memang apa yang aku harapkan dari hubungan ini?memang apa yang aku harapakan dari hubungan ini?
Aku hanya tempat singgah mu untuk sementara,
Karna pada akhirnya kamu lebih memilih dia – aeri anaima salsabila
Kakak tau apa yang lebih seru dari menangkap belut di sawah?
Kak ikut dika ke empang yuk!
Kakak cantik ko nangis?
Siapapun orang di masa lalu aku akan berterima kasih telah melespaskan wanita se keren ini – andika pratama
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhmawty Anwar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 4 dika
Bab 4
“dika”
“ehhh”
“nama saya dika mbak,mbak namanya siapa?”
“ohh kaeri,panggil aeri saja”setelah maksud dari perkataan laki laki di hadapannya itu ia segerah memperkenalkan diri
“maaf ya mbak aeri,saya lagi nyiram halaman rumah tadi ngga liat liat dulu kalau ada mbaknya”
“iya santai aja “ kini suasana canggung mulai kerasa lagi dika yang sendiri tadi mau mencari cara untuk bisa lebih berbicara dengan aeri pun ia tahan,dadanya kembali sesak untuk kedua kalinya
“udah lama mbak aeri?”sapa pak kades yang baru datang dari dalam rumah di ikuti dengan lilis di belakangnya
“baru pak,kata ade saya tadi pagi bapak kerumah ya?” tanya aeri langsung
“iya mbak,ini saya mau memberikan ini”ujarnya sambil meyerahkan selembar kertas ke aeri
“nanti mbak isi saja soalnya saya mau mendata kewargaan mbak”ujarnya lagi
“ohiya pak,kalau gitu saya pamit ya pak,nanti saya bawa kembali berkasnya pak”
“buru buru ya mbak?”kini lilis yang bertanya
“iya lis,masih banyak yang mau saya urus soalnya”jawabnya,sebenarnya tidak ada sih,cuman hawa disini masih tidak baik membuat aeri merasa sedikit takut
“owalah yaudah mbak,kalau butuh sesuatu panggil saya saja atau hubungi nomor anak saya saja mbak gimana?”ujar pak kades,dika yang merasa dirinya di sangkut pautkan seketika tegang setengah mati apalagi disaat aeri melihat kearahnya
“mas nomor mu mana?”
“eh pak..”rasanya aeri ingin menghilang saja
“mbak nya saja pak yang nulis nomornya”ujar dika sambil menyerahkan ponselnya ke aeri,mau tidak mau ia menyerahkan nomor nya ke pemuda bernama dika ini,setelah mengetik beberapa angka kini nomor aeri sudah tersimpan di kontak hp dika
“saya izin sv nya mbak”ujarnya yang hanya diangguki oleh aeri
“kalau gitu saya pamit pulang ya pak”setelah aeri berpamitan kini,dika yang merasa dirinya adalah sebuah keajaiban
“pak,”ujarnya pada sang bapak yang sedang ikut duduk di sampingnya
“kenapa mas,kok muka mas merah seperti ini?”pasalnya wajah sang anak sudah seperti udang rebus saja
“cukup berapa undangan nya pak kalau undang semua kenalan bapak?”
“hah?”tanya menjawab pertanyaan nya tadi kini anaknya itu melontarkan pertanyaan yang tidak biasa
“bicara apa kamu ini mas?”
“mahar orang kota kira kira apa yang pak?”sebagai sesama pria kini pak kades mengerti arah pembahasan dari anaknya itu
“kerja yang lebih giat lagi yo mas”ujarnya sambil menepuk pundak sang anak dan memilih masuk kedalam rumah,tinggallah dika seorang diri,sungguh wanita bernama aeri itu membuat nya sedikit tidak waras,"kaeri nama yang cantik”ujarnya tersenyum
Beda halnya dengan dika yang sedang berbunga bunga aeri kini lebih merasa was was kepadanya,ia merasa kan sedikit ancaman dari pemuda itu,selama perjalanan pulang ia masih memikirkan kejadian yang menurut sebagian orang biasa saja
Sebelum itu ia sempat mampir dulu kewarung depan lorong rumahnya untuk membeli sayur,ini yang suka dari tinggal di perdesaan ia tidak perlu lagi untuk ke pasar karna ada sebagian warga yang menjual sebagian hasil ladang mereka diwarung warung depan rumah jadi sangat memudahkan sebagian warga yang tidak memiliki kendaraan untuk ke pasar
“sayur kangkung 2 ikat sama terong nya 3 biji ya ibu”ia akan membuat terong balado lagi untuk malam ini
“ini aja mbak?”ucap ibu penjual sayurnya
“ikan nya segini berapaan bu?”ikan disini benar benar segar bahkan ada yang masih di berenang di wadah ikan
“20 rb aja neng sekilo nya”ujar ibunya
“boleh de sekilo aja sama sayur ya tadi habis berapa bu?”
“25 rb aja neng” mendengar itu aeri sungguh senang ini sangat murah baginya,apalagi perbandingan harga jual di kota dan desa bisa membuat lebih berhemat dan bonusnya bahan makanan nya jauh lebih segar
“ini ya bu,uang pas”setela memberikan uang harga hasil membeli sayur dan ikan ia bergegas langsung pulang kerumah,hari juga lumayan panas yang di mana waktu sudah menunjukan di angka 12 siang
Ketika sampai dirumah ia langsung membawa hasil belanja nya tadi ke dapur,setelah itu ia memanggil wira untuk bergegas ke mesjid untuk solat zuhur
“dek dede”
“dede, mana ya kok ngga ada?”kini ia berkeliling dalam rumah utuk mencari sang adek pasalnya di dalam kamar pun wira tidak ada ia hanya menemukan gitar nya saja
“baru di tinggal bentar aja udah hilang”
Hingga ia melangkah ke belakang rumah tepatnya di lahan kosong dekat dapur ia menemukan wira sedang menggali tanah mencari sesuatu
“eh kamu ngapai di sana kotor,sini masuk dede”pintahnya liat saja tangan wira sudah penuh tanah dan apa itu di wadah gelas bekas?
“udah balik kak?”ia hanya menoleh sebentar lalu lanjut lagi pada kegiatannya
“iya ,ini kamu lagi ahhhh Dede….” Saat mendekat ia langsung berteriak takut bagaimana tidak ade nya itu lagi mencari cacing tanah “buang nggak cacing nya “amuknya kini ia melangkah mundur
“kenapa sih ,ini dede mau pake buat mancing aja kaka”
“iss ngga bukan ngga cacing itu gerak gerak wira”kini suara aeri yang melikit ia geli sendiri melihat hewan kecil itu bergeliat di wadah minuman bekas
“tidak mau,kaka jangan ganggu dede la,ini itu buat mancing “enak saja ia melepaskan cacing cacing ini,ia sudah mencari hampir sejam lo
“terserah kamu lah,kaka mual liatnya”kii ia melangkah masuk kedalam rumah tubuhnya merinding melihat itu
“udah itu masuk,ke mesjid dede,solat”
“iya ini juga udah selesai”merasa cacing cacingnya terancam oleh aeri ia membawa cacing cacing itu ke depan dan menyimpannya ke wadah yang lebih aman,karna rencananya habis dari mesjid ia akan pergi mancing bersama teman teman barunya