NovelToon NovelToon
Kutukan Jiwa Niskala

Kutukan Jiwa Niskala

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Romansa Fantasi
Popularitas:688
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

"Jika dunia menginginkanku mati, maka aku akan memastikan dunia hancur bersamaku!"

Terlahir dengan energi sihir yang disegel, Han-Seol dibuang dan dianggap sebagai aib keluarga. Demi bertahan hidup, ia kabur bersama Seol-Ah, seorang pemindah jiwa yang menjadi buronan paling dicari.

Di bawah bimbingan Master Lee yang legendaris, segel kekuatan kuno dalam tubuh Han-Seol mulai bangkit. Satu per satu rahasia kejam sang ayah terungkap, memicu perang besar yang akan melanda Cheon-gi Won.

Di tengah kepungan bahaya dan takdir yang rumit, mampukah Han-Seol melindungi wanita yang dicintainya dan menghancurkan mereka yang telah mengkhianatinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18. Abu yang Menjadi Api

Seol-Ah menarik napas tertahan, mundur semakin dalam ke bayang-bayang koridor yang gelap.

‘Jadi begitu...’  batin Nara dengan getir. 

‘Jin Wu bukan hanya mengincar jasadku. Dia ingin menghapus setiap jejak, setiap nyawa yang pernah bersentuhan denganku. Dia adalah iblis yang mengenakan topeng pahlawan.’

Kesadaran itu menghantamnya telak. Jika ia menemui Jin Wu sekarang, pria itu tidak akan memeluknya sebagai sekutu, melainkan akan menebas lehernya untuk membungkam rahasia selamanya.

"Maafkan aku," bisik Seol-Ah pada bayangan pelayan malang yang dibawa pergi tadi. Suaranya nyaris tak terdengar, tenggelam dalam deru angin sore. "Aku tidak bisa mati sekarang. Belum saatnya."

Nara berbalik, langkahnya tanpa suara menyusuri labirin kamar Rumah Mawar. Ia tidak lagi mencari jalan keluar untuk lari, melainkan mencari jalan kembali ke satu-satunya tempat yang—ironisnya—kini terasa lebih aman: Kediaman keluarga Han.

Di sana ada Han-Seol, pemuda cacat sihir yang mungkin adalah satu-satunya orang yang tidak ingin membunuhnya demi kekuasaan.

****

Alun-alun Niskala dipadati lautan manusia. Di tengah lapangan, panggung kayu besar telah disiapkan. Jasad Nara terbaring kaku di puncaknya, dikelilingi tumpukan kayu yang sudah dibasahi minyak tanah. Bau bahan bakar yang menyengat memenuhi udara, menciptakan atmosfer yang menyesakkan.

Baek Seo-Jun berdiri di barisan terdepan. Tangannya menggenggam hulu pedang hingga buku jarinya memutih. Matanya yang biasanya tenang kini berkaca-kaca saat melihat Jin Wu melemparkan obor pertama ke tumpukan kayu itu.

"Nara..." bisik Seo-Jun, suaranya hilang ditelan deru angin.

Pikirannya melayang pada gadis kecil yang dulu berlatih pedang kayu bersamanya di bawah pohon ginkgo. Gadis yang berjanji akan menjadi pelindung Niskala. Kini, ia harus menyaksikan janji itu hangus menjadi abu yang dianggap sampah oleh rakyatnya sendiri.

Di sisi lain kerumunan, Seol-Ah (Nara) berdiri dengan tudung kain menutupi wajahnya. Ia menatap nanar ke arah api yang mulai melahap kain kafannya. Hawa panas yang menerpa wajahnya terasa seperti tamparan kenyataan.

"Lihatlah dirimu, Nara," desisnya getir. "Kau mempertaruhkan nyawa untuk perintah mereka, dan inilah upahmu. Kau dibuang seperti anjing setelah tidak lagi berguna."

Matanya beralih ke panggung kehormatan. Jin Wu duduk di sana, menyesap arak dengan senyum kemenangan. Setiap kali lidah api membesar, binar mata Jin Wu semakin terang.

"Dia menikmati setiap detiknya," gumam Nara. Amarah mulai membakar batinnya, lebih panas dari api di depannya. "Dia yang memerintahkanku membantai, dia yang menjanjikanku kebebasan, dan sekarang dia yang tertawa paling keras saat aku menjadi debu."

Nara mencengkeram dadanya, merasakan detak jantung Seol-Ah yang berpacu liar. "Tertawalah selagi bisa, Jin Wu. Karena api yang kau nyalakan hari ini akan membakar balik seluruh kekuasaanmu."

Pertemuan di Tengah Kerumunan

Nara berbalik, tidak sanggup lagi melihat raga aslinya hancur. Namun, saat ia melangkah menjauh, sebuah tangan kokoh mencekal lengannya. Han-Seol.

"Seol-Ah. Ikut denganku. Ada sesuatu yang harus kau lihat," ucap Han-Seol tegas.

Nara menyentak tangannya, matanya yang berkilat biru menatap Han-Seol tajam. "Apalagi kali ini, Han-Seol? Apa kau belum kapok dicambuk? Apa kau ingin mendapatkan kesialan lagi karena berdekatan denganku?"

Han-Seol tidak mundur. Ia mencondongkan tubuh, berbisik tepat di telinga Nara agar tidak terdengar oleh telinga-telinga istana di sekitar mereka.

"Berhenti membahas hal tidak penting. Aku baru saja mencuri kembali nyawamu," bisik Han-Seol.

"Aku membawa pedangmu."

Nara tertegun. Jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat. Ia tidak langsung menjawab, matanya bergerak waspada menyisir area di belakang mereka, lalu ia ganti menarik tangan Han-Seol dengan kuat.

"Di mana? Cepat katakan di mana kau menyembunyikannya!" tuntut Nara dengan nada mendesak.

"Ikutlah. Aku membawanya ke tempat yang tidak akan dicurigai siapa pun saat ini," jawab Han-Seol. "Ke Rumah Mawar."

Han-Seol menuntun Nara menembus kerumunan yang sibuk bersorak. Mereka berjalan melawan arus manusia, meninggalkan api yang membubung tinggi, menuju tempat di mana sang Pembasmi akan kembali menyentuh taringnya.

*****

Cahaya matahari sore yang kemerahan menerobos masuk melalui celah jendela lantai atas Rumah Mawar. Debu-debu melayang di udara, menari di atas meja kayu tempat Han-Seol meletakkan sebuah bungkusan kain panjang dengan gerakan penuh khidmat.

Saat kain itu tersingkap, sebuah pedang dengan sarung perak berukir naga air berkilau tertimpa cahaya. Pedang itu tampak tenang, namun memancarkan aura dingin yang membuat bulu kuduk berdiri.

"Aku sudah membawanya," ucap Han-Seol, suaranya rendah dan penuh harapan yang menyala. "Aku mempertaruhkan nyawaku di depan Jin Wu demi besi ini. Karena aku tahu... hanya pedang ini yang bisa mengembalikan Nara yang agung ke dunia ini."

Seol-Ah (Nara) melangkah mendekat dengan napas tertahan. Ia mengulurkan tangannya yang gemetar, jemarinya perlahan menyentuh permukaan dingin sarung pedang itu. Sensasi yang sangat ia kenali mengalir ke ujung jarinya.

DANG!

Seketika, sebuah getaran energi penolakan meledak. Seol-Ah terhempas ke belakang, tubuhnya menghantam dinding hingga terdengar suara berderak. Ia meringis, mendekap dadanya yang sesak.

"Tidak mungkin..." bisik Nara parau.

Ia bangkit kembali dengan kemarahan yang membuncah. Ia mencengkeram gagang pedang itu dengan kedua tangannya, mengerahkan seluruh tekad jiwanya. Ia menariknya. Ia memaksanya.

"KELUAR! KAU MILIKKU! KELUARLAH!" teriak Nara hingga urat lehernya menonjol.

Namun, pedang itu seolah membeku. Sarung dan bilahnya menyatu seperti satu bongkah besi mati. Tidak bergeser meski hanya seujung kuku. Raga Seol-Ah yang tidak memiliki energi naga tidak mampu memberikan "makan" pada pedang itu agar mau terhunus.

Han-Seol, yang sedari tadi memperhatikan, perlahan mengubah raut wajahnya. Binar harapan di matanya padam, digantikan oleh kegelapan yang mengerikan.

"Hanya sebatas ini?" suara Han-Seol bergetar, bukan karena sedih, tapi karena amarah yang menghancurkan. "Aku membiarkan punggungku hancur dicambuk, aku merendahkan diriku merangkak di kaki Jin Wu, dan aku mengkhianati keluargaku sendiri..."

Han-Seol melangkah maju, menyudutkan Nara ke dinding. Matanya menatap tajam, penuh kebencian. "...hanya untuk melihat pelayan buta ini gagal mencabut sepotong besi tua?!"

"Han-Seol, dengarkan aku! Raga ini... raga ini belum siap! Alirannya masih tersumbat!" Nara mencoba membela diri, namun suaranya gemetar.

"CUKUP!" teriak Han-Seol hingga suaranya pecah.

"Aku mempertaruhkan segalanya karena aku pikir kau adalah kunciku. Tapi ternyata kau benar-benar hanya Seol-Ah. Kau bukan Nara. Kau hanya pelayan tak berguna yang terus menyeretku ke dalam lumpur kehinaan!"

Nara tertegun, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Kata-kata itu lebih tajam dari pedang mana pun.

"Pergi!" usir Han-Seol sembari membuang muka.

"Bawa besi mati itu bersamamu. Pergi dari hadapanku sebelum aku benar-benar menyesal telah menyelamatkanmu semalam!"

Nara merampas pedang itu dengan kasar, mendekapnya erat di dada seolah itu adalah satu-satunya harga dirinya yang tersisa. Ia berbalik dan berlari keluar dari Rumah Mawar tanpa menoleh, menembus keramaian kota dengan isak tangis yang tertahan.

Langkahnya membawanya pergi jauh dari hiruk-pikuk kota, menuju keheningan Danau Cheon-gi yang luas.

****

Seol-Ah berdiri di tepi tebing yang curam, membiarkan angin kencang menyapu air mata yang tak kunjung berhenti. Dunianya telah hancur. Jasad aslinya telah menjadi abu, dan Han-Seol—satu-satunya alasan ia bertahan di raga ini—telah membuangnya dengan kebencian yang menghujam jantung.

"Jika aku tidak bisa kembali menjadi Nara, dan raga Seol-Ah ini pun tidak diinginkan..." bisiknya parau, suaranya hilang ditelan deru angin. "Untuk apa aku terus meminjam napas di dunia yang kejam ini?"

Ia mengeratkan pelukannya pada pedang perak yang terbungkus kain. Logam dingin itu terasa seperti penghinaan terakhir baginya.

"Bahkan kau pun menolakku," gumamnya pedih menatap gagang pedang yang membeku. "Jika aku mati di sini, setidaknya rahasia ini akan ikut tenggelam bersamaku."

1
Soobin Chan
mampir juga di cerita baru aku kak. 'The Emerald and Her Four Mates'
Protocetus
Beludru itu apa thor?
Soobin Chan: beludru itu sejenis bahan kain halus dan lembut gitu. jadi ibaratnya suaranya itu kaya beludru, lembut dan halus.🤭
total 1 replies
Protocetus
Ini bacanya Cheongi apa Cheon Gi min?
Soobin Chan: Cheon-gi 🤣
total 1 replies
Protocetus
Mampir ya ke novelku Remontada
Soobin Chan: oke kak😄
total 1 replies
Dao Biru
Latar Korea ya
Soobin Chan: iya kak😄
total 1 replies
T28J
wah wah wah
Soobin Chan: 🤣terima kasih udah mau komen
total 1 replies
T28J
woww.. secantik apakah dia /Slight/
Soobin Chan: bayangin ajah wajah song he kyo. begitulah kira kira.😄
total 1 replies
T28J
mantap kak 👍
Soobin Chan: terima kasih🤭
total 1 replies
Soobin Chan
komen dong guys. biar aku semangat nulusnya😍🤭
Soobin Chan: tetap semangat. mudah-mudahan banyak yang suka sama ceritanya💪
total 1 replies
Soobin Chan
ceritanya bagus guys, ayo merapat! di jamin kalian bakalan suka/Drool/
Soobin Chan: ramein dong guys...
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!