NovelToon NovelToon
Terperangkap Dalam Permainannya

Terperangkap Dalam Permainannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat / Diam-Diam Cinta
Popularitas:108
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

Di malam hujan yang seharusnya biasa saja, hidup Nayra berubah total setelah ia menerima undangan misterius dari aplikasi bernama “The Game Master.” Awalnya hanya permainan tantangan sederhana berhadiah uang. Namun, setiap level yang berhasil diselesaikan justru menyeretnya semakin dalam ke permainan berbahaya yang tak bisa dihentikan.
Aturannya hanya satu: jangan pernah melanggar perintah permainan.Di tengah usahanya mencari jalan keluar, Nayra bertemu dengan Zavian, pria dingin dan penuh teka-teki yang seolah mengetahui lebih banyak tentang permainan itu. Tapi semakin dekat mereka, semakin Nayra curiga bahwa Zavian mungkin bukan korban… melainkan bagian dari permainan itu sendiri.
Ketika cinta, pengkhianatan, dan kematian mulai bercampur dalam satu arena mematikan, Nayra harus memilih: mempercayai hatinya atau bertahan hidup.
Karena di permainan ini, tidak semua orang bisa keluar hidup-hidup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4 — Gedung yang Memanggil Nama Mereka

Malam terasa lebih berat dari biasanya.

Bukan karena hujan.

Bukan karena dingin.

Tapi karena sekarang Nayra tahu satu hal paling buruk yang bisa diketahui manusia:

mereka sedang diawasi… bahkan sampai ke keluarga mereka.

Ia duduk di lantai bangunan kosong itu, punggungnya menempel ke dinding dingin.

Tangannya masih gemetar walau sudah berusaha ditenangkan. Ponselnya ia genggam seperti benda beracun yang bisa meledak kapan saja.

Di sebelahnya, Zavian berdiri dekat pintu, masih waspada.

Sejak pesan itu muncul—foto ibunya—Nayra tidak bicara lagi.

Kosong.

Seperti otaknya berhenti bekerja.

“Aku nggak bisa…” suara Nayra akhirnya pecah pelan. “Aku nggak bisa nyeret Mama ke ini.”

Zavian tidak langsung menjawab.

“Kalau kamu datang ke Level 2, kemungkinan besar itu jebakan.”

“Aku tahu.”

“Kalau kamu nggak datang, ibumu yang jadi target.”

Nayra tertawa kecil, tapi itu bukan tawa yang lucu.

Lebih seperti putus asa.

“Jadi intinya aku kalah dari awal?”

Zavian menatapnya.

“Belum tentu.”

Nayra menoleh cepat.

“Ada cara lain?”

Cowok itu diam beberapa detik, lalu berkata pelan, “Ada. Tapi kita butuh informasi.”

“Dari mana?”

“Dari dalam permainan.”

Nayra menggeleng.

“Kita bahkan nggak ngerti siapa yang ngatur ini.”

“Makanya kita harus masuk lebih dalam.”

Kalimat itu terdengar seperti keputusan gila.

Dan mungkin memang gila.

Tapi di dunia ini, tidak ada pilihan yang benar-benar aman lagi.

Hening jatuh di antara mereka.

Sampai akhirnya Nayra bertanya pelan, “Kenapa kamu mau bantu aku?”

Zavian tidak langsung menjawab.

Tatapannya kosong sesaat.

Lalu ia berkata, “Karena kalau aku diam, ini bakal berulang lagi.”

Nayra menatapnya lama.

Ada sesuatu di balik kalimat itu.

Bukan sekadar empati.

Tapi… rasa bersalah.

Pagi datang tanpa terasa.

Atau mungkin dunia hanya pura-pura normal lagi.

Karena ketika Nayra dan Zavian keluar dari bangunan itu, jalanan terlihat biasa saja.

Orang-orang lewat, kendaraan berlalu, pedagang membuka toko.

Seolah tidak ada yang terjadi semalam.

Seolah tidak ada permainan gila yang mengintai di balik semua itu.

“Ini yang paling bikin gila,” kata Zavian sambil berjalan. “Dunia tetap jalan, walaupun kita hampir mati.”

Nayra hanya diam.

Matanya masih berat.

“Ke mana sekarang?”

“Cari titik awal Level 2.”

“Gedung itu?”

Zavian mengangguk kecil.

Alamat di kartu hitam itu masih teringat jelas di kepala Nayra.

Gedung tua di pusat kota.

Tempat yang bahkan belum pernah ia lihat, tapi rasanya seperti sudah menunggu lama.

Perjalanan ke kota terasa lebih panjang dari biasanya.

Bukan karena jarak.

Tapi karena setiap detik terasa seperti hitungan mundur yang tidak terlihat.

Di dalam bus, Nayra duduk di dekat jendela.

Zavian duduk di sebelahnya, tapi tidak banyak bicara.

Tangannya sesekali mengecek ponsel.

“Masih ada sinyal?” tanya Nayra.

“Masih. Tapi mereka juga pasti punya akses ke sini.”

Nayra menelan ludah.

“Aku benci kata ‘mereka’.”

“Semua orang benci sesuatu yang nggak bisa dilihat.”

Bus berhenti di lampu merah.

Nayra menatap jalanan.

“Kalau aku mati di sini, kamu bakal gimana?” tanyanya tiba-tiba.

Zavian meliriknya sekilas.

“Kamu nggak akan mati di sini.”

“Jawaban yang bukan jawaban.”

Zavian menghela napas.

“Aku belum selesai urus ini.”

Nayra tersenyum kecil pahit.

“Kalau kamu bukan orang baik, kamu bakal bilang ‘aku nggak peduli’.”

“Aku memang bukan orang baik.”

Jawaban itu jujur.

Terlalu jujur sampai bikin Nayra tidak tahu harus merespons apa.

Gedung itu akhirnya terlihat saat sore mulai turun.

Tingginya tidak terlalu mencolok, tapi aura bangunannya berbeda.

Tua.

Sunyi.

Seperti sesuatu yang sengaja dilupakan orang.

Cat dindingnya mengelupas.

Pintu besinya setengah berkarat.

Tidak ada papan nama.

Tidak ada aktivitas.

Tapi di depan pintu…

terdapat simbol kecil.

Topeng hitam.

Sama seperti di aplikasi.

Nayra berhenti beberapa langkah sebelum pintu.

“Ini dia…”

Zavian mengangguk pelan.

“Level 2.”

Angin lewat di antara mereka, membawa udara dingin yang tidak wajar.

Seperti gedung itu sedang bernapas.

Ponsel Nayra tiba-tiba bergetar.

WELCOME BACK, PLAYER 07

Nayra menatap layar.

“Dia tahu kita di sini…”

Zavian sudah melangkah ke pintu.

“Tentu saja.”

“Ini jebakan, kan?”

“Mungkin.”

“Kamu santai banget ngomong ‘mungkin’.”

Zavian menoleh.

“Kalau aku panik setiap detik, aku udah mati dari dulu.”

Nayra tidak bisa membantah.

Pintu gedung terbuka sendiri saat Zavian menyentuhnya.

CREEEEK…

Suara itu panjang dan tidak menyenangkan.

Di dalam, ruangan gelap.

Hanya sedikit cahaya dari jendela tinggi yang masuk, membuat debu di udara terlihat seperti partikel hidup.

Nayra masuk dengan langkah ragu.

“Ini kosong…”

Zavian tidak menjawab.

Matanya mengamati sekitar.

Ada meja-meja tua.

Kursi yang sudah rusak.

Dan layar besar di dinding.

Layar itu mati.

Tapi jelas bukan dekorasi biasa.

Tiba-tiba—

BRAK!

Pintu di belakang mereka tertutup sendiri.

Nayra langsung berbalik.

“Eh?!”

Terkunci.

Zavian sudah mencoba membuka, tapi tidak berhasil.

“Kita dikunci…”

Lalu suara itu muncul lagi.

Tenang.

Dingin.

Seperti sebelumnya.

“Selamat datang di Level 2.”

Layar besar di depan mereka menyala.

Hitam.

Kemudian muncul tulisan:

RULE #1: JANGAN PERCAYA PARTNERMU

Nayra langsung menoleh ke Zavian.

Zavian menatap layar tanpa ekspresi.

“Bagus,” katanya pelan.

Nayra menegang.

“Ini maksudnya apa?”

“Permainan baru.”

Tiba-tiba lampu di ruangan menyala sebagian.

Dan dari balik layar…

muncul bayangan seseorang.

Satu orang.

Lalu dua.

Lalu tiga.

Semua memakai topeng hitam.

Nayra langsung mundur.

“Ini… pemain lain?”

Zavian mengamati mereka.

“Mungkin.”

Salah satu dari mereka melangkah maju.

Suara berat terdengar dari speaker ruangan.

“Level 2 dimulai.”

“Setiap pemain akan diberi peran.”

Nayra menahan napas.

Peran?

“Di antara kalian ada tiga jenis.”

Layar berubah.

Guardian

Hunter

Target

Nayra langsung menegang.

Zavian menatapnya sekilas.

“Jangan bilang…”

Suara itu melanjutkan.

“Target harus bertahan hidup.”

“Hunter harus membunuh Target.”

“Guardian harus melindungi Target.”

Nayra langsung membeku.

“Apa…?”

Zavian menghela napas pelan.

“Ini makin sakit.”

Nayra panik.

“Jadi bisa aja kamu Hunter?!”

“Bisa.”

“Atau aku Target!”

“Bisa juga.”

“ATAU KITA SALING BUNUH?!”

Zavian menatapnya.

“Sekarang kamu mulai ngerti.”

Nayra mundur setengah langkah.

Jantungnya berdegup keras.

Ini bukan lagi permainan bertahan hidup.

Ini permainan saling menghancurkan.

Lampu berkedip.

Perangkat kecil tiba-tiba jatuh dari langit-langit ke setiap pemain.

Seperti gelang logam.

Klik.

Gelang itu terkunci di pergelangan tangan Nayra.

“Apa ini?!”

Layar menyala lagi.

ROLE ASSIGNED

Nayra menatap gelangnya.

Tulisan muncul:

TARGET

Dunia langsung terasa runtuh.

Nayra mundur beberapa langkah.

“Enggak… enggak…”

Tangannya gemetar.

“Zavian…”

Cowok itu menatap gelangnya sendiri.

Sunyi.

Lalu ia berkata pelan.

“Aku Guardian.”

Nayra langsung menatapnya.

Ada sedikit kelegaan.

Tapi juga ketakutan baru.

Karena di antara mereka…

ada Hunter.

Dan Hunter itu sekarang sedang bersembunyi.

Salah satu pemain lain tiba-tiba tertawa.

“Jadi kita harus bunuh dia?”

Nayra langsung menoleh.

Pria bertopeng di sudut ruangan itu mengangkat kepalanya sedikit.

Hunter.

Tanpa peringatan, ia bergerak cepat.

BRAK!

Sebuah kursi dilempar.

Semua orang panik.

Nayra langsung lari ke belakang Zavian.

“Dari sini!” teriak Zavian.

Hunter itu menyerang tanpa ragu.

Gerakannya cepat, brutal.

Bukan orang biasa.

Zavian menarik Nayra ke balik meja.

“Jangan keluar!”

“Tapi dia bakal bunuh kita!”

“Kalau kamu keluar, kamu Target yang mati duluan!”

Nayra gemetar.

Suara benturan, teriakan, dan kaca pecah memenuhi ruangan.

Ini Level 2.

Bukan lagi teka-teki.

Tapi perang.

Di tengah kekacauan, Hunter itu tiba-tiba berhenti.

Menatap ke arah Nayra.

Lalu tersenyum di balik topeng.

Nayra langsung merinding.

Hunter itu menunjuknya.

Dan berkata pelan,

“Targetnya… aku sudah lihat.”

Nayra langsung membeku.

“Dia tahu aku…”

Zavian langsung berdiri.

“Lari sekarang.”

Nayra tidak pikir panjang.

Mereka berlari.

Menuju tangga darurat.

Di belakang mereka, suara langkah Hunter mengejar.

Cepat.

Tanpa ragu.

Nayra hampir jatuh.

Zavian menariknya lagi.

“Jangan berhenti!”

“Aku capek!”

“Kalau berhenti kamu mati!”

Tangga darurat gelap.

Napas mereka kacau.

Hunter masih di belakang.

Dan di tengah tangga…

Zavian tiba-tiba berhenti.

Nayra ikut berhenti.

“Apa?!”

Zavian menatap ke bawah.

Lalu ke atas.

“Dia bukan cuma Hunter biasa.”

“Terus apa?!”

Zavian menatap Nayra.

Dan berkata pelan,

“Dia tahu namamu sebelum game mulai.”

Nayra langsung membeku.

“Apa maksudmu?”

Zavian mengeluarkan sesuatu dari sakunya.

Foto cetak kecil.

Foto Nayra.

Diambil dari kejauhan.

Tanpa sepengetahuannya.

Nayra langsung gemetar.

“Jadi ini… sudah direncanakan?”

Zavian mengangguk pelan.

“Sejak awal kamu bukan dipilih.”

Nayra menatapnya.

“Hah?”

Zavian menatapnya dalam.

“Kamu… ditargetkan.”

Dan di bawah tangga…

suara langkah Hunter berhenti.

Seolah sedang mendengarkan mereka.

Menunggu.

Dan menikmati ketakutan mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!