Menjadi istri Ferdiansyah adalah ujian kesabaran tanpa batas bagi Sekar. Di rumah mertuanya, ia tak lebih dari babu yang harus melayani keluarga suaminya dengan jatah uang belanja hanya 25 ribu rupiah sehari. Ferdi selalu berdalih ekonomi sulit dan menuntut Sekar untuk terus berhemat, bahkan hanya untuk membeli bedak seharga 30 ribu pun Sekar harus menerima hinaan menyakitkan.
Ferdi ternyata menyimpan rahasia besar. Ia naik jabatan dengan gaji fantastis yang ia sembunyikan rapat-rapat. Tak hanya pelit pada istri sah, Ferdi ternyata berselingkuh dengan bawahannya di kantor. Tak mau hancur, Sekar mulai bangkit secara diam-diam. Lewat bantuan Amelia, ia belajar menjadi penulis novel sukses yang menghasilkan pundi-pundi rupiah dari balik layar ponselnya. Saat suaminya sibuk berkhianat dan mertuanya terus menghina, Sekar justru sedang membangun kerajaan hartanya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Calon Madu Beracun
Suasana di ruangan kantor pabrik itu mendadak pengap. Manda menatap Ferdiansyah dengan mata membelalak, tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Harapannya untuk menjadi nyonya satu-satunya di hidup pria itu runtuh seketika.
"Mas... jadi kamu mau jadikan aku istri simpanan?" tanya Manda dengan nada suara yang sengaja dibuat bergetar, seolah dia adalah korban paling malang sedunia.
Dalam otaknya, Manda sudah menyusun skenario indah. Ferdiansyah menceraikan Sekar Sari, lalu mereka menikah mewah dan dia naik kasta menjadi istri manager. Tapi kenyataannya? Dia malah ditawari posisi cadangan. Kesannya dia hanya seorang pelakor. Manda tahu betul bagaimana kejamnya jempol netizen dan omongan tetangga kalau gelar itu sampai melekat padanya. Bisa habis dia dikuliti tanpa sisa.
"Ya mau bagaimana lagi, Manda? Kamu kan tahu sendiri aku sudah punya istri. Kamu sudah tahu risikonya sejak awal mau jadi pacar suami orang.” sahut Ferdi dengan nada sangat enteng, seolah sedang membicarakan cuaca.
Ferdi menyandarkan punggungnya ke kursi kebesarannya. Melepaskan Sekar? Tidak semudah itu. Sekar adalah Sekar Sari, kembang desa yang dulu begitu dipuja-puja. Ferdi ingat betul bagaimana dia harus banting tulang dan memeras keringat hanya untuk mendapatkan perhatian Sekar. Dulu, saingan terberatnya adalah Rehan Widianto, seorang dokter muda dari kota yang tampan dan mapan. Ferdi sempat minder luar biasa karena saat itu dia hanyalah seorang buruh pabrik.
Tapi takdir berkata lain, Sekar justru memilih Ferdi. Kemenangan atas Dokter Rehan itu adalah kebanggaan terbesar dalam hidupnya. Jadi, kalau dia bisa memiliki Sekar sekaligus Manda, kenapa harus memilih salah satu? Baginya, memiliki dua istri itu terdengar seperti prestasi lelaki sejati.
"Mas... kamu tega sekali sama aku." rintih Manda. Air mata buayanya mulai menggenang. Dia memasang wajah paling melas agar Ferdi luluh. "Aku nggak mau jadi istri kedua, Mas. Aku maunya jadi satu-satunya. Lagian, buat apa sih mempertahankan Sekar? Dia itu mandul, Mas! Wanita nggak berguna yang cuma bisa numpang hidup!"
Rahang Ferdi mengeras sejenak, tapi kemudian mengendur. "Aku nggak peduli dia mandul atau nggak. Yang aku tahu, aku mencintainya. Bukankah cinta itu nggak bersyarat? Kalau kamu memang mau jadi bagian dari hidupku, ya harus terima jadi yang kedua. Kalau keberatan, ya sudah, kita sampai di sini saja."
Manda terperangah. Logika Ferdiansyah benar-benar ajaib. Pria ini mengaku mencintai istrinya dengan tulus, tapi di saat yang sama dia sedang merayu wanita lain untuk dijadikan simpanan.
"Kalau kamu tulus mencintaiku, harusnya kamu maklum dengan posisiku, Manda. Bukan malah menuntut macam-macam.” tambah Ferdiansyah, membalikkan keadaan hingga Manda merasa dialah yang bersalah.
Manda terdiam cukup lama. Dia memutar otak. Paras Ferdi yang tampan dan mapan memang membuatnya tergila-gila. Dia tidak rela berbagi, tapi dia lebih tidak rela kehilangan ATM berjalan ini. Akhirnya, dengan berat hati, dia mengangguk.
"Baiklah, aku setuju jadi yang kedua, Mas." ucap Manda lirih.
Mata Ferdi langsung berbinar. "Serius?"
"Iya, habisnya aku terlalu sayang sama kamu..." Manda menjawab sambil menunduk, padahal dalam hatinya dia sudah menyusun rencana lain. “Lihat saja nanti, begitu kita sah, aku akan cari cara supaya Sekar tahu dan dia sendiri yang minta cerai. Ruang ini cuma untuk aku.’
"Bagus! Mas akan pikirkan waktu yang tepat untuk kita nikah siri dulu." kata Ferdiansyah dengan senyum lebar.
"Loh, kok masih dipikirkan? Kenapa nggak langsung saja?" Manda mulai kesal.
"Ya harus rapi, Sayang. Menikah itu bukan cuma soal ijab kabul. Kita harus main cantik supaya Sekar nggak curiga sedikit pun. Aku nggak mau dia tahu rencana ini."
"Memang kenapa kalau dia tahu? Mas takut sama dia?" sindir Manda.
"Bukan takut, tapi kalau Sekar tahu, dia pasti minta cerai! Dan aku nggak akan biarkan itu terjadi. Jadi, tutup mulutmu rapat-rapat. Oke?"
Manda memutar bola matanya malas. Dia muak mendengar nama Sekar terus-menerus disebut dengan nada penuh perlindungan. "Iya, Mas. Terserah kamu saja."
"Ya sudah, sekarang kamu keluar. Kembali kerja. Nanti orang-orang curiga kalau kamu kelamaan di ruanganku." perintah Ferdiansyah.
Sebelum melangkah pergi, Manda menghentikan langkahnya dan menengadahkan tangan di depan meja Ferdiansyah. "Minta uang dong, Mas. Dompetku kosong. Gajiku kemarin sudah habis buat kirim ke orang tua di kampung."
Ferdiansyah menghela napas kasar. Dengan malas, dia merogoh dompet kulitnya dan mengeluarkan dua lembar uang biru. Seratus ribu.
Manda melotot. "Loh, kok cuma seratus ribu, Mas?"
"Memangnya harus berapa?" tanya Ferdi heran.
"Satu juta lah, Mas! Segini buat beli bedak saja nggak cukup, apalagi buat makan sebulan!" gerutu Manda.
Kini ganti Ferdia yang melotot. "Satu juta? Kamu pikir aku pohon uang? Kamu itu belum jadi istriku, Manda. Jadi tanggung jawabku belum sepenuhnya di kamu. Lagian salah sendiri gajimu dikasih semua ke orang tuamu. Sudah, sana keluar!"
Manda memberengut kesal. Dia keluar dari ruangan itu dengan perasaan mendidih. Dia tidak tahu saja, jangankan untuk selingkuhan, pada Sekar yang merupakan istri sahnya saja Ferdiansyah sangat pelit. Sekar hampir tidak pernah diberi uang lebih untuk perawatan diri atau sekadar membeli bedak yang bagus.
"Awas saja kalau sudah sah nanti. Aku bakal kuras habis hartamu, Mas! Dan jangan harap Sekar dapat sepeser pun!" gumam Manda sambil menghentakkan kakinya di koridor pabrik.
**
Sekar sedang berada di dapur. Anehnya, hari ini hatinya terasa sangat riang. Ocehan dan nyinyiran Bu Nimas yang biasanya menusuk telinga, hari ini hanya dianggap angin lalu oleh Sekar. Kenapa? Karena hari ini adalah hari bersejarah. Sekar baru saja menerima gaji pertamanya dari pekerjaan sampingan yang dia lakukan secara diam-diam.
Semangatnya membara. Dia membersihkan seluruh rumah, mengepel hingga mengkilap dan mencuci semua tumpukan baju tanpa mengeluh sedikit pun.
Setelah semua beres, Sekar bersiap-siap. Dia ingin pergi menemui Amelia, sahabatnya, untuk merayakan keberhasilan kecil ini sekalian membicarakan rencana masa depannya.
"Bu, semua pekerjaan rumah sudah beres. Sekar mau pamit keluar sebentar ya, ada perlu." ucap Sekar lembut saat menemui Bu Nimas di ruang tengah.
Bu Nimas yang sedang asyik mengunyah sirih sambil menonton televisi langsung menoleh dengan tatapan tajam. Dia kaget. Biasanya Sekar kalau pergi ya pergi saja atau paling tidak hanya menunduk. Hari ini menantunya itu tampak lebih... berani?
"Mau melayap ke mana lagi kamu?! Kurang kerjaan ya? Itu di belakang masih ada baju yang belum dilipat, lipat dulu sana! Jangan jadi istri malas!" semprot Bu Nimas ketus.
Wajah Sekar yang tadinya cerah mendadak berubah. Darahnya mendidih. Dia sudah mengerjakan semuanya, tapi mertuanya ini memang tidak pernah puas jika tidak menyiksa batinnya. “Sabar, Sekar... orang ini memang minta dijitak kepalanya sekali-kali.” batin Sekar geram.
"Kenapa? Mau marah kamu? Berani kamu melotot sama saya???" tantang Bu Nimas. Meski suaranya lantang, sebenarnya ada sedikit rasa was-was melihat kilat di mata Sekar yang tak pernah dia lihat sebelumnya.
Sekar tidak mundur. Dia justru melangkah mendekat ke arah ibu mertuanya. Langkahnya pelan tapi pasti. Dia berhenti tepat di depan Bu Nimas, lalu bibirnya menyunggingkan senyum menyeringai yang membuat bulu kuduk Bu Nimas berdiri.
"Ma-mau apa kamu!" seru Bu Nimas terbata-bata, badannya refleks mundur hingga bersandar ke sofa.
Sekar mendekatkan wajahnya ke telinga Bu Nimas. "Bu... Sekar sudah selesaikan semuanya. Kalau Ibu masih merasa kurang, kenapa Ibu tidak kerjakan sendiri saja? Bukankah Ibu masih punya tangan dan kaki yang sehat?"
Bu Nimas melongo. Dia tidak percaya menantu yang biasanya diam seperti kerbau dicocok hidung itu kini mulai menunjukkan taringnya.
"Kamu... kamu berani melawan ya sekarang?!" teriak Bu Nimas saat Sekar sudah berjalan menuju pintu depan tanpa menoleh lagi.
"Saya tidak melawan, Bu. Saya kan sudah kerjakan semuanya.” Jawab Sekar mantap sebelum akhirnya menghilang di balik pintu, meninggalkan Bu Nimas yang masih syok di ruang tengah.
Sekar menghirup udara luar dengan lega. Ini baru permulaan. Ferdiansyah, Bu Nimas, dan siapa pun yang menyakitinya harus bersiap. Sekar Sari yang dulu lemah, sudah mati hari ini.
kapoooooooook