NovelToon NovelToon
Delusional Revenge

Delusional Revenge

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Misteri
Popularitas:638
Nilai: 5
Nama Author: ashbabyblue

Dalam gelap kematian, Nayla menemukan cahaya—bukan menuju surga, tapi kembali ke awal. Terlahir sebagai bayi dengan ingatan utuh akan pengkhianatan yang merenggut nyawanya, Nayla bersumpah: sejarah tidak akan terulang.

Andre, suami yang menusuk dari belakang. Vania, sahabat yang racun manis di bibir. Rio, dalang di balik semua fitnah. Mereka semua juga kembali—dan mereka sudah memulai lebih dulu.

Tapi takdir mempertemukan Nayla dengan Rasya. Cowok misterius dengan mata yang terlalu tua untuk usianya. Dia sopir Nayla di kehidupan sebelumnya. Dia pengagum diam-diam yang tidak pernah berani bicara. Dan dia membawa bukti—bukti yang bisa menyelamatkan Nayla jika tidak terlambat satu menit.

Sekarang, di kehidupan kedua ini, Rasya tidak akan membiarkan apapun menghalangi. Bukan kematian. Bukan takut. Bukan perbedaan kelas.

Kali ini, dia akan menjadi pahlawan dalam cerita Nayla—bukan lagi bayangan di kaca spion.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ashbabyblue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Karyawisata ke Puncak — Perjalanan Panjang Penuh Intrik

Hari Jumat, pukul 05.30 pagi. Langit masih gelap, tapi semangatku menyala seperti lampu stadion.

Karyawisata akhirnya tiba. Selama tiga hari ke depan, seluruh siswa kelas 1 SMP Negeri 7 Jakarta akan menginap di villa di kawasan Puncak, Jawa Barat. Dan di sinilah rencana Rio dan Vania akan dimulai—atau berakhir, tergantung siapa yang lebih pintar.

Aku berdiri di halaman sekolah bersama rombongan, membawa ransel biru tua yang sudah diperiksa Bunda tiga kali pagi ini.

"Bawa jaket tebal!" pesan Bunda lewat chat.

"Barang jangan sampai ketinggalan!"

"Jangan lupa sholat!"

"Nak, kamu jangan..."

"Bunda, aku tahu," balasku cepat.

Sejak aku 'terlahir kembali', Bundaku di kehidupan ini memang lebih cerewet. Mungkin karena di kehidupan sebelumnya, dia kehilangan aku terlalu cepat. Mungkin alam bawah sadarnya ingat—meskipun otaknya tidak.

"Nay!" Sasha melambai dari kejauhan. Dia membawa koper hot pink yang ukurannya hampir sebesar badannya.

"Koper kamu gede amat, Sha. Kita cuma tiga hari."

"Buat jaga-jaga," sahutnya sambil mendorong kopernya yang berat. "Aku bawa lima pasang sepatu."

"LIMA?!"

"Kadang suasana hati butuh sepatu yang berbeda."

Aku menggeleng-gelengkan kepala. Di sampingku, Rasya muncul tanpa suara—seperti biasa.

"Pagi," sapanya. Rambutnya rapi, matanya segar meskipun jam masih setengah enam. Dia memakai jaket hoodie abu-abu dan ransel hitam yang sederhana.

"Kamu nggak bawa banyak barang?" tanyaku.

"Cukup." Dia mengangkat bahu. "Di kehidupan sebelumnya aku terbiasa hidup minimalis."

"Ehem," Sasha menyelak, "kalian berdua kalau ngobrol tuh suka lupa sama orang di sekeliling, ya."

Aku tersenyum malu.

"Maaf, Sha."

"Nggak perlu maaf. Nanti selama karyawisata, kalian harus janji sama aku."

"Apa?"

"Jangan PDA berlebihan di depan aku."

"PDA?"

"Public display of affection. Pegang-pegangan, tatap-tatapan, senyum-senyuman—aku nggak tahan."

Rasya menatapku. "Kita nggak bakal berlebihan."

"Kata siapa?" Aku menyeringai, lalu meraih tangannya.

"Nayla—"

"Cuma pegangan tangan."

Rasya menghela napas, tapi dia membalas genggamanku. Jari-jarinya yang dingin menjepit jari-jariku dengan nyaman.

Sasha mengerang. "Aku sudah bilang!"

---

Di Dalam Bus

Bus pariwisata berwarna putih dengan tulisan "SMAN 7 JAKARTA" (iya, ditulis salah—seharusnya SMP, tapi ya sudahlah) sudah terparkir di halaman sekolah. Kami naik satu per satu.

Aku, Rasya, dan Sasha berhasil mendapatkan kursi di pojok belakang—posisi strategis untuk mengawasi seluruh isi bus tanpa terlihat.

Di kursi depan, Vania duduk manis di samping jendela. di sampingnya... Rio.

Dan dua baris di belakang mereka, Andre duduk sendirian. Matanya menatap ke luar jendela, tapi dadanya naik turun dengan cepat—seperti orang yang sedang gelisah.

"Stalking dimulai," bisik Sasha.

"Kita pantau Rio dan Vania," kataku. "Sasha, kamu fokus ke Andre."

"Kalau Andre ngapain?"

"Catat semua gerakannya. Siapa yang diajak ngomong. Ke mana pandangannya."

"Kayak detektif sungguhan." Sasha mengeluarkan buku catatan kecil. "Oke, siap."

Rasya mengeluarkan handphonenya—bukan handphone biasa, tapi handphone dengan kamera zoom yang kuat. "Aku siap rekam."

"Kamu punya itu dari mana?" tanyaku.

"Beli online."

"...Kapan?"

"Minggu lalu."

"Modal berapa?"

"Rahasia."

Aku melongo. Cowok ini benar-benar serius.

---

Perjalanan 4 Jam ke Puncak

Bus melaju meninggalkan Jakarta. Gedung-gedung tinggi perlahan berubah menjadi pepohonan dan perbukitan.

Pukul 07.00 — Vania membagikan camilan ke teman-teman sekelasnya. Manis, ramah, seperti bidadari. Tapi matanya terus melirik ke belakang—ke arahku.

"Nay, mau?" tanyanya, mengulurkan sebungkus keripik kentang.

"Makasih, Van. Aku belum laper."

"Masih marah sama aku?" Vania terdengar sedih.

"Enggak. Cuma nggak laper."

Dia mengangguk pelan, lalu kembali ke kursinya. Rio memicingkan mata ke arahku, lalu berbisik sesuatu ke Vania.

Merekam.

Rasya sudah mengarahkan handphonenya ke arah mereka dari sela-sela kursi.

"Rasya," bisikku, "jangan terlalu kelihatan."

"Dia nggak lihat. Fokusnya ke kamu."

"Tapi—"

"Percaya sama aku."

Aku menghela napas.

---

Pukul 09.30 — Rest Area

Bus berhenti di rest area kawasan Ciawi. Semua orang turun untuk ke toilet, makan, atau sekadar meregangkan kaki.

"Sekarang," bisik Rasya. "Momennya."

Rencananya: Sasha akan pura-pura jatuh sakit di dekat Rio dan Vania, menarik perhatian mereka. Sementara aku dan Rasya akan mencari kesempatan untuk merekam percakapan mereka atau mencari bukti di barang bawaan Rio.

"Lo yakin Sasha bisa?" tanyaku.

Sasha sudah berjalan ke arah Rio. Tiba-tiba, dia memegang perutnya, wajahnya memucat.

"Uh... uh..." Dia membungkuk.

Rio menoleh. "Kamu kenapa?"

"Maaf, Mas Rio... aku kayaknya mabuk darat..." Sasha meraih lengan Rio—dan dengan sengaja (aku yakin itu sengaja), dia muntah. Beneran muntah.

Di lengan Rio.

"AARRGHH!" Rio berteriak, mundur dengan jijik. "APA-APAAN—"

"Maaf, maaf!" Sasha terus memegang lengan Rio meskipun Rio menarik-narik tangannya. "Aku nggak tahan—ugh!"

Muntah kedua. Kali ini di sepatu Rio.

Vania mundur ketakutan. Anak-anak lain juga menjauh. Guru-guru berlarian membawa sapu dan kain pel.

"AMAZING," bisik Rasya.

"Aku tahu Sasha hebat, tapi ini... di luar ekspektasi." Aku takjub.

Sementara semua orang sibuk dengan Sasha dan Rio yang histeris, aku dan Rasya dengan cepat mendekati tas Rio yang tertinggal di meja.

"Kamu jaga," perintah Rasya. "Aku cek."

Dengan gerakan cepat dan terampil, Rasya membuka ransel Rio. Di dalamnya, ada buku catatan—mirip dengan yang dia temukan sebelumnya—dan sebuah hard drive kecil.

"Ini dia." Rasya mengambil hard drive itu, menyelipkannya ke sakunya. Lalu dia menutup ransel Rio rapi-rapi.

"Udah?" tanyaku.

"Udah. Ayo pergi."

Kami berdua berjalan menjauh, berpura-pura tidak tahu apa-apa.

Sasha, yang masih 'muntah-muntah' di lantai, mengedipkan mata ke arahku.

Misi berhasil.

---

Pukul 10.00 — Di Dalam Bus Lagi

Rio duduk dengan muka masam, mengganti bajunya dengan kaos cadangan yang dia bawa (siapa sangka Rio se-fussy itu?). Sepatunya dibersihkan oleh petugas rest area, tapi baunya mungkin masih tersisa.

Sasha di sampingku tersenyum puas.

"Sasha, kamu hebat banget," pujiku.

"Aku sudah latihan dari semalam."

"Latihan muntah?"

"Latihan mual. Caranya lihat video orang naik perahu di ombak besar."

Rasya menggeleng-gelengkan kepala. "Kamu aneh."

"Sama-sama aneh," balas Sasha santai. "Kita satu circle."

Aku tertawa.

"Tapi sekarang," Rasya mengeluarkan hard drive dari sakunya, "kita lihat isinya."

"Apa nggak bahaya? Di sini banyak orang," kataku.

"Nanti malam. Saat semua tidur."

---

Pukul 16.00 — Sampai di Villa

Villa Mega Permata—begitu namanya—adalah kompleks villa besar dengan tiga bangunan utama. Anak perempuan di Villa A, anak laki-laki di Villa B, dan guru-guru di Villa C.

Aku sekamar dengan Sasha dan dua anak lain: Dinda (anak pendiam yang sukanya baca buku) dan Mila (anak tomboi yang sukanya olahraga). Untungnya, mereka tipe orang yang tidak banyak bertanya.

"Permanent makeup, ya?" tanya Dinda, menunjuk alisku yang tergambar rapi.

"Enggak. Aku emang alisnya tebel."

"Untung ya," gumam Dinda iri.

Sasha melirikku, tersenyum tahu.

Setelah sholat maghrib dan makan malam bersama, kegiatan malam dimulai: api unggun dan acara perkenalan. Tapi hatiku tidak di sana. Pikiranku tertuju pada hard drive yang disimpan Rasya di ranselnya.

Sekitar pukul 21.00, setelah acara selesai, aku mengirim chat ke Rasya.

Nayla (21.04): "Kapan kita cek hard drive?"

Rasya (21.05): "Jam 11 malam. Semua orang tidur."

Nayla (21.05): "Di mana?"

Rasya (21.06): "Taman belakang villa. Sepi."

Nayla (21.06): "Oke."

Sasha membaca chatku dari samping. "Nay, hati-hati."

"Kamu jagain kamar?"

"Pasti."

---

Pukul 23.00 — Taman Belakang Villa

Taman belakang villa luas, dengan banyak pohon pinus dan semak-semak. Di tengahnya ada kolam ikan koi kecil yang airnya bening.

Aku menemukan Rasya sudah duduk di bangku dekat kolam, memegang hard drive dan sebuah laptop kecil—punyanya juga, ternyata.

"Kamu persiapan banget, ya," kataku sambil duduk di sampingnya.

"Langkah yang baik adalah persiapan yang matang."

"Kutipan dari siapa?"

"Aku. Baru saja."

Aku terkekeh.

Rasya mencolokkan hard drive ke laptop. Kami berdua menahan napas.

Folder terbuka. File-file di dalamnya berurutan rapi: "PROYEK N" , "PROYEK A" , "PROYEK V" , "PROYEK R" .

"Proyek N— Nayla," ucap Rasya. "Proyek A— Andre. Proyek V— Vania. Proyek R— Rasya."

"Buka satu per satu."

Rasya membuka folder "PROYEK N" .

Di dalamnya: foto-foto aku. Dari jarak jauh. Di sekolah, di rumah, di mal—bahkan di dalam kelas. Ada puluhan foto. Mungkin ratusan.

"Awas," bisikku, merinding. "Dia memantauku."

"Sejak kapan?"

Aku scroll ke bawah. Meta data foto menunjukkan tanggal: tiga bulan sebelum aku terlahir kembali.

"Artinya... Rio sudah tahu tentang aku sejak sebelum aku terlahir kembali?" Aku tidak percaya. "Itu nggak masuk akal."

"Atau mungkin," Rasya bicara perlahan, "Rio juga terlahir kembali. Tapi lebih awal dari kita."

"Lebih awal? Maksudnya?"

"Maksudnya, saat kita terlahir sebagai bayi, Rio mungkin sudah terlahir beberapa tahun sebelumnya. Jadi dia punya waktu untuk mempersiapkan segalanya."

Aku menelan ludah. "Kalau begitu... dia tahu semua rencana kita?"

"Belum tentu. Tapi dia tahu kita akan menjadi ancaman."

Kami membuka folder "PROYEK R" .

Foto-foto Rasya. Juga dari jarak jauh. Jumlahnya lebih sedikit dari fotoku, tapi tetap mengerikan.

"Proyek R... itu aku," ucap Rasya. "Dan di folder ini ada file teks."

Rasya membuka file bertuliskan "RENCANA_EKSEKUSI_R.txt"

Isinya:

"Target: Rasya (alias Rasyid, sopir Nayla di kehidupan sebelumnya)

Tanggal eksekusi: Karyawisata Puncak, malam kedua

Metode: Racun dalam minuman

Pelaksana: Andre (dengan iming-iming: Nayla akan menjadi miliknya setelah Rasya mati)

Catatan: Pastikan Nayla tidak melihat. Pastikan tidak ada saksi. Racun bekerja 4-6 jam. Kematian akan tampak seperti serangan jantung."

Tanganku gemetar.

"Mereka akan meracuni kamu. Malam ini? Tapi hari pertama—"

"Mereka bilang malam kedua. Besok malam." Rasya menggenggam tanganku. "Kita masih punya waktu."

"Kita harus menghentikan ini."

"Kita akan menghentikan ini. Tapi tidak dengan panik." Rasya menatapku tenang—terlalu tenang. "Kita akan pintar-pintar."

---

Pukul 23.30 — Kembali ke Kamar

Aku masuk ke kamar dengan perasaan campur aduk. Sasha belum tidur—Dinda dan Mila sudah mendengkur.

"Gimana?" bisik Sasha.

Aku menceritakan semuanya. Wajah Sasha berubah pucat di bawah lampu tidur.

"Mereka nggak main-main, ya."

"Serius banget."

"Jadi besok malam kita harus menggagalkan rencana mereka."

"Iya."

"Dan juga menjebak mereka balik."

"Iya."

Sasha menghela napas. "Kita butuh rencana yang matang."

"Kita udah punya."

"Ceritain."

Aku memejamkan mata, mengingat apa yang Rasya dan aku diskusikan di taman.

"Besok malam, saat mereka mencoba meracuni Rasya, Andre akan menjadi pelaksana. Tapi Andre nggak sepenuhnya percaya sama Rio. Selama ini, Andre masih punya perasaan sama aku. Kita akan manfaatkan itu."

"Caranya?"

"Kita akan membuat Andre berbalik melawan Rio."

Sasha bersiul pelan. "Gila. Itu rencana gila."

"Tapi bisa berhasil."

"Atau bisa gagal."

"Semua rencana punya risiko."

Sasha menatapku lama. Lalu dia mengangguk. "Oke. Aku ikut."

"Sha, ini berbahaya."

"Aku tahu. Tapi kalian nggak bisa sendirian." Dia meraih tanganku. "Kita bertiga. Ingat?"

Aku tersenyum. "Ingat."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!