NovelToon NovelToon
CEO DINGIN ITU MEMANJAKANKU

CEO DINGIN ITU MEMANJAKANKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nacha Adhi

Sejak usia sembilan tahun, Naura harus menelan pahitnya hidup. Setelah kedua orang tuanya meninggal, ia diasuh Paman Surya dan Bibi Rina yang tidak mampu namun terobsesi pada kemewahan. Naura sering disiksa dan dimanfaatkan, dipaksa bekerja keras demi menghidupi dirinya sendiri dan membiayai sekolah. Meski demikian, ia tumbuh menjadi gadis yang kuat, jujur, dan cerdas hingga berhasil lulus kuliah.

Bekerja di sebuah perusahaan swasta pun tidak membuat hidupnya lebih mudah. Atasan iri memfitnahnya, sementara paman dan bibinya terus memeras gaji dengan ancaman. Saat dipecat secara tidak adil dan berjalan dalam kesedihan, ia hampir tertabrak mobil mewah milik Aldo Pratama—CEO muda yang dingin, berwibawa, dan disegani banyak orang. Pertemuan tak terduga itu mengubah segalanya.

bagaimana kisah menarik selanjutnya... ???? lanjut bacanya sampai akhir yaa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nacha Adhi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29: Meneruskan Jejak yang Ditinggalkan

Waktu terus berjalan, dan Arka kini menginjak usia dua puluh lima tahun. Ia telah menyelesaikan pendidikannya di bidang manajemen dan lingkungan, lalu menghabiskan dua tahun terakhir untuk mengamati dan belajar langsung di setiap divisi Grup Pratama serta Yayasan Harapan dan Alam. Berbeda dengan pemuda kaya yang sering terjebak dalam kemewahan, Arka tumbuh dengan kesadaran penuh akan tanggung jawab yang dipikulnya.

Suatu pagi, di ruang kerja Aldo yang kini sudah lebih banyak digunakan untuk merencanakan masa depan daripada mengurus operasional harian, Arka duduk di hadapan ayah dan ibunya. Di atas meja terbentang laporan perkembangan perusahaan selama lima tahun terakhir, beserta rencana ekspansi yang lebih luas ke daerah-daerah terpencil.

"Ayah, Ibu, saya sudah mempelajari semua data dan usulan tim," ujar Arka dengan suara tenang namun mantap. "Mereka mengusulkan untuk membangun jaringan pabrik pengolahan hasil bumi di tiga provinsi lain. Potensi keuntungannya besar, dan bisa membuka ribuan lapangan kerja baru. Tapi saya juga melihat ada catatan soal risiko lingkungan dan kesiapan masyarakat setempat."

Aldo menatap putranya dengan pandangan bangga, lalu mengangguk perlahan. "Kamu sudah mulai melihat tidak hanya angka, tapi juga dampak di baliknya. Itu hal terpenting yang harus dimiliki seorang pemimpin. Setiap langkah yang diambil akan memengaruhi banyak nyawa, bukan hanya di dalam perusahaan, tapi juga di sekitarnya."

Naura menambahkan sambil tersenyum: "Kami tidak akan memaksamu mengikuti cara kami persis sama. Dunia berubah, tantangannya pun berbeda. Tapi ingatlah satu hal: prinsip tidak boleh berubah. Jika keuntungan harus didapat dengan merugikan orang lain atau alam, maka itu bukan keberhasilan yang sesungguhnya."

Arka mencatat setiap kata itu dalam hatinya. "Saya mengerti. Saya tidak ingin membangun sesuatu yang megah tapi rapuh. Saya ingin melanjutkan apa yang sudah kalian mulai—bisnis yang tumbuh, tapi juga membawa manfaat bagi semua pihak yang terlibat."

Beberapa minggu kemudian, Arka memimpin tim penelitian lapangan untuk meninjau langsung ketiga lokasi yang diusulkan. Ia tidak hanya berbicara dengan pejabat daerah atau pemilik lahan, tapi juga turun ke desa, mendengarkan keluh kesah warga, dan mengamati kondisi lingkungan secara langsung.

Di salah satu daerah, ia menemukan bahwa lahan yang diusulkan untuk dibangun pabrik adalah sumber mata air kecil yang selama ini menjadi andalan warga setempat. Jika dibangun sesuai rancangan awal, aliran air bisa terganggu dan menyebabkan kekeringan di musim kemarau.

"Kita tidak bisa melanjutkan rencana ini seperti yang ada," kata Arka tegas dalam rapat tim. "Kita cari lokasi lain yang lebih cocok, atau sesuaikan desain pabriknya agar tidak menyentuh kawasan tersebut. Biayanya mungkin lebih mahal, tapi kita tidak boleh mengambil hak hidup orang lain demi keuntungan kita."

Keputusan itu awalnya menimbulkan kebingungan di sebagian tim yang terbiasa melihat segalanya dari sisi keuangan. Namun, saat mereka melihat ketegasan Arka dan dukungan penuh dari Aldo serta Naura, mereka pun menyadari bahwa itulah cara kerja yang benar.

Selama proses penyesuaian berlangsung, Arka juga mengadakan pertemuan terbuka dengan warga desa. Ia menjelaskan secara rinci apa yang akan dibangun, bagaimana dampaknya, dan apa saja manfaat yang akan diterima oleh masyarakat. Ia juga membuka kesempatan bagi warga untuk ikut bekerja, mendapatkan pelatihan, dan memiliki bagian dalam usaha itu.

"Kami datang bukan untuk menguasai tanah ini, tapi untuk hidup berdampingan," ujar Arka di hadapan ratusan warga. "Jika ada yang tidak berkenan atau merugikan, katakan saja. Kita selesaikan bersama-sama, bukan dengan paksaan."

Sikap terbuka dan rendah hati itu membuat hati warga luluh. Awalnya ada yang curiga, tapi lama-kelamaan mereka melihat niat baik yang tulus. Dukungan pun mengalir, dan pembangunan bisa dimulai dengan suasana yang damai.

Namun, tantangan baru segera muncul. Seorang pengusaha lokal yang selama ini menguasai jalur perdagangan di daerah itu merasa terganggu dengan kehadiran Grup Pratama. Ia khawatir usahanya akan tersaingi, sehingga ia mulai menyebarkan isu-isu negatif, menuduh perusahaan akan mengambil alih sumber daya alam dan mempekerjakan tenaga kerja dari luar saja.

Isu itu sempat membuat suasana menjadi tegang. Beberapa warga mulai ragu, bahkan ada yang mengadakan pertemuan kecil untuk menolak kehadiran mereka.

Arka tidak terburu-buru marah atau melaporkan ke polisi. Ia justru meminta bantuan kepala desa untuk mengatur pertemuan pribadi dengan pengusaha itu. Saat bertemu, ia menyapa dengan sopan dan mendengarkan keluh kesahnya tanpa memotong pembicaraan.

"Saya mengerti kekhawatiran Bapak," kata Arka dengan tenang. "Tapi saya pastikan, kami tidak akan mengambil apa yang sudah menjadi hak Bapak. Sebaliknya, kita bisa bekerja sama. Kami butuh mitra yang mengenal daerah ini dengan baik, dan Bapak bisa menjadi bagian dari rantai pasokan kami. Keuntungannya bisa dibagi, dan usaha Bapak justru akan berkembang lebih luas."

Usulan itu membuat pengusaha itu tertegun. Ia tidak menyangka akan ditawari kerja sama, bukan persaingan. Setelah membahas lebih rinci dan melihat bukti rencana yang jelas, ia akhirnya menyadari bahwa kekhawatirannya tidak berdasar. Ia pun berjanji untuk meluruskan informasi yang salah dan bahkan membantu menjelaskan kepada warga.

Kejadian itu menjadi pelajaran berharga bagi Arka. Ia menyadari bahwa menyelesaikan masalah dengan cara memahami dan mencari jalan tengah jauh lebih efektif daripada menggunakan kekuasaan atau uang.

Setelah satu tahun persiapan dan pembangunan, pabrik pertama akhirnya selesai dibangun dan beroperasi. Desainnya ramah lingkungan, memiliki sistem pengolahan limbah yang canggih, dan memberikan pekerjaan yang layak bagi lebih dari dua ratus warga setempat. Pendapatan desa meningkat, fasilitas umum diperbaiki, dan lingkungan sekitar tetap terjaga dengan baik.

Pada hari peresmian, Aldo dan Naura hadir melihat putra mereka memimpin acara dengan percaya diri namun tetap rendah hati. Saat Arka menyampaikan sambutannya, ia mengutip pesan yang selalu diajarkan orang tuanya:

"Keberhasilan bukanlah tentang seberapa besar kita tumbuh, tapi seberapa banyak kita bisa membawa orang lain ikut tumbuh bersama. Alam adalah rumah kita, dan sesama manusia adalah saudara kita. Jika kita menjaga keduanya, maka keberkahan akan selalu menyertai langkah kita."

Mendengar kata-kata itu, Aldo dan Naura saling berpandangan dan tersenyum lega. Mereka tahu bahwa warisan terpenting yang mereka berikan bukanlah harta atau jabatan, tapi nilai-nilai yang kini telah tertanam kuat di hati putra mereka.

Namun, perjalanan Arka sebagai pemimpin baru belum berakhir. Saat ia mulai menata arah perusahaan ke depan, sebuah kesempatan besar datang dari luar negeri—kesempatan untuk membawa teknologi dan pengalaman yang dimiliki Grup Pratama ke negara lain, sekaligus menguji apakah prinsip yang dipegang bisa bertahan di tengah persaingan bisnis yang jauh lebih ketat dan kompleks.

1
elfanaya 💞
kamu udh dpt gaji mending keluar dari rumah yg berasa seperti neraka itu
Kim Borahae
seru😍. semangat terus ya 💪

Btw, saya pun baru mula menulis novel kalau ada masa boleh tinggalkan komen. Tinggal tekan profile saja, terima kasih /Joyful/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!