"Dia hanya memiliki aku, Maya. Sedangkan kau? Kau punya segalanya. Berhentilah bersikap menjijikkan dengan menuduhnya yang bukan-bukan!"
Kata-kata itu menjadi cambuk harian bagi Maya. Di rumah itu, dia adalah orang asing di tengah keluarga yang "sempurna". Arlan, suaminya, telah memindahkan seluruh pusat dunianya kepada Sarah dan anak almarhum adiknya.
Setiap kali Maya mencoba membela diri dari fitnah halus yang disebarkan Sarah, Arlan akan menatapnya dengan kebencian murni. Bagi Arlan, Maya adalah beban, sedangkan Sarah adalah amanah suci. Ketidakadilan itu semakin kelam ketika Arlan mulai memperlakukan Sarah layaknya seorang istri, dan membuang Maya ke sudut tergelap dalam hidupnya.
Ini bukan lagi tentang cinta, melainkan tentang pengabdian yang salah arah dan kehancuran seorang istri yang dipaksa menyaksikan suaminya mencintai bayangan orang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya sabir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Maya tertawa getir, sebuah tawa yang terdengar lebih menyakitkan daripada isakan tangis. Ia melemparkan lembaran dokumen itu ke dada Arlan, membuat kertas-kertas tersebut berserakan di lantai marmer, seperti kepingan martabatnya yang telah hancur selama ini.
Baru saja mendapatkan bukti ini?" Maya melangkah maju, menatap Arlan dengan mata yang memerah karena amarah yang meluap. "Laporan perbaikan bengkel ini bertanggal enam bulan lalu, Arlan! Enam bulan! Dan rekaman CCTV ini... kau sudah memilikinya sejak lama, bukan? Kau hanya menyimpannya di kegelapan, menontonnya sendirian sambil terus membiarkanku memohon ampun atas dosa yang tidak pernah kuperbuat!"
"Maya, tolong... dengarkan aku dulu..." Arlan mencoba meraih tangan Maya, namun wanita itu menepisnya dengan kasar.
"Dengar apa? Bahwa kau menikmati setiap detik penderitaanku? Bahwa kau senang melihatku gemetar ketakutan setiap kali Sarah datang?" Suara Maya melengking, memecah kesunyian malam di rumah besar itu. "Kau membiarkanku kedinginan di gudang, kau membiarkan semua orang menatapku dengan jijik seolah aku ini sampah, sementara kau tahu pelaku sebenarnya adalah wanita yang selama ini kau manjakan!"
Arlan tertunduk, wajahnya pucat pasi. Tidak ada lagi keangkuhan CEO sukses yang tersisa. "Aku takut, Maya... Aku takut jika kau tahu kau tidak bersalah, kau akan langsung meninggalkanku. Aku terlalu pengecut untuk kehilanganmu."
"Jadi kau memilih untuk menghancurkanku agar aku tetap berada di bawah ketiakmu? Itu bukan cinta, Arlan! Itu sakit!" Maya mundur beberapa langkah, menatap Arlan seolah ia baru saja melihat orang asing yang mengerikan. "Kau lebih buruk dari Sarah. Sarah melakukannya karena dia jahat, tapi kau melakukannya karena kau egois. Kau menggunakan rasa bersalahku sebagai belenggu untuk menahanku."
"Maya, besok... besok bukti ini akan menyelamatkan Dion. Aku akan menjebloskan Sarah ke penjara!" Arlan memohon, suaranya parau.
"Ya, kau akan menyelamatkan Dion, dan aku berterima kasih untuk itu," ujar Maya dengan nada yang mendadak dingin dan datar, yang justru membuat Arlan semakin ketakutan. "Gunakan bukti itu besok. Menangkan hak asuh Dion. Jadilah pahlawan bagi keponakanmu. Tapi jangan harap kau akan menemukan aku di rumah ini lagi."
"Maya, kumohon jangan..."
"Cukup, Mas." Maya memotong kalimat Arlan dengan tegas. "Setahun ini aku hidup dalam bayang-bayang kebohonganmu. Semalam kau memelukku di kamar Dion seolah-olah kau adalah pelindungku, padahal kau adalah monster yang paling menyakitiku. Besok adalah hari terakhir aku menjadi 'istri pembunuh' di rumah ini. Dan besok juga akan menjadi hari terakhir kau melihatku."
Maya berbalik dan berjalan keluar dari ruang kerja tanpa menoleh sedikit pun. Arlan terjatuh lemas di kursinya, menatap dokumen-dokumen yang berserakan di lantai. Ia memenangkan perang melawan Sarah, namun di saat yang sama, ia baru saja menjatuhkan vonis mati pada cintanya sendiri. Di luar, suara angin malam seolah menertawakan kehancuran yang ia ciptakan dengan tangannya sendiri.
Malam itu menjadi malam yang paling panjang bagi Arlan. Ia tetap terduduk di lantai ruang kerjanya, dikelilingi dokumen yang menjadi bukti kemenangan hukumnya sekaligus nisan bagi rumah tangganya. Di lantai atas, Maya tidak menangis lagi. Ia mengemasi pakaiannya ke dalam satu koper kecil hanya barang-barang yang ia bawa saat pertama kali menginjakkan kaki di rumah ini sebagai pesakitan.
Pagi datang dengan kabut tipis. Sarah datang lebih awal dari jadwal, didampingi pengacaranya dan dua petugas dinas sosial. Wajahnya berseri-seri, yakin bahwa hari ini ia akan membawa Dion dan menghancurkan Maya selamanya.
"Mana anakku?" Sarah melangkah masuk ke ruang tamu dengan nada menuntut. "Arlan, jangan buang waktuku. Serahkan Dion sekarang atau petugas ini akan bertindak."
Arlan muncul dari arah ruang kerja. Lingkaran hitam di bawah matanya menceritakan malam yang brutal bagi batinnya. Ia tidak menatap Sarah, melainkan menatap Maya yang berdiri di anak tangga terakhir, menggenggam tangan Dion yang masih terlihat pucat.
"Yudha, silakan," ucap Arlan pendek.
Yudha melangkah maju, membuka map yang sama dengan yang dibaca Maya semalam. "Nyonya Sarah, sebelum Anda membawa Dion, ada laporan kepolisian baru yang harus Anda tandatangani. Mengenai tabrak lari dan pembunuhan tidak sengaja terhadap mendiang suami Anda sendiri satu tahun lalu."
Wajah Sarah seketika berubah pasi. "Apa... apa maksudmu? Itu fitnah! Maya pelakunya!"
"Kami memiliki rekaman CCTV persimpangan jalan dan kesaksian dari montir yang memperbaiki mobil Anda secara rahasia," Yudha menyodorkan foto-foto tersebut ke hadapan petugas polisi yang mendampingi Sarah. "Klien kami, Tuan Arlan, telah menyerahkan bukti ini secara resmi pagi tadi."
Polisi yang semula datang untuk menjemput Dion, kini justru melangkah mendekati Sarah. "Nyonya Sarah, Anda ditahan atas dugaan pemberian keterangan palsu dan keterlibatan dalam kecelakaan fatal tiga tahun lalu. Anda harus ikut kami ke kantor."
"Tidak! Arlan, kau gila! Aku ibunya Dion!" teriak Sarah histeris saat petugas memborgol tangannya. Ia meronta, namun keadilan yang tertunda selama satu tahun kini menjemputnya dengan paksa.
Setelah keributan mereda dan Sarah dibawa pergi, keheningan yang menyakitkan kembali menyelimuti rumah itu. Dion, yang tidak sepenuhnya mengerti namun merasa lega karena "mama jahat" itu pergi, memeluk Maya erat.
"Dion sayang," Maya berbisik, berlutut di depan bocah itu. "Sekarang tidak ada yang akan membawamu pergi. Kau aman bersama Papa Arlan di sini."
" Papa dan mama selalu ada di sini kan bersama Dion?"
Maya tertegun, lidahnya mendadak kelu mendengar pertanyaan polos Dion. Pelukan kecil anak itu terasa begitu hangat, namun sekaligus menjadi beban yang menyesakkan di dadanya. Ia mendongak, menatap Arlan yang berdiri tak jauh dari mereka dengan sorot mata penuh permohonan dan kehancuran.
"Dion sayang..." Maya mengusap pipi Dion yang masih basah, suaranya bergetar menahan tangis yang hampir pecah. "Papa akan selalu di sini untuk Dion. Papa adalah pahlawan Dion yang akan menjaga Dion dari apa pun."
"Tapi Mama? Mama juga kan?" Dion menatap Maya dengan mata bulatnya yang jernih, menuntut jawaban yang bisa menenangkannya.
Maya melirik ke arah koper kecilnya yang tergeletak di dekat pintu. Ia ingin berbohong, ingin memberikan harapan palsu demi kebahagiaan bocah ini, namun ia tak mampu lagi hidup dalam kepalsuan. Setahun penuh ia sudah cukup tercekik oleh kebohongan yang diciptakan Arlan.
"Dion," Arlan akhirnya bersuara, suaranya serak dan rendah. Ia berlutut di sisi lain Dion, namun tidak berani menyentuh Maya. "Papa sudah melakukan kesalahan besar pada Mama. Kesalahan yang membuat Mama sangat sedih."
Dion menoleh ke Papanya, lalu kembali ke Maya. "Kenapa Papa buat Mama sedih? Papa harus minta maaf! Kalau salah harus minta maaf, kan?"
Arlan menunduk dalam, air mata yang sejak semalam ia tahan akhirnya jatuh menetes ke lantai marmer. "Papa sudah minta maaf, Jagoan. Tapi kadang, maaf saja tidak cukup untuk menyembuhkan luka yang terlalu dalam."
Maya menatap Arlan sejenak. Ada rasa perih melihat pria sombong itu kini berlutut tanpa sisa harga diri, namun ingatan tentang gudang yang dingin dan tuduhan kejam Arlan masih terlalu segar untuk dimaafkan begitu saja.
"Bi Mina... tolong bawa Dion ke kamarnya." Ucap seseorang yang tiba-tiba muncul.
Maya dan Arlan menoleh dan mendapati sang pengacara berdiri tepat di belakang mereka.