Pernikahan yang terlihat harmonis, ternyata penuh penghianatan. Celsi memilih pergi saat mengetahui suaminya berselingkuh dengan sepupunya sendiri.
"Aku pergi, Mas!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danie A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 2
Bandung sore itu turun hujan.
Bukan hujan deras. Hanya gerimis panjang yang membuat jalanan terlihat abu dan udara menjadi lebih dingin dari biasanya.
Celsi duduk di ruang keluarga sambil melipat pakaian.
Televisi menyala tanpa benar-benar ditonton.
Tangannya bergerak otomatis.
Pikiran lain yang sibuk.
Sejak siang tadi, ia masih memikirkan kunjungan mertuanya.
Bukan karena jamu.
Bukan juga karena vitamin.
Tapi karena pertanyaan yang sebenarnya sudah terlalu sering ia dengar.
"Kalian kapan?"
Kadang Celsi bertanya dalam hati.
Kalau suatu hari dia benar-benar tidak bisa punya anak…
apa orang-orang akan tetap menganggap rumah tangganya utuh?
Ponselnya berbunyi.
Pesan dari Rangga.
"Aku agak pulang malam ya."
Celsi langsung membalas.
"Lembur?"
Beberapa menit kemudian.
"Iya. Ada meeting tambahan."
Celsi mengetik lagi.
"Oke. Hati-hati."
Balasan datang cepat.
"Jangan nungguin makan."
Celsi tersenyum kecil.
Tetap perhatian.
Tetap memberi kabar.
Tidak ada yang aneh.
Ia meletakkan ponsel dan melanjutkan melipat pakaian.
Sampai terdengar suara pagar depan.
Celsi melirik keluar.
Tetangganya, Bu Mira, sedang berdiri di depan rumah sambil memegang payung.
Celsi membuka pintu.
"Bu?"
Bu Mira tersenyum.
"Eh, lagi di rumah?"
"Iya, Bu. Masuk dulu."
Bu Mira masuk sambil membawa kotak kecil.
"Tadi bikin bolu. Kebanyakan."
Celsi menerima.
"Wah makasih."
Mereka duduk sebentar.
Obrolan ringan.
Cuaca.
Harga sayur.
Acara RT.
Sampai tiba-tiba Bu Mira diam.
Celsi baru sadar.
Tatapan wanita itu agak ragu.
"Kenapa Bu?"
Bu Mira langsung tersenyum canggung.
"Nggak… nggak apa-apa."
Celsi tertawa kecil.
"Kalau mau ngomong ya ngomong aja."
Bu Mira tampak berpikir.
Lalu berkata pelan.
"Celsi… kamu jangan marah ya."
Celsi mulai bingung.
"Kenapa?"
Bu Mira mengusap tangan.
"Kemarin saya kayak lihat Rangga."
Celsi tersenyum.
"Oh ya?"
"Iya."
"Lagi kerja mungkin."
Bu Mira diam sebentar.
"Lagi sama perempuan."
Ruangan mendadak terasa lebih sunyi.
Celsi masih tersenyum.
Tapi sekarang lebih kaku.
"Oh… klien kali Bu."
Bu Mira cepat mengangguk.
"Iya iya bisa jadi."
Celsi tetap tenang.
"Di mana emangnya?"
"Di daerah Dago."
Celsi tertawa kecil.
"Kalau di Dago ya pasti urusan kerja."
Bu Mira terlihat tidak enak.
"Iya mungkin saya salah lihat."
Celsi mengangguk.
Dalam hati bahkan ia tidak merasa terganggu.
Rangga?
Pergi dengan perempuan?
Mungkin rekan kerja.
Mungkin klien.
Mungkin saudara.
Lagipula selama tiga tahun…
Rangga tidak pernah memberi alasan untuk dicurigai.
Setelah Bu Mira pulang, Celsi malah merasa sedikit tidak nyaman.
Bukan karena curiga.
Tapi karena merasa Bu Mira sudah salah menilai suaminya.
Malam itu.
Jam menunjukkan pukul setengah sembilan.
Pintu rumah terbuka.
Rangga masuk.
Wajahnya terlihat lelah.
Celsi langsung berdiri.
"Loh katanya makan di luar?"
Rangga berhenti sebentar.
"Oh iya."
Dia tersenyum.
"Maaf ya. Meeting kepanjangan."
Celsi mendekat.
"Udah makan?"
Rangga melepas jam tangan.
"Udah."
Celsi mengangguk.
Tidak bertanya lagi.
Dia membantu mengambil tas kerja suaminya.
Saat meletakkan tas di meja…
sesuatu jatuh.
Kertas.
Celsi refleks mengambil.
Bukti pembayaran.
Rangga yang sedang membuka kancing kemeja tidak memperhatikan.
Celsi membaca sekilas.
Nama toko perhiasan.
Tanggal bulan lalu.
Nominal cukup besar.
Celsi berkedip.
Perhiasan?
Dia menoleh.
"Sayang."
Rangga melihat.
"Hm?"
Celsi mengangkat kertas.
"Ini apa?"
Rangga diam sepersekian detik.
Sangat cepat.
Kalau tidak diperhatikan mungkin tidak akan terlihat.
Lalu dia tersenyum.
"Oh."
Dia mengambil kertas itu.
"Nggak penting."
Celsi mengernyit.
"Perhiasan?"
Rangga tertawa kecil.
"Rahasia."
Celsi ikut tertawa.
"Hadiah buat siapa?"
Rangga mendekat lalu mencubit pipinya.
"Kepo."
Celsi pura-pura cemberut.
"Aku istrinya."
Rangga diam sebentar.
Lalu berkata santai.
"Nanti juga tau."
Celsi tidak bertanya lagi.
Mungkin memang hadiah.
Mungkin untuk ibunya.
Mungkin untuk proyek kantor.
Atau…
mungkin untuk dirinya.
Tapi dia juga tidak pernah menerima.
Aneh.
Namun tidak cukup aneh untuk dicurigai.
Hari berikutnya.
Celsi sedang membersihkan lemari ruang tamu.
Ponselnya berbunyi.
Video call masuk.
Nama yang muncul membuatnya tersenyum.
Vena.
Adik sepupunya.
Sudah lama tidak menghubungi.
Celsi mengangkat.
"Woy."
Di layar muncul gadis berusia pertengahan dua puluhan dengan wajah ceria.
"Kangen aku nggak?"
Celsi tertawa.
"Nggak."
Vena pura-pura sedih.
"Jahat."
"Kamu ke mana aja?"
Vena menghela napas.
"Lagi pusing kerja."
Celsi tersenyum.
"Masih di Jogja?"
"Iya."
Mereka mengobrol lama.
Tentang masa kecil.
Tentang keluarga.
Tentang pekerjaan.
Vena terlihat seperti biasa.
Ceria.
Sedikit manja.
Dan entah kenapa…
Celsi merasa nyaman bicara dengannya.
Sampai Vena tiba-tiba bertanya.
"Mas Rangga mana?"
Celsi menjawab santai.
"Kerja."
Vena tersenyum.
"Masih perhatian?"
Celsi tertawa.
"Masih."
Vena mengangguk pelan.
"Bagus."
Celsi tidak sadar.
Tatapan Vena berubah sesaat.
Sangat singkat.
Lalu kembali normal.
"Oh ya."
Vena tersenyum.
"Nanti kalau aku ke Bandung, boleh nginep?"
Celsi langsung senang.
"Boleh lah."
"Serius?"
"Iya."
Vena tertawa.
"Siap."
Panggilan selesai.
Celsi kembali membereskan rumah.
Sore.
Rangga pulang lebih cepat.
Dia masuk sambil memegang kantong plastik.
Celsi heran.
"Beli apa?"
Rangga mengangkat kantong.
Es krim.
Celsi langsung tertawa.
"Kamu inget?"
Rangga duduk.
"Aku kan janji."
Celsi duduk di sebelahnya.
Rangga membuka kemasan.
Mereka makan sambil menonton.
Lalu tiba-tiba Celsi bertanya santai.
"Oh ya."
Rangga melihat.
"Kemarin Bu Mira bilang lihat kamu di Dago."
Rangga diam.
Sangat sebentar.
"Hm?"
"Sama perempuan."
Rangga menatap televisi.
Lalu tertawa.
"Klien."
Jawabannya cepat.
Normal.
Tidak ada gugup.
Celsi mengangguk.
"Tuh kan."
Rangga menoleh.
"Kamu percaya?"
Celsi tertawa kecil.
"Emang harus nggak?"
Rangga diam.
Lalu tersenyum.
"Jangan terlalu percaya orang."
Celsi mengangguk.
"Iya."
Dia melanjutkan makan.
Dan percakapan itu selesai.
Begitu saja.
Tapi malam itu…
saat Celsi mencuci mangkuk es krim…
entah kenapa…
untuk pertama kalinya sejak menikah…
dia teringat lagi pada kertas pembayaran perhiasan itu.
Dan untuk pertama kalinya juga…
muncul pertanyaan kecil.
Kalau itu bukan untukku…
buat siapa?