NovelToon NovelToon
Sistem Sekretaris Kecil

Sistem Sekretaris Kecil

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: WANA SEBAYA

Citra Lestari terbangun di dunia novel yang penuh intrik dan cinta beracun.
Di sana, sang bintang cantik Shafira Maharani hancur karena pria yang tak pernah setia.
Namun kali ini, Citra Lestari datang bukan untuk menangis — tapi untuk menaklukkan.
Dengan pesona lembut dan kecerdikan tersembunyi, ia perlahan membuat sang taipan bertekuk lutut.
Ketika si libertine mulai menyerahkan hatinya, cinta pun berubah menjadi permainan yang tak bisa dihentikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WANA SEBAYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Satu Minggu Menjadi Manusia

Pagi-pagi sekali.

Citra Lestari membuka matanya.

Langit-langit putih ruang hampa yang bersih sudah hilang. Yang ada di hadapannya sekarang adalah plesteran retak dengan lampu neon sederhana yang tergantung sedikit miring.

Ia berkedip pelan. Duduk perlahan.

Kasur single di bawahnya keras, ditutupi seprai kotak-kotak yang warnanya sudah pudar. Ruangan kecil itu sangat minimalis—meja kayu goyah, kursi plastik, lemari usang, dan tumpukan kardus di sudut yang tampaknya sudah lama tidak dibuka.

Tapi ada jendela kecil yang terbuka lebar.

Angin pagi masuk tanpa permisi, membawa aroma kayu tua, debu yang hangat, dan sedikit kelembapan. Dari luar terdengar suara hiruk-pikuk pasar di lantai bawah, kicau burung, dan teriakan penjual sarapan yang bersahut-sahutan.

Citra tidak bergerak selama beberapa detik.

Tanpa sadar, tangannya bergerak ke dada kiri. Refleks lama.

Tidak ada rasa sakit. Tidak ada sesak yang mencekik seperti tangan tak kasat mata yang meremas paru-parunya. Hanya detak jantung—stabil, kuat, berirama di bawah telapak tangannya.

*Dug-dug. Dug-dug.*

Hidup. Ia benar-benar hidup.

Matanya berkaca-kaca sebelum ia sempat mencegahnya. Citra menyingkirkan selimut tipis dan hampir berlari ke jendela. Di luar, sinar matahari pagi menyinari lorong-lorong distrik kota tua. Tanaman merambat hijau merayap di dinding bata berbintik. Asap sarapan mengepul dari warung di bawah.

Bagi orang lain, ini adalah pemandangan biasa. Membosankan, bahkan.

Bagi Citra, ini adalah hal paling indah yang pernah ia lihat dalam delapan belas tahun hidupnya.

Ia mengulurkan jari dan menyentuh daun sirih gading di ambang jendela. Teksturnya kasar, lembap, hidup. Ia terkekeh pelan—suara yang bahkan terdengar asing di telinganya sendiri.

"Wow..." gumamnya, suaranya bergetar tipis.

*[Tuan Rumah! Tuan Rumah! Anda akhirnya bangun!]*

Suara mekanis yang kini terdengar panik bergema di benaknya. Sistem. Nada serius dari sesi sebelumnya tampaknya sudah tergantikan oleh kelegaan yang hampir lucu.

Tapi Citra terlalu sibuk menatap lukisan pemandangan murah di dinding yang catnya sudah mengelupas di satu sudut. Ada bunga-bunga oranye di sana yang warnanya masih cerah.

*[Hei! Dengarkan aku!]* Nada Sistem meninggi. *[Aku tahu kau senang, tapi kita punya bisnis yang harus diselesaikan. Dengarkan baik-baik.]*

"Mm-hmm, silakan," jawab Citra, matanya masih berkeliling ruangan.

*[Ini adalah Distrik Kota Tua. Tubuh yang kau gunakan juga bernama Citra Lestari, delapan belas tahun. Semua orang di sini akan memandangmu sebagai dirimu yang sekarang—tidak ada yang tahu ada yang berubah.]*

Sistem berhenti sebentar, lalu melanjutkan dengan nada lebih serius.

*[Pemilik tubuh asli baru saja diterima sebagai asisten Shafira Maharani dan harus mulai bekerja besok. Tapi Shafira sangat cemburu dan temperamennya buruk. Berkeliaran di depannya dengan penampilan seperti ini terlalu berbahaya. Kau harus belajar menyembunyikan diri—bersikap rendah hati, tidak mencolok, tidak terlalu menonjol. Dalam alur asli, pemilik tubuh ini sering menangis karena omelannya.]*

*[Hati-hati.]*

*[Oh, oke, aku mengerti,]* jawab Citra dalam hati, mengangguk patuh ke udara kosong.

*[Kau tahu? Kurasa kau sama sekali tidak mempedulikan ku.]* Sistem terdengar hampir frustasi.

*[Memikat hati Arjuna Pratama adalah misi utamamu. Waktu terbatas. Kamu perlu—]*

*[Sistem.]*

Citra memotong dengan lembut tapi tegas.

*[Aku tahu misi itu penting. Aku tidak lupa.]*

Ia menarik napas dalam-dalam sekali lagi,hanya karena bisa, hanya karena terasa luar biasa untuk melakukannya tanpa rasa takut.

*[Tapi ini pertama kalinya aku benar-benar hidup. Tidak ada disinfektan. Tidak ada monitor EKG yang berbunyi sepanjang malam. Tidak ada ketakutan bahwa aku akan berhenti bernapas sebelum pagi.]*

*[Aku bisa berjalan. Aku bisa menyentuh tanaman. Aku bisa makan makanan yang belum pernah kurasakan sebelumnya.]*

Ia berbalik dari jendela. Senyumnya sederhana tapi memancarkan sesuatu yang sulit dijelaskan—semacam kelegaan yang terlalu dalam untuk ditutupi.

*[Beri aku waktu dulu. Hanya seminggu. Izinkan aku menjadi orang biasa sebelum badai datang.]*

Sistem terdiam lama.

Di dalam strukturnya yang mekanis dan dingin, ada sesuatu yang tidak bisa sepenuhnya ia abaikan...cara Citra melihat daun tanaman seperti melihat keajaiban, cara tangannya gemetar pelan saat merasakan tekstur kain yang kasar, cara matanya bersinar oleh hal-hal yang sudah lama dianggap remeh oleh semua orang di dunia ini.

Ia telah lama mencari jiwa yang tepat. Dan melihat jiwa itu bahagia seperti ini adalah pemandangan yang jarang sekali ia saksikan.

*[Baiklah.]* Suara Sistem terdengar pasrah. *[Satu minggu. Tapi setelah itu, kau harus memulai misi mu sungguh-sungguh. Dan—]*

*[—sembunyikan penampilanmu di depan Shafira Maharani. Jaga profil tetap rendah.]*

*[Mm-hmm! Terima kasih, Sistem!]*

Citra sudah hampir melompat.

Dengan gerakan cepat yang ia sendiri tidak menyangka tubuhnya bisa melakukan.

karena dulu bahkan berdiri terlalu cepat bisa membuatnya pusing.

ia mengambil ponsel tua di samping tempat tidur.

Mengandalkan ingatan yang ditanamkan Sistem, ia menemukan nomor manajer Shafira dan menekan panggil. Suaranya berubah saat tersambung lembut, sedikit ragu-ragu, patuh. Topeng pertamanya, dan ternyata lebih mudah dari yang ia bayangkan.

"Halo, Kak Siska ? Ini Citra Lestari. Maaf mengganggu,ada urusan keluarga mendesak. Bolehkah saya minta cuti seminggu?"

Jeda. Lalu jawaban singkat di seberang.

"Ya, ya, terima kasih banyak, Kak Siska. Saya akan segera kembali setelah ini."

Ia menutup telepon dan menghela napas lega. Selesai.

Berganti pakaian....kaus katun putih sederhana, celana jins panjang,ia meraih tas kain kecil, memasukkan kunci dan ponsel, lalu melangkah keluar pintu dengan ringan.

Matahari pagi menyambutnya di ujung lorong.

Di dalam benaknya, Sistem hanya bisa menatap kepergiannya dalam diam.

*[Dia benar-benar riang... Semoga ini tidak menjadi bumerang nanti.]*

1
cipung
makin seru thotlr👍👍
cipung
semangat thor
cipung
keren...lanjut👍👍
Friska trisna
Tema perjuangan: Bab ini bisa jadi fondasi untuk tema besar — Citra membangun karier dengan usahanya sendiri, meski berada di bayang-bayang kekuasaan Arjuna.
Friska trisna
Bab ini berhasil menunjukkan dinamika pasangan: Citra yang polos dan keras kepala, Arjuna yang arogan tapi luluh oleh ketulusan.Ada keseimbangan antara romansa manis dan ketegangan ringan. Pembaca bisa ikut tersenyum melihat kegembiraan Citra, sekaligus merasa hangat melihat Arjuna akhirnya mendukungnya.
cipung
semangat kak🤭
Ayu Ning
semangat thor
Ayu Ning
secepat itukah,menyerah.
Rahman Hayati
lanjut
Rahman Hayati
baru mampir moga suka
cipung
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!