"Tapi, aku tidak mencintai Papa," ucap Luna bergetar di depan pria yang seharusnya menjadi ayah mertuanya.
"Tidak masalah Luna, Papa yakin lambat laun kamu akan mencintai Papa."
Dikhianati Fauzan di hari pernikahan demi wanita lain membuat Luna hancur di hadapan semua tamu. Namun, saat dunianya runtuh, sang calon ayah mertua Mahendra justru mengulurkan tangan dan mengambil alih posisi mempelai pria. Mampukah pernikahan beda usia 25 vs 50 tahun ini menyembuhkan luka Luna, atau justru menjadi awal dari konflik baru yang lebih rumit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Luna menatap layar ponselnya yang masih menyala, menampilkan pesan posesif dari Mahendra.
Berniat untuk sekadar memberi kabar agar suaminya tidak cemas, Luna mengarahkan kamera ponselnya ke atas meja kerja, memotret porsi nasi goreng babat hangat yang dipesankan oleh Dika, lalu mengirimkannya dengan keterangan singkat:
“Sudah mau makan, Mas. Ini dipesankan oleh Pak Dika.”
Di seberang sana, di dalam ruang kerja megah Dirgantara, kecemburuan hebat seketika melanda sang Titan Bisnis.
Mahendra menatap foto kiriman Luna dengan rahang yang mengeras rapat.
Sepasang mata tajamnya menyipit, menatap nanar kotak makan siang yang tampak begitu familier di samping kubikel istrinya.
Berani-beraninya CEO muda dari Pratama Group itu menyentuh wilayah kepemilikannya dengan perhatian-perhatian domestik seperti ini?
BRAKKK!
Mahendra menutup ponselnya di atas meja dengan ketukan yang cukup keras.
Setengah abad usianya di dunia ini telah mengajarkan Mahendra cara memenangkan setiap negosiasi bisnis, dan ia sama sekali tidak berniat untuk kalah dalam urusan mempertahankan hati istri kecilnya.
"Aku juga bisa," ucap Mahendra berbisik rendah dengan nada suara yang sedingin es.
Aura dominannya menguar kuat di dalam ruangan, menolak kalah saing dari musuh bisnis mudanya itu.
Pria paruh baya itu langsung bangkit, menyambar jas mewahnya, dan melangkah lebar keluar ruangan sembari memberi perintah mutlak kepada pengawal pribadinya untuk menyiapkan mobil.
Satu jam berlalu. Luna baru saja menyelesaikan suapan terakhir nasi gorengnya dan sedang merapikan kotak makan yang kosong ke dalam tempat sampah. Namun, ketenangan di lantai eksekutif Pratama Group mendadak pecah oleh kegemparan halus dari arah lobi lift.
Langkah kaki yang berat, tegas, dan penuh wibawa terdengar mendekat.
Luna mendongak dan seketika sepasang matanya membelalak sempurna.
Ia dikejutkan dengan kedatangan suaminya yang berjalan tegap membelah koridor kantor, lengkap dengan setelan jas hitam mahalnya yang super rapi.
Di tangan kanan pria matang itu, terjinjing sebuah kantong plastik besar berlogo restoran nasi Padang premium yang masih mengepulkan uap hangat.
Beberapa karyawan yang berpapasan langsung menunduk hormat, terintimidasi oleh karisma luar biasa yang dipancarkan oleh Mahendra Dirgantara.
Luna langsung berdiri dari kursinya dengan wajah panik sekaligus heran.
"Mas Mahendra? Mas, ada apa? Kenapa siang-siang begini datang ke kantorku?"
Mahendra menghentikan langkahnya tepat di depan meja Luna.
Tatapan matanya yang semula tajam langsung melunak begitu menatap wajah cantik istrinya.
Dengan gerakan yang sangat santai namun posesif, ia meletakkan bungkusan besar berisi nasi Padang lauk rendang dan tunjang itu di atas meja kerja Luna—tepat di bekas tempat kotak makan dari Dika sebelumnya.
"Ini untuk kamu, Sayang. Makan lagi," ucap Mahendra dengan suara baritonnya yang berat dan penuh penekanan mutlak.
"Aku tidak mau kamu keracunan makanan di sini."
Luna mengerutkan dahinya, menatap bungkusan nasi Padang itu lalu beralih ke wajah suaminya yang tampak begitu serius.
"Mas, aku sudah lama bekerja di sini dan tidak ada satu pun karyawan yang keracunan," jawab Luna dengan sangat polos.
Iasama sekali tidak menyadari riak cemburu buta yang sedang berkecamuk di dalam dada suaminya yang berusia lima puluh tahun itu.
"Tetap saja, aku tidak percaya dengan standar kebersihan makanan di luar pengawasanku," sahut Mahendra defensif, menaikkan sebelah alisnya dengan angkuh.
Ceklek!
Pintu ruangan CEO mendadak terbuka. Dika melangkah keluar setelah mendengar kegaduhan di depan ruangannya.
Menyaksikan sosok Mahendra yang berdiri dengan aura menantang di wilayah kekuasaannya, Dika langsung mengetatkan rahangnya.
Dika bangkit dari sisa jarak profesionalnya, melangkah mendekati pasutri baru itu dengan tatapan mata yang tak kalah tajam.
Ia melirik bungkusan nasi Padang premium di atas meja, lalu menatap Mahendra dengan senyuman tipis yang sarat akan provokasi.
"Kalau begitu, karena Luna sudah kenyang memakan nasi goreng pemberian saya, ini untuk saya saja," ucap Dika dengan suara tenang namun tegas.
Dika mengulurkan tangannya, bersiap meraih bungkusan nasi Padang yang dibawa oleh sang konglomerat demi memecah dominasi pria paruh baya itu di hadapan Luna.
"Ini untuk istriku, Dika!!"
Suara bariton Mahendra menggelegar, berat dan penuh dengan intimidasi yang seketika membekukan atmosfer di lantai eksekutif Pratama Group.
Tangan kekar sang konglomerat bergerak kilat, menepis pelan namun tegas jemari Dika sebelum CEO muda itu sempat menyentuh bungkusan nasi Padang di atas meja.
Sorot mata Mahendra menajam sedingin es, memancarkan aura superioritas mutlak yang menegaskan bahwa apa pun yang menjadi miliknya—termasuk makanan itu—tidak boleh disentuh oleh pria lain.
Luna yang berada di antara dua pria beda generasi itu seketika menelan saliva dengan susah payah.
Menyadari situasi yang makin memanas, ia memberanikan diri memegang lengan jas Mahendra.
"Mas, tapi aku benar-benar sudah kenyang," cicit Luna jujur, menatap suaminya dengan tatapan memohon agar pria matang itu tidak membuat keributan di kantor tempatnya bekerja.
Mahendra menurunkan pandangannya pada Luna.
Kilat amarah di matanya mendadak melunak, berganti dengan gurat posesif yang kental.
Ia membalikkan telapak tangannya, menggenggam erat jemari lentik Luna di depan mata Dika.
"Kalau begitu temani aku makan di sini. Aku sengaja belum menyentuh makan siangku hanya untuk makan bersamamu, Sayang," ucap Mahendra dengan nada suara yang sengaja direndahkan, terdengar begitu manja namun penuh tuntutan yang sulit dibantah.
Luna melirik tumpukan dokumen audit yang masih menggunung di kubikelnya dengan cemas.
"Tapi Mas, pekerjaanku masih banyak dan jam istirahat kantor sudah hampir habis..."
Seolah mengabaikan kalimat Luna, Mahendra kembali memutar tubuhnya menghadap Dika.
Dengan dagu yang terangkat angkuh dan sebelah tangan yang bersedekah di dada, sang Titan Bisnis melemparkan pertanyaan yang lebih terdengar seperti perintah terselubung.
"Dika, apa boleh dia menemaniku makan di ruangan ini?" tanya Mahendra, memicingkan matanya, menguji sejauh mana nyali kompetitor mudanya itu untuk menolak permintaannya.
Dika mengetatkan rahangnya hingga urat-urat di lehernya menegang.
Sebagai CEO Pratama Group, harga dirinya laksana diinjak-injak di wilayah kekuasaannya sendiri oleh kesombongan pria berusia setengah abad di hadapannya ini.
Dika melangkah maju satu pijakan, menatap tepat ke dalam manik mata tajam Mahendra tanpa ada rasa gentar sedikit pun.
"Tidak boleh!" jawab Dika tegas, suaranya lantang memecah keheningan koridor. "Dan sekarang, kembalilah ke kantormu, Mahendra. Ini adalah Pratama Group, bukan Dirgantara Holdings di mana kamu bisa mendikte semua aturan sesukamu. Luna sedang bekerja di bawah kontrak perusahaan saya, dan waktunya di sini adalah milik profesionalisme kantor ini!"
Suasana seketika menjadi begitu mencekam hingga suara napas pun terdengar jelas.
Di kejauhan, beberapa staf yang curi-curi pandang dari balik kubikel mereka langsung menunduk dalam-dalam, ketakutan menyaksikan bentrokan langsung antara dua penguasa bisnis yang sedang memperebutkan satu wanita.
Mahendra menatap Dika dengan senyuman miring yang sarat akan cemoohan.
Ketegasan CEO muda itu sama sekali tidak menciutkan nyalinya.
Sebaliknya, melihat Dika yang mulai terpancing emosi justru membuat sang Titan Bisnis merasa di atas angin.
"Baiklah, aku pergi dari sini. Dan aku akan datang lagi jam lima sore untuk menjemputmu," ucap Mahendra.
"Iya, Mas," jawab Luna sambil mengangguk kecil demi meredakan ketegangan yang mendominasi koridor sejak tadi.
Sebelum berbalik, Mahendra menarik tubuh Luna mendekat.
Di depan mata Dika yang menahan geram, Mahendra merundukkan kepalanya dan memberikan kecupan dalam di kening Luna—sebuah tanda kepemilikan sah yang sangat provokatif.
Begitu melepaskan kecupannya, Mahendra melirik Dika dengan sorot mata sedingin es.
"Aku mengawasimu, Dika," bisik sang konglomerat, memberi peringatan terakhir sebelum melangkah pergi dengan langkah tegap yang berwibawa, diikuti oleh dua pengawal pribadinya yang membawa kembali bungkusan nasi Padang tersebut.
Dika hanya bisa menggelengkan kepalanya, mengembuskan napas kasar sembari menatap punggung pria berusia lima puluh tahun yang begitu dominan dan penuh rasa percaya diri tersebut.
Setelah bayangan Mahendra menghilang di balik pintu lift, atmosfer tegang perlahan mencair, meninggalkan keheningan yang canggung di antara Luna dan Dika.
Luna menghela napas panjang, merapikan rok kerjanya, lalu kembali duduk di kursi kubikelnya dengan perasaan tidak enak hati.
Ia mendongak, menatap Dika yang masih berdiri mematung di dekat mejanya dengan guratan frustrasi yang jelas di wajah tampannya.
"Pak Dika, maaf kalau suamiku seperti itu," ucap Luna.
Iamerasa tidak enak karena urusan domestik rumah tangganya sampai mengganggu ketenangan wilayah kerja sang atasan.
Mendengar kata "suamiku" keluar dari bibir Luna dengan begitu alami, dada Dika laksana dihantam godam besar.
Ego dan rasa tidak relanya yang sejak tadi ditahan sekuat tenaga, akhirnya jebak runtuh begitu saja.
Dika melangkah mendekat, menumpu kedua tangannya di atas meja kerja Luna, lalu menatap netra bening gadis itu dengan tatapan mata yang sarat akan kepedihan dan tuntutan.
"Seharusnya aku yang jadi suamimu, Luna!" seru Dika dengan suara tertahan, napasnya memburu.
"Kenapa, kamu tidak menghubungiku saat Fauzan tidak datang di hari pernikahan itu? Kenapa kamu justru membiarkan pria tua itu yang mengambil posisinya?"
Luna tersentak. Ia tertegun menatap pimpinannya dengan sepasang mata yang membelalak polos.
Ia tidak pernah menyangka bahwa di balik sikap profesional Dika selama ini, pria itu menyimpan rasa yang begitu dalam terhadapnya.
Namun, sebelum Luna sempat mencerna keterkejutannya atau merangkai kata untuk menjawab, Dika yang didera kekesalan dan penyesalan mendalam langsung menegakkan tubuhnya.
Merasa frustrasi karena sadar posisinya kini telah kalah telak oleh kecepatan dan otoritas Mahendra, Dika berbalik dengan cepat dan melangkah lebar keluar dari area ruang kerja Luna, meninggalkan gadis itu sendirian dalam keheningan yang membingungkan.
terimakasih thor dah double up 🙏❤️
bener" y si Kunti mil", beuh gertakkan doang ga kena, liat aja ntar klo Mahendra sehat ....abis kau.
kan sudah buang Azura anda faizan
biar duo Kunti, satu kuyang tdk meremehkan mu lagi