Aku tidak pernah menyangka pria yang kupanggil “Om” akan menjadi suamiku.
Pernikahan ini bukan karena cinta, tapi karena sebuah rahasia yang mengikat kami.
Dia dingin, kejam, dan penuh aturan. Tapi semakin aku mencoba menjauh… dia justru tidak pernah melepasku.
Di balik sikapnya yang kejam, ada sesuatu yang tidak bisa aku pahami. Apakah aku hanya permainan… atau benar-benar miliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jlianty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah Orang Asing
Kamar yang dimaksud Rafandra ternyata bukan kamar biasa.
Zahra berdiri di depan pintu kamar itu selama beberapa detik sebelum masuk dan waktu masuk, dia butuh beberapa detik lagi untuk mencerna bahwa ini bukan kamar tamu biasa. Ini lebih mirip suite hotel bintang lima yang entah bagaimana nyasar ke dalam rumah pribadi.
Kasur king size dengan sprei putih bersih yang kelihatan belum pernah disentuh. Lemari pakaian built-in sepanjang satu dinding. Meja rias dengan cermin besar. Kamar mandi dalam yang waktu Zahra mengintip ternyata ada bathtub-nya.
Bathtub.
Zahra duduk di tepi kasur. Memantul sedikit. Kasurnya empuk dengan cara yang hampir tidak masuk akal.
Di sudut ruangan ada koper-koper miliknya sudah dipindahkan duluan apparenty, tanpa Zahra tahu kapan. Rapi, tersusun, menunggu dibuka.
Zahra menatap koper-koper itu. Seluruh hidupnya muat dalam tiga koper dan satu tas ransel. Dia rebahan ke belakang, menatap langit-langit putih bersih di atasnya. Lengannya dibentangkan ke dua sisi. Ditengah kasur yang terlalu besar untuk satu orang, di kamar yang terlalu bagus untuk situasi yang terlalu rumit, Zahra akhirnya membiarkan dirinya diam.
Tidak mikir. Tidak panik. Tidak marah. Hanya diam.
Sampai HPnya bergetar.
Sinta: gimana gimana gimana GIMANA???
Sinta: lo udah nyampe rumah dia?
Sinta: kamarnya gimana? Dia gimana? Lo baik-baik aja??
Sinta: ZAH BALES
Zahra mengetik satu kalimat:
Zahra: gue baik-baik aja. kamarnya ada bathtub-nya.
Tiga detik kemudian:
Sinta: BATHTUB?? okay situasinya complicated tapi setidaknya lo bisa mandi cantik
Zahra meletakkan HP ke dada dan untuk pertama kalinya hari ini, tertawa kecil.
.
.
.
Jam tujuh malam, ada ketukan di pintu kamarnya. Zahra sudah ganti baju, kaos dan celana pendek, rambut dilepas dari sanggul, muka sudah dicuci bersih dari semua riasan. Versi paling "asli" dari dirinya, yang dia tidak tahu apakah pantas ditampilkan di rumah orang lain.
"Rumah kita." Suara Rafandra bergema di kepalanya.
"Sebentar." Zahra bangkit, membuka pintu.
Yang ada di sana bukan Rafandra. Melainkan perempuan paruh baya dengan wajah ramah dan celemek dapur, Mbak Reni, yang tadi disebut Rafandra.
"Makan malam sudah siap, Mbak Zahra," katanya dengan senyum yang tulus. "Bapak sudah menunggu di meja makan."
Zahra mengedipkan mata. "Bapak sudah menunggu."
Jadi Rafandra makan malam. Seperti manusia normal. Di meja makan. Dan menunggu. Somehow itu fakta yang cukup mengejutkan.
.
.
.
Meja makan di rumah itu panjang cukup untuk delapan orang, tapi yang duduk hanya dua.
Rafandra ada di ujung, sudah berganti pakaian juga kemeja putih lengan panjang yang kancingnya dibuka dua di atas, rambut sedikit lebih berantakan dari siang tadi.
Dia tidak mendongak waktu Zahra masuk. Matanya ada di layar HP yang dia letakkan di samping piring.
Zahra menarik kursi di sisi yang berlawanan bukan ujung satunya, tapi di tengah sisi kiri, supaya tidak terlalu jauh tapi juga tidak terlalu dekat dan duduk.
Mbak Reni muncul membawa makanan. Nasi, sup, lauk-lauk yang kelihatan dimasak dengan serius. Bukan makanan pesta. Bukan katering. Masakan rumah yang beneran.
Zahra sedikit terkejut.
"Kamu alergi sesuatu?"
Zahra mendongak. Rafandra sudah meletakkan HP-nya, menatap ke arahnya.
"Hah?"
"Riwayat alergi makanan. Ada?"
"Oh." Zahra menggeleng. "Nggak ada. Kenapa?"
"Mbak Reni perlu tahu untuk masak ke depannya." Rafandra kembali ke makanannya.
Zahra menatap pria itu sebentar. Lalu menatap makanan di depannya. Mereka makan dalam diam.
Bukan diam yang nyaman tapi bukan juga diam yang terlalu menyiksa. Entah di titik mana, karena Zahra tidak yakin.
Tiga menit berlalu.
Zahra tidak tahan diam.
"Om Rafa kerja dari rumah juga?" tanyanya.
"Kadang."
"Biasanya jam berapa berangkat?"
"Enam pagi."
"Pulang?"
Rafandra melirik sebentar ke arahnya. "Tergantung."
'Tergantung.' Jawaban paling tidak informatif di dunia.
"Gue nanya bukan buat ngatur jadwal Om," kata Zahra, sedikit defensif. "Gue cuma... mau tau ritme rumah ini. Supaya nggak salah tingkah."
Rafandra meletakkan sendoknya. Menatap Zahra dengan ekspresi yang seperti biasa susah dibaca.
"Kamu tidak perlu khawatir soal salah tingkah," katanya. "Rumah ini rumahmu juga sekarang. Tidak ada yang perlu kamu takuti di sini."
Zahra menatap balik.
"Gue nggak takut," kata Zahra. Setengah bohong.
"Bagus."
Rafandra kembali makan. Percakapan selesai sepihak lagi. Zahra menggigit dalam-dalam bagian dalam pipinya.
"Ngobrol sama tembok lebih ada responnya."
.
.
.
Setelah makan, Rafandra menghilang ke studinya di lantai satu.
Zahra naik ke kamarnya, rebahan, scroll HP tanpa tujuan sampai matanya berat. Jam sepuluh malam dia sudah hampir ketiduran waktu tiba-tiba ingat sesuatu.
Rafandra bilang dia akan berangkat jam enam pagi. Zahra belum tanya dan belum tahu apa yang seharusnya dia lakukan di rumah ini. Apakah dia perlu bangun pagi juga? Apakah ada ekspektasi tertentu? Apakah—
"Stop." Zahra memijat pelipisnya. "Lo baru nikah hari ini. Santai dulu."
Tapi otaknya tidak bisa santai. Dia bangkit, keluar kamar, berdiri di depan pintu kamarnya sebentar. Koridor lantai dua sepi. Lampu remang. Di ujung kiri ada pintu yang tertutupbkamar Rafandra, kemungkinan besar.
Zahra menuruni tangga pelan-pelan. Dapur masih ada lampunya. Mbak Reni sudah tidak ada mungkin sudah pulang atau sudah masuk ke kamarnya sendiri. Zahra membuka kulkas, menemukan air mineral botol, mengambilnya.
Lalu, tanpa benar-benar merencanakan, dia berjalan ke arah studio. Pintunya tidak tertutup rapat terbuka sejengkal. Dari celah itu Zahra bisa melihat cahaya lampu meja dan siluet Rafandra yang duduk di depan layar, punggungnya ke arah pintu.
Zahra berdiri di sana sebentar. Dia tidak tahu kenapa dia ke sini. Mau ngomong apa juga tidak jelas. Tapi sebelum dia memutuskan untuk balik, suara Rafandra sudah duluan:
"Kalau mau masuk, masuk saja."
Zahra kaku.
"Dia tau gue di sini?"
"Pintu kaca itu memantulkan bayangan," kata Rafandra, masih tidak berbalik. Menjawab pertanyaan yang tidak Zahra ucapkan.
Zahra melirik ke sisi ruangan dan memang, ada panel kaca dekoratif di dinding yang memantulkan bayangan pintu masuk. Jelas sekali.
"Okay. Ketahuan."
Zahra mendorong pintu, masuk beberapa langkah. Ruangan itu besar, didominasi rak buku, meja kerja panjang, dan layar monitor yang terbuka penuh dengan dokumen-dokumen yang Zahra tidak mengerti isinya.
"Gue cuma... nggak bisa tidur," kata Zahra jujur.
Rafandra berbalik di kursinya. Menatap Zahra dengan ekspresi yang untuk pertama kali sejak mereka bertemu terlihat sedikit lebih lunak dari biasanya. Atau mungkin itu efek cahaya lampu meja yang lebih hangat dari lampu di tempat lain.
"Duduk kalau mau," katanya.
Zahra ragu sebentar. Lalu duduk di sofa kecil di sudut ruangan. Hening.
Tapi kali ini berbeda. Lebih... bisa ditolerir.
Rafandra kembali ke layarnya. Tangannya bergerak di keyboard. Zahra memandang keliling ruangan, rak bukunya penuh, judulnya campuran antara buku bisnis dan beberapa novel tipis yang kelihatan sudah lama tidak disentuh. Ada foto kecil di sudut meja tapi dari jarak ini Zahra tidak bisa lihat jelas fotonya.
"Om Rafa baca novel?" tanya Zahra tanpa berpikir.
Jari Rafandra berhenti sedetik di keyboard. "Dulu."
"Sekarang nggak?"
"Tidak ada waktu."
Zahra menatap punggungnya. "Sayang ya. Novel sebagus itu... ngerasa dianggurin, gitu."
Rafandra tidak menjawab.nTapi jarinya tidak langsung kembali mengetik juga.
Zahra memeluk botol air mineralnya, menarik lutut ke dada, menatap rak buku itu dari jauh.
"Gue suka baca," lanjut Zahra, lebih ke diri sendiri dari pada ke Rafandra.
"Waktu SMA, gue bisa habisin satu novel dalam sehari kalau lagi nggak mood ngapa-ngapain. Sekarang udah jarang. Tapi gue nggak pernah bisa bener-bener berhenti."
Sunyi beberapa detik.
"Genre apa?"
Zahra sedikit terkejut, Rafandra yang nanya. Balik nanya.
"Campuran," jawab Zahra. "Tapi paling suka yang ada konfliknya. Bukan konflik action. Konflik antar manusia. Yang bikin lo mikir kenapa orang bisa nyakitin orang lain yang sebenernya mereka sayang."
Rafandra menoleh. Hanya sebentar. Tapi dia menoleh.
"Kenapa tertarik dengan itu?"
Zahra mengangkat bahu. "Karena itu yang paling nyata. Dan paling susah dipahami."
Rafandra menatapnya sebentar lagi dengan ekspresi yang, lagi-lagi, tidak bisa Zahra baca sepenuhnya. Lalu dia berbalik ke layarnya.
"Tidur," katanya. "Kamu perlu istirahat."
"Om nggak tidur?"
"Nanti."
Zahra bangkit dari sofa. Berjalan ke pintu. Berhenti di ambang pintu.
"Om Rafa."
"Hm."
"Makasih udah... nggak nyebelin hari ini." Zahra tidak tahu dari mana kalimat itu datang. Tapi sudah terlanjur keluar.
Hening satu detik.
Dan kemudian sangat pelan, hampir tidak terdengar.
"Tidur yang nyenyak, Zahra."
Bukan "sama-sama." Bukan respons yang normal. Tapi dari mulut Rafandra, kalimat itu terasa seperti sesuatu yang lebih.
Zahra menaiki tangga dengan perasaan yang tidak bisa dia beri nama. Bukan bahagia. Bukan juga sedih.
Sesuatu di antaranya, seperti benih yang baru saja jatuh ke tanah, belum tumbuh, belum jelas akan jadi apa. Tapi sudah ada.
Di kamarnya, Zahra merebahkan diri di kasur yang terlalu besar dan menatap langit-langit untuk kedua kalinya hari itu.
Hari ini dia menikah. Hari ini dia tidur di rumah orang asing. Dan hari ini, untuk pertama kali, orang asing itu menyebut namanya bukan "kamu", bukan sapaan formal hanya namanya, sederhana dan pelan.
'Zahra.'
Dari mulut Rafandra, nama itu terdengar berbeda. Dan itu masalahnya.
.
.
.
plisss lanjut ceritanya kak🥰🙏🏼🙏🏼