"Mbak Rani!" Tyas langsung memeluk kakaknya erat.
"Wah, adik Mbak sudah besar sekarang, ya. Makin cantik," puji Rani tulus, mengusap kepala adiknya. Rani kemudian beralih ke suaminya yang berdiri di ambang pintu. "Mas, ini Tyas."
Tyas beralih menyalimi tangan Angga. "Halo, Mas Angga. Mohon bantuannya ya selama Tyas kuliah di sini."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sunyi yang mengendap
Setelah taksi yang membawa Rani benar-benar hilang dari pandangan, Angga berbalik melangkah masuk ke halaman. Tanpa banyak bicara, ia memakai helm full-face hitamnya dan menaiki moge sport miliknya. Suara deru mesin motor yang besar itu sempat menderu keras di pekarangan sebelum akhirnya Angga menarik gas dan melaju membelah jalanan komplek, bergegas kembali ke bank untuk memenuhi panggilan rekan kerjanya.
Tyas yang berdiri di ambang pintu menatap kepergian kakak iparnya dengan perasaan campur aduk. Begitu raungan mesin moge Angga perlahan menjauh dan menghilang, atmosfer di sekitar rumah mendadak berubah drastis. Kompleks perumahan baru itu terasa sangat sepi di jam-jam nanggung menjelang sore.
Tyas melangkah mundur, lalu menutup pintu kayu jati yang kokoh itu rapat-rapat. Klik. Klik. Ia memutar anak kunci dua kali, memastikan pintu utama rumah sudah terkunci dengan aman dari dalam, lalu memasang selot tambahannya.
Setelah memastikan seluruh jendela di ruang tamu juga tertutup rapat, Tyas berjalan menyusuri lorong rumah yang kini terasa sangat luas dan sunyi. Langkah kakinya yang tanpa alas membuat suara gesekan halus di atas lantai granit. Kejadian tidak sengaja di depan kamar mandi subuh tadi, serta tatapan tajam dan kaku dari Mas Angga saat melihatnya bersama Satya siang tadi, tiba-tiba melintas kembali di benaknya. Ada rasa canggung yang aneh yang tertinggal di udara.
Tyas menggelengkan kepalanya pelan, berusaha mengusir pikiran-pikiran yang membuatnya tidak nyaman. Gadis berambut pendek sebahu itu kemudian melangkah masuk ke dalam kamarnya sendiri. Ia merebahkan tubuh sintalnya di atas ranjang yang empuk, menarik selimut katunnya sebatas dada, lalu menatap langit-langit kamar yang sunyi.
Rumah besar ini sekarang benar-benar kosong, hanya menyisakan dirinya seorang diri di dalam kamar yang terkunci, menunggu malam menjemput dan membawa kakak iparnya kembali pulang.
Suasana sunyi di dalam kamar Tyas tiba-tiba pecah oleh suara dering ponselnya yang nyaring. Layar ponsel yang tergeletak di atas kasur menyala, menampilkan nama Satya dengan ikon panggilan video yang berkedip-kedip.
Tyas tersenyum, lalu meraih ponselnya dan menggeser layar untuk menerima panggilan tersebut. Wajah Satya langsung muncul di layar, tampak sedang berada di dalam kamar kosnya yang agak berantakan.
"Hai, Sayang. Sudah sepi ya di rumah?" tanya Satya membuka obrolan, matanya langsung tertuju pada sosok Tyas yang sedang berbaring lemas dengan kaus oversize-nya.
"Iya, nih. Mbak Rani sudah berangkat ke bandara tadi jam tiga, terus Mas Angga juga langsung pergi ke bank karena ada urusan mendadak. Rumah benar-benar kosong sekarang, aku sudah kunci semua pintunya," jawab Tyas sambil mengubah posisinya menjadi bersandar di kepala ranjang.
Hubungan asmara antara Tyas dan Satya yang sudah berjalan cukup lama memang terbilang berani. Mengikuti tren gaya berpacaran anak muda zaman sekarang yang bebas dan penuh letupan gairah, mereka sudah terbiasa melakukan hal-hal intim saat berdua, termasuk melalui ponsel saat jarak memisahkan. Di tengah sepinya suasana kosan dan rumah yang sama-sama kosong, pikiran Satya mulai melayang ke arah yang lebih jauh.
"Sayang... kangen deh. Mumpung di sana lagi sepi banget dan gak ada siapa-siapa, aku boleh lihat sesuatu nggak?" bisik Satya di seberang telepon, nadanya berubah menjadi lebih rendah dan penuh tuntutan. "Boleh ya lihat payudaramu sebentar saja? Aku pengen lihat."
Tyas sempat terdiam sejenak, menggigit bibir bawahnya sambil melirik ke arah pintu kamarnya yang tertutup rapat. Meskipun rumah itu kosong, ada debaran mendebarkan yang merayapi dadanya. Namun, karena rasa sayangnya yang besar pada Satya dan kebiasaan mereka yang sering berbagi kemesraan intim seperti ini, rasa ragu itu perlahan terkikis.
Tyas tersenyum manja ke arah kamera, lalu perlahan menurunkan sedikit kerah kaus oversize-nya yang longgar, bersiap memenuhi keinginan kekasihnya di sore yang sepi itu.