Genre: Romance, Psychological Thriller, Suspense, Drama
Tag: CEO, Mantan Istri, Posesif, Psikopat, Penyesalan, Second Chance Romance
Sinopsis Resmi:
Dua tahun setelah menceraikan Kirana karena keangkuhannya, CEO Adrian Dirgantara didera penyesalan mendalam. Saat ia berniat merebut kembali hati mantan istrinya, Adrian mendapati Kirana telah menikah lagi dengan Rendy Baskoro.
Di mata publik, Rendy adalah suami sempurna. Namun di balik pintu rumah, Rendy adalah seorang psikopat manipulatif yang menyiksa dan menyekap Kirana dalam teror obsesi yang gila.
Menyadari Kirana dalam bahaya maut, Adrian mempertaruhkan nyawa dan seluruh kekuasaannya untuk menghancurkan Rendy. Akankah Kirana yang penuh trauma bisa kembali luluh dan selamat di pelukan Adrian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aera_yong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fajar Setelah Badai
Suara bising dari ruang tamu apartemen perlahan mulai surut saat garis polisi berwarna kuning dipasang di sepanjang koridor luar. Tim forensik telah mengamankan proyektil peluru dan membawa para penyusup yang terluka ke rumah sakit bhayangkara di bawah pengawalan ketat.
Di dalam kamar utama, suasananya jauh lebih tenang, hanya menyisakan aroma cairan antiseptik yang tajam. Adrian duduk di tepi ranjang dengan kemeja yang telah ditanggalkan setengah, memperlihatkan bahu dan dada tegapnya yang kokoh. Dr. Elena, yang dipanggil kembali pasca-insiden, dengan telaten menjahit luka robek di lengan kiri Adrian. Pria itu tidak mengerang sedikit pun, rahangnya hanya mengatup rapat setiap kali jarum medis menembus kulitnya.
Kirana berdiri tidak jauh dari sana, meremas kedua tangannya sendiri dengan cemas. Setiap kali melihat kapas berlumuran darah yang dibuang ke dalam wadah logam, dadanya terasa berdenyut nyeri. Rasa bersalah yang teramat besar menghujam hatinya.
"Selesai, Pak Adrian," ucap Dr. Elena seraya merapikan perban putih yang kini membalut rapi lengan kiri sang CEO. "Luka ini tidak mengenai pembuluh darah besar atau otot vital, tetapi Anda harus mengistirahatkan lengan kiri Anda selama beberapa hari ke depan agar jahitannya tidak robek."
"Terima kasih, Dok," jawab Adrian pendek. Ia kemudian menatap Kirana yang masih mematung di sudut ruangan. "Elena, tolong periksa kondisi Kirana juga. Dia sempat syok berat di dalam ruang persembunyian tadi."
Dr. Elena menoleh ke arah Kirana, memberikan senyuman menenangkan yang profesional. "Ibu Kirana, mari ikut saya ke kamar sebelah untuk memeriksa tensi dan memberi Anda vitamin tambahan agar bisa beristirahat."
Kirana menggeleng pelan, matanya tetap tertuju pada perban di lengan Adrian. "Aku baik-baik saja, Dok. Terima kasih. Aku... aku hanya ingin di sini sebentar."
Memahami situasi emosional di antara kedua mantan suami istri itu, Dr. Elena mengangguk maklum. Ia membereskan peralatan medisnya, berpamitan dengan sopan, lalu melangkah keluar dari kamar dan menutup pintu dengan rapat, memberikan mereka privasi yang sangat mereka butuhkan.
Hening sejenak menyelimuti kamar besar itu. Adrian perlahan memakai kembali kaos hitam kasualnya dengan tangan kanan, sedikit meringis saat kainnya bergesekan dengan perban.
"Kemarilah, Kirana," panggil Adrian, suaranya melembut, mengikis keheningan di antara mereka. Ia menepuk sisi ranjang di sebelahnya yang kosong.
Kirana melangkah perlahan, lalu duduk di tepi ranjang namun tetap menjaga jarak aman. Ia menundukkan kepalanya, tidak berani menatap langsung mata elang Adrian. "Mas... kenapa kamu melakukan semua ini? Kamu bisa saja mati tadi. Aku tidak pantas mendapatkan pengorbanan sebesar ini dari dirimu setelah apa yang aku lakukan dua tahun lalu."
Adrian menggeser tubuhnya mendekat, memangkas jarak di antara mereka hingga Kirana bisa merasakan kehangatan tubuh pria itu. Dengan tangan kanannya yang sehat, Adrian meraih dagu Kirana dengan sangat lembut, mengangkatnya perlahan agar wanita itu mau menatap matanya.
"Dua tahun lalu, kamu pergi karena aku yang membunuh jiwamu dengan keabaianku, Kirana," ujar Adrian, matanya memancarkan ketulusan dan penyesalan yang begitu pekat. "Aku membiarkan wanita terbaik dalam hidupku berjalan ke dalam kegelapan karena egoku yang terlalu tinggi. Jadi, jika hari ini aku harus menerima sebutir peluru untuk memastikanmu tetap bernapas dan aman, itu belum ada apa-apanya dibandingkan luka batin yang aku torehkan padamu selama dua tahun pernikahan kita dulu."
Air mata Kirana kembali jatuh, namun kali ini ada rasa hangat yang menjalar di dadanya, mencairkan sisa-sisa trauma ketakutan yang sempat membekukannya. Genggaman tangan Adrian di pipinya terasa begitu nyata dan melindungi.
"Rendy tidak akan berhenti, Mas," bisik Kirana, suaranya bergetar. "Dia adalah pria yang gila. Jika dia tidak bisa memilikiku, dia akan menghancurkan siapa saja. Dia menganggapku sebagai barang pajangan yang tidak boleh hilang."
"Maka aku akan memastikan sang pemilik barang itu yang akan hancur terlebih dahulu," desis Adrian, kilatan dingin kembali muncul di matanya saat nama Rendy disebut. "Rendra baru saja mengabari bahwa polisi telah melacak pelarian Satria, sekretaris Rendy. Mereka menuju ke arah pelabuhan tikus di banten untuk menyeberang keluar pulau. Jaringan bisnis Baskoro Logistics sudah lumpuh total hari ini. Rendy tidak punya kekuatan finansial lagi di negeri ini. Dia sudah kalah, Kirana."
Kirana menarik napas dalam-dalam, mencoba memercayai kata-kata Adrian. Untuk pertama kalinya setelah empat bulan hidup dalam teror sangkar emas, ia merasa fajar kebebasannya benar-benar mulai menyingsing.
---
Sementara itu, di sebuah dermaga nelayan yang sepi dan gelap di pesisir pantai Anyar, Banten, hujan menyisakan genangan air lumpur yang kotor. Sebuah kapal motor nelayan berukuran sedang tampak bersandar dengan mesin yang sengaja dimatikan agar tidak menarik perhatian patroli air.
Di dalam kabin kapal yang pengap dan diterangi lampu minyak kuning yang temaram, Rendy Baskoro duduk di atas peti kayu dengan pakaian yang mulai kotor terkena cipratan air laut. Wajah tampannya kini tampak kusut, rambutnya acak-akan, dan tidak ada lagi kesan pengusaha elite yang terhormat pada dirinya.
Pintu kabin terbuka dengan kasar, dan Satria masuk dengan tubuh yang basah kuyup karena air hujan. Napas sekretarisnya itu memburu, wajahnya pucat pasi karena ketakutan.
"Pak Rendy... kita harus berangkat sekarang juga!" kata Satria dengan suara panik yang tertahan. "Orang-orang kita di jalan utama melaporkan bahwa dua mobil polisi dan tim buser sudah memblokade jalur keluar pelabuhan! Mereka tahu kita di sini!"
Rendy tidak langsung berdiri. Ia menatap lampu minyak yang bergoyang pelan mengikuti ombak laut dengan pandangan yang kosong namun sarat akan kegilaan yang matang.
"Apakah tim di Menteng berhasil membawa Kirana?" tanya Rendy, suaranya terdengar sangat tenang, ketenangan yang justru membuat bulu kuduk Satria merinding.
"G-gagal, Pak. Adrian Dirgantara bersenjata, dan polisi tiba terlalu cepat. Semua orang kita di sana tertangkap," jawab Satria dengan terbata-bata.
Rendy terdiam selama beberapa detik. Tiba-tiba, ia tertawa pelan. Tawa itu perlahan berubah menjadi tawa terbahak-bahak yang menggema mengerikan di dalam kabin kapal yang sempit. Sifat psikopatnya telah mengambil alih sisa warasnya sepenuhnya setelah semua rencananya hancur berantakan.
"Adrian... kamu hebat. Kamu benar-benar menghancurkan mainanku," gumam Rendy, menghentikan tawanya mendadak, digantikan oleh tatapan mata yang seputih salju tanpa emosi manusia lagi. Pria itu berdiri, meraba saku jasnya dan mengeluarkan sebuah paspor palsu serta sebuah pemantik api emas.
"Mari kita pergi dari sini, Satria. Kita menyeberang ke Singapura lewat jalur laut internasional," ujar Rendy sambil menyalakan pemantik apinya, membakar paspor aslinya yang berlambang garuda hingga menjadi abu di lantai kapal. "Katakan pada jaringan kita di luar negeri... siapkan sisa aset cairku. Aku akan kembali ke Jakarta dengan cara yang tidak akan pernah dibayangkan oleh Adrian Dirgantara. Jika Kirana tidak bisa menjadi istriku... maka dia harus bersiap untuk menjadi teman matiku di liang lahat."
Rendy melangkah keluar ke dek kapal di tengah terpaan angin laut yang dingin, meninggalkan Jakarta dengan dendam kesumat yang membara, siap merencanakan pembalasan yang jauh lebih mematikan dari kegelapan pelariannya.
---
Bersambung ke Episode 12