NovelToon NovelToon
Kriteria Gila, Cinta Nyata

Kriteria Gila, Cinta Nyata

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Duda
Popularitas:277
Nilai: 5
Nama Author: wilight

Rania ditinggal kabur pacarnya, Rangga. keluarganya malak sibuk nyariin jodoh agar Rania bisa melupakan masalalunya.
Muak, Rania ngeluarin kriteria gila duda keren umur 30-an, dan yang paling penting ukuran 18 cm.

Keluarga syok, tapi berhenti ganggu.

Beberapa waktu kemudian, seorang pria bernama Alfino duduk di teras rumahnya. Tinggi, kekar, wangi. Duda 33 tahun tepat sesuai pesanan.

Rania mulai lupa Rangga. Tapi masa lalu kembali. Rangga muncul

Dilema pun terjadi Antara durian 18 cm dan cinta pertama dan Rania harus milih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wilight, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

hari pertama

Pagi itu langit Jakarta cerah banget terlalu cerah kayak lagi nipu.

Awan-awannya tipis kayak kapas yang diuber angin. Mataharinya menyengat kayak setrika uap yang dinyalain terus-terusan. Rania berdiri di depan gedung kantor barunya sambil menegang.

Pakaiannya rapi kemeja putih yang disetrika Ibu sampai kaku kayak tripleks, blazer hitam yang sedikit kebesaran di bahu, dan sepatu pantofel yang masih baru — baru dibeli semalam di toko kaki lima, masih berasa nggak enak dipakai.

"Ini dia," bisiknya.

"Hari pertama move on versi magang."

Gedung itu tinggi mungkin dua puluh lantai. Kacanya berkilap kayak gigi artis habis veneer. Pintu masuknya otomatis, terbuka dengan bunyi swish halus, kayak lagi buka pintu pesawat luar angkasa. Rania masuk, lalu berhenti sejenak di lobi.

Lobi gedung itu mewah. Lantai marmer putih bersih sampai-sampai Rania bisa melihat pantulan wajahnya yang masih agak sembab. Ada lampu kristal besar di atas, gantungannya kayak perhiasan raksasa. Resepsionisnya senyum-senyum, rambut klimis, giginya putih berjejer rapi.

Rania merasa kayak kecoak yang masuk ke pesta dansa. Tapi dia tidak mundur sudah sampai sini. Kembali ke rumah berarti kalah sama omongan Ibu yang pasti bilang

"Ibu tahu kamu nggak bakal betah"

Atau Naufal yang nyengir dan bilang "Mbak, emang lebih cocok nganggur di rumah".

Nggak.... Nggak mau......

Rania menuju lift ditekan tombol lantai 7, Pling. Pintu lift terbuka, dia masuk di dalam ada kaca besar, jadi dia bisa lihat penampilannya sendiri.

"Wajah masih lecek. Mata masih sayu. Tapi nggak apa-apa. Yang penting semangat," bisiknya.

Lantai 7 divisi Marketing PT. Berkah Sejahtera.

Rania melangkah keluar lift suasana kantor langsung menyambutnya bukan dengan bunga atau tepuk tangan, tapi dengan suara mesin printer yang nyetak dokumen, suara telepon yang berdering kayak jangkrik lagi musim kawin, dan aroma kopi murahan yang sudah mengendap di sirkulasi udara.

"Buset, ini kayak kompleks perumahan yang penuh ibu-ibu arisan," gumamnya sambil lihat kiri kanan.

Ada karyawan yang lalu lalang ada yang megang laptop sambil ngopi, ada yang ngobrol sambil nunjuk-nunjuk monitor, ada satu orang yang tidur di meja dengan mulut sedikit terbuka.

Rania jalan ke resepsionis divisi marketing. Seorang perempuan sebaya, rambut diikat ke belakang, wajahnya manis tapi matanya kayak habis nangis atau kurang tidur. Perempuan itu langsung menatap Rania.

"Kamu Rania, ya? Magang baru?"

"Iya."

Perempuan itu langsung berdiri, tangannya menjulur.

"Aku Mila sama-sama magang tapi aku udah seminggu lebih jadi angkatan lo baru sekarang."

"Senang kenal," Rania jabat tangan. Genggamannya lembek kayak orang yang baru bangun tidur.

Mila langsung menarik tangan Rania, lalu berbisik. "Sini, sini, gue tunjukin meja lo. Tapi gue kasih tahu dulu seluk-beluk kantor."

Mereka berjalan perlahan Mila mulai cerita. Siapa saja yang harus diwaspadai, siapa yang baik, siapa yang suka nitip kopi gratis, dan siapa yang kalau marah bisa bikin satu ruangan pada kabur kayak ada bom.

"Yang paling penting," kata Mila dengan mata menyipit,

"jangan pernah pinjem pulpen Pak Heru."

"Kenapa?" Tanya Rania.

"Karena beliau hitung jumlah pulpennya setiap pulang. Pernah ada satu magang hilangin pulpen, besoknya langsung kena tegur di depan umum."Jawab Mila

Rania nyaris tersedak. "Serius? Kayak guru SD?" Tanya Rania lagi, dengan mata yang sedikit melotot.

"Serius, Ran. Pak Heru itu direktur marketing yang detailnya minta ampun. Target sales aja dihitung sampe koma." Jawab Mila dengan lantang

Mereka berhenti di sebuah meja pojokan. Dekat jendela pemandangan luar lumayan gedung-gedung tinggi, jalanan macet, dan seorang abang ngojek yang lagi ikutin mobil polisi.

"Ini meja lo," kata Mila.

"Meja bekas magang sebelumnya namanya Susan. Sekarang dia udah jadi karyawan tetap di divisi finance, tapi katanya sering ngintip-ngintip ke sini buat ngegosip." Sambung Mila

"Gue nggak suka udah dari sekarang," kata Rania, nyengir.

Mila ketawa. "Lo cocok sama gue."

Belum sempat Rania duduk, suara langkah berat terdengar dari ujung lorong.

Seorang pria paruh baya dengan perut buncit kayak bonsai dan kumis tebal yang ujungnya sedikit naik muncul dari ruangan direktur. Dia bawa map tebal, kacamata minusnya nyaris jatuh dari ujung hidung.

"Anak magang baru?" tanya pria itu sambil melirik Rania dari ujung kepala sampai ujung sepatu.

Rania buru-buru berdiri. "Iya, Pak. Rania."

"Pak Heru," pria itu menjabat tangan.

Cepat dan tegas kayak lagi salaman kontrak kerja sama presiden.

"Langsung kerja nggak ada perkenalan panjang-panjang Ini map kerjakan tugas di dalam. Nomor 1 sampai 10 jangan salah urutan."

Map itu tebalnya kayak novel sejarah Indonesia. Rania menerimanya dengan tangan sedikit gemetar.

"Secepatnya, ya. Marketing ini perang. Lo harus siap di medan." Pak Heru berbalik, lalu pergi dengan langkah tegas.

Rania menatap Mila. "Dia serius?"

Mila mengangguk lesu. "Makanya gue bilang, ini neraka bukan kantor. Tapi lo pasti bisa gue aja masih hidup."

"Lo kayak korban perang yang selamat."

"Persis."

Satu jam kemudian Rania sudah duduk di mejanya, berkutat dengan tugas nomor 1 sampai 10.

Nomor 1: Buat proposal marketing untuk klien.

Nomor 2: Analisis data penjualan bulan lalu.

Nomor 3: Susun jadwal konten medsos.

Dan seterusnya sampe nomor 10 Belikan kopi hitam tanpa gula untuk Pak Heru, jam 3 sore.

Rania nulis, ngetik, ngitung, ngelap keringat yang mulai bermunculan di kening. Suasana kantor sibuk. Ada yang teriak soal deadline, ada yang minta data, ada satu karyawan yang tiba-tiba nangis di toilet. Rania dengar dari mejanya. Lengkingannya sampe ke plafon.

"Ini tempat kerja atau rumah sakit jiwa?" batinnya.

Tapi dia terus bekerja mengetik klik-klik keyboard. Matanya fokus ke layar. Untuk pertama kalinya, pikirannya tidak melayang ke Rangga. Tidak ke Ibu yang tanya jodoh tidak ke Naufal yang usil.

Hanya angka, hanya kata hanya target. Mungkin begini caranya move on, pikir Rania. Sibuk sampai nggak sempat mikir.

Jam dua belas siang waktu makan siang.

Rania dan Mila berjalan ke kantin di lantai dasar. Kantinnya sederhana. Meja plastik warna merah dan biru, kipas angin di atas berputar lambat, udaranya sedikit pengap tapi makanan di etalase kelihatan lumayan. Nasi rames, ayam goreng, tempe orek, dan sambal yang menurut kata penjualnya "level dewa".

Mereka duduk di meja pojok. Rania baru nyomot nasi, Mila langsung buka suara.

"Jadi, Ran. Lo cerita aja. Kenapa lo daftar magang? Biar lupa mantan?"

Rania mengunyah ayam goreng, matanya menerawang. "Biar ada kegiatan di rumah mulu bosen Ibu suka minta nikah terus."

Mila nyengir. "Lo juga kayak gue. Gue magang biar kabur dari rumah yang isinya ibu tanya terus Kapan nikah? Temen lo udah pada nikah, lo kapan?'"

"Kita sama-sama korban, Mila sama-sama."

Mila tertawa dia kemudian mengeluarkan ponsel, scroll-scroll sebentar, lalu matanya membulat.

"Eh, Ran. Ini grup tongkrongan gue, ada yang nyebarin kriteria gila soal jodoh. Katanya ada cewek yang minta calon tinggi kekar, duda keren, 18 cm. Lo tau itu siapa?"

Rania berhenti mengunyah glek....

Dia merasakan ubun-ubunnya panas kayak disetrika.

"Bukan, gue nggak tau."

"Tapi lo kan cewek umur 25-an. Lo minta kriteria itu juga?"

Rania memandang jalannya nasi di piringnya. Selamatkan aku, ya Allah, dari mulut adikku sendiri.

"Nggak, Mila. Itu bukan gue."

Mila cekikikan. "Ya udah. Tapi lucu, sih orang yang bikin kriteria itu pasti lagi patah hati terus kalap mungkin dia cuma bercanda."

---

Sore harinya. Rania menyelesaikan tugas sampai nomor 9. Nomor 10, beli kopi hitam untuk Pak Heru, dia lakukan tepat jam 3 sore.

Pak Heru menerima kopi itu, mengendusnya, lalu berkata "Hmm, nggak ada gula bagus kamu lulus ujian pertama."

Rania hampir pingsan ujian pertama? Jadi beli kopi termasuk nilai?

"Besok tugas berikutnya," kata Pak Heru tanpa senyum.

"Siap ya."

Rania keluar ruangan dengan perasaan kayak habis dijatuhi gunung beribu-ribu ton.

Mila menunggu di lorong. "Gimana? Selamat?"

"Katanya aku lulus ujian beli kopi. Gue nggak tahu harus bangga atau nangis."

Mila memeluk bahu Rania. "Bangga aja, Ran. Besok kamu bisa beli teh level naik."

---

Malamnya setelah Rania pulang dan makan malam dengan wajah lelah, dia masuk kamar lalu rebahan. Tubuhnya terasa kayak digilas truk kontainer.

Tapi hatinya sedikit ringan hari pertama magang selesai. Dia selamat, tidak ada drama besar. Tidak ada yang nanya soal kriteria gila. Tidak ada yang ngejek. Rania tersenyum kecil dia pejam mata.

Di ruang tamu, Naufal duduk di sofa, ponsel di tangan. Matanya berbinar. Dia sudah merekam rahasia buat beberapa hari. Tapi baru malam ini dia memberanikan diri.

Jempolnya bergerak lincah. Ketuk. Ketuk. Ketuk.

Grup WA "Anak Muda Gang Mawar"

Naufal: "Eh, ada info nih. Cewek di rumah gue, namanya Rania, baru aja minta jodoh ideal. Tinggi, kekar, tampan, mapan, duda keren, dan yang paling GILA... ukuran 18 cm! Wkwkwkwk."

Teman 1: "HAHAHAHAHAHAHA GILA LU, NAUF!"

Teman 2: "Cewek lu sendiri, Nauf? Mau gue daftar?"

Teman 3: "18 cm tuh kayak penggaris? Astaga, keras."

Naufal ketawa puas. Dia tambah satu pesan lagi.

Naufal: "Serius. Itu kakak gue sendiri. Udah gue liatin. Patah hati terus ngaco. Sekarang kriteria gila itu jadi terkenal. Bagi-bagi ke grup lain, ya. Biar pada tau."

Satu . Dua . Tiga grup. Empat. Lima. Pesan itu nyebar kayak virus di musim hujan.

---

Di sebuah ruang tamu yang sunyi, seseorang membaca pesan itu.

Pria itu duduk di sofa kulit hitam. Cahaya lampu ruangan temaram. Di tangannya, ponsel menyala. Layar menampilkan tangkapan layar dari grup temannya.

Isinya kriteria gila seorang perempuan bernama Rania.

Pria itu tersenyum kecil. Bibirnya melengkung, tidak terlalu lebar, tapi matanya berbinar.

"Menarik," katanya pelan.

Dia membaca ulang, tinggi, keka, tampan, mapan, duda keren, 18 centimeter.

"Lucu juga ada perempuan seberani itu."

Pria itu mematikan ponsel lalu berdiri, jendela ruangannya menghadap ke selatan. Lampu-lampu kota berkelap-kelip kayak bintang-bintang yang jatuh ke bumi.

"Rania," bisiknya.

"Kita lihat nanti."

Dia tidak tahu di mana Rania tinggal, belum tahu Tapi dunia itu kecil sangat kecil untuk ukuran orang yang punya banyak koneksi.

Dan Alfino karena dialah pria itu punya banyak koneksi.

---

Di kamarnya, Rania tidur dengan mulut sedikit terbuka.

Dia tidak tahu apapun soal pesan yang nyebar. Tidak tahu bahwa namanya sudah jadi bahan tertawaan di puluhan grup WA. Tidak tahu bahwa seseorang sedang penasaran dengannya.

Yang dia tahu cuma: hari ini dia selesai magang, besok harus bangun pagi, dan yang paling penting, Ibu tidak nanya soal jodoh.

Kemenangan kecil tidak bertahan lama, tapi tetap kemenangan. Dia tertidur dengan senyum kecil dan di luar sana, di ruang tamu yang sunyi, kriteria gila itu terus menyebar.

Seperti duren yang matang, jatuh dari pohonnya, lalu baunya semerbak sampai ke tetangga seberang. Hanya masalah waktu sebelum seseorang datang memetiknya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!