Celina adalah ratu clubbing yang hidupnya cuma soal hura-hura, alkohol, dan gonta-ganti cowok sesuka hati. Baginya, pakaian seksi adalah seragam wajib untuk menaklukkan malam. Dia nggak butuh aturan, apalagi komitmen.
Muak melihat kelakuan Celina yang makin liar, sang Mama akhirnya memberikan ultimatum keras: Menikah dengan seorang santri pilihan Mama, atau angkat kaki dari rumah tanpa sepeser pun uang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooniecaa_moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Begitu pintu kamar ndalem tertutup, Celina langsung mendengus kesal. Bau parfum menyengat dari mukena tadi benar-benar merusak suasana hatinya. Tanpa aba-aba, tanpa rasa ragu sedikit pun, Celina langsung membuka resleting baju kurungnya dan melepasnya begitu saja di tengah ruangan, menyisakan setelan hitam yang memang sengaja ia pakai sebagai "dalaman".
Zuhair yang sedang merapikan pecinya di depan cermin refleks membalikkan badan, namun sedetik kemudian ia langsung membuang muka dengan gerakan sangat cepat hingga lehernya terasa kaku.
"Astagfirullah! Celina! Apa yang kamu lakukan?" seru Zuhair, suaranya yang biasanya tenang kini terdengar sedikit panik. Ia segera menutup matanya dengan telapak tangan.
Celina yang melihat reaksi itu justru tertawa kencang. Ia malah sengaja berjalan mendekati meja rias untuk mengambil parfum aslinya, melewati Zuhair dengan santai.
"Lo apa sih? Alay banget, deh!" semprot Celina sambil menyemprotkan parfum mahalnya. "Lagian lo tuh suami gue anjir, heran gue. Kenapa sih? Nggak pernah liat cewek pake bikini ya? Kampung sih lo!"
Zuhair masih tetap pada posisinya, membelakangi Celina sambil mengatur napasnya yang mendadak tidak beraturan. "Ya saya memang nggak pernah, Celina! Dan meskipun saya suami kamu, ada adab yang harus dijaga. Lagian kita juga tidak pernah... ngapa-ngapain."
"Ya terus kenapa kalau nggak pernah ngapa-ngapain? Mau gue ajarin?" goda Celina dengan nada tengil, sengaja ingin melihat sejauh mana "iman" laki-laki di depannya ini bertahan.
Tepat saat suasana di dalam kamar menjadi sangat canggung dan tegang, ketukan keras di pintu kayu jati itu membuyarkan segalanya.
"Nak? Zuhair? Celina?" Suara Ummi Cahya terdengar dari luar dengan nada cemas. "Sudah belum gantinya? Ayo, pengajiannya segera dimulai, Kyai sudah naik ke mimbar. Nggak enak ditunggu orang banyak."
Zuhair seperti mendapatkan pelampung di tengah lautan. Ia segera menyambar sebuah gamis panjang milik Celina yang tergantung di balik pintu—tanpa melihat—dan melemparkannya ke arah Celina.
"Cepat pakai itu! Ummi sudah menunggu!" bisik Zuhair setengah memerintah, wajahnya masih memerah sampai ke telinga.
Celina menangkap gamis itu sambil mencibir. "Iya, iya! Ummi! Ini lagi dandan biar nggak malu-maluin!" teriak Celina ke arah pintu.
Sambil memakai gamisnya dengan ogah-ogahan, Celina sempat melirik punggung lebar Zuhair yang masih setia menghadap tembok.
Gila, beneran gemeteran ni cowok, batin Celina sambil tersenyum miring. Ternyata ngerjain Gus alim jauh lebih seru daripada dugem di Jakarta.
"Udah, ayo keluar. Jangan lama-lama ngadep tembok, ntar naksir sama cicak," ucap Celina sambil membuka pintu kamar dengan gaya angkuhnya, meninggalkan Zuhair yang baru berani membuka mata dan beristighfar berkali-kali di dalam hati.
Suasana di dalam masjid mendadak jadi jauh lebih mencekam bagi Sarah. Ia menyangka Celina tidak akan berani kembali atau setidaknya akan keluar dengan wajah sembap karena dimarahi Zuhair. Namun kenyataannya, Celina melangkah masuk kembali ke shaf depan dengan gamis panjang yang pas di tubuhnya, tampak segar dan jauh lebih menantang.
Sarah yang duduk di belakang Ummi Nur terus berusaha mencari celah. Ia tidak mau rencananya gagal total. Saat Kyai sedang memberikan jeda sebelum sesi doa bersama, Sarah sengaja mendekat dan berbisik cukup keras kepada pengurus senior di sampingnya, sengaja agar didengar oleh Ummi Cahya dan Bunda Siska.
"Sayang sekali ya, kalau pengajian sebesar ini tidak ada selingan sholawat dari keluarga ndalem. Kabarnya Ning Celina itu suaranya bagus, kan anak Kyai besar... pasti jago lah kalau cuma sholawat," pancing Sarah dengan nada yang seolah-olah memuji, padahal tujuannya adalah mempermalukan Celina karena ia yakin perempuan hobinya"clubbing" seperti Celina tidak akan hafal satu pun bait sholawat.
Ummi Cahya menoleh, matanya berbinar. "Oh iya, benar juga. Celina, Nak... kamu mau mimpin sholawat sebentar saja buat mendinginkan suasana?"
Celina tersentak. Sholawat? Saya? Yang bener aja! batinnya. Ia melirik Sarah yang sedang tersenyum penuh kemenangan di belakang Ummi. Sarah seolah berkata lewat tatapan matanya, "Mampus kamu, mau nyanyi lagu Barat di sini?"
Bunda Siska ikut menimpali dengan penuh harap, "Ayolah Cel, tunjukkan sedikit apa yang kamu bisa."
Celina menarik napas panjang. Ia tahu ini jebakan. Kalau dia menolak, dia bakalan dicap anak durhaka dan bodoh di depan banyak orang. Tapi kalau dia maju...
"Oke," ucap Celina tiba-tiba sambil berdiri.
Ia berjalan menuju pengeras suara di bagian wanita. Zuhair yang berada di balik pembatas shaf pria langsung menegang. Ia tahu betul siapa istrinya—ia takut Celina justru akan membuat keributan baru.
Celina memegang mic. Ia teringat masa kecilnya saat masih dipaksa ayahnya ikut mengaji di Jakarta sebelum ia mulai liar. Ia memejamkan mata, teringat bakat menyanyinya yang memang di atas rata-rata—hanya saja biasanya ia gunakan di panggung festival atau karaoke.
Suara Celina keluar. Bukan suara yang kaku, dan jelek melainkan suara yang sangat merdu, tinggi, dan penuh power. Ia membawakan sholawat dengan cengkok yang unik, perpaduan antara teknik vokal modern dan nada-nada religi.
Seluruh masjid seketika senyap. Para santriwan yang di sebelah sana sampai terdiam, terpaku mendengar suara yang begitu indah dan jernih merayap di setiap sudut ruangan. Zuhair yang mendengarnya pun ikut terpaku, dadanya bergetar. Ia tidak menyangka suara "istri nakalnya" itu bisa terdengar begitu menyentuh.
Sarah yang tadinya berharap Celina akan gagap dan ditertawakan, kini justru pucat pasi. Rencananya malah jadi panggung bagi Celina untuk bersinar.
Selesai bersholawat, Celina memberikan mic itu kembali dengan gaya tengilnya. Ia menatap lurus ke arah Sarah yang wajahnya sudah seperti kepiting rebus.
"Gimana, Mbak Sarah? Kurang panjang atau kurang merdu?" tanya Celina lewat mic yang belum sempat dimatikan sepenuhnya, suaranya terdengar ke seluruh masjid.
Ummi Cahya langsung memeluk Celina dengan haru. "Masya Allah, Nak... Ummi tidak menyangka suaramu seindah itu."
Bunda Siska pun menangis bangga. Di sisi lain, Zuhair hanya bisa menggelengkan kepala pelan sambil tersenyum tipis. Istrinya itu memang penuh kejutan—dan sepertinya.
Setelah doa penutup dibacakan oleh Kyai, suasana mulai mencair. Para santriwan dan santriwati mulai membubarkan diri dengan tertib menuju asrama masing-masing, meski bisik-bisik soal "Suara Ning Celina" menjadi topik utama malam itu.
Di pelataran masjid, keluarga besar berkumpul. Ummi Cahya dan Kyai tampak bersiap-siap. Sebuah mobil hitam sudah menunggu di depan gerbang.
"Zuhair, Celina... Ummi dan Abi pamit balik ke Jakarta malam ini juga. Masih ada urusan di yayasan besok pagi," ucap Ummi Cahya sambil memeluk Celina dengan erat, kali ini dengan tatapan yang jauh lebih hangat dari sebelumnya. "Jaga diri baik-baik ya, Nak. Ummi tunggu kabar baiknya."
Kyai hanya menepuk bahu Zuhair pelan, memberikan tatapan penuh arti yang seolah mengatakan, 'Sabar, istrimu itu permata yang belum diasah.'
Sementara itu, Pak Roni dan Bunda Siska tidak ikut pulang. "Kami menginap di Ndalem Agung malam ini, Zuhair. Besok pagi baru kami menyusul balik ke Jawa," ujar Pak Roni.
Ndalem Agung adalah bangunan utama yang letaknya sedikit terpisah dari kediaman Zuhair dan Celina. Bangunan itu lebih besar dan biasanya hanya digunakan untuk tamu-tamu kehormatan atau saat keluarga besar berkumpul.
"Ingat, Celina," bisik Bunda Siska sambil mencium kening putrinya. "Jangan bikin ulah malam ini. Ayahmu ada di sebelah, telinganya tajam."
Celina hanya memutar bola mata. "Iya, Bunda sayang. Udah sana, istirahat. Capek kan liat aku 'konser' tadi?"
Zuhair berjalan di samping Celina menuju rumah kecil mereka. Ia tetap diam, namun sesekali ia melirik Celina yang masih tampak santai, seolah tidak baru saja melakukan gebrakan besar.
Begitu sampai di depan pintu rumah, Zuhair berhenti. Ia menatap ke arah Ndalem Agung yang lampunya masih menyala, lalu kembali menatap Celina.
"Suara kamu... saya tidak tahu kalau kamu bisa bersholawat dengan rasa seperti itu," ucap Zuhair jujur, sekaligus kagum.
Celina yang baru saja mau melepas jepit rambutnya berhenti sejenak. Ia menyeringai tengil. "Kenapa? Terpesona ya? Makanya, jangan nilai buku dari sampulnya doang, Gus. Gue emang nakal, tapi kalau soal bakat, gue nggak pernah main-main."
Ia melangkah masuk ke dalam rumah dengan gaya angkuhnya, meninggalkan Zuhair yang masih berdiri di teras.
"Malam ini Ayah sama Bunda di Ndalem Agung," gumam Celina dari dalam sambil menoleh ke arah Zuhair yang masih mematung. "Berarti nggak ada yang bakal denger kalau lo teriak-teriak nahan iman di kamar nanti, kan?"
Zuhair langsung beristigfar pendek, menyadari bahwa malam panjangnya baru saja dimulai. Ia segera menyusul masuk dan mengunci pintu, bersiap menghadapi serangan-serangan tak terduga lainnya dari Celina.