Sepuluh tahun pernikahan dan ribuan jarum suntik hanya menyisakan hampa bagi Zira Falisha. Demi cinta, ia mengizinkan wanita lain meminjamkan rahim untuk benih suaminya, Raka. Namun, ia tak menyangka keputusan itu justru membuka pintu perselingkuhan. Raka tidak hanya berbagi prosedur medis, tapi juga berbagi hati di belakangnya.
Namun, siapa sangka kehancuran rumah tangganya justru dimanfaatkan oleh pria yang berusia jauh lebih muda darinya, Kayden Julian Pradipta.
"Zira, minta suamimu untuk tidak campur tangan tentang hubungan kita."
"Dasar tidak waras!"
"Pria tidak waras ini masih mencintaimu, Sayang. Kutunggu jandamu."
Jika dulunya Kayden merelakan Zira menikahi pria lain, tapi saat ini ia tak mau lagi membiarkan wanita itu bersama pria yang menyakitinya. Ditambah, kehadiran seorang bocah menggemaskan yang memanggil Kayden dengan sebutan Papa.
"Oh, Mama balu Zayla? Yang kemalen itu nda jadi, Papa beal?"
Apakah Kayden berhasil merebut Zira dari suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kenz....567, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Baby Girl
Kayden telah siap untuk menemui Zira pagi ini. Ia berdiri di depan cermin besar, merapikan jas hitam formal yang dipadukan dengan rompi senada. Penampilannya kali ini benar-benar memancarkan aura pria dewasa yang gagah dan mapan. Ia sengaja tidak mencukur habis jenggot tipis di dagunya, membiarkannya tumbuh pendek agar memberikan kesan lebih matang dan maskulin. Meski usianya lebih muda dari Zira, ketampanannya hari ini sungguh tidak bisa dipandang sebelah mata.
"Lapih kali, mau cali lokel dimana?" suara cempreng Zayra mengejutkannya.
Kayden menoleh, mendapati sosok bocah menggemaskan itu sedang memeluk setengah buah semangka besar di atas karpet. Wajahnya yang bulat tampak serius memperhatikan sang papa.
"Cari loker? Kamu pikir Papa kere sampai harus cari lowongan kerja?" ucap Kayden dengan nada kesal yang dibuat-buat.
Zayra tidak peduli. Ia menyendok daging semangkanya, memasukkannya ke dalam mulut hingga pipinya menggembung, sambil tetap memperhatikan Kayden yang sedang melipat lengan kemejanya dengan teliti.
"Papa nda lihat Zayla makan ini buah melah cetengah? Kata bibi nda boleh catu nanti Papa malah. Papa malah takut kele kan?" ucap Zayra yang membuat Kayden melongo dengan tatapan tak percaya.
"Bu-bukan begitu," Kayden memegang keningnya, merasa logikanya mulai diuji oleh balita. "Aiss, bukan begitu maksudnya. Memangnya perutmu kuat makan sebanyak itu? Bahaya kalau berlebihan, lebih baik makan nasi. Buah saja terus, ngemil saja terus dari tadi," desis Kayden kesal.
Zayra meletakkan sendoknya. Ia memang tipe anak yang jarang mau makan nasi, ia lebih memilih camilan dan buah-buahan segar. Namun, teguran Kayden barusan rupanya memancing emosinya. Kedua tangan mungilnya mendarat di pinggang, ia menatap pria dewasa di hadapannya dengan tatapan tajam yang justru terlihat lucu.
"Itu otak Papa nda diale lagi, tapi muntabel. Kalau malan naci teluuuuus, Zayla kuluuus ngelti nda?" ucap anak itu dengan nada sok tahu yang luar biasa.
"Kamu mengerti bahasa muntaber dari mana, Zayraaaa!" pekik Kayden frustrasi. Pasalnya, ia merasa tidak pernah mengajarkan istilah medis aneh-aneh pada putrinya. Dari mana bocah ini menyerap informasi seperti itu?
Zayra kembali memeluk semangkanya dan menyendoknya lagi. "Belajal makanya Papa, jangan cali ictli tapi di titip ke olang. Cudahlah, Zayla macih lapal. Papa kele, Zayla di kacih makan naci galem aja. Melana dili ini," ucapnya sembari melangkah pergi meninggalkan ruang tengah dengan gaya dramatis.
Kayden mematung, syok dengan kalimat makan nasi garam dan merana diri yang diucapkan Zayra. "Ekhem, ini belum ada seminggu Anda tinggal bersamanya secara intens, Tuan," ucap Elvar yang tiba-tiba muncul di dekat pintu, mengejutkan Kayden.
"Diamlah!" desis Kayden kesal. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa Zayra akan secerdik dan semengesalkan itu. Selama ini ia hanya menjenguknya sesekali, tidak tahu jika merawat anak itu setiap hari sanggup menguras emosi dan kewarasan.
Dert!
Dert!
Getaran di saku jasnya seketika menghapus rasa kesal Kayden. Raut wajahnya berubah ceria dalam sekejap saat melihat nama di layar ponselnya. Ia bergegas merapikan jasnya terakhir kali.
"Tunggu, aku segera datang, oke," ucapnya pada ponsel tersebut dan langsung berlari keluar. Elvar yang melihat tingkah majikannya hanya bisa menggelengkan kepala.
"Dasar budak cinta, mana jadi berondong istri orang lagi," gumam Elvar sembari terkekeh kecil.
"Belondongnya ictli olaaaang?!" suara Zayra tiba-tiba muncul dari balik sofa.
"Eh?!" Elvar tersentak, menutup mulutnya rapat-rapat. Gawat, bocah itu punya telinga yang sangat tajam.
.
.
.
.
Kayden mengemudikan mobilnya dengan perasaan yang sangat ringan. Ia baru saja menjemput Zira dari toko bunga nya. Hari ini, mereka berdua telah sepakat untuk berjalan-jalan menikmati keindahan kota London. Bagi Kayden, ini adalah kemenangan kecil. Zira mulai membuka celah baginya, memberikan peluang yang selama bertahun-tahun ia impikan, meskipun status wanita itu secara hukum masih menjadi istri Raka.
"Kita ke pantai? Aku tahu di mana pantai yang indah dan romantis di pinggiran kota," ucap Kayden yang membuat Zira terkekeh pelan di kursi penumpang.
"Berarti tempat itu tidak cocok untuk kita, Kay. Kamu jomblo, dan suamiku sedang sibuk bersama wanita lain," ucap Zira dengan nada getir yang dibungkus candaan.
Kayden menoleh sejenak, memberikan senyum penuh arti. "Hei, justru sangat cocok untuk kita. Suamimu sedang bersama wanita lain, dan kamu sedang bersama berondongmu yang tampan ini," goda Kayden yang akhirnya memicu tawa renyah dari bibir Zira.
Perlahan, di tengah kepadatan lalu lintas London, Kayden menjauhkan satu tangannya dari kemudi. Ia meraih jemari Zira dan menggenggamnya dengan erat namun lembut, sementara matanya tetap fokus menatap jalan di depan. Zira tersentak kaget, namun ia tidak menarik tangannya. Genggaman tangan Kayden memberikan rasa aman dan hangat yang sudah lama tidak ia rasakan dari Raka. Tanpa sadar, Zira menyandarkan kepalanya di bahu kokoh Kayden, menikmati setiap detik perjalanan yang diiringi musik romantis dari radio mobil.
"Oh ya, Bunda ada tanya soal kamu semalam," ucap Kayden memecah keheningan.
"Tanya apa?" Zira mendongak, menatap rahang tegas Kayden dari bawah.
Kayden menunduk sejenak, berdehem pelan untuk mengatur degup jantungnya. Kedekatan fisik ini benar-benar menguji pertahanannya. "Ya, Bunda bilang perasaannya sedang tidak enak. Wajarlah, insting seorang ibu. Walaupun kamu tidak menceritakan apa-apa, beliau pasti tahu ada sesuatu yang tidak beres terjadi pada putrinya."
Zira terdiam. Kalimat Kayden menghantam sisi emosionalnya. "Aku ... aku belum siap melihat wajah kecewa Bunda dan Ayah jika tahu pernikahanku sehancur ini," lirihnya sedih.
"Aku paham," ucap Kayden lembut. Ia melepaskan genggaman tangannya sejenak hanya untuk mengelus puncak kepala Zira dengan penuh kasih sayang. Sikap protektif dan lembut pria muda ini seolah menjadi magnet bagi Zira untuk terus bersandar.
Namun, suasana tenang itu pecah seketika saat ponsel Zira di dalam tas berdering nyaring tanpa henti. Zira segera menegakkan duduknya dan merogoh tasnya.
"Siapa?" tanya Kayden saat melihat ekspresi Zira berubah menjadi tegang.
"Raka," gumam Zira pelan.
Kayden mendengus, rahangnya mengeras karena rasa tidak suka yang tiba-tiba muncul. Ia menepikan mobilnya secara mendadak di bahu jalan, membuat Zira menatapnya dengan bingung.
"Bisa minta suamimu untuk tidak ikut campur tentang hubungan kita, Sayang?" ucap Kayden dengan nada suara yang dalam dan serius.
"Eh?" Zira terpaku. Ia menatap Kayden yang kini menatapnya dengan tatapan tajam, tanpa ada sisa candaan seperti tadi.
"Aku cemburu, baby girl," tegas Kayden.
Degh!
Jantung Zira berdegup kencang. Panggilan itu, tatapan itu, dan pengakuan jujur dari Kayden membuatnya kehilangan kata-kata. Di dalam mobil yang terparkir di pinggir jalanan London itu, Zira sadar bahwa ia tidak hanya sedang melarikan diri dari Raka, tapi ia sedang menuju ke arah pria yang tidak akan pernah melepaskannya lagi.
_____________________
Hbs ni jujur sejujur²nya sm Zira...jelasin siapa itu perempuan pirang
Bilang aja klw dia emang ngejar²mu biar Zira jg menyiapkan amunisi
Jgn ada yg ditutup²i
Meski sedikit menurutmu tp klw gak tuntas bs jd mslh besar
Denger Kay...dengeeerrr
Aysss...pen kujewer kupingmu Kay