati Anindya sudah menunggu di dekat pintu keluar, membawa payung yang dipinjamnya tadi.
“Kaito,” panggilnya lembut.
Kaito berhenti melangkah, menoleh. “Ya, Mbak Anin?”
“Terima kasih tadi. Saya dengar kau menyelamatkan seorang anak dan menahan pohon yang hampir roboh. Kau hebat sekali,” katanya dengan pandangan yang penuh kekaguman.
Wajah Kaito sedikit memerah. “Tidak perlu dipuji, Mbak. Itu tugas saya sebagai penjaga keamanan. Saya hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan.”
“Tetap saja… tidak semua orang bisa melakukan hal seberani itu. Hati-hati di jalan ya. Jangan lupa istirahat yang cukup.”
“Baik, terima kasih banyak.”
Mereka saling tersenyum, dan dalam keheningan sore itu, hujan yang mulai reda menyisakan bau tanah yang segar. Kaito melangkah pulang dengan perasaan yang jauh lebih ringan dan hangat dibandingkan saat ia baru tiba seminggu yang lalu.
Ia tahu, hidup barunya di sini tidak akan selalu tenang seperti yang ia bayangkan. Rahasia besar yang ia sembunyikan suatu saat pasti akan terbongkar. Namun, untuk saat ini, ia bersyukur. Ia punya teman, tempat tinggal, pekerjaan, dan sosok yang membuat hari-harinya terasa lebih berwarna.
Perjalanan baru Kaito Nakamura sebagai seorang satpam biasa dengan kekuatan setara seribu tahun baru saja dimulai. Dan di balik kedamaian yang terlihat, gelombang bahaya dan takdir besar sedang menantinya di depan mata.