Kisah ini mengikuti perjalanan Raka Pratama, seorang mantan prajurit pasukan khusus Indonesia yang harus meninggalkan dinas militer karena kejadian berbahaya yang disembunyikan pemerintah. Tanpa tujuan dan terjebak dalam hutang, ia akhirnya bergabung dengan salah satu Perusahaan Militer Swasta (PMS) terbesar dan paling rahasia di dunia: "Garuda Security International".
Apa yang dimulai sebagai pekerjaan untuk bertahan hidup, perlahan mengungkap jaringan rahasia yang mengendalikan perang, politik, dan ekonomi dunia. Raka dan rekan-rekannya akan berhadapan dengan musuh dari negara saingan, organisasi bayangan, hingga pemimpin dunia sendiri. Dari misi penyelamatan sederhana hingga menjadi kunci penyelamatan kemanusiaan dari kehancuran total.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dena gusdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Kekuatan Asli Langit
Udara yang tadinya hanya panas dan bergetar, kini berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih mengerikan. Suhu di sekitar lokasi pertarungan itu melonjak naik secara drastis, begitu cepat dan begitu tinggi hingga pasir dan debu di tanah mulai meleleh menjadi kaca cair yang berkilauan, dan bebatuan besar di kejauhan mulai berasap perlahan. Langit yang tadinya tertutup bayangan kapal raksasa itu kini berubah warna, dari gelap menjadi merah darah pekat, seolah seluruh atmosfer di wilayah itu terbakar habis oleh aura yang memancar dari tubuh Komandan Elara.
Di tengah kepulan uap panas yang mengepul itu, Elara berdiri tegak bagai dewa pembalut maut. Tubuhnya kini diselimuti api kemerahan keemasan yang berkobar ganas, lidah apinya menjilat-jilat ke segala arah, membakar apa saja yang cukup berani mendekat. Sepasang sayap besar di punggungnya yang tadinya berwarna putih bersih kini berubah menjadi sayap api yang berkibar hebat, setiap kepakan sayapnya menciptakan gelombang panas yang mampu melelehkan baja. Pedang panjang di tangannya sudah tidak lagi terlihat bentuk aslinya, karena seluruh bilahnya kini diselimuti api murni yang menyala terang, memancarkan cahaya yang menyakitkan mata siapa pun yang berani menatapnya langsung.
Wajah tampan dan dinginnya kini berubah total. Tidak ada lagi rasa hormat, tidak ada lagi rasa penasaran, tidak ada lagi rasa angkuh yang santai. Yang tersisa hanyalah kemarahan murni, kebencian yang membara, dan niat membunuh yang pekat hingga terasa nyata menusuk tulang. Matanya yang berwarna emas kini berubah menjadi bara api merah menyala, menatap Raka seolah sedang menatap serangga najis yang harus dihancurkan sampai ke akar-akarnya.
"Kau benar-benar membuatku terhina, manusia tanah..." ucap Elara, suaranya kini bukan lagi suara manusia, melainkan suara gemuruh guntur yang bergema dari dalam kawah gunung berapi, berat, dalam, dan mengerikan. Setiap kata yang keluar dari mulutnya membuat tanah bergetar dan udara berdesir. "Aku sudah memberimu kesempatan untuk mati dengan cepat dan relatif tidak menyakitkan. Tapi kau menolaknya. Kau memilih untuk melawan. Kau memilih untuk mempermalukanku di depan pasukanku sendiri. Dan sekarang... aku akan pastikan setiap detik sisa hidupmu menjadi neraka yang nyata. Aku akan buat kau menyesal karena pernah lahir ke dunia ini, menyesal karena pernah menyentuh kekuatan Sumber Unggul, dan menyesal karena berani menentang makhluk dari Langit."
Di belakang Raka, ribuan pasukan Garuda dan Elang Bebas mundur terhuyung-huyung karena panas yang luar biasa itu. Wajah mereka pucat pasi, napas mereka tersendat, dan hati mereka dipenuhi rasa takut yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya. Bahkan Jenderal Agus, yang sudah melewati ribuan pertempuran seumur hidupnya, hanya bisa berdiri diam dengan mata terbelalak, keringat dingin mengucur deras di pelipisnya. Ia sadar betul, apa yang sedang mereka saksikan ini bukan lagi pertarungan antar makhluk hidup. Ini adalah amukan kekuatan alam yang tidak bisa dilawan.
Karin, Reza, Dedi, Bara, dan Rio sudah berjalan mendekat, tangan mereka mencengkeram senjata erat-erat, siap melompat maju kapan saja untuk membantu pemimpin mereka, meski mereka tahu tindakan itu mungkin hanya akan membuat mereka mati sia-sia saja.
Namun, di depan badai api yang mengerikan itu, Raka masih berdiri tegak. Tubuhnya penuh luka, darahnya masih menetes perlahan ke tanah yang panas itu, kakinya gemetar hebat karena kelelahan ekstrem, dan napasnya terasa seperti menghirup api, tapi ia tidak mundur selangkah pun. Cahaya biru di tubuhnya kini berubah sifatnya. Dulu cahaya itu lembut, menenangkan, dan melindungi. Sekarang, cahaya itu menjadi keras, tajam, dan berkilau dingin, berjuang mati-matian menahan panas yang luar biasa itu agar tidak membakar kulit dan tulangnya.
Raka mengangkat kepalanya, menatap lurus ke arah api merah yang berkobar itu, menatap tepat ke mata Elara yang menyala ganas. Ia menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan sisa tenaga yang ada di kedalaman tubuhnya, menyadari sepenuhnya bahwa pertarungan ini sudah sampai ke titik paling kritis. Jika ia gagal di sini, semuanya berakhir. Bukan hanya hidupnya, tapi nasib seluruh umat manusia, nasib bumi, dan masa depan segala sesuatu yang ia cintai dan perjuangkan.
"Teruslah bicara, Elara..." jawab Raka, suaranya parau namun tetap tegas dan menantang, berusaha menembus gemuruh suara musuhnya. "Teruslah bangga dengan kekuatan apimu itu. Tapi ingat satu hal... api yang terlalu panas akan membakar dirinya sendiri. Dan kekuatan yang hanya berisi kemarahan dan kesombongan... tidak akan pernah bisa mengalahkan kekuatan yang lahir dari cinta dan keinginan melindungi."
Elara tidak menjawab lagi. Mulutnya hanya menyeringai penuh kebencian, lalu ia mengangkat pedangnya yang berapi itu tinggi-tinggi ke atas kepalanya. Seketika itu juga, seluruh energi panas di sekelilingnya berkumpul, mengalir deras, dan menyatu ke dalam bilah pedang itu, membuatnya tumbuh membesar, memanjang, dan melebar hingga menjadi sebesar menara kecil, sebuah pedang raksasa yang terbuat dari api murni yang menyilaukan mata.
"Hukum Langit: Tumbukan Bintang Jatuh!"
Dengan satu ayunan keras ke bawah, Elara melepaskan seluruh kekuatan itu. Pedang api raksasa itu menghunjam ke bawah dengan kecepatan cahaya, membelah udara menjadi dua, menciptakan gelombang kejut yang meratakan apa saja di sampingnya, dan jatuh tepat ke arah Raka dengan kekuatan yang cukup untuk membelah benua menjadi dua bagian.
Di bawah sana, pasukan berteriak histeris, banyak yang menutup mata mereka karena yakin mutlak bahwa Raka sudah lenyap, sudah menjadi debu, sudah tidak ada lagi sebelum serangan itu pun menyentuh tanah.
Namun, Raka tidak diam saja. Di detik terakhir, saat bayangan pedang raksasa itu menutupi seluruh tubuhnya, saat panasnya sudah membakar ujung rambutnya... ia bergerak.
Ia tidak mencoba menangkis. Ia sadar betul, dengan kekuatan yang ia miliki saat ini, menangkis serangan sebesar itu sama saja dengan bunuh diri. Ia juga tidak mencoba lari, karena ia tahu kecepatan serangan itu jauh lebih cepat daripada apa pun yang bisa ia lakukan.
Satu-satunya cara: Menembusnya.
Raka mengumpulkan seluruh energi biru yang tersisa di dalam tubuhnya, memadatkannya hingga menjadi sekeras berlian, menajamkannya hingga setajam jarum, lalu melesat maju tepat ke arah pusat serangan itu, tepat ke arah bilah pedang raksasa itu, tapi bukan menabraknya... melainkan mencari celah paling kecil di tengah badai api itu.
"Sumber Unggul: Langkah Kilat – Penusuk Celah!"
Raka berubah menjadi garis cahaya biru yang tipis dan cepat, melesat masuk ke dalam dinding api merah yang dahsyat itu.
DERRRR!!!
Pedang api raksasa itu menghantam tanah tepat di tempat Raka berdiri sedetik yang lalu. Ledakan yang tercipta begitu dahsyat hingga seluruh wilayah itu bergoyang hebat seolah dunia mau kiamat. Tanah sejauh ratusan meter di sekitarnya hancur lebur, meledak ke atas menjadi jutaan kepingan batu yang terbakar, menciptakan kawah raksasa yang dalam dan luas, berisi lahar cair yang mendidih dan berasap tebal. Gelombang kejutnya menerbangkan ribuan pasukan yang berada di jarak aman sekalipun, melemparkan mereka ke belakang seperti boneka kain. Asap dan debu tebal menutupi segalanya, membuat pandangan menjadi nol total.
Namun, di tengah kepulan debu dan api yang masih berkobar itu, sebuah sosok melompat keluar dengan cepat, mendarat dengan posisi bertahan sekitar dua puluh meter di depan Elara.
Itu Raka.
Ia masih hidup. Tapi kondisinya sungguh mengerikan. Sebagian besar pakaiannya hangus dan hilang, kulitnya penuh luka bakar dan lecet, asap tipis masih mengepul dari bahu dan lengannya, dan napasnya terdengar seperti orang yang paru-parunya sudah hancur. Darah mengalir deras dari luka di dahinya, turun menutupi separuh wajahnya, membuatnya terlihat mengerikan namun juga hebat dan tak terkalahkan.
Raka mengangkat kepalanya susah payah, menyeka darah yang menutupi matanya dengan lengan yang gemetar. Ia menatap Elara yang masih berdiri tegak di tempatnya, sedikit terkejut karena serangan sebesar itu ternyata belum menyelesaikan masalahnya.
"Kau... kau masih ada?" gumam Elara, suaranya penuh ketidakpercayaan. Ia menurunkan pedangnya yang kembali mengecil menjadi ukuran biasa, tapi apinya masih sama ganasnya. "Serangan itu cukup untuk menghancurkan benteng baja setebal seratus meter. Kau masuk ke dalam badai api itu... dan kau masih hidup? Apa kulitmu terbuat dari besi? Atau kau punya semacam sihir perlindungan?"
"Kulitku sama saja seperti kulitmu... daging dan tulang," jawab Raka parau, tersenyum tipis di tengah rasa sakit yang luar biasa itu. Ia menopang tubuhnya dengan kedua tangan di lututnya sejenak, berusaha mengatur napas yang kacau balau. "Tapi aku punya sesuatu yang tidak kau punya, Elara. Aku punya pengalaman. Aku sudah bertarung melawan musuh yang jauh lebih licik, jauh lebih kejam, dan jauh lebih tidak terduga daripada kau. Aku sudah terbiasa menghadapi serangan yang seharusnya sudah membunuhku berkali-kali lipat. Dan aku sudah terbiasa... mencari celah di antara keputusasaan."
Elara mendengus kasar, apinya berkobar makin ganas karena rasa frustrasi yang mulai tumbuh. Ia mengayunkan sayap apinya ke samping, menciptakan badai api kecil yang membakar apa saja di dekatnya.
"Kau membuatku semakin marah, manusia! Kau terus bertahan, terus menghindar, terus menolak mati... dan itu semakin membuatku sadar bahwa aku meremehkanmu terlalu jauh. Tapi tidak lagi. Aku sudah melihat batas kemampuanmu. Kau kuat, kau cepat, kau pandai mencari celah... tapi kau punya satu kelemahan besar yang mematikan: Tenagamu terbatas."
Elara melangkah maju selangkah, setiap langkahnya membuat tanah meleleh.
"Kau menggunakan kekuatan itu berlebihan. Kau memaksanya keluar melampaui batas tubuh manusia. Aku bisa merasakannya... energimu semakin lemah, semakin tidak stabil, semakin bergetar tak beraturan. Sedangkan aku? Aku belum mengeluarkan bahkan setengah dari cadangan energiku. Perbedaan tenaga kita... ibarat membandingkan samudra luas dengan genangan air hujan di jalan. Lambat laun... kau akan kehabisan tenaga. Kau akan jatuh. Dan saat itu terjadi... aku akan pastikan kau tidak bangun lagi selamanya."
Raka tahu apa yang dikatakan Elara itu benar. Ia bisa merasakan sendiri bagaimana energi di dalam dadanya semakin sulit dipanggil, semakin lambat mengalir, dan semakin menyakitkan saat digunakan. Tubuh manusia memang tidak diciptakan untuk menampung kekuatan sebesar ini dalam waktu lama. Setiap kali ia mengeluarkan serangan besar, setiap kali ia bertahan dari benturan dahsyat, tubuhnya ikut rusak sedikit demi sedikit. Tulangnya bergetar, ototnya robek, dan sarafnya terbakar.
Ia melihat ke belakang, melihat wajah-wajah pasukannya yang penuh harap, penuh takut, namun juga penuh kepercayaan padanya. Ia melihat Jenderal Agus yang mengangguk pelan, seolah berkata: Lakukan apa yang harus kau lakukan, Nak. Kami percaya padamu.
Raka menarik napas panjang, mengumpulkan keberanian terakhirnya, menyadari bahwa jika ia terus bertahan dan berlari, ia memang akan kalah karena kehabisan tenaga. Ia harus mengubah strategi. Ia harus mengambil risiko terbesar dalam hidupnya. Ia harus menyerang, meski peluangnya satu berbanding seribu.
"Kau benar, Elara..." ucap Raka perlahan, suaranya kini lebih tenang, lebih dalam, dan lebih serius dari sebelumnya. Ia perlahan menegakkan tubuhnya kembali, membiarkan luka-lukanya terbuka, membiarkan darahnya mengalir, membiarkan rasa sakit itu menjadi bahan bakar semangatnya. "Tenagaku terbatas. Tubuhku lemah. Dan aku memang tidak akan bisa bertahan selamanya melawan kekuatanmu yang tak habis-habis itu. Tapi..."
Raka perlahan mengangkat kedua tangannya ke depan dada, menyatukan kedua telapak tangannya di depan jantung, tepat di tempat di mana Sumber Unggul itu bersinar redup namun teguh. Cahaya biru yang tadinya menyebar ke seluruh tubuhnya kini ditarik masuk, dikumpulkan, dipadatkan, dan disimpan di satu titik itu saja. Tubuhnya menjadi pucat, selubung pelindungnya menghilang, dan ia terlihat semakin lemah, seolah siap roboh kapan saja.
"Manusia punya satu kelebihan yang tidak dimiliki makhluk langit yang sombong sepertimu..." lanjut Raka, matanya menyala tajam menatap lurus ke arah mata Elara. "Kami bisa mempertaruhkan segalanya. Kami bisa mempertaruhkan nyawa kami, masa depan kami, dan segala sesuatu yang kami miliki... hanya untuk satu serangan terakhir. Kami tidak takut mati. Dan itulah yang membuat kami jauh lebih berbahaya daripada apa pun yang pernah kau temui di sepanjang hidupmu yang panjang itu."
Elara terdiam sejenak, kerutan keningnya makin dalam. Ia bisa merasakan perubahan drastis pada aliran energi di tubuh Raka. Pemuda itu tidak lagi bertahan. Ia tidak lagi berlari. Ia mengumpulkan segalanya.
"Kau mau melakukan apa?" tanya Elara dingin, namun ada rasa waspada yang mulai muncul. "Apa kau mau meledakkan dirimu? Itu sia-sia. Ledakan sebesar apa pun dari tubuh kecilmu itu tidak akan menggores kulitku sedikit pun."
"Lihat saja..." jawab Raka singkat.
Tiba-tiba, Raka berteriak sekuat tenaga, teriakan yang bergema mengalahkan suara badai api di sekelilingnya.
"SEMUA PASUKAN, MUNDUR JAUH-JAUH! LARI KE TEMPAT AMAN! SEKARANG JUGA!"
Perintah itu terdengar jelas, tegas, dan penuh urgensi mutlak. Tanpa bertanya kenapa, tanpa ragu sedikit pun, Jenderal Agus segera memberi isyarat. Ribuan pasukan yang ada di sana segera berbalik badan dan lari secepat mungkin menjauh dari lokasi pertarungan itu, menjauh dari Raka dan Elara, berlari ke bukit-bukit di kejauhan, berlari sejauh tenaga mereka mampu. Mereka tahu, jika pemimpin mereka menyuruh lari... berarti apa yang akan terjadi selanjutnya akan jauh lebih dahsyat daripada apa pun yang pernah mereka lihat.
Saat lokasi itu sudah kosong melompong, saat hanya tinggal Raka dan Elara yang berdiri berhadapan di tengah lahan panas itu... Raka mulai bergerak.
Ia tidak melompat, tidak berlari, tidak berubah menjadi kilatan cahaya. Ia berjalan. Ia berjalan perlahan, langkah demi langkah, mendekati Elara. Setiap langkah yang ia ambil, cahaya biru di dadanya semakin bersinar terang, semakin kuat, semakin besar, hingga akhirnya cahaya itu meledak keluar dari tubuhnya, bukan menyebar ke sekeliling, melainkan memanjang ke atas, membentuk tiang cahaya biru raksasa yang tingginya menembus awan, menembus bayangan kapal raksasa, hingga menyentuh langit biru asli di atas sana.
Cahaya itu begitu terang, begitu murni, begitu kuat, hingga membuat api merah Elara bergoyang, menciut, dan tampak takut. Suhu panas yang tadinya mencekam tiba-tiba berubah menjadi dingin, menjadi sejuk, menjadi tenang, tertindih oleh kekuatan cahaya biru yang luar biasa itu.
Di dalam cahaya raksasa itu, wujud Raka perlahan berubah. Siluet tubuhnya membesar, melebar, tumbuh tinggi hingga sebesar Menara Raksasa yang baru saja hancur itu. Di belakangnya, terbentuk bayangan raksasa seekor burung garuda, sayapnya lebar membentang menutupi langit, paruhnya tajam mengarah ke bawah, matanya menyala biru menyala penuh kebijaksanaan dan kekuatan purba.
Itu bukan ilusi. Itu adalah wujud sejati kekuatan Sumber Unggul saat dikeluarkan sepenuhnya, tanpa penahanan, tanpa batasan, dan tanpa rasa takut sedikit pun.
Elara tertegun kaku di tempatnya. Mulutnya terbuka sedikit karena kaget yang tak terlukiskan. Api di tubuhnya padam seketika karena tekanan aura yang jauh lebih besar itu. Pedangnya terasa berat tak tertahankan hingga hampir terlepas dari tangannya. Ia menengadah ke atas, menatap wujud raksasa di depannya itu dengan mata melotot tak percaya, gemetar karena rasa bahaya yang murni dan nyata yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
"Apa... apa ini..." gumam Elara parau, mundur selangkah tanpa sadar. "Energi ini... kemurnian ini... kekuatan ini... ini bukan tingkat kekuatan bumi! Ini... ini setara dengan kekuatan Dewa Tertinggi Kerajaan Langit kami! Kenapa... kenapa ada di sini?! Kenapa ada di tangan manusia rendahan?!"
Di dalam bayangan Garuda raksasa itu, suara Raka bergema, terdengar berat, dalam, dan menggetarkan hati, terdengar oleh seluruh makhluk hidup di wilayah itu, terdengar hingga masuk ke dalam kapal raksasa di atas sana.
"Kau bilang aku hanya wadah kosong, Elara? Kau bilang aku tidak mengerti kekuatan ini? Kau bilang aku makhluk rendahan dari tanah?"
Raka mengangkat tangan raksasanya, telapak tangannya yang luas terbuka mengarah tepat ke Elara yang kini tampak kecil dan rapuh di bawah sana. Cahaya biru berkumpul di telapak tangan itu, membentuk bola energi raksasa yang berdenyut-denyut, berisi kekuatan murni yang mampu mengubah bentuk benua.
"Kau benar satu hal... aku memang belum mengerti sepenuhnya asal-usulnya. Aku memang belum menguasai segala hukumnya. Tapi aku mengerti satu hal yang paling dasar... kekuatan ini ada untuk melindungi! Dan saat kami, makhluk tanah, mempertaruhkan segalanya demi melindungi apa yang kami cintai... kekuatan ini pun akan bertarung bersama kami! Melawan siapa pun! Termasuk melawan dewa-dewa sombong sepertimu!"
Raka mencondongkan tubuh raksasanya ke depan, matanya menatap tajam tepat ke mata Elara yang mulai panik.
"Dan sekarang... rasakanlah perbedaan yang sesungguhnya, Komandan Langit! Rasakanlah bedanya kekuatan yang lahir dari keserakahan dan kekuasaan... dengan kekuatan yang lahir dari darah, air mata, dan keinginan melindungi!"
"TEKNIK RAHASIA PASUKAN GARUDA: SERANGAN CAHAYA PURBA – MENEROBOS LANGIT!"
Bola cahaya raksasa itu melesat turun dengan kecepatan tak terbayangkan, menelan Elara, menelan tanah di bawahnya, dan menciptakan gelombang dahsyat yang menyapu bersih segala sesuatu dalam jangkauannya. Cahaya itu begitu terang hingga membuat matahari di atas sana tampak redup dan gelap dibandingkan dengannya.
Di atas sana, di dalam kapal raksasa itu, para pengamat dan petinggi Kerajaan Langit terdiam kaku, wajah mereka pucat, mulut mereka terbuka lebar tak percaya melihat pemandangan yang mustahil itu: Seorang manusia bumi... sedang mengalahkan dan menghancurkan seorang Komandan Besar Kerajaan Langit.